Urusan

Betapa banyak urusan di dunia ini, yang harus segera diselesaikan. Jangan bicara jauh-jauh soal urusan dunia. Urusan saya saja lumayan numpuk. Belum lagi urusan keluarga. Urusan pekerjaan. Dan urusan-urusan lain, yang jika saya list, bisa saja buat geleng kepala. Tapi, itulah hidup. Urusan selalu ada. Urusan selalu datang. Dan bila suatu urusan itu tak diselesaikan, tentu  Anda, saya, dan kita bakal diliputi gundah, bahkan bakal terus dihantui oleh urusan-urusan yang belum selesai tersebut.

Saya saat ini sedang mengurus surat pindah. Surat pindah dari Bengkulu ke Bandung. Saya meminta kakak saya mengurus surat pindah tersebut. Saya bisa urus surat pindah itu sendiri. Tapi, tahulah, urusan saya bakal bertambah. Harus izin dari kantor lah. Harus nyiapin tiket pesawat pulang-pergi lah. Harus ninggalin istri yang lagi hamil lah. Bla bla bla pokoknya.

Istri saya juga begitu. Dia meminta ibunya di Sukabumi untuk mengurus surat pindah. Saya belum tega istri saya yang sedang hamil mengurus surat pindah tersebut sendirian, walau jarak Bandung-Sukabumi tak terlalu jauh dibanding Bandung-Bengkulu. Apalagi, istri saya juga mengajar. Seperti saya bilang, bisa saja istri saya izin ke sekolah untuk mengurus surat pindah, tapi, itulah, bakal tambah urusan lagi. Dan lagi.

Kami putuskan, untuk urusan surat pindah ini kami meminta orang kedua menyelesaikannya. Walau, ketika surat pindah dari dua kota tersebut sampai di Bandung, kami tentu harus mengantar surat pengantar tersebut ke kelurahan, yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami sekarang. Urusan-urusan lain yang berhubungan, tentu akan menyertai sepanjang kami mengurus surat pindah sampai KTP baru kami terbit!

Lalu, setelah KTP Bandung kita peroleh, misalnya, apa lagi urusan yang harus saya selesaikan? O, ada: bikin KK, kartu BPJS, dan dokumen-dokumen lainya. Wow, betapa ketika sebuah urusan selesai, maka pastilah, mau tidak mau, urusan lain segera menyusul. Begitulah hidup. Jalani saja.

 

 

 

 

Mudik #part 1

Awalnya saya enggan mudik tahun ini. Enggan sekali. Karena, ritual tahunan itu sudah begitu lama saya jalani. Ada rasa bosan. Bukan tidak rindu kedua orangtua dan keluarga, melainkan, saya akan mengunjungi mereka di luar hari mudik, misalnya 3 minggu setelah lebaran. Biar sepi. Biar ongkosnya pun normal, tidak gila seperti saat ini.

Namun, rencana itu gagal! Gagal total gara-gara adik saya ngajakin bareng mudik, karena kita berdua sudah tinggal di satu kota. “Ayolah, sekali ini saja. Saya gak enak kalo mudik sendiri.” Kasian juga saya pas mendengarnya. “Oke, tapi saya gak mau naik pesawat! Kita estafet saja kalo mau! Saya tak mau buru-buru nyampe rumah. Saya mau menikmati perjalanan!”

Adik saya setuju. “Oke! Siapa tahu jadi ngirit ongkos! Lagian kita siangnya puasa, jadi gak banyak makan. Kecuali udah lelah banget, ya udah berbuka aja, apalagi  kita musafir!” “Ah, musafir! Musafir dengkulmu, Bro!” kata saya serius.

Saya belum pernah mudik dengan cara estafet. Makanya saya akan coba tahun ini. Siapa tahu lebih asyik. Siapa tahu lebih irit. Biasanya, selama ini, kalau saya pulang ke Bengkulu, ya naik pesawat atau bis Bandung-Bengkulu. Bis SAN, Putra Rafflesia, atau Bengkulu Kito.

