Urusan

0

Betapa banyak urusan di dunia ini, yang harus segera diselesaikan. Jangan bicara jauh-jauh soal urusan dunia. Urusan saya saja lumayan numpuk. Belum lagi urusan keluarga. Urusan pekerjaan. Dan urusan-urusan lain, yang jika saya list, bisa saja buat geleng kepala. Tapi, itulah hidup. Urusan selalu ada. Urusan selalu datang. Dan bila suatu urusan itu tak diselesaikan, tentu  Anda, saya, dan kita bakal diliputi gundah, bahkan bakal terus dihantui oleh urusan-urusan yang belum selesai tersebut.

Saya saat ini sedang mengurus surat pindah. Surat pindah dari Bengkulu ke Bandung. Saya meminta kakak saya mengurus surat pindah tersebut. Saya bisa urus surat pindah itu sendiri. Tapi, tahulah, urusan saya bakal bertambah. Harus izin dari kantor lah. Harus nyiapin tiket pesawat pulang-pergi lah. Harus ninggalin istri yang lagi hamil lah. Bla bla bla pokoknya.

Istri saya juga begitu. Dia meminta ibunya di Sukabumi untuk mengurus surat pindah. Saya belum tega istri saya yang sedang hamil mengurus surat pindah tersebut sendirian, walau jarak Bandung-Sukabumi tak terlalu jauh dibanding Bandung-Bengkulu. Apalagi, istri saya juga mengajar. Seperti saya bilang, bisa saja istri saya izin ke sekolah untuk mengurus surat pindah, tapi, itulah, bakal tambah urusan lagi. Dan lagi.

Kami putuskan, untuk urusan surat pindah ini kami meminta orang kedua menyelesaikannya. Walau, ketika surat pindah dari dua kota tersebut sampai di Bandung, kami tentu harus mengantar surat pengantar tersebut ke kelurahan, yang tempatnya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami sekarang. Urusan-urusan lain yang berhubungan, tentu akan menyertai sepanjang kami mengurus surat pindah sampai KTP baru kami terbit!

Lalu, setelah KTP Bandung kita peroleh, misalnya, apa lagi urusan yang harus saya selesaikan? O, ada: bikin KK, kartu BPJS, dan dokumen-dokumen lainya. Wow, betapa ketika sebuah urusan selesai, maka pastilah, mau tidak mau, urusan lain segera menyusul. Begitulah hidup. Jalani saja.

 

 

 

 

Iklan

Lebaran di Rumah Mertua

0

Inilah lebaran pertama saya di rumah mertua. “Mak, Pak, kayaknya lebaran tahun ini Cep gak pulang ke Bengkulu. Saya lebaran di Sukabumi.  Cep dan neng ke Bengkulu di luar lebaran …” begitu saya bilang ke orangtua, ketika memasuki dua hari ramadan.

Awalnya, lebaran tahun ini saya pengen ajak neng ke kampung halaman saya, sembari mengenalkannya kepada saudara-saudara saya, tetangga, handai tolan, dan tentu tempat-tempat eksotis yang ada di provinsi, yang beberapa hari yang lalu, daerah ini mendadak ramai, karena istri gubernurnya terkena OTT oleh petugas KPK karena menerima suap dari salah satu pengusaha di sana. Wow! Karena merasa bertanggungjawab dan malu, akhirnya, Ridwan Mukti, sang gubernurnya juga mengundurkan diri. “Siap-siap dibully …” salah satu komentar teman saya di facebook.

Itu keinginan saya sebelum ngobrol sama neng. Tapi, setelah saya ngobrol tentang rencana saya itu, neng bilang, ”A, gimana kalo lebaran besok (tahun ini) kita lebaran di Sukabumi. Tahun depan, insyaallah neng mau lebaran di Bengkulu. Soalnya, udah lebaran nanti aa, kan mau bawa neng ke Bandung. Jadi, lebaran tahun ini lebaran terakhir neng bersama keluarga. Masih pengen bersama mereka dulu a …”

Saya mengerti. Andai saya jadi neng, mungkin saya pun akan bilang begitu. Hahaha. “Baiklah, Neng …” kata saya, sembari pikiran saya melayang, membayangkan berlebaran di rumah mertua, berkumpul dengan lima adiknya, silaturahmi dengan saudara-saudara ibu dan ayah mertua, tetangga kanan-kirinya, juga kekhawatiran bila saya tak dapat bergaul dengan keluarga mereka. Maklum, saya ini suka tidak pedean. Pemalu. Memerlukan waktu yang tidak sebentar bersosialisasi dengan orang-orang baru.

