Menikah bukan karena Cinta

Ini sebuah pengakuan, dan ini penting. Setidaknya menurut saya yang tidak berpengalaman. Dua minggu lalu, teman saya menikah. Karena saya ingin tahu bagaimana perasaan mereka setelah menikah, maka saya bertanya ke teman yang kini berstatus sebagai suami itu. Siapa tahu, setelah dia bercerita tentang pengalamannya, saya jadi bersemangat untuk menikah. Masyaaa??

Eh, tidak! Sebelum saya bertanya ini itu mengenai perasaan teman saya setelah menikah, lebih dahulu teman itu menepuk bahu saya dan bilang, “Ayolah, Bro! Nunggu apa lagi. Jangan sampai kamu terlalu asyik bekerja, hingga lupa mikirkan berumah tangga…” Saya bales senyum. “Iya juga, ya,” pikir saya dengan perasaan cemas. “Ya udah, bantu aku cariin lawannya! Gimana, Ente ini!” balas saya.

“Bener, mau, nih? Sini-sini, bentar…”sambil menuruni anak tangga kantor, teman saya bilang begitu. Teman saya itu menunjukkan foto seseorang dari akun instagramnya. Dia pun menyebutkan namanya, berasal dari mana, dan apa kegiatannya. “Baru lulus kuliah. Deket Palasari rumahnya. Cari yang deket-deket aja dulu. Dia akhwat banget, lho!” “Ya iyalah harus akhwat, masa ihwan! Hahaha…” balas saya. Saya dongakkan kepala saya untuk melihat foto seseorang yang teman saya tunjukkan di hapenya.

“Soalnya, kalo aku liat di postingan akun instagramnya, dia ini terus posting tentang nikah melulu. Kayak yang galau, gitu, deh. Hahaha. Kalau kamu mau dan serius, ya udah datangin keluarganya…”sambung teman saya itu dengan mimik muka serius, tapi masih senyum. “Ya, udah aku coba. Tapi gimana, aku bingung. Maksudnya, gimana kamu mempertemukan dia sama aku, Bro!” lontar saya. “Nanti malem saya coba hubungi dulu, ya..”

Kami pun ke parkiran motor. “Bro, aku mau nanya. Gimana perasaan kamu setelah menikah? Kalau sekira ada sesuatu yang menggembirakan, aku mau juga, dunk nikah. Hehehe..” Teman saya itu siap-siap menjawab, sambil mencantolkan plastik di motornya. “Aku jadi lebih tenang sekarang. Aku menikahinya bukan karena kita sama-sama cinta, tapi karena kami ingin menikah. Jadi, ya biasa saja. Cinta, aku pikir, seiring berjalan waktu akan tumbuh di antara kami…”jelas teman saya. Tentu saya ngangguk-ngangguk saja.

Dan……saya pun tak ada ide lagi untuk meneruskan tulisan ini. Oke, dadah, selamat melanjutkan tidur lagi.

 

 

 

 

Iklan

Siapa Musuhmu?

Barang siapa yang tidak mempunyai musuh, maka ia tidak mempunyai kawan (Kamut).

Saya tidak tahu siapa musuh saya saat ini. Yang saya ingat, saya punya sahabat dan teman. Apakah sahabat dan teman saya saat ini suatu hari akan menjadi musuh, itu tidak bisa saya prediksi.

Hari ini saya hanya bisa bersyukur punya sahabat dan teman yang rela menerima saya. Suatu hari, lima tahun lalu, saya pernah punya target, saya harus kenal seseorang  satu hari satu orang. “Pokoknya, di mana pun kesempatan datang, saya harus kenal orang itu!”

Target itu tidak tercapai, karena saya seperti dipaksa untuk kenal satu orang satu hari. Itu malah bikin saya ribet. Saya pun berpikir kembali, “Ah, capek juga kalau harus kenal satu orang satu hari, sementara saya ini orangnya pemalu. Udah ah, kenal orang mah mengalir saja!”

