Antara Dosa dan Malu

0

Saya jadi merasa berdosa dan malu. Kemarin. Ya, kemarin. Di mana? Di kantor.

Pukul 09.00. Kami dari tim redaksi rapat. Ada sekitar 10 orang di ruang rapat berpendingin udara itu. Saya kedinginan dan yang lain seperti tampak biasa. Malah,”Coba besarin lagi volume ac-nya. Kok gak kerasa, ya ….” kata teman yang duduk di ujung meja sebelah kanan. Ya ampun, dingin gini, kok dibilang gak kerasa …haha. Gila …gila.

Rapat pun dibuka oleh manajer saya. Pokoknya hal-hal yang menyangkut keredaksian, mulai evaluasi produksi sampai  rencana naskah yang akan dicetak, semua dibahas, termasuk termasuk promosinya. Saya mencoba perhatikan apa yang sang manajer sampaikan.

Seperti biasa, kalau rapat (di mana pun yang pernah saya ikuti), gak semua peserta memerhatikan apa yang disampaikan pemimpin rapat. Memerhatikan itu tidak hanya pasang telinga, tapi juga mata dan menunjukkan antusias. Suka ada yang berseloroh,”Hei, perhatikan dong kalo orang ngomong!” “Aku denger, kok!” jawabnya, tapi kedua tangannya asyik dengan gadget. Nah, menurut saya, orang yang begitu, dia tidak memerhatikan!

Sebenarnya, poinnya bukan itu yang ingin saya sampaikan. Jika pun ada yang lain yang saya sampaikan, itu hanyalah ketaksengajaan, yang juga, mungkin harus dipikirkan. Oleh siapa? Ya pembaca lah. Juga oleh penulis sendiri!

Jadi, apa yang ingin saya sampaikan? Nah, ini dia. Di akhir rapat, sang manajer bilang,”O iya, minggu depan Wira mau operasi. Kita doakan mudah-mudahan lancar dan sehat …” “Aaamiiinnn,” ucap teman-teman yang lain. Karena waktu itu saya duduk di sebelah Wira, saya langsung bilang,”Tenang, Kang, jangan stress duluan, ya. Nanti kami jenguk, kok…haha,” sambil saya tepuk-tepuk pundaknya.

Tiba-tiba, teman yang duduk di sebelah sang manajer nyeletuk, “Ah, kenapa pas saya sakit gak dijenguk? Ada pembedaan inimah!” Untungnya, ketika sang teman nyeletuk begitu diakhiri dengan tawa. Tapi, tawanya, saya kira berbeda.

Nah, ini yang saya maksud saya merasa berdosa dan malu ketika saya mendengar celetukannya: Ah, kenapa pas saya sakit gak dijenguk? Ada pembedaan inimah.

Saya tahu, waktu itu teman saya ini pernah sakit. Tahun lalu kalau gak salah. Terkena komplikasi apa gitu. Saya lupa lagi persisnya. Sempat dirawat di rumah sakit. Saya waktu itu gak ikut menjenguknya bersama teman-teman kantor. Saya juga gak tahu kenapa saat itu saya gak menjenguknya. Padahal dia teman satu kantor. Teman yang sering ngobrol dengan saya ketika luang.

Saya gak tahu, apakah celetukannya menyinggung saya atau teman-teman yang waktu itu gak jenguk dia? I don’t know kalau itu. Tapi, celetukannya di ruang ber-AC itu membuat hati saya bergemuruh,”Kenapa dulu kamu gak jenguk dia pas sakit? Kamu ke mana? Jangan sok sibuk sendiri lah. Dia, kan teman kamu sekantor juga. Dia saudaramu juga. Kenapa membeda-bedakan? Giliran teman dekat kamu, kamu peduli. Giliran teman biasa, eh kamu kurang peduli. Solat aja rajin, tapi ibadah sosialmu nol!”

Begitulah nurani saya ngomel-ngomel, yang membuat saya malah berpikir,”O, iya ya. Seharusnya saya gak boleh begitu. Siapa pun yang sakit, apalagi teman sekantor, selagi sempat, ya jenguk, dunk. Coba kalo kamu sakit, terus gak ada yang jenguk, gimana? Hei, kamu gak bisa hidup sendiri, lho!” Hati saya menunduk, sembari keluar ruang rapat dengan perasaan tak menentu, perasaan bersalah.