Saya pun mulai sadar: Cep, kini kau tak lagi sendiri. Kau sudah menikah. Cara berpikirmu sudah harus beda, antara ketika masih sendiri dan sudah menikah. Kau tak bisa lagi mementingkan egomu. Kini, kau harus mulai berpikir adil tentang statusmu yang baru: MENJADI SUAMI. Intinya: ketika kau menikahi istrimu, artinya kau juga, mau tak mau harus pula “menikahi” keluarga mereka. Noted that!

Yup, jadi, udah tiga hari ini saya sedang menikmati hari kemenangan di rumah mertua. Siapa saja yang baru menikah, selamat menikmati lebaran di rumah mertua, ya. Walau, saya yakin kau masih canggung dengan mereka. Tapi, begitulah proses menjadi bagian dari keluarga baru.

 Cipetir, 27 Juni 2017

Mudik #part 1

1

Awalnya saya enggan mudik tahun ini. Enggan sekali. Karena, ritual tahunan itu sudah begitu lama saya jalani. Ada rasa bosan. Bukan tidak rindu kedua orangtua dan keluarga, melainkan, saya akan mengunjungi mereka di luar hari mudik, misalnya 3 minggu setelah lebaran. Biar sepi. Biar ongkosnya pun normal, tidak gila seperti saat ini.

Namun, rencana itu gagal! Gagal total gara-gara adik saya ngajakin bareng mudik, karena kita berdua sudah tinggal di satu kota. “Ayolah, sekali ini saja. Saya gak enak kalo mudik sendiri.” Kasian juga saya pas mendengarnya. “Oke, tapi saya gak mau naik pesawat! Kita estafet saja kalo mau! Saya tak mau buru-buru nyampe rumah. Saya mau menikmati perjalanan!”

Adik saya setuju. “Oke! Siapa tahu jadi ngirit ongkos! Lagian kita siangnya puasa, jadi gak banyak makan. Kecuali udah lelah banget, ya udah berbuka aja, apalagi  kita musafir!” “Ah, musafir! Musafir dengkulmu, Bro!” kata saya serius.

Saya belum pernah mudik dengan cara estafet. Makanya saya akan coba tahun ini. Siapa tahu lebih asyik. Siapa tahu lebih irit. Biasanya, selama ini, kalau saya pulang ke Bengkulu, ya naik pesawat atau bis Bandung-Bengkulu. Bis SAN, Putra Rafflesia, atau Bengkulu Kito.

Saya iseng cek harga tiket pesawat di traveloka beberapa hari lalu, uh, udah naik 700 ribu (yang biasa 400-an). Saya tanya ke loket bis di Caringin (jurusan Bandung-Bengkulu), eh, naik juga: 575 ribu (yang biasa 375). Ya udah, saya kira estafet adalah cara terbaik, meski saya belum bisa memprediksi seperti apa perjalanannya nanti. Moga lebih irit. Jika pun membengkak, ah, itu risiko saya, bukan siapa-siapa, apalagi Anda.

Ok, bismilah. Rencananya, saya berangkat jumat besok setelah magrib dari Leuwi Panjang, Bandung menggunakan bis ke Merak. Bis Arimbi atau Bima Suci. Saya tidak tahu berapa ongkos Bandung-Merak dengan bis itu. Teman bilang 85 ribu. Walau naik, semoga kenaikannya tidak membuat saya dan adik membatalkan mudik! Perjalanan Bandung-Merak sekitar 6 jam. Kalau lancar. Semoga saja lancar ya Allah. Jika tidak, jangan pula jadikan kami hamba yang mengomel.

Pastinya, setelah di Merak, kami cari penjual tiket kapal laut untuk menyeberang ke Bakauheuni, Lampung. Baca-baca di internet, kapal laut Merak-Bakauheuni beroperasi 24 jam. Semoga. Ongkosnya saya belum tahu berapa per-orang. Ada yang bilang 13 ribu. Ada juga 15 ribu. Mana yang benar? Tunggu, ya pada tulisan saya setelah lebaran, Guys.

Karena niatnya pengen jalan-jalan dulu, jadi begitu nyampe di pelabuhan Bakauheuni, ya diam dulu. Nyantai dulu, menikmati udara di sana. Menikmati orang-orangnya. Semuanya akan kita nikmati dulu, baru setelah itu kita lanjutkan ke Bandar Lampung. Kebetulan, saya belum pernah ke kotanya. Mau naik bis atau travel, itu juga saya belum tahu. Ya, gimana nanti lah. Kadang hidup memang tak harus sesuai rencana. Haha.