“Udah lah, enggak perlu punya banyak teman. Cukup satu, tapi bener-bener yang paham kita itu siapa. Yang benar-benar tulus, tidak perhitungan, dan gampang meminta maaf kalo punya salah. Daripada punya sepuluh teman, pas kita susah, mereka enggak satu pun yang bantu…” pikir saya lagi.

Sejak saat itu hingga kini, saya dapat sahabat dan teman, ya dari ketidaksengajaan. Dikenalkan teman yang udah jadi teman, ketemu di kantor, di angkot, bandara, bis, kosan, pas kuliah, di pengajian (kayak yang suka ngaji aja, nih!), futsal, atau acara-acara seminar.

Berbeda dengan teman saya di kantor. Dia pernah bilang ke saya, “Saya itu di sini bukan cari teman. Saya kerja. Memangnya kalo kita “terdepak” dari kantor ini teman itu mau nolong kita? Kan, enggak!” Untungnya si teman bilang gitu pas dia udah jadi teman saya. Kalau belum, wah gawat!

Yang tidak meniatkan cari teman aja akhirnya dapet teman, apalagi pernah meniatkan kayak saya, walau saat ini tidak pernah menargetkan harus berapa orang yang saya kenal. Mau cari teman atau tidak di dunia ini, itu mah diserahkan ke masing-masing orang. Da saya mah sekarang ingin cari teman hidup, bukan teman biasa. Horeee!

Jadi, siapa musuh saya? Tak lain adalah saya sendiri.

Kautahu Apa yang Kumau

Foto bus diambil dari: www.bismania.com
Foto bus diambil dari: http://www.bismania.com

Horeee. Saya akhirnya jadi mudik pada H-5 lebaran. Dan mudah-mudahan hari raya tahun ini jadwalnya serentak. Lalu yang menggembirakan itu—saya dapat kursi bus sesuai yang saya ingini: kursi nomor 2. Begitu mudah saya mendapatkan kursi duduk paling depan itu. Padahal, saya baru pesan tiket dua minggu ke belakang—waktu yang tak memungkinkan lagi bagi saya dapat tiket nomor segitu. Namun, Tuhan tahu apa yang kumau.

Sedari awal saya sudah cetuskan dalam hati, pokoknya kalau saya mudik pakai jasa bus tahun ini—duduknya mesti di depan. Enggak mau kursi yang di tengah, belakang, atau paling belakang sekali. Pastinya, sungguh tak enak duduk di kursi bus yang saya sendiri tak ingini—walau jelas-jelas bus itu AC EXECUTIVE! Duduk di kursi depan itu lebih asyik. Saking asyiknya, saya tak sanggup menggambarkannya.

Lagi pula untuk apa saya capek-capek menggambarkan atau menjelaskan manfaat  atau kelebihan duduk di kursi bus di bagian depan dan kekurangnnya duduk di kursi bagian tengah, belakang, atau paling belakang. Saya kira enggak ada gunanya, selain hanya akan dianggap berlebihan. Toh, tiap orang yang sering gunakan jasa bus untuk sebuah perjalanan—mereka tahu seperti apa suasananya, baik itu yang duduk di kursi bagian depan maupun di belakang.

Jadi ceritanya dua minggu ke belakang itu—sepulang kerja saya mengajak seorang teman dengan niat minta ditemani membeli tiket bus buat mudik ke Kota Bengkulu. Meluncurlah kami ke loket bus Siliwangi Antar Nusa (SAN)—yang terletak di By Pass—nama lain jalan Soekarno-Hatta (bukan Prabowo-Hatta, lho! Apalagi Jokowi-Kalla). Saya tanya ke petugas loket masihkah ada kursi kosong buat ke Bengkulu tanggal 24,25, atau 26 Juli? “Penuh, Om!” katanya.

Foto tiket diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/
Foto tiket diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/

Petugas loket itu kembali katakan, ada kursi tanggal 26 Juli, tapi di belakang. “Mau enggak? Soalnya semua kursi bus udah pada dibuking semua. Eh, iya, tapi ini yang tanggal 24 ada kursi di depan nomor 1 dan 2 yang dibatalkan. Kalau mau mah ini aja atuh ganti yang batal. Gimana?” Pernyataan terakhir itu yang membuat saya suka. Andai itu ditulis oleh seseorang di status facebook, demi Tuhan—saya bukan hanya meng-klik LIKE, tapi juga ikut berkomentar.