Saya iseng cek harga tiket pesawat di traveloka beberapa hari lalu, uh, udah naik 700 ribu (yang biasa 400-an). Saya tanya ke loket bis di Caringin (jurusan Bandung-Bengkulu), eh, naik juga: 575 ribu (yang biasa 375). Ya udah, saya kira estafet adalah cara terbaik, meski saya belum bisa memprediksi seperti apa perjalanannya nanti. Moga lebih irit. Jika pun membengkak, ah, itu risiko saya, bukan siapa-siapa, apalagi Anda.

Ok, bismilah. Rencananya, saya berangkat jumat besok setelah magrib dari Leuwi Panjang, Bandung menggunakan bis ke Merak. Bis Arimbi atau Bima Suci. Saya tidak tahu berapa ongkos Bandung-Merak dengan bis itu. Teman bilang 85 ribu. Walau naik, semoga kenaikannya tidak membuat saya dan adik membatalkan mudik! Perjalanan Bandung-Merak sekitar 6 jam. Kalau lancar. Semoga saja lancar ya Allah. Jika tidak, jangan pula jadikan kami hamba yang mengomel.

Pastinya, setelah di Merak, kami cari penjual tiket kapal laut untuk menyeberang ke Bakauheuni, Lampung. Baca-baca di internet, kapal laut Merak-Bakauheuni beroperasi 24 jam. Semoga. Ongkosnya saya belum tahu berapa per-orang. Ada yang bilang 13 ribu. Ada juga 15 ribu. Mana yang benar? Tunggu, ya pada tulisan saya setelah lebaran, Guys.

Karena niatnya pengen jalan-jalan dulu, jadi begitu nyampe di pelabuhan Bakauheuni, ya diam dulu. Nyantai dulu, menikmati udara di sana. Menikmati orang-orangnya. Semuanya akan kita nikmati dulu, baru setelah itu kita lanjutkan ke Bandar Lampung. Kebetulan, saya belum pernah ke kotanya. Mau naik bis atau travel, itu juga saya belum tahu. Ya, gimana nanti lah. Kadang hidup memang tak harus sesuai rencana. Haha.

Begitulah rencana mudik saya kali ini. Saya belum tahu, dari Lampung ke Bengkulu mau naik apa. Bis atau travel, belum kepikiran. Soalnya mau diitung-itung dulu. Bis berapa, travel berapa, dan kalau jalan kaki berapa lama. Atau, saya sih berharap bisa naik truk. Kali aja ada supir truk yang butuh teman selama perjalanan Lampung-Bengkulu. Atau juga, naik mobil teman, yang tiba-tiba ketemu di jalan, yang dia juga mau ke Bengkulu. Ah, itu semua hanya hayalan, Kawan! Tapi, kalau ada kesempatan, kenapa juga diabaikan, ya, kan?

Ok, Guys! Met mudik, ya.

Mudikmu bukanlah mudikku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Anggota TNI aja Dianiaya, Apalagi Saya…

Siapa saja bisa menjadi korban pengeroyokan gerombolan bermotor, termasuk anggota TNI! Gak percaya? Nih, beritanya, yang barusan saya baca: ini dia. Begitu saya lihat foto tempat pengeroyokan, eh, ternyata pernah saya lewati beberapa hari lalu sepulang dari Cianjur.

Jadi males untuk keluar malam kalau kayak gini. Dan jadi terus was-was hati ini dibuatnya. Jangan-jangan. Jangan-jangan. Jangan-jangan kalau saya keluar malam, nanti gerombolan bermotor memepet motor saya dan saya diperdaya oleh mereka. Ih, ngeri juga, ya. Imajinasi saya udah ke mana-mana, walau saya terus meminta kepada Tuhan, tolong hindarkan saya dari kejahatan mahluk-Nya.

Ah, tapi saya juga suka pasrah! Sebab, apa gunanya saya takut terus-menerus. Kalau saya takut terus, nanti saya mengurung diri di kos dan gak bisa jalan-jalan. Mungkin, yang harus saya hindari adalah bermotor di atas pukul 22.00. Kalau di bawah pukul segitu rasanya masih aman. Ini prediksi saya saja, sebab, kejahatan memang suka tak terprediksi kapan terjadi dan siapa mereka. 