Begitulah rencana mudik saya kali ini. Saya belum tahu, dari Lampung ke Bengkulu mau naik apa. Bis atau travel, belum kepikiran. Soalnya mau diitung-itung dulu. Bis berapa, travel berapa, dan kalau jalan kaki berapa lama. Atau, saya sih berharap bisa naik truk. Kali aja ada supir truk yang butuh teman selama perjalanan Lampung-Bengkulu. Atau juga, naik mobil teman, yang tiba-tiba ketemu di jalan, yang dia juga mau ke Bengkulu. Ah, itu semua hanya hayalan, Kawan! Tapi, kalau ada kesempatan, kenapa juga diabaikan, ya, kan?

Ok, Guys! Met mudik, ya.

Mudikmu bukanlah mudikku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Abdur

0
Abdur. Foto diambil dari akun instagram miliknya.

Foto diambil dari akun instagram miliknya: aa_abdur

Saya bilang ke adik saya, tolong jangan buru-buru mau keluar dari kerja. Pikirkan 10 kali sebelum melangkah cari kerja yang lain. Apalagi, kata saya, ente belum ada persiapan mau ke mana begitu risain dari tempat kerja sekarang. Namanya bekerja itu mana ada yang enak, mana ada yang bikin nyaman selamanya. Adakalanya membosankan, bahkan jenuh tingkat kaisar!

Yang enggak pernah jenuh dan bosan barangkali Izrail—pembantu Tuhan yang tugasnya nyabut nyawa. Bayangkan, andai malaikat maut itu bilang sama tuannya,”Bos, rasanya aku udah bosen, nih kerja nyabut nyawa orang. Maaf, aku mau keluar aja, ya jadi pegawaimu? Soalnya aku mau cari pekerjaan lain yang kira-kira tak dibenci manusia.”

Nah, karena kau manusia, Abdur, jadi, tolong resapi, namanya beraktivitas di dunia ini, bila dirasa-rasa, ya sebenarnya enggak ada yang enak. Lelah, capek, depresi, males, dan gangguan-gangguan lain yang menyebabkan enggan melakukan sesuatu. Jadi tahan sebentar egomu untuk memutuskan keluar kerja. Pikirkan ulang maksud saya.

“Eggak ada perubahan kerja di Bengkulu, A!” Itu katamu, entah berapa puluh jam lalu. Siapa  yang enggak berubah? Dirimu, Bengkulunya sendiri, perusahaan tempatmu bekerja, pacarmu yang kembar itu, atau, jangan-jangan gajimu selama ini tak pernah cukup untuk biaya hidup sehari-hari di tengah harga-harga kebutuhan pokok kian melambung dan cicilan kredit motor yang memusingkan?

Untuk yang terakhir, saya tanya berapa bulan lagi cicilan motor yang harus adik saya bayar? ”Baru dibayar lima bulan, Bro! Setahun setengah lagi!” Terus, kalau kamu keluar gawe (kerja), siapa yang bakal bayarin motor? Begitu kejar saya ditelepon. Adik bungsu yang pewarta di salah satu media televisi lokal itu hanya bilang,”Motor dijual saja! Paling bayar aja berapa DP saya kemarin.”

Saya katakan lagi ke adik saya yang tinggi badannya melebihi saya,”Kalo bisa jangan seperti saya lah! Dua tahun lalu saya pun memutuskan keluar kerja  begitu saja tanpa memikirkan mau ke mana atau mau kerja di mana setelah saya keluar kerja, walau dengan alasan saat itu saya udah merasa bosan dengan pekerjaan itu dan lagi, gajinyo idak besak, sementara, sama, motor harus dibayar!”

Kamu, kan tahu, Dur. Saya ini baru bisa dapat kerja lagi setelah enam bulan menganggur luntang-lantung di Bandung. Kamu bisa bayangkan, bagi yang udah biasa bekerja dari pagi pulang sore, terus tiba-tiba aktivitas itu terhenti karena belum dapat kerja yang baru, wah, itu sungguh membuat nyaris stress. Wajar stress kali, ya. Uang enggak ada, sementara kredit motor harus dibayar! Bukan hanya itu, kan saya butuh makan. Hahaha.

Boleh kamu keluar kerja. Katamu, awal Maret ini kamu mau keluar dari tempat kerja. Bener, nih, Maret? Enggak salah? Gini, lho, Bro. Coba cari peluang dulu di sana, kontak semua teman yang udah kerja di tempat lain, kira-kira ada lowongan apa enggak, yang menurutmu, kamu bisa melakukan pekerjaan itu, jika memang pekerjaan yang sekarang sebenarnya bukan passion kamu. Lah!