Saya bilang ke petugas loket bus itu kalau saya mau mikir dulu sembari menghubungi teman saya yang di Jakarta—yang katanya dia juga mau mudik sekitar tanggal 24, 25, atau 26 Juli. Saya BBM teman saya yang di ibu kota itu kalau mau mudik bareng saya tanggal 24 Juli—karena selain tanggal itu kursi bus SAN sudah full dan saya tambahkan ke dia, tanggal 24 Juli itu ada dua kursi kosong di depan: 1 dan 2. Dan, sesuai yang saya prediksi, teman saya itu setuju.

Tak berapa lama, saya langsung bilang oke ke petugas loket kalau saya jadi pesan dua kursi di depan yang batal itu. Dia balas mau bayar lunas atau mau bayar depe berapa. Ya sudah saya bayar depe saja dulu dua tiket itu masing-masing Rp. 100.000. Ongkos bus per-orang Rp. 550.000–naik dibandingkan hari biasa yang Rp. 330.000 per-orang Bandung-Bengkulu atau sebaliknya. Jadi, Rp. 900.000 lagi sisanya akan saya lunasi  pada hari keberangkatan: 24 Juli!

Dan mungkin teman-teman belum tahu, apa doa saya sebulan sebelum saya pesan tiket bus malam itu. Sebagiannya mungkin sudah tahu karena sedikit sudah disinggung pada tulisan saya sebelumnya. Makanya, ketika saya berhasil dapat kursi bus di depan—entah, ini sebuah kebetulan atau doa saya yang terkabul. Tuhan sajalah yang lebih baik mengetahuinya.

Foto diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/
Foto diambil dari: http://web.stagram.com/n/hasanisme/

“Tuhan, saya ini mau mudik tahun ini pake bus SAN ke Bengkulu. Aku mau Kau beri aku kursi yang di depan. Kalau enggak nomor 1, ya nomor 2. Tolong, ya Tuhan. Andai kursi itu telah dipesan orang lain, batalkanlah keberangkatan mereka pada hari itu, ya, Tuhan. Pokoknya, aku enggak mau dapat kursi di tengah, belakang, atau paling belakang saat mudik nanti. Oke, Tuhan, tolong, ya. Bukankah Engkau Maha Segalanya? Aku tunggu keputusannya, ya…”

Kunci Tak Hafal Terpaksa Murattal

Hal yang paling menegangkan di antara yang tegang adalah ketika saya diminta ngaji atau baca Quran di suatu acara yang dihadiri banyak orang. Bukan apa-apa, tapi saya benar-benar hampir lupa sebagian kunci-kunci lagu tilawah itu. Atau biasa disebut tausikh. Apalagi sudah sekitar 3 tahun saya tidak lagi mengulang kunci lagu dalam tilawah Kitab suci itu.

Dan kemarin, kantor saya mengadakan buka puasa bersama. Seperti biasa, sebelum menikmati acara intinya, kami para karyawan dan pimpinan perusahaan mesti mendengarkan terlebih dahulu siraman rohani dari seorang ustad–yang seolah-olah rohani kami ini bermasalah. Nah, supaya acara kami kian berkah–sebelum penceramah naik mimbar, tentu harus ada pembacaan kalam ilahi dulu. Dan kebetulan saya yang dipercaya untuk itu.

Saya tidak kuasa menolak saat pertama kali ketua panitia kegiatan tersebut menunjuk saya untuk baca Quran pada acara buka puasa bersama di kantor saya. “Kamu siap-siap besok ya tilawah Quran. Putri sebagai sari tilawahnya. Yang rapi, ya pakaiannya. Kalau bisa pake baju koko dan berpeci.” Begitu saran panitia kepada saya yang saya tak berani menolak kalau saya ini sebenarnya malu kalau harus tampil di hadapan audiens. Yang paling mengkhawatirkan dari sekadar malu adalah saya sudah lupa kunci lagu tilawah.