 

 

Iklan

LDR

1

Sejak saya menikahi neng 15 April-akhir Juni 2017 kami mengalami LDR-an alias Long Distance Relationship. Saya di Bandung dan neng Sukabumi. Saya seminggu sekali ke Sukabumi, tiap Jumat sore sehabis pulang kerja. Itu pun jika tak hujan. Jika hujan, maka Sabtu pagi saya ke Sukabumi dan kembali lagi ke Bandung Minggu siang.

Begitulah yang saya lakukan selama 3 bulan lalu. Sebab 30 Juni atau 4 hari lalu neng sudah saya boyong ke Bandung, ngekos bersama di sebuah tempat yang tak seluas rumah orangtuanya di Sukabumi. Semoga ia betah. Semoga ia tetap menikmati alur hidup yang tak ia duga ini.  Karena seumur-umur, ini kali pertama ia ngekos!

Kenapa kami, setelah nikah, kok LDR-an? Bukankah setelah nikah seharusnya bersatu? Normalnya, sih begitu. Bahkan, teman saya bilang, “Ini udah nikah kok masih sendiri. Gimana, sih? Bukannya dibawa istrinya. Malah ditinggal. Percuma nikah kalau berpisah! Mening gak usah nikah!” Pedas kata-katanya, tapi, diam-diam saya mengiyakannya.

Saya sebenarnya tak mau LDR-an setelah menikah. Maunya saya, begitu beres nikah, neng langsung ikut saya ke Bandung, sebab begitu ijab kabul, ia sudah jadi tanggungjawab saya bukan lagi kedua orangtuanya, apalagi tetangganya. Seperti sudah saya bilang, normalnya begitu. Tapi, gak boleh ya kita mencoba tidak normal beberapa saat untuk kembali normal? Boleh kalau kata akumah, eh kata saya mah.

Alasan kami LDR-an:

Sebelum menikah, kami sepakat neng bersedia ikut saya ke Bandung. “Neng tentu ikut suami. Tapi, beri waktu neng sampai Juni, ya. Soalnya neng masih harus nyelesaikan tugas ngajar. Tanggung, 3 bulan lagi akhir tahun ajaran. Juga sambil nyari pengganti neng di sekolah. Gak papa, kan nanti seminggu sekali akang ke Sukabumi?”

Apalagi, kata neng, ”Neng juga ngajar privat matematika di dua rumah. Jadi, mau tuntasin dulu privatnya. Kasian mereka kalau neng langsung tinggalin. Terus, neng juga harus cari guru privat pengganti neng yang cocok buat mereka …”

Saya katakan oke ke neng waktu itu. Dan berakhir pula LDR-an kami. Alhamdulillah. Saatnya hidup memulai dari nol bersama sang istri, di sebuah kota bernama Bandung!

 

Lebaran di Rumah Mertua

0

Inilah lebaran pertama saya di rumah mertua. “Mak, Pak, kayaknya lebaran tahun ini Cep gak pulang ke Bengkulu. Saya lebaran di Sukabumi.  Cep dan neng ke Bengkulu di luar lebaran …” begitu saya bilang ke orangtua, ketika memasuki dua hari ramadan.

Awalnya, lebaran tahun ini saya pengen ajak neng ke kampung halaman saya, sembari mengenalkannya kepada saudara-saudara saya, tetangga, handai tolan, dan tentu tempat-tempat eksotis yang ada di provinsi, yang beberapa hari yang lalu, daerah ini mendadak ramai, karena istri gubernurnya terkena OTT oleh petugas KPK karena menerima suap dari salah satu pengusaha di sana. Wow! Karena merasa bertanggungjawab dan malu, akhirnya, Ridwan Mukti, sang gubernurnya juga mengundurkan diri. “Siap-siap dibully …” salah satu komentar teman saya di facebook.

Itu keinginan saya sebelum ngobrol sama neng. Tapi, setelah saya ngobrol tentang rencana saya itu, neng bilang, ”A, gimana kalo lebaran besok (tahun ini) kita lebaran di Sukabumi. Tahun depan, insyaallah neng mau lebaran di Bengkulu. Soalnya, udah lebaran nanti aa, kan mau bawa neng ke Bandung. Jadi, lebaran tahun ini lebaran terakhir neng bersama keluarga. Masih pengen bersama mereka dulu a …”