Saya yakin ada pekerjaan yang lebih baik dari yang kamu kerjakan hari ini, asal dicari dan enggak usah ngeluh. Ngeluh boleh, tapi benarkah dengan kamu mengeluh masalah jadi tuntas? Ingat, Dur, tidak ada  kamus ngeluh di dalam tradisi keluarga kita. Bukan enggak boleh, lho. Awas, hati-hati mengartikan apa yang abangmu katakan ini.

Saya ini maunya jelas, Dur. Kamu bilang kamu mau cari kerja ke Bangka, eh tapi tahunya  teman kamu yang mau kamu ajak malah tidak diizinkan orangtuanya. Kamu enggak berani sendiri, ya, masa harus bergantung sama orang? “Bukan begitu. Yang tahu daerah Bangka, kan dia. Kalau saya harus sendiri ke sana, wuh, enggak enaklah kalau enggak ada kenalan!”

Saya sarankan adik saya coba hunting kerja ke Palembang. Di kota Pempek itu, sambung saya, minimal ada beberapa biji teman lama, yang sampai hari ini masih kontak-kontakan. “Hahaha! Tetap kurang enak kalau bukan teman saya. Sementara ini mau manfaatkan teman yang kerja di luar Bengkulu yang sebelumnya kenal sama saya. Bukan baru kenal, tapi udah kenal sejak lama.”

Saya langsung sebutkan beberapa teman dia yang kini tinggal di luar Bengkulu, termasuk kakak saya yang ada di Belitung dan saya menyuruhnya segera hubungi mereka, jika memang mau cari kerja di tempat lain dan enggak mau di Bengkulu. Dia malah terbahak habis-habisan, padahal saya tidak ada niat untuk melawak di pagi yang gerimis itu. “Udah, gini aja, saya mau ke Bandung! Tolong tampung saya dengan ikhlas di kosan! Titik tanpa koma!”

Brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Ya Tuhan, benarkah dia adik saya???

Pilihan

1

Tahun baru 2013—kala itu saya merayakannya di puncak gunung Dempo, Pagaralam, Sumsel. Ada keinginan, pergantian tahun 2014 ke 2015 saya merayakannya kembali di puncak gunung. Beberapa teman sudah ada yang ngajak saya ke gunung Bromo, sebagian lain minta ditemani ke Kerinci—malah, dua hari lalu—teman kuliah memaksa saya ke Ciremai.

Lain lagi teman SMA—mereka mengajak saya berpetualang ke Belitung, Tanjung Pandan—Negeri Laskar Pelangi pas libur Natal dan tahun baru ini. Tiga hari sebelum saya menulis ini, teman kantor ngajakin saya ke Taman Nasional Way Kambas—Lampung Timur—tempat para gajah bersekolah sekaligus tempat rekreasi keluarga.

Saya jadi bingung mau pilih ajakan teman yang mana. Manjat Bromo nan cantik, Kerinci yang aduhai atau Ciremai yang anggun? “Ke Belitung aja, di sana, kan ada kakakmu. Oke, ya? Kamu, kan belum ke Pulau Lengkuasnya dulu pas kamu ke sana? Asyik, lho!” goda hati saya. Tuhan, berilah hamba petunjuk untuk memilih yang teman-teman tawarkan. Segera!

Jujur, meski saya tinggal di Bengkulu dan sering melewati Lampung—kala saya liburan, nyatanya Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang berada di Way kambas tersebut—hingga kini belum saya sambangi. Gimana kalau saya memilih ke Way Kambas saja? Apalagi, di sana juga terdapat International Rhino Foundation—yang tugasnya menjaga spesies badak agar tidak punah. Ah!

Bisa jadi saya tiba-tiba pesan tiket pesawat ke Bengkulu, sebab seminggu lalu, emak saya mengabarkan bahwa rambutan di pekarangan rumah mulai ranum. Tak hanya rambutan, tapi, “Iya, duren di depan dan di samping rumah juga siap jatuh. Di belakang dapur juga ada beberapa yang berbuah. Yang itu isinya kuning kayak mentega.”

Atau…atau…atau…atau…saya menikah saja? Saya minta doa dari para blogger—semoga Tuhan memilihkan saya yang pantas dan baik atas pilihan-pilihan di atas–utamanya akhir 2014 dan awal 2015. Dan, semoga pula pada 2015 kita berjumpa lagi dalam suasana berbeda dan lebih berkualitas—dalam hal apapun. Yuk, mareeee!