Hafal kunci lagu tilawah itu penting. Tapi yang lebih penting adalah kualitas suara dan memiliki nafas yang panjang saat mendendangkan ayat suci–saya kira jauh lebih penting. Nafas pendek dan tak hafal kunci lagu, itulah problem saya sejak dulu sampai sekarang. Kalau suara, bolehlah saya katakan suara saya ini agak mirip-mirip qori kenamaan kita, Muammar ZA atau Chumaidi. Hahahah. Ya, maunya bagitu. Tapi mana mungkin saya bisa menyaingi atau menyamai kualitas vokal suara mereka. La wong latihan saja jarang!

Daripada saya ragu baca Quran berirama, maka lebih baik saya bacanya dengan gaya murattal saja. Gaya biasa. Nyantai dan enggak perlu atur nafas secara teratur. Dan itu saya praktikkan kemarin. Apakah kalau saya baca Qurannya dengan gaya murattal nanti akan mengecewakan para hadirin? Nah, itu dia yang semalaman menggangu benak saya. Kalau mereka kecewa, kan saya yang malu. Apalagi acara itu dihadiri para CEO, komisaris, manajer, dan semua karyawan yang ada di Kota Bandung dari berbagai lini dan divisi. Akhirnya, walau agak sedikit pesimistis, bismillah saya putuskan ngajinya bergaya murattal saja. Terserah mau apa tanggapanya setelahnya.

Ya sudah, kemarin itu saya benar-benar telah menunaikan kewajiban saya baca Quran. Rasanya itu seperti bisul pecah kalau sesuatu yang saya lakukan itu kelar–walau tak tahu hasilnya seperti apa. Sejak saya selesai membacakan kalam Ilahi, belum ada saya dengar–utamanya dari teman-teman di kantor maupun salah satu pimpinan di perusahaan saya komplain atas penampilan saya beberapa menit itu.

Apakah mereka segan untuk mengkomplain saya atau bagaimana, ya? Sebab, saya sendiri merasa penampilan saya kemarin itu kurang greget–apalagi, seperti saya katakan sebelumnya, saya lantunkan sebagian ayat suci itu dengan bermurattal tidak dengan berirama. Atau misalnya, saya lebih suka ada yang mengingatkan,”Eh, loe tadi bacaannya kurang pas. Pelafalan hurufnya keliru, seharusnya bukan itu tapi begini. Dan lain kali kalau di acara besar seperti ini baca Qurannya pakai lagu, ya. Pakai murattal itu kurang cocok, kecuali buat ngaji untuk pribadi di rumah.”

Tapi ya sudahlah. Saya pun, eh ini rencana lama sebetulnya–ingin sekali belajar kembali atau istilahnya kursus lagi seni baca Quran berirama yang baik dan pas–entah di pesantren maupun kepada teman yang memang mahir. Supaya kalau suatu saat saya diminta lagi untuk baca Quran saya lebih siap membacanya dengan lagu berirama tidak dengan murattal. Semoga.

Saya Botak, Maka Saya Tak Mau Kopdar!

Gambar didonlod dari: www.kaskus.co.id
Gambar didonlod dari: http://www.kaskus.co.id

Apa yang ditakutkan dari sebuah pertemuan? Apa yang membuat tuan dan puan ragu sehingga memutuskan untuk tidak bertemu dengan seseorang, hanya karena alasan tidak pede dan takut? Tidak pede dan takut adalah dua kata negatif—yang kalau tetap dipelihara, ia akan tumbuh subur di hati dan menyebabkan pelakunya susah-payah.

Beberapa kawan blogger pernah mengungkapkan kepada saya perihal ketakutan dan ketidakpedean mereka saat harus kopdar dengan sesama blogger. “Sering, sih teman ngajakin kopdar. Padahal dekat, di Bandung. Tapi, ya itu, gue malas karena gak pede dan takut!” begitu kata teman saya suatu hari dan baru kemarin alasan itu diulanginya lagi.