Saya mengerti. Andai saya jadi neng, mungkin saya pun akan bilang begitu. Hahaha. “Baiklah, Neng …” kata saya, sembari pikiran saya melayang, membayangkan berlebaran di rumah mertua, berkumpul dengan lima adiknya, silaturahmi dengan saudara-saudara ibu dan ayah mertua, tetangga kanan-kirinya, juga kekhawatiran bila saya tak dapat bergaul dengan keluarga mereka. Maklum, saya ini suka tidak pedean. Pemalu. Memerlukan waktu yang tidak sebentar bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Saya pun mulai sadar: Cep, kini kau tak lagi sendiri. Kau sudah menikah. Cara berpikirmu sudah harus beda, antara ketika masih sendiri dan sudah menikah. Kau tak bisa lagi mementingkan egomu. Kini, kau harus mulai berpikir adil tentang statusmu yang baru: MENJADI SUAMI. Intinya: ketika kau menikahi istrimu, artinya kau juga, mau tak mau harus pula “menikahi” keluarga mereka. Noted that!

Yup, jadi, udah tiga hari ini saya sedang menikmati hari kemenangan di rumah mertua. Siapa saja yang baru menikah, selamat menikmati lebaran di rumah mertua, ya. Walau, saya yakin kau masih canggung dengan mereka. Tapi, begitulah proses menjadi bagian dari keluarga baru.

 Cipetir, 27 Juni 2017

Menikah

0

Kadang-kadang saya lupa kalau saya harus menulis di rumah maya ini, meski tidak terjadwal. Tapi biarlah, yang penting saya menulis, yang penting rumah sederhana ini tak sepi kayak kuburan. Eh, kuburan mana dulu? Kuburan para wali rame, kok!

Baiklah. O, iya, 15 Juni lalu  tepat dua bulan saya menikah. Sebelum menikah, saya lupa mengundang rekan-rekan (rekan blogger) untuk hadir pada resepsi saya di Sukabumi. Maafkan saya, ya. Semoga kalian tidak apa-apa.

Saya sebenarnya tak menyangka akan menikah secepat (padahal mah telat kaliii…:D. Umur lo berapa?) itu. Tapi, ya sudahlah, saya tetap syukuri saja apa yang terjadi. Toh menikah, mau cepat atau lambat, tetap nikmat, kok, dan status saya pasti berubah: dari single jadi double. Yeaaaa.

Kenapa saya bilang “secepat itu” saya menikah? Entahlah. Padahal, tadinya saya berniat mau santai dulu sampai akhir tahun ini dan berencana nikah tahun 2018, meski belum tahu dengan siapa saya akan menikah. Tapi, sejak awal 2016 saya agak serius berdoa minta jodoh kepada Allah sembari perbaiki diri, terutama hubungan saya dengan-Nya.

Nah, dalam proses pebaikan itu, tak sedikit teman atau saudara yang mengenalkan cewek ke saya. Atau, saya disuruh-suruh untuk coba dekati cewek, yang beberapa di antaranya, si cewek itu juga saya kenal. *gilaaa* “Kelihatannya, kalau dia diajak nikah, mau, deh. Coba, gih!” goda salah satu teman, meski, waktu itu saya benar-benar hanya ingin santai dulu dan belum serius ingin menikah.

Awalnya, saya tak mau terpengaruh atas saran beberapa teman agar saya mencoba bertanya ke si cewek yang mereka maksud. “Apa salahnya bertanya ke dia. Siapa tahu dia mau diajak nikah! Kalau dia mau, berarti kamu kudu siap! Kalau dia gak mau, ya udah, cari yang lain. Yang penting coba. Cewek terlalu banyak di dunia ini. Hahaha…” “Iya juga, ya,” batin saya.

Ya udah lah. Akhirnya saya coba juga saran teman itu. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang mau. Apalagi, saya selau ingat saran mereka: “Coba saja dulu. Urusan ditolak/diterima, itu urusan belakang. Laki-laki diberi kebebasan memilih dan perempuan pun bebas menolak tawaran kita!” JLEB sepertinya.

Hasilnya? Mereka yang coba saya tanyain dan ajak nikah, alhamdulillah semuanya belum bersedia. Saya benar-benar pengen ketawa atas apa yang saya lakukan dan hasilnya NOL. Sebab yang saya khawatirkan bukan “ditolaknya”, tapi gimana kalau ternyata salah satu dari mereka benar-benar bersedia saya ajak nikah. Nah, lho!

