Mau Kerja? Bayar Sejuta!

Imam, keponakan saya akhirnya dapat panggilan kerja di salah satu klinik di Kota Bandung. “Disuruh interview senin besok. Tempatnya di dekat gedung sate …” kata dia, dua minggu lalu.

Mendengar itu, saya bungah. Siapa tahu, Imam keterima kerja di klinik itu sebagai office boy. Saya juga kasian, karena sejak dia memutuskan risain dari kuliah sejak lebaran kemarin, sampai tulisan ini muncul, dia belum punya kegiatan yang produktif.

“Persiapkan sajalah buat interview. Coba sercing di gugel gimana tips pas wawancara, Mam!” begitu pesan saya ke dia via BBM. Dia bilang oke. “Siapa tahu rezekimu di klinik itu,”tambah saya. Dia juga bilang oke. Saya agak kesal di bagian ini, karena dia selalu menjawab oke. Kesal saja. Tidak benci.

Adik saya yang antar imam interview. Karena kalau dia sendiri yang pergi, nanti dia bingung cari alamat. Dia masih rabun nama-nama jalan di kota kembang ini. Sama seperti saya. Memang adik saya tahu? Ah, gak juga. Tapi minimal, udah 3 bulan ini dia sering keliling di pusat kota Bandung untuk melamar kerja.

Dari kantor, saya kirim pesan via WA ke adik saya, “Gimana, Imam udah wawancara?” Adik saya bilang belum. Masih berlangsung katanya. “Semoga jawaban Imam meyakinkan si pewawancara,” hati saya nyeletuk.

Saya sebetulnya udah gak sabar ingin tahu apa hasil interview Imam. Siapa tahu dia keterima langsung, tanpa harus ikut tes yang lain. Syaratnya, seperti tertera di info lowongan kerja yang tertulis di koran ketika itu: bersedia tinggal di kantor. Seketika, saya bilang,”Bagus itu, Mam! Jadi gak bayar buat kosan lagi. Dah, daftar segera! Siapa tahu nyangkut!”

Saya tiba di kontrakan ketika Imam khusyuk dengan gadgetnya.  “Oi, gimana interview-nya tadi? Banyak yang ikut interview?”

“Cerita, dunk, ah!” lanjut saya.

“Ah! Muka si pewawancara ngeselin banget, apalagi setelah dia bilang,’kalau mau diterima kerja di sini ijazahnya ditahan. Terus, kamu harus nyerahin uang sejuta buat jaminan!’” begitu cerita Imam ke saya. Saya ketawa. Saya juga kesal. Saat itu saja. Besoknya tidak. Tapi sekarang, saat nulis ini, saya kesal lagi, karena inget cerita Imam.

Malang nian memang keponakan saya yang satu ini. Baru sekali wawancara, eh udah diminta duit oleh si pewawancara dengan alasan untuk jaminan. Tapi gak papa, Mam. Daripada kau tidur di kontrakan, kau tak bisa merasakan kejutan seperti ini. Ya, cari kerja itu tak mudah. Cari kerja itu harus siap bersaing dan kudu siap-siap kecewa.

Kata Imam, si pewawancaranya bilang lagi,”Nanti pas kamu diterima di sini, pagi-pagi kamu bersihin kontrakan yang gak jauh dari sini. Nah, siangnya ke sini lagi!” Imam bingung. “Di lowongan, kan jadi office boy di klinik itu, tapi, kok juga disuruh bersihin kontrakan juga, ya? Nah, Imam curiga di situ!” celoteh Imam kesal.

Imam juga nanya kenapa kontrakan itu harus dia bersihkan juga. Pun nanya, itu kontrakan diisi oleh siapa. Kata Imam, seperti si pewawancara jelaskan bahwa kontrakan itu juga bagian dari klinik yang diisi oleh mahasiswa dan nonmahasiswa. “Ah, ini udah gak benar!” ucap keponakan saya.

Karena dirasa cukup penjelasan Imam, akhirnya saya katakan,”Udah, tinggalin! Cari yang lain! Lagian mau bayar sejuta juga kamu gak ada duit, kok! Hahaha. Seharusnya, kamu bilang ke si pewawancara,’pak, yakin cuma nyetor sejuta? Bisa dua juta, gak?’”

Azan magrib pun berkumandang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6 thoughts on “Mau Kerja? Bayar Sejuta!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s