Saya tanya alasan spesifiknya, kok bisa gak pede sekadar kopdar saja ke teman saya itu. “Kepala gue di bagian depan rada botak. Makanya, jadi rada malu dan gak pede pokoknya. Males…males…males!” kata teman saya itu beralasan yang sebetulnya—saya gak mau sama sekali mendukungnya dan malah bikin saya ketawa. Uh, segitu aja dipikirin! Capek, deh!

Susah juga saya mau jawab apa saat kawan saya itu mengatakan dengan jujur perihal alasannya gak mau kopdar gara-gara persoalan fisik—yang menurutnya gak sempurna dan kepala di bagian depannya harus tidak botak. Memangnya manusia ada yang sempurna? Saya bisa jawab apa ke teman saya itu? “Alasan loe gak masuk ke otak gue! Alasannya bikin muntah!”

Teman saya ini rupanya masih bisa berkata-kata, entah bernada apa namanya. “Kenyataannya memang gitu. Gue orangnya gak pedean, minder, dan takut. Dan kalo gue bener-bener kopdar, yang ada gue pasti diketawain sama mereka! Gue putusin, walau udah beberapa kali kawan blogger ngajak buat kopdar, gue gak mau ikut! Gue bilang aja ke mereka kalau gue lagi balik kampung atau apalah gitu.”

Saya kesal mendengar alasannya—yang menurut saya apa yang dia katakan itu terlalu lebay. Ingat, bukan kesal kepada orangnya, tetapi kesal karena alasannya. Tapi, saya cepat-cepat diingatkan, bahwa problem tiap orang itu berbeda dan saya tidak bisa memaksa seseorang harus mengikuti gaya dan cara saya dalam menghadapi dan atau menanggapi sesuatu.

Dan kenapa teman saya itu begitu tidak pede, minder, dan takut kalau mau kopdar—tentu saya harus cari tahu dulu “kenapa”-nya dan saya berusaha tidak mau menganggap sepele apa yang dia rasakan. Ibaratnya, pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana—itu harus saya munculkan di benak saya sehingga saya tidak cepat-cepat memvonis kepada kawan saya itu, bahwa dia lebay atau apalah yang kira-kira prasangka negatif.

Lantas, saya katakan saja ke dia, kok ente begitu tidak pede ketemuan sama teman blogger—yang notabene selama ini ente akrab betul di dunia maya sama mereka. Padahal, kata orang kalo punya wajah ganteng, pasti dia paling pede, tetapi tidak bagi kawan saya ini. Meski dia berwajah tampan—yang gak beda jauh sama saya, kok gak pede dan minder untuk bertemu seseorang hanya karena rambut di bagian depan kepalanya agak botak. Capek, deh!

Saya hanya katakan ke teman baik saya itu, ”Sampai kapan loe bersikap seperti itu? Mau ini malu, mau itu gak pede, mau begini selalu ngeliat kekurangan. Sampai kapan loe berpikir seperti itu? Orang belum tentu berpikiran seperti yang loe pikirkan, Bray! Itu mah dugaan dan pikiran negatif  kamu. Belum kejadian udah mikir macem-macem! Positif coba, positif, Bro! Gimana, sih! Lagian orang itu gak melulu liat penampilan fisik, tapi sikap, Bro!”

Saya berkesimpulan, bahwa karakter dan kepribadian seseorang itu tak ada yang sama. Pokoknya beda. Yang mesti saya hargai adalah menerima keberbedaan itu dengan lapang dada dan ikhlas bahwa Tuhan ciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Soal ada orang yang belum pede dan belum menerima dirinya apa adanya—biarlah, suatu saat mereka pun akan menjadi manusia pede dan tidak penakut seiring berjalannya waktu.

Barangkali saya menyebut orang yang ragu dan tidak pede adalah—mereka itu sedang ditimpa musibah psikologis dengan berbagai latar belakangnya. Mereka menjadi seperti itu—tentu ada musababnya. Meyakinkan orang tersebut supaya lebih pede dan tidak takut, juga perlu kesabaran ekstra, utamanya dari saya sebagai teman sekaligus sahabatnya—yang harus terus-menerus memotivasinya semampu saya.

Oke, ya. Kalian pasti bisa, kalian pasti sanggup meluluhkan prasangka negatif terhadap apapun.