Seperti Tepat Waktu

3

Saya belum mencoba mengerjakan pekerjaan kantor di luar jam kerja. Bukan tidak ingin. Tapi kalau pekerjaan kantor masih bisa dikerjakan pada jam kerja, kenapa harus dikerjakan di luar jam kerja? Sesungguhnya jika saya berlama-lama di kantor melebihi jam kantor, yakinlah, bahwa saya tidak sedang melanjutkan pekerjaan kantor, tetapi saya sedang brosing, Kawan.

Saya berusaha tepat waktu. Pas waktunya pulang kantor, ya pulang. Kecuali saat itu hujan disertai petir dan di depan kantor banjir 3 meter. Bila kerjaan kantor gak beres hari itu, ya dilanjutkan besok, tentu dengan semangat baru. Saya berusaha, seperti yang saya bilang, tidak mengerjakan pekerjaan kantor di luar jam kerja.

 Gak bakal ada habisnya bila terus mikirin dan ngerjain kerjaan kantor. Yakin? Kecuali, memang ada lemburan, ya mau gak mau harus saya lakukan karena ini berhubungan dengan target kerja. Lagian, biasanya, kalau lembur suka dikasih uang lembur. O, jadi hanya karena uang saya lembur? Ah, gak juga. Sekali lagi, saya belum pernah lembur. Kecuali menemani teman yang lembur!

Pun ketika saya berangkat ke kantor. Biasanya, sebelum 07.30 saya udah di kantor. BIASANYA.  Bukan apa-apa. Saya anak kos. Apa lagi? Iya, saya belum menikah. Jadi, kata teman di kantor yang udah nikah, saya datang pagi-pagi ke kantor adalah wajar. “Nah, saya dari rumah nganterin istri dulu ke kantor, belum lagi anak mau dianter ke sekolah! Jadi wajar kalo telat 10 menit atau setengah jam mah!” begitu kata salah satu teman.

Kendati begitu, kadang-kadang, hati saya selalu digoda oleh bisikan yang tidak bisa direkam oleh hape. “Kamu nanti jadi karyawan teladan. Bersiaplah dapat penghargaan.” Dan bisikan-bisikan lain yang lebih kejam. Siapakah pembisik itu? Setankah? Ah, belum tentu! Jangan-jangan memang hati saya sudah tidak steril sebelum setan membisik.

Bagi saya, bisikan-bisikan itu sulit saya hindari. Karenanya, ia tetap saya jadikan teman, walau bukan teman akrab. Saya berangkat ke kantor ya udah naluri saja. Udah kewajiban. Udah kebiasaan. Apalagi saya udah lebih dua tahun bekerja di perusahaan penerbitan ini. Jadi, saya tidak berharap apa-apa lagi selain ingin belajar lebih dalam lagi mengenai yang saya geluti dari teman-teman kantor yang lebih senior dan junior.

Andai pun ada orang yang memuji saya karena datang pagi-pagi ke kantor, anggaplah itu bonus yang tak pernah saya rancang. Tapi jujur, saya tak pernah nyaman dengan pujian. Jika berniat memuji saya, pikirkan kembali. Alihkan saja pujian itu ke orang lain yang lebih pantas. Bener, nih? Bentar, saya pikir dulu, ya.

Dadah!

 

 

 

 

 

 

 

 

Mau Kerja? Bayar Sejuta!

6

Imam, keponakan saya akhirnya dapat panggilan kerja di salah satu klinik di Kota Bandung. “Disuruh interview senin besok. Tempatnya di dekat gedung sate …” kata dia, dua minggu lalu.

Mendengar itu, saya bungah. Siapa tahu, Imam keterima kerja di klinik itu sebagai office boy. Saya juga kasian, karena sejak dia memutuskan risain dari kuliah sejak lebaran kemarin, sampai tulisan ini muncul, dia belum punya kegiatan yang produktif.

