Dua Dosen Tanah yang Kembali ke Tanah

Gambar diunduh dari: www.kurakurahitam.wordpress.com.
Gambar diunduh dari: http://www.kurakurahitam.wordpress.com.

Ini masih seputar kematian. Tetapi kali ini infonya dari seorang kawan-yang masih menjalani masa-masa skripsi di Universitas Bengkulu (Unib). Status facebooknya sebetulnya yang menyuruh kedua bola mata terus memelototinya siang hari ini.

Apa isi status media sosial hasil kreasi Mark Elliot Zuckerberg milik kawan saya itu? “Innalillahiwainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah dosen kita bu Yen Efriyeni dan pak Syamsu S Nur Muin (dosen ilmu tanah). Semoga amal ibadah keduanya diterima di sisi-Nya. Aamiiin dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan. Sedih,” tulisnya.

Saya ikut berkomentar di bawah status yang ditulisnya itu, “Sakit?” Tak lama, Fitra-nama teman saya itu dengan cepat langsung menjawab, Ibu tuh skit kak, tpi msih kampuus mren tuuh…nah kto org2 mren tuuh, ibu tuh jtuh d lab… d bwak smo dosen2… yg bwak mobil tuuh dosen tanah yg cow.. smpe rmh skit bayangkara, bpak dosen yg bwak mobil tuh keluar dri mobil, jtuuuh ninggal jgo!”

Jleb! Dalam hitungan menit, dua dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unib wafat. Saya tidak menyangka kejadiannya bisa seperti itu. Yang mengantar ibu Yen ke rumah sakit, dalam hal ini pak Syamsu-sekaligus yang menjadi supir malah ikut pula menyusul ibu Yen ke pangkuan-Nya. Sekali lagi, innalillahiwainnailaihirajiun.

Ini kian meyakinkan saya. Pada saat menyusuri akun facebook, saya sempat pula mambaca status facebook seorang kawan-dia ini kakak kelas saya ketika di SMA dulu. Sama, memberitahukan tentang duka yang berasal dari kedua dosen tersebut. Apa tulisnya?

“Innalilahi wainna ilaihi raajiun. Siang tadi keluarga besar Unib berduka atas meninggalnya 2 orang dosennya.. yang hanya berjarak sekitar 15 menit. Sapa sangka yang mengantar almarhumah ke rumah sakit justru turut menjadi almarhum di parkiran rs. Bhayangkara.. tanpa sebab yg jelas kecuali takdirnya. Pesan buat yg masih idup.”

Fitra, kawan saya itu merasa menyesal dan barangkali sedih mendengar kabar dosen yang sekaligus menjadi pembimbingnya itu meninggal. Itu tampak di status selanjutnya, Baru kmren di lab ilmu tanah bertemu dan bebicara dngan 2 dosen itu, skrg mrk sdah prgi.” Sabar Fitra, skenario Tuhan siapa yang tahu.

Saya lalu chattingan dengan mahasiswi Jurusan Pertanian itu, masih di akun facebook. “Kira-kira berapa umur kedua dosen itu, Fit?” Fitra kemudian mengetik, “Sekitar 50-an lah, Kak!” Saya tak melanjutkan lagi chattingan dengannya karena waktu istirahat siang di kantor saya sudah “TENG”.

saya memang tidak kenal dengan kedua dosen itu, tetapi saya hanya mau katakan dan mungkin juga sebuah pertanyaan, “Berapa orangkah di dunia ini yang melepaskan nyawanya per-jam, detik, menit, ya? Apakah berbanding dengan kelahiran? Tak tahulah aku!”

Apapun yang menjadi penyebab kematian terhadap dua dosen Unib tersebut, saya hanya memohon supaya Tuhan mengampuni segala kesalahannya (jika ada). Mudah-mudahan pengabdiannya selama ini di kampus bergengsi di Kota Bengkulu, itu menjadi bekalnya di akhirat.

 Allahumagfirlahuma…

Ketika Gusdur Wisuda

Lewat FB, adik saya kirim ini. Benar-benar jadi loe sarjana!
Lewat FB, adik saya kirim ini. Benar-benar jadi loe sarjana!