Untuk memastikan, saya tanya lagi ke hati saya—yang sungguh dalam ini. Jawabannya jelas: ternyata saya memang belum benar-benar siap 100% menikah. Saya hanya “pengen”, belum “butuh” menikah. *Halah*

Nah, akhir 2016, selepas subuh, pada suatu rapat akhir tahun, 3 rekan kerja menghampiri saya. “Setahun lalu, kita di sini bicarain kamu, kamu yang jomblo. Padahal, kita mau kamu udah punya status baru pas kita rapat lagi hari ini. Eh, tapi ternyata belum juga. Jadi, gimana, nih! Ini udah akhir 2016, lho!” kata teman yang satu, yang dia udah nikah dan punya anak satu.

“Iya, gimana, sih! Apa lagi yang ditunggu. Kerja udah, apa lagi coba?? Gak ngerti, deh saya mah!” celetuk teman yang satu, yang dia udah punya anak 3.

“Kenapa? Gak berani ke cewek? Saya punya tetangga, tamat SMA, mau saya kenalkan? Sepertinya cocok sama kamu. Mau, gak? Kalau mau nanti saya bilangin, lho…” saut teman yang terakhir, yang juga udah punya anak. Malah, anak pertamanya masih gadis! *nah, kesempatan* Saya senyumin saja ketiga omongan mereka. Sebab saya bingung mau jawab apa.

Tapi, ketika itu, mungkin akibat celetukan-celetukan mereka, saya jadi ingat dengan tawaran seorang teman kampus dua minggu sebelumnya. Dia menawarkan saya seorang akhwat (iya cewek, bukan cowok) yang siap nikah. “Mau nikah, gak? Kalo mau, ni ada teman, bapaknya lagi nyari calon yang siap nikahin anaknya. Haha…”

Saya tentu bilang mau (meski agak ragu),”Haha. Mana fotonya?”

Si teman itu akhirnya kirim foto ke saya via WA. “Nih kontak WA-nya sekalian,” sambung dia. Saya hanya liat foto itu sekilas. Dalam hati, saya hanya bilang,”O, nantilah. Mau nyantai dulu…”

Kontak WA si cewek udah di tangan, tapi saya tak berani berkirim pesan ke dia. Bingung juga saya mau nanyain apa. Mau basa-basi? Ah, males! Kepoin medsosnya? Ah, rasanya ketika itu saya gak melakukannya. Tapi, hati saya bilang,”Mungkin suatu saat saya bakal menghubunginya…”

Akhirnya saya  bilang kepada ke-3 teman yang “menyidang” saya,”Tenang, bapak-bapak, beres rapat ini, sore atau pagi besok atau entah kapan, saya mau coba kontak si cewek ini (saya perlihatkan foto si cewek ke ketiga teman saya itu)…”

“Wah, siapa itu? Udah, cocok, tuh sama kamu!” kata teman yang satu sumringah.

Begitu saya ingin jelaskan siapa foto cewek yang saya perlihatkan ke mereka, saya keburu dipanggil rekan yang lain, karena giliran saya untuk presentasi siang itu.

Pastinya, cewek itulah yang akhirnya saya nikahi 2 bulan lalu. Prosesnya tidak lama. Karena kontak WA-nya udah ada, ya udah, saya langsung hubungi seminggu setelah rapat itu. Kenalan. Lalu saya katakan niat saya. Untungnya dia merespons niat saya.

Seminggu kemudian, saya minta bertemu denganya. Sebab saya juga gak mau beli ayam di dalam karung. Atau, minimal saya harus liat dulu fisik si cewek. Pun dia juga bisa lihat fisik saya. Terserah nanti, setelah lihat fisik masing-masing, mau diteruskan ke yang lebih serius ya alhamdulillah, gak juga gak papa. That is no problem, because ini salah satu usaha, begitu pikir saya sebelum bertemu ketika itu.

Akhirnya, kita bertemu di rumah salah satu sahabatnya. Itu usul si dia. Baguslah kata saya. Karena saya pun kurang setuju kalau langsung bertemu di rumahnya. Ke rumah orangtuanya itu, pikir saya kalau memang, setelah bertemu itu kita saling cocok, baik dari segi fisik maupun cara bersikap dalam berkomunikasi.