“Persiapkan sajalah buat interview. Coba sercing di gugel gimana tips pas wawancara, Mam!” begitu pesan saya ke dia via BBM. Dia bilang oke. “Siapa tahu rezekimu di klinik itu,”tambah saya. Dia juga bilang oke. Saya agak kesal di bagian ini, karena dia selalu menjawab oke. Kesal saja. Tidak benci.

Adik saya yang antar imam interview. Karena kalau dia sendiri yang pergi, nanti dia bingung cari alamat. Dia masih rabun nama-nama jalan di kota kembang ini. Sama seperti saya. Memang adik saya tahu? Ah, gak juga. Tapi minimal, udah 3 bulan ini dia sering keliling di pusat kota Bandung untuk melamar kerja.

Dari kantor, saya kirim pesan via WA ke adik saya, “Gimana, Imam udah wawancara?” Adik saya bilang belum. Masih berlangsung katanya. “Semoga jawaban Imam meyakinkan si pewawancara,” hati saya nyeletuk.

Saya sebetulnya udah gak sabar ingin tahu apa hasil interview Imam. Siapa tahu dia keterima langsung, tanpa harus ikut tes yang lain. Syaratnya, seperti tertera di info lowongan kerja yang tertulis di koran ketika itu: bersedia tinggal di kantor. Seketika, saya bilang,”Bagus itu, Mam! Jadi gak bayar buat kosan lagi. Dah, daftar segera! Siapa tahu nyangkut!”

Saya tiba di kontrakan ketika Imam khusyuk dengan gadgetnya.  “Oi, gimana interview-nya tadi? Banyak yang ikut interview?”

“Cerita, dunk, ah!” lanjut saya.

“Ah! Muka si pewawancara ngeselin banget, apalagi setelah dia bilang,’kalau mau diterima kerja di sini ijazahnya ditahan. Terus, kamu harus nyerahin uang sejuta buat jaminan!’” begitu cerita Imam ke saya. Saya ketawa. Saya juga kesal. Saat itu saja. Besoknya tidak. Tapi sekarang, saat nulis ini, saya kesal lagi, karena inget cerita Imam.

Malang nian memang keponakan saya yang satu ini. Baru sekali wawancara, eh udah diminta duit oleh si pewawancara dengan alasan untuk jaminan. Tapi gak papa, Mam. Daripada kau tidur di kontrakan, kau tak bisa merasakan kejutan seperti ini. Ya, cari kerja itu tak mudah. Cari kerja itu harus siap bersaing dan kudu siap-siap kecewa.

Kata Imam, si pewawancaranya bilang lagi,”Nanti pas kamu diterima di sini, pagi-pagi kamu bersihin kontrakan yang gak jauh dari sini. Nah, siangnya ke sini lagi!” Imam bingung. “Di lowongan, kan jadi office boy di klinik itu, tapi, kok juga disuruh bersihin kontrakan juga, ya? Nah, Imam curiga di situ!” celoteh Imam kesal.

Imam juga nanya kenapa kontrakan itu harus dia bersihkan juga. Pun nanya, itu kontrakan diisi oleh siapa. Kata Imam, seperti si pewawancara jelaskan bahwa kontrakan itu juga bagian dari klinik yang diisi oleh mahasiswa dan nonmahasiswa. “Ah, ini udah gak benar!” ucap keponakan saya.

Karena dirasa cukup penjelasan Imam, akhirnya saya katakan,”Udah, tinggalin! Cari yang lain! Lagian mau bayar sejuta juga kamu gak ada duit, kok! Hahaha. Seharusnya, kamu bilang ke si pewawancara,’pak, yakin cuma nyetor sejuta? Bisa dua juta, gak?’”

Azan magrib pun berkumandang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mudik #part 3

0

Saya lupa lagi pukul berapa saya nyampe Merak malam itu. Jelasnya, pemudik begitu ramai pas saya turun dari bis Arimbi di terminal Merak. Tak sedikit calo menawarkan bis atau travel menuju Lampung. Saya tak menghiraukan itu. Tapi, saya malah menyimak dari pengeras suara, ”Kepada para pemudik, harap barang bawaan anda jangan sampai tertinggal. Awas anak-anak anda terlepas dari pegangan. Pastikan anda aman dari copet yang berkeliaran.”