Adik saya mau wisuda pada 18 Desember 2013. Abdurrahman, nama adik saya itu, tiga minggu lalu mengultimatum, “Kalau sampai Aa Hasan enggak hadir di acara wisudaku, aku enggak akan lagi nganggap A Hasan sebagai kakakku lagi! Ingat itu, Bro!” Saya anggap, fatwa Oman, sapaan akrab adik saya yang kuliah di Universitas Bengkulu, ini bercanda belaka. Mana mungkin ungkapan itu serius, wong selama kami bersama-bila terdapat sesuatu-kami tak pernah menganggapnya serius! Kapan antara adik-kakak ini serius? Ya, kami serius kalau sedang makan, selain itu-bulsit semua.

Maka, saat sang adik, yang kebetulan mengidolakan Lionel Messi, itu melontarkan seperti itu, saya malah ketawa, dan, lalu bilang, “Jangan main-mainlah kalau mau bikin sensasi itu, Ding! Tenang sajalah, apa, sih yang enggak buat kamu, Bro! Kalau ada sempat, duit, dan umur, kakakmu yang paling baik ini pasti hadir di hari kebahagiaan itu, Man! Doakan sajalah, moga yang kau harap dan aku ingin, itu segera terkabul oleh-Nya. Andai, pahitnya kakakmu ini tak dapat hadir, mungkin di lain hari di waktu yang berdekatan. Sebab, Aa pun pengin berfoto denganmu, apak, emak, kakak, teteh, dan ke-9 ponakan yang lagi bandel-bandelnya itu!”

Saya sih optimistis, 18 Desember 2013, itu saya bisa hadir. Kalaupun tidak, itu bukan lagi kewenangan saya. Sebab, sudah jauh-jauh hari pula saya merencanakan akan bersetia dengan adik saya ini, mendampinginya hingga masuk aula Unib, sampai-mungkin-berfoto-foto ria dengan keluarga besar saya. Tunggulah, walau-kau juga paham, bahwa Desember ini, bertepatan dengan libur siswa. Dan kau tahu, itu semua berdampak pada penaikan harga pesawat. Mau naik bis, duh, saya kapok, karena terlalu lama meletakkan pantat di kursi. Bayangkan, selama 30 jam duduk di kursi bis! Bisa-bisa saya ambeyen dibuatnya, macam kawan saya itu (tentu saya tak kuasa menyebut namanya).

Namun, tenanglah. Tak soal ongkos pesawat Jakarta-Bengkulu menggila, sebab itu tak terbayarkan dibanding kakakmu ini bisa bertemu dengan emak, apak, aa, teteh, kamu, 9 ponakan, dan-mungkin yang lainnya, yang belum sempat saya sebutkan di mimbar yang mulia ini. Yang terpenting itu, adikku, bukan prosesi wisudanya, tetapi selepas kau wisuda sarjana, eh, loe mau ke mana? Singkatnya, apa rencanamu selanjutnya? Itu barangkali yang sangat perlu dipikirkan, ya, Ding! Mau lanjut esduakah, kerjakah, atau, kamu mau nikah?

Kakakmu ini hanya turut gembira saja karena kamu telah menyelesaikan kuliah-walau, ya-kau tahulah keuangan emak-apak itu tak selalu stabil tiap bulan/semesternya selama ini. Kalau ente sudah sarjana, kan, beban kedua orangtua kita, tampaknya tak ada lagi, utamanya membiayai pendidikan. Paling-paling, ya kalau berkenan menabung buat naik haji, ya enggak papa. Tidak pun-sebagai anak, kita enggak maksa, kan? Tinggal, kini ente dan kakakmu ini, ya membantu menyemangati ponakan yang bejibun itu-yang sekarang bersekolah. Bila tak mampu kasih piti/uang, ya kasih nasihat, tak mampu juga, ya tinggal tidur aja lagi ente, Ding!

Udahlah. Cukup buat kamu sore jelang magrib ini. Moga kakakmu ini bisa datang ke pesta wisudamu. Salam buat semuanya yang ada di Bengkulu, ya. Buat apak, emak, aa, teteh, serta ponakan-ponakan-yang kadang-kadang bikin gemes itu. Yup ah! Satu lagi, karena adik saya ini namanya Abdurrahman, maka sering juga dipanggil “Gusdur”, baik oleh saya, juga teman-teman kuliahannya. Gusdur wisuda. Gusdur wisuda.