Kafan

From: www.genius.com
From: http://www.genius.com

Saya belum beli kafan. Besok, atau entah kapan, saya akan membelinya di toko kain, lalu akan saya simpan di lemari yang bercampur dengan pakaian yang lain. Minimal, ketika saya buka lemari untuk ngambil baju, saya sempat melirik kafan sebagai pengingat kematian. Benarkah Ingat kafan, lantas saya ingat mati? Justru saya malah ingat pocong!

Yakinkah saya, jika saya telah jadi mayat akan dibungkus dengan kafan? Belum tentu, jika stok kain berwarna putih itu habis! Ya sudah, jika benar setelah dicari-cari ternyata kafan sudah tidak tersedia, mikir, dong, kain sarung di rumah kan ada, yang penting bersih. Mudah-mudahan kalo pake kain sarung, arwah saya tidak gentayangan. Yakinlah itu!

Dua hari lalu saya ngantar kakak ke sebuah toko kain di pusat Kota Tasikmalaya. Toko kain yang satu ini memang, tampaknya, ramainya beda dengan toko kain yang lain. Orang-orang berjubel di toko itu beli kain. Kata saudara saya, di toko kain itu barangnya murah. Pantas ramai, kata saya. Makanya, saya ajak kakak saya ke toko kain terkenal di kota itu.

Saya ikut masuk ke toko kain milik keturunan India kelahiran Tasikmalaya itu. Kakak saya memilih-milih kain yang akan dibelinya untuk buah tangan. Sulit saya menggambarkan bagaimana tumpukan manusia di toko itu. Berapalah untungnya dalam sehari pemilik toko kain ini, pikir saya. Mungkin puluhan juta, gumam saya sembari memerhatikan puluhan pelayan toko melayani para pembeli.

Dari sekian banyak pembeli kain di toko yang terletak di jalan Cihideung itu, saya perhatikan tak satu pun yang membeli kafan. Ya iyalah! Ngapain juga beli kafan! Gila apa! Sekarang itu, enggak usah mikirin mati. Dipikirkan atau tidak, kematian akan tetap datang. Lebih baik, beli saja kain non-kafan untuk bergaya. Bukankah membalut fisik dengan aksesori menarik, salah satu kebutuhan utama manusia saat ini?

Tapi saya mau beli kafan. Kapan? Kapan-kapan…

“D Ujung Perceraian A”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com

Ada kabar tak menggembirakan. Apa itu? Saudara saya di Tasikmalaya, Jawa Barat, rumah tangga mereka di ujung karam. Saya tahu ini dari anak gadisnya yang baru tamat SMA. Beberapa status galaunya berderet di akun Facebooknya beberapa hari lalu. Maka, saya tanya, ada apakah gerangan? Eh, ternyata enggak langsung dijawab.

Sehari sesudah saya tanya begitu, barulah dia jawab-yang sebetulnya sudah saya prediksi. D ujung perceraian a,” balasan sms pun akhirnya datang, walau tak pernah saya harapkan. “Memangnya tak bisa lagi dibenarkan, Neng?” tanya saya lagi penasaran. Kali ini, si Neng-panggilan akrabnya sehari-hari menjawab agak panjang.

Udah ga ad yang bisa d pertahankan lg a. Orang dianya (ayahnya) juga udah ga peduli sama sekali sama kita. Neng sama mamah juga besok mau berangkat k Tangerang, mau kerja:p, begitu penjelasan Neng. Lalu, saya tanya lagi, “Eh, Neng, di keluarga belum ada yang menengahi, ya?” Sayang, hingga tulisan ini dibuat, sms saya belum berbalas. Saya mengerti mengapa.

Beberapa jam kemudian, lalu saya facebook walking ke akunnya si Neng. Saya dapatkan beberapa status “galau” yang menggambarkan suasana keluarganya. “Ya Alloh sakiitttt banget rasanya liat mama sedih n ngelamun terus… tulis statusnya, tanggal 16 Agustus 2013. Saya terus kitari akun pribadi Neng bentukan Mark Zuckerberg itu.

Ada lagi status Neng yang bikin hati saya deg-degan. Mungkin ini jalan trbaik untuk kita semua….Terimakasih Tuhan telah membuka mata hati mama:) Smoga dimanapun kita berada,kita tetap berada pada perlindungan Alloh… amiiin,,,!!!!! kita pasti bisa bahagia walau tanpa dia (si ayah),,Love you mom, tulisnya lagi, masih di tanggal yang sama. 

Saya memang belum tahu pasti penyebab retaknya rumah tangga saudara saya itu. Tapi, adik saya bilang, “Si Neng memang pernah bilang pas kita ke Tasik kemarin, kalau teman si Neng yang satu sekolah pernah memergoki ayah Neng sedang jalan-jalan ke tempat wisata. Dan, ayah Neng itu ditemani seorang wanita.”

Atas cerita adik saya itu, memang saya tak lantas memercayai sepenuhnya. Saya malah memutar otak, gimana caranya isi otak ini tak berburuk sangka