Saya langsung mencari tempat makan. Saya pilih warung padang. Uh, udara malam itu panas sekali. Maklum, mungkin dekat pelabuhan penyeberangan. Saya juga pesan teh hangat manis, untuk menyegarkan dan menghilangkan rasa mual. Warung padang juga padat oleh mereka yang mau makan atau minum saja. Tak sampai setengah jam, makan beres. Saya langsung meninggalkan warung padang dan bergegas ke antrian tiket kapal laut. Terlihat dari jauh, Merak-Bakauheuni rp. 13.000. Ah, murah!

Saya baru kali ini antri beli tiket kapal laut. Ini sesuatu yang baru bagi saya. Saya pikir, inilah mudik pertama yang benar-benar mudik. Karena terasa benar hiruk pikuknya. Yang selama ini saya lihat di televisi bagaimana orang-orang berjubel di pelabuhan ketika mereka mudik, maka saya kali ini mengalaminya sendiri. Ternyata, mudik dengan cara estfet ini benar-benar asyik, meski melelahkan. Eh, tidak melelahkan, tapi mengenakkan!

Sekitar 15 menit lah saya antri tiket kapal malam itu. “Bebas mau jam berapa aja kalau udah beli tiket ini …” kata penjual tiket begitu saya tanya, jam berapa kapalnya berangkat. Artinya, begitu pemudik sudah beli tiket, tak harus detik itu juga naik kapal. Mau menunggu satu atau dua jam setelah beli tiket, kemudian baru berangkat juga tak masalah. Yang penting tiket udah di tangan! Karena saya ingin cepat sampai di Bakauheuni, maka saya pun segera menuju antrian menuju kapal yang akan berangkat. Saya lupa lagi, saya berada di dermaga jam berapa malam itu.

Waw! Padat sekali, Man! Padat sangat! Padahal ini belum puncak arus mudik, lho! Sungguh sayang, saya tidak bisa mengabadikan momen itu. Hape saya memang sudah mati sejak dari Bandung! Kasihan benar! Ya sudah, saya hanya bisa menikmati berdesak-desakan itu dengan perasaan cemas! Cemas kalau jembatan untuk memasuki kapal itu ambruk. Cemas kalau saya mati terinjak oleh pemudik lain dan saya masuk tipi, sementara keluarga saya menonton berita buruk itu. Uh, bercampur rupa pkiran saya di tengah deru keringat di tubuh malam itu.

Lanjut! Ya, nanti bakal dilanjut..

 

 

Mudik #Part 2

1

hai, apa kabar para blogger yang baik hatinya?

o, iya. saya waktu itu janji mau cerita tentang perjalanan mudik dengan cara estafet, cara yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

begini. saya lupa lagi tanggal berapa saya berangkat dari bandung untuk memulai perjalanan mudik waktu itu. jelasnya, 4 atau 5 hari sebelum lebaran. atau sehari atau dua hari sebelum puncak arus mudik.

ok. selepas pulang kantor, kebetulan hari itu kantor kami masuk setengah hari, sebab hari itu hari terakhir ngantor. sekitar pukul 15.00 waktu kota bandung, saya dan adik ke terminal leuwi panjang dengan menumpang mobil seorang teman. Dia sendiri yang nawarin,”Hayu aku anterin ke terminal!” Jujur, saya males nolak!

lama juga kami harus sampai ke terminal leuwi panjang dari cinambo. klasik: MACET! Tapi, itu kami nikmati sambil ngobrol. tak sedikit pun di antara kami mengeluhkan tentang padatnya kendaraan. untuk apa? saya pikir tiada guna. Andai pun ada yang mengeluh ketika itu, saya akan menyuruhnya turun dari mobil dan silakan pilih kendaraan lain. untungnya tidak! Alhamdulillah.