Sebaiknya, jika tak ada urusan penting, ya udahlah, mening tidur dengan manis di rumah atau kosan, daripada keluyuran gak jelas berkeliling Kota Bandung atau perbatasannya. Kota ini rawan, Guys! Rawan! Kadang saya juga suka mikir kalau tiba-tiba saya diadang gerombolan bermotor, maka saya akan bilang, itu pun kalau sempat, “Saya gak punya apa-apa. Saya tidak mungkin melawan kalian. Kalau mau motor, nih ambil motor saya dan biarkan saya di sini…”

Duh, gak tahu lah. Saya juga suka bingung, kenapa saya suka berpikir seperti itu. Ini mungkin saking sebelnya saya dengan orang-orang yang tega (bukan hanya terhadap gerombolan bermotor) menganiaya bahkan melenyapkan nyawa seseorang dengan cara yang tidak wajar! Namun, saya menyadari, oh, kejahatan memang harus ada, sebab lawan kejahatan adalah kebaikan!

Bagaimana memberantas gerombolan bermotor yang tak santun? Ah, saya gak tahu, sebab, kasus seperti yang dialami Pratu Galang, sebelumnya pun sudah pernah terjadi, baik di Kota Bandung maupun luar Bandung!

Udahlah! Serahin saja sama Tuhan semuanya kalau gitu. Dan semoga, gerombolan bermotor perlahan tobat dan korban pun semakin sedikit. Apalagi, pemerintah dan aparat, tampaknya belum mampu membuat warganya nyaman seutuhnya!

 

 

 

Abdur

Abdur. Foto diambil dari akun instagram miliknya.
Foto diambil dari akun instagram miliknya: aa_abdur

Saya bilang ke adik saya, tolong jangan buru-buru mau keluar dari kerja. Pikirkan 10 kali sebelum melangkah cari kerja yang lain. Apalagi, kata saya, ente belum ada persiapan mau ke mana begitu risain dari tempat kerja sekarang. Namanya bekerja itu mana ada yang enak, mana ada yang bikin nyaman selamanya. Adakalanya membosankan, bahkan jenuh tingkat kaisar!

Yang enggak pernah jenuh dan bosan barangkali Izrail—pembantu Tuhan yang tugasnya nyabut nyawa. Bayangkan, andai malaikat maut itu bilang sama tuannya,”Bos, rasanya aku udah bosen, nih kerja nyabut nyawa orang. Maaf, aku mau keluar aja, ya jadi pegawaimu? Soalnya aku mau cari pekerjaan lain yang kira-kira tak dibenci manusia.”

Nah, karena kau manusia, Abdur, jadi, tolong resapi, namanya beraktivitas di dunia ini, bila dirasa-rasa, ya sebenarnya enggak ada yang enak. Lelah, capek, depresi, males, dan gangguan-gangguan lain yang menyebabkan enggan melakukan sesuatu. Jadi tahan sebentar egomu untuk memutuskan keluar kerja. Pikirkan ulang maksud saya.

“Eggak ada perubahan kerja di Bengkulu, A!” Itu katamu, entah berapa puluh jam lalu. Siapa  yang enggak berubah? Dirimu, Bengkulunya sendiri, perusahaan tempatmu bekerja, pacarmu yang kembar itu, atau, jangan-jangan gajimu selama ini tak pernah cukup untuk biaya hidup sehari-hari di tengah harga-harga kebutuhan pokok kian melambung dan cicilan kredit motor yang memusingkan?

Untuk yang terakhir, saya tanya berapa bulan lagi cicilan motor yang harus adik saya bayar? ”Baru dibayar lima bulan, Bro! Setahun setengah lagi!” Terus, kalau kamu keluar gawe (kerja), siapa yang bakal bayarin motor? Begitu kejar saya ditelepon. Adik bungsu yang pewarta di salah satu media televisi lokal itu hanya bilang,”Motor dijual saja! Paling bayar aja berapa DP saya kemarin.”

