Lebaran di Rumah Mertua

0

Inilah lebaran pertama saya di rumah mertua. “Mak, Pak, kayaknya lebaran tahun ini Cep gak pulang ke Bengkulu. Saya lebaran di Sukabumi.  Cep dan neng ke Bengkulu di luar lebaran …” begitu saya bilang ke orangtua, ketika memasuki dua hari ramadan.

Awalnya, lebaran tahun ini saya pengen ajak neng ke kampung halaman saya, sembari mengenalkannya kepada saudara-saudara saya, tetangga, handai tolan, dan tentu tempat-tempat eksotis yang ada di provinsi, yang beberapa hari yang lalu, daerah ini mendadak ramai, karena istri gubernurnya terkena OTT oleh petugas KPK karena menerima suap dari salah satu pengusaha di sana. Wow! Karena merasa bertanggungjawab dan malu, akhirnya, Ridwan Mukti, sang gubernurnya juga mengundurkan diri. “Siap-siap dibully …” salah satu komentar teman saya di facebook.

Itu keinginan saya sebelum ngobrol sama neng. Tapi, setelah saya ngobrol tentang rencana saya itu, neng bilang, ”A, gimana kalo lebaran besok (tahun ini) kita lebaran di Sukabumi. Tahun depan, insyaallah neng mau lebaran di Bengkulu. Soalnya, udah lebaran nanti aa, kan mau bawa neng ke Bandung. Jadi, lebaran tahun ini lebaran terakhir neng bersama keluarga. Masih pengen bersama mereka dulu a …”

Saya mengerti. Andai saya jadi neng, mungkin saya pun akan bilang begitu. Hahaha. “Baiklah, Neng …” kata saya, sembari pikiran saya melayang, membayangkan berlebaran di rumah mertua, berkumpul dengan lima adiknya, silaturahmi dengan saudara-saudara ibu dan ayah mertua, tetangga kanan-kirinya, juga kekhawatiran bila saya tak dapat bergaul dengan keluarga mereka. Maklum, saya ini suka tidak pedean. Pemalu. Memerlukan waktu yang tidak sebentar bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Saya pun mulai sadar: Cep, kini kau tak lagi sendiri. Kau sudah menikah. Cara berpikirmu sudah harus beda, antara ketika masih sendiri dan sudah menikah. Kau tak bisa lagi mementingkan egomu. Kini, kau harus mulai berpikir adil tentang statusmu yang baru: MENJADI SUAMI. Intinya: ketika kau menikahi istrimu, artinya kau juga, mau tak mau harus pula “menikahi” keluarga mereka. Noted that!

Yup, jadi, udah tiga hari ini saya sedang menikmati hari kemenangan di rumah mertua. Siapa saja yang baru menikah, selamat menikmati lebaran di rumah mertua, ya. Walau, saya yakin kau masih canggung dengan mereka. Tapi, begitulah proses menjadi bagian dari keluarga baru.

 Cipetir, 27 Juni 2017

Bukan Catatan Harian Emon

1
Buku catatan harian pertamaku.

Buku catatan harian pertama saya.

Benar-benar sulit kalau saya harus menulis sesuatu yang saya tidak kuasai. Awalnya, saya ini mau nulis tentang politik. Tetapi, dengan hormat saya harus mengakui bahwa saya belum sanggup mengulas tentangnya. Kalau dipaksakan—saya tahu tentu akan cedera di mana-mana. Lebih baik tidak usah. Saya menulis apa yang saya pikirkan saja. Baiklah.

Saya punya tiga buah buku catatan harian. Ketiganya saya tulis selama saya kuliah tiga tahun lalu. Kalau saya rindu catatan-catatan super lebay saya—maka saya tak segan mengambil satu, dua, atau ketiga catatan harian saya itu. Saya baca sambil ketawa-tawa. Dan itu saya lakukan, biasanya sebelum tidur malam.

Membaca lembar demi lembar catatan harian—sebetulnya saya membuka tabir kebodohan saya masa lalu. O, jadi sekarang saya tidak bodoh lagi? Bukan, maksud saya, bahwa hampir semua isi catatan harian saya itu tidak jauh dari keluhan sehari-hari yang pada waktu itu saya alami. Pokoknya yang ecek-eceklah. Selebihnya puisi yang tidak puitis.

Buku catatan harian kedua saya.

Buku catatan harian kedua saya.

Dan yang ecek-ecek, terus keluhan-keluhan yang ada di dalam buku catatan harian saya itu—ya saya sebut saja semuanya kebodohan saya. Sebaiknya, dulu—saya tidak menulis tentang kegalauan, tapi ya mungkin yang lebih penting dari sekadar galau, misalnya semacam artikel yang biasa dipampang di koran-koran. Memangnya segala kegalauan hati tak penting, ya ditulis? Kata siapa? Saya salah!

Justru—ketika siapa pun ditimpa galau—tak ada cara yang lebih bijak selain menuliskan kegalauan tersebut—bisa di diary, leptop, blog, atau di selembar kertas yang ada di atas meja. Tuliskan dengan jujur ketidakenakan hati itu segera! Dengan begitu, kata beberapa seumber yang pernah saya baca—ternyata bisa menyehatkan dan mengurangi stress. Ya buktikan sendiri kalau enggak percaya.

Yang saya sayangkan—sampai detik ini pun saya masih belum bisa meninggalkan kebiasaan saya menulis catatan harian. Bedanya, kalau sekarang saya menulisnya tidak tiap hari atau jelang tidur malam seperti ketika saya sedang kuliah dulu—tetapi setiap tanggal 9 tiap bulannya. Kebetulan buku itu hampir penuh dan harus beli lagi buku baru.

Buku catatan harian ketiga saya.

Buku catatan harian ketiga saya.

Saya, sih sempat berpikir—bahwa apa yang saya lakukan ini tak ada gunanya sama sekali—bahkan memalukan. Mana ada cowok lain—teman-teman  saya—yang  kelakukannya sama kayak saya? Entah kalau para cowok lain di luar jangkauan saya. Biarlah, saya mau egois sebentar: mereka ya mereka, saya ya saya.

Saya pun tidak pernah berpikir untuk apa pada akhirnya catatan harian saya itu. Pokoknya nulis ya nulis aja. Setidaknya, buku-buku catatan harian saya itu akan saya kasih tahu kepada anak-anak saya. “Nak, tahu gak kalau ayahmu ini sebetulnya lebay, lho? Ni buktinya, ayah punya catatan-catatan kelebaian di buku ini. Baca, ya, Nak!”

Tapi ingat, ya. Saya ini bukan AS alias Emon pelaku pedofil di Sukabumi—yang katanya, korban Emon sudah mencapai 100-an. Kenapa mesti si Emon? Saya baca di Koran Tempo, bahwa Emon pun ternyata punya buku diary. Nah, di dalam diary tersebut, Emon mencatat daftar anak-anak yang pernah ia “gituin” selama ini. Jangan main-main dengan diary! Diary dapat ungkap segalanya! Duh, emen, eh Emon…

Begini kalau disatukan pemirsa budiman.

Begini kalau disatukan pemirsa budiman.