“Turun di sini aja, Bro!” kata saya ke teman saya ketika mobil yang kami tumpangi nyaris sampai di depan pintu gerbang terminal leuwi panjang. pukul 16.30. saya dan teman berpisah. Terjadilah dadah-dadahan di antara kami, cuma tanpa MUUUAAAACH! tengkiyu, brader, kata saya.

langit mendung. Kenapa mendung? Karena saya lihat sendiri ke atas langit. Merintik pula. saya dan adik setengah berlari menuju dalam terminal. Saya menuju bis Arimbi: BANDUNG-MERAK. Ada sekitar 2 atau 3 lagi armada busnya. Saya juga khawatir. Jangan-jangan bisnya penuh. Males kalo gak kebagian kursi. Males berdiri. Gak nyaman berdesak-desakan.

yang saya khawatirkan tidak terjadi. Pas saya dan adik memasuki bis, eh, kursi bis masih lowong. Baru ada sekitar 5 orang di dalam bis. Gak tahu persis siapa mereka dan pekerjaannya apa. Jelasnya, di barisan kursi sebelah kiri ada seorang anggota TNI. Mungkin mau mudik juga, sama kayak saya. Aman lah pokoknya kalau di bis ada tentara. Minimal kalo ada pengamen yang tak santun, dia bisa diandalkan untuk menanganinya.

Penjual gorengan masuk bis. Nawarin dagangannya ke setiap penumpang. Dari penumpang di depan sampai belakang. “Gorengannya A sarebuan. gorengannya, teh. Persiapan untuk buka,” lontar si mamang yang mengenakan topi hitam. Karena saya takut di rest area bis ini gak berhenti, maka saya beli gorengan 7 ribu ke si mamang itu, sekalian buat buka puasa. “Nuhun A,” ucap si penjual gorengan. Sementara air mineral botolan saya beli dari pedagang lain yang berseliweran di dalam bis

Bis mulai maju perlahan. Kenek bis terus berkoar: MERAK…MERAK. Para penumpang juga sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada yang ngobrol. Bayi nangis. Khusyuk dengan gadgetnya. Ada pula yang makan-minum, walau bedug magrib belum berkumandang. Saya juga sempat tergoda buka puasanya pengen dipercepat. Juga didorong alasan bahwa saya ini MUSAFIR, jadi diperbolehkkan tidak puasa. Ah, males! Tanggung! Ini udah pukul 17.00. sejam lagi juga magrib. Akhirnya saya kuatkan lagi niat untuk menyelesaikan puasa saya. Yes!

Bis udah masuk tol purbaleunyi. Hape saya mati. Habis daya. Saya minta ke adik saya tolong kasih tahu emak dan apak bahwa kita baru berangkat dari bandung menuju merak. Minta doa mereka. “Yang puasa, silakan buka. Udah magrib!” kenek bilang gitu tiba-tiba. Oi, alhamdulillah! Akhirnya! Gorengan dingin yang tadi saya beli, saya lahap perlahan, setelah sebelumnya minum air mineral.

Lagu cirebonan yang mengalun di dalam bus membuat saya mengantuk. Merak masih lama. Mungkin ada sekitar 3 jam-an lagi. saya lebih baik tidur dulu, biar nanti pas bangun udah nyampe Merak. Eh, tapi saya belum salat magrib. Saya pun tayamum lalu salat magrib dan isya dijama’.

Oke, setelah salat saya langsung tidur…BERSAMBUNG…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Aku Homo Seksual

1

Banyak yang kita obrolkan sembari makan siang itu. Termasuk, bahwa dia sebentar lagi akan risain dari tempat kerjanya, yang juga tempat kerja saya. “Ingin fokus menulis dan belajar melukis. Waktunya lebih luas dibanding sambil kerja …” katanya.

Makan siang usai. Kami pun pulang lagi ke kantor dengan berjalan kaki, sembari ngobrol.

 Saya: “Kapan kamu nikah?”