Saya katakan lagi ke adik saya yang tinggi badannya melebihi saya,”Kalo bisa jangan seperti saya lah! Dua tahun lalu saya pun memutuskan keluar kerja  begitu saja tanpa memikirkan mau ke mana atau mau kerja di mana setelah saya keluar kerja, walau dengan alasan saat itu saya udah merasa bosan dengan pekerjaan itu dan lagi, gajinyo idak besak, sementara, sama, motor harus dibayar!”

Kamu, kan tahu, Dur. Saya ini baru bisa dapat kerja lagi setelah enam bulan menganggur luntang-lantung di Bandung. Kamu bisa bayangkan, bagi yang udah biasa bekerja dari pagi pulang sore, terus tiba-tiba aktivitas itu terhenti karena belum dapat kerja yang baru, wah, itu sungguh membuat nyaris stress. Wajar stress kali, ya. Uang enggak ada, sementara kredit motor harus dibayar! Bukan hanya itu, kan saya butuh makan. Hahaha.

Boleh kamu keluar kerja. Katamu, awal Maret ini kamu mau keluar dari tempat kerja. Bener, nih, Maret? Enggak salah? Gini, lho, Bro. Coba cari peluang dulu di sana, kontak semua teman yang udah kerja di tempat lain, kira-kira ada lowongan apa enggak, yang menurutmu, kamu bisa melakukan pekerjaan itu, jika memang pekerjaan yang sekarang sebenarnya bukan passion kamu. Lah!

Saya yakin ada pekerjaan yang lebih baik dari yang kamu kerjakan hari ini, asal dicari dan enggak usah ngeluh. Ngeluh boleh, tapi benarkah dengan kamu mengeluh masalah jadi tuntas? Ingat, Dur, tidak ada  kamus ngeluh di dalam tradisi keluarga kita. Bukan enggak boleh, lho. Awas, hati-hati mengartikan apa yang abangmu katakan ini.

Saya ini maunya jelas, Dur. Kamu bilang kamu mau cari kerja ke Bangka, eh tapi tahunya  teman kamu yang mau kamu ajak malah tidak diizinkan orangtuanya. Kamu enggak berani sendiri, ya, masa harus bergantung sama orang? “Bukan begitu. Yang tahu daerah Bangka, kan dia. Kalau saya harus sendiri ke sana, wuh, enggak enaklah kalau enggak ada kenalan!”

Saya sarankan adik saya coba hunting kerja ke Palembang. Di kota Pempek itu, sambung saya, minimal ada beberapa biji teman lama, yang sampai hari ini masih kontak-kontakan. “Hahaha! Tetap kurang enak kalau bukan teman saya. Sementara ini mau manfaatkan teman yang kerja di luar Bengkulu yang sebelumnya kenal sama saya. Bukan baru kenal, tapi udah kenal sejak lama.”

Saya langsung sebutkan beberapa teman dia yang kini tinggal di luar Bengkulu, termasuk kakak saya yang ada di Belitung dan saya menyuruhnya segera hubungi mereka, jika memang mau cari kerja di tempat lain dan enggak mau di Bengkulu. Dia malah terbahak habis-habisan, padahal saya tidak ada niat untuk melawak di pagi yang gerimis itu. “Udah, gini aja, saya mau ke Bandung! Tolong tampung saya dengan ikhlas di kosan! Titik tanpa koma!”

Brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Ya Tuhan, benarkah dia adik saya???

Resmi Pindah Kosan

Gambar dari: www.wartapunyamedan.com
Gambar dari: http://www.wartapunyamedan.com

Saya resmi menempati kosan baru sejak awal Oktober 2014. Saya memutuskan pindah dari kosan lama karena beberapa alasan yang harus saya sebutkan di sini.

Pertama, saya sudah setahun di kosan itu, jadi harus segera cari tempat baru yang lebih menggairahkan. September lalu genap satu tahun saya ngekos di wisma hijau itu. Buat saya, cukup setahun sajalah merasakannya, enggak perlu lama-lama.