Pertemuan pun usai.  Malamnya, saya katakan via WA,”Neng, setelah bertemu, aku sih oke untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Gimana denganmu?” Agak lama saya menunggu jawaban dia. Saya deg-degan juga ketika itu. Sebab saya sedang menunggu KEPASTIAN.  Tenyata, yang menunggu KEPASTIAN bukan hanya cewek, melainkan cowok juga. Tapi saya udah siap dengan segala jawabannya. Kalau dia meng-oke-kan untuk lanjut ke tahap berikutnya, ya alhamdulillah. Dan berati saya harus benar-benar SIAP segalanya. Bila belum oke, ya tetap saya pun harus katakan alhamdulillah. Dan berati saya harus hunting bidadari yang lain, mungkin yang lebih baik.

“Gini aja Kang. Kalau memang serius, temuin aja orangtua saya…” jawaban dia, yang membuat saya tidak jadi ngantuk! Bener! “Wah, jadi diterima, dunk?” celetuk hati saya. “Belum tentu! Jangan pede dulu. Dia boleh menerima, tapi orangtuanya belum tentu! Berdoa saja, Bro!” pungkas hati saya lagi.

”Kapan kira-kira akang harus bertemu kedua orangtuamu?” saya bilang begitu akhirnya. Agak lama juga saya menunggu jawabnya. Mungkin dia juga sambil mikir kali, ya, karena sudah begitu berani jawab begitu ke saya. Haha.

“Silakan minggu depan, Kang…”

“Ok, siap! Insyaallah!”

Bismillah. Akhirnya saya ke rumah orangtuanya ditemani adik saya. Mungin saja saya sendiri waktu itu. Tapi, rasanya lebih enak ditemani. Biar gak terlalu grogi.

“Silakan saja, yang mau nikah soalnya bukan saya. Kalau kalian sudah sama-sama srek, ya silakan. Bapak gak bisa menghalangi niat kalian. Tapi, pesen bapak, kalau memang nanti jadi, cuma satu: dia perlu bimbingan, maklum belum terlalu dewasa…” ucap ayah si cewek di hadapan saya pas saya kasih tahu maksud kedatangan saya, di sebuah ruang tamu.

Beres! Saya pulang lagi ke Bandung. Barulah setelah itu saya kasih tahu ke orangtua kalau saya mau menikah. Intinya minta doanya.

Sebulan kemudian, saya melamar dia sebagai tanda jadi. Dan 3 bulan kemudian atau 15 April 2017, kami ijab kabul. Itulah kenapa saya bilang, prosesnya begitu cepat. Tidak menyangka.

Met libur lebaran, ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penulis Pinjam Duit ke Editor

0

Apa jadinya jika seorang penulis meminjam duit ke editor?

Suatu sore. Tiga hari yang lalu, di tengah rintik hujan. Salah seorang penulis (pokoknya ada. Tak perlu saya sebut nama) tiba-tiba ngirim pesan via WA.

“Mas, punya uang sejuta?”

“Waduh, maaf, Mas. Gaji saya bulan ini untuk persiapan nikah (terpaksa jujur. Dosa pula kalau bohong …”

“500 ribu juga gak ada, Mas? Nanti saya ganti kalo udah gajian …”

“Bener, gak ada, Mas. Maaf belum bisa bantu, nih …”

“Kalo 300?”

“Serius, gak ada, Mas. Beneran inimah …”

“Duit itu buat teman saya sebenarnya, Mas. Dia butuh banget. Saya lagi gak ada duit …”

“Nyesal, Mas saya gak bisa bantu pas orang lain butuh. Sekali lagi maafkan …”

“Iya, Mas ndak papa. Makasih, ya …”

Inginnya saya bisa bantu rekan saya ini. Walau, awalnya saya ragu untuk meminjamkan uang (andai ada uang ketika itu). Ragu mungkin wajar. Apalagi, saya dengan si calon peminjam duit itu belum pernah ketemu. Selama ini hanya chatting via WA. Dia hanya saya anggap sebagai relasi kami di kantor.

Tapi, di tengah-tengah chattingan, saya berpikir lagi,”Kenapa harus ragu bantu orang kalau saya mampu. Kecuali kamu gak mampu. Lagian dia penulis. Data dia udah di save. Misal dia gak balikin, ya udah lah. Saya yakin kamu gak akan mempermasalahkan ini …” Ternyata memang ketika itu saya sedang tidak mampu untuk bantu dia. Uhh!

Padahal, doa saya tiap hari,”Tuhan, beri kemampuan padaku untuk bisa bantu siapa saja yang membutuhkan. Jauhkan aku dari sifat pelit yang gak ketulungan …”