Dia: “Haha. Aku tidak berpikir untuk menikah. Ya, kayaknya, gak, deh!”

Saya: “Pernah pacaran?”

Dia: “Hasan, aku homo seksual! Mana mungkin pacaran!”

Saya: “Sejak kapan?”

Dia: “Aku sadar aku suka cowok itu pas SMP.”

Saya: “Pacar cowok punya?”

dia: “Hmmm. Hahaha. Teman dekat ada, bukan pacar.”

Saya: “Teman dekat … teman dekat, o, ya.”

Kami udah masuk gerbang kantor. Dia harus melanjutkan ceritanya, kata saya dalam hati. Jam masuk kantor masih 30 menit lagi. Lumayan.

Saya lagi: “Duh, duduk di mana, ya? Ngobrolnya biar enak.”

Dia lagi; “Di sana aja, di beranda. Ayo!”

Saya lagi: “Kok orientasi seksualmu beda, gimana ceritanya?”

Dia lagi: “Aku juga gak tahu. Kenapa orientasi seksualku berbeda dengan kebanyakan orang. Siapa yang menghendaki aku seperti ini, aku tidak tahu. Udah kubilang, aku baru sadar tentang ini sejak aku SMP.”

Saya lagi: “Siapa aja yang tahu tentang kecenderungan seksualmu kepada cowok?”

Dia lagi: “Teman pas kuliah.”

Saya lagi: “Mereka ngerti dengan keadaanmu?”

Dia lagi: “Tidak semua. Ada teman yang sepertinya mengerti tentang keadaanku, ternyata Dia tidak mengerti. Sebaliknya begitu.”

Saya lagi: “Orang tuamu tahu?”

Dia lagi: “Ibuku tahu. Begitu aku ngasih tahu, dia kaget, sedih, dan nyuruh aku segera tobat. Kata ibuku, karena yang kayak gitu sesuatu yang dibenci. Pelakunya bisa masuk neraka…”

Saya lagi: “Wow!”

Dia lagi: “Aku bilang ke ibuku, bahwa aku tidak meyakini apa yang ibu yakini. Aku sudah tidak berpikir soal dosa, pahala, neraka atau surga. Dan ibuku menangis …”

Saya lagi: “Eh, bentar. Maksud kamu ‘tidak meyakini yang ibu yakini”, itu apa?”

Dia lagi: “Ya, soal agama. Aku tidak yakin dengan agama yang diyakini ibu.”

Saya lagi: “Sejak kapan ibumu tahu?”

Dia lagi: “Baru-baru ini. Tapi, ibu bilang padaku bahwa dia tetap sayang padaku dan mengucap terimakasih atas pengakuanku.”

Saya lagi: “Perasaan kamu gimana sekarang setelah ibu tahu?”

Dia lagi: “Hati jadi plong, tak ada beban lagi. Ini adalah hal yang ingin kuceritakan kepada ibu sejak dulu. Cuma aku takut. Aku belum berani dengan segala konsekuensinya. Salah satu temanku, yang juga punya kenderungan sama denganku, setelah dia ceritakan ke ibunya, dia langsung tidak diakui sebagai anaknya, bahkan diusir dari rumahnya. Teman satu lagi, meski tidak diusir dari rumah, oleh ibunya dibawa ke psikiater, diobati, minta disembuhkan. Tapi, teman itu malah sakit hati dengan perlakuan ibunya. Dianggapnya, kecenderungan dia sebagai penyakit …”

Saya lagi: “Sory to say, sama teman dekatmu pernah gak ngelakuin ‘sesuatu” seperti orang pacaran?”

Dia lagi: “Hmmm. Ya, pernah …”

Saya lagi: “Jam berapa sekarang?”

Dia lagi: “Satu kurang lima menit.”

Saya lagi: “Oke, aku ke meja aku dulu, ya.”

Dia : “O, iya, makasih telah merhatiin aku dengan pertanyaanmu dan tidak menghakimiku …”