Kedua, aspirasi penghuni kosan enggak didengar pengelola kosan. Ini yang membuat saya jadi tidak bergairah lagi tinggal di sana. Mungkin sudah setahun lalu saya katakan ke pengelola kosan, ”Pak, lampu depan kamar kami enggak ada lampunya, bisa dipasang?” Si bapak jawab, ”Iya, nanti, ya.” Dan sampai saya pindah, lampu itu belum juga dipasang. Ya udah, saya keluar. Saya memang cengeng!

Ketiga, penghuni kosan diwajibkan ngeronda. Awalnya, sebelum lebaran kemarin, jadwal ronda di lingkungan RT kami sebulan dua kali. Yang enggak hadir untuk satu kali ronda didenda Rp. 50.000/orang. Saya senang pada awalnya, meski hati agak menolak. Tapi setelah saya pikir-pikir, baik juga adanya ronda yang melibatkan anak kosan. Selain bisa banyak kenal dengan orang-orang sekitar RT, ngeronda juga bentuk kepedulian kita terhadap keamanan lingkungan. Ceileeeee!

Belakangan, saat saya bayar kosan dua bulan lalu, bapak kosan memberikan selembar kertas, ”San, ini ada pesan. Bisa dibaca nanti, ya.” Pas di kamar, saya langsung baca isi pesan yang tertulis di selembar kertas itu. Salam sejahtera. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Sehubungan dengan telah ditetapkannya jadwal ronda, maka kami tegaskan untuk tetap dilaksanakan sebaik-baiknya. Bila merasa keberatan dengan peraturan yang ada, maka dipersilakan untuk menempati kosan lain yang lebih cocok. Wasalam. Pengelola kosan.

Keempat, volume air kamar mandi kecil dan warna air kuning. Walau begitu, selama setahun itu saya kuat, kok bertahan dengan keadaan seperti itu. Istilahnya, saya itu sabar. Hahaha. Diakui, di kawasan kami itu sekelilingnya area persawahan. Jadi wajar kalau itu berpengaruh terhadap air yang kami konsumsi. Makanya, di ujung keran kamar mandi saya balut dengan kain yang tujuannya menyaring supaya warna air tidak kuning. Lumayan, dengan begitu air jadi jernih dan untungnya tidak merusak pakaian.

Kelima, sudah dua motor yang hilang di kosan itu. Kosan kami itu bangunannya tingkat dua dengan jumlah kamar lebih dari dua puluh. Kosan itu termasuk bangunan baru dengan gerbang besi mentereng di depannya. Entah kenapa, selama saya setahun tinggal di wisma itu, dua motor dengan jenis dan merek berbeda raib pada malam harinya. Padahal, tiap malam gerbang yang terbuat dari terali besi itu selalu dikunci. Anehnya, saat kehilangan dua benda berharga itu, si gembok gerbang dirusak oleh si maling tanpa kami dengar suara kelontang-kelonteng! Mungkin kami dibuat terlelap oleh si maling. Bisa juga kami dihipnotis malam itu. Kejadian hilangnya motor kawan kami itu sebelum jadwal ronda intensif dilakukan. Tapi, ada kabar tak sedap, bahwa meski jadwal ronda telah aktif, eh tetap saja satu buah motor tetangga yang rumahnya tak jauh dari kosan kami, juga hilang digondol orang! Jadi, percuma, dunk ada ronda? I don’t know lah!

Keenam, ya sudah kalau begitu saya memutuskan pindah kosan sejak dua hari lalu ke tempat yang peraturannya saya senangi dan tidak memberatkan. Kalau menurut saya terlalu ribet aturan di kosan lama, kenapa pula harus dipertahankan. Lebih baik cari kosan yang adem ayem. Iya, kan?

Asal kau tahu, ya. Di kosan yang baru ini, saya merasa nyaman. Tempatnya itu di bibir kali—yang kata saya sebelumnya itu airnya tercemar. Ya enggak terlalu di bibir juga, sih. Begitulah, setelah saya banding-bandingkan dengan kosan lama, kosan baru lebih sejuk dan adem. Itu pertama yang saya suka.

Selanjutnya, saya sekarang sedang menikmati kosan yang baru. Mudah-mudahan lebih nyaman dibanding kosan lama. Yu ah tidur! Met tahun baru Islam bagi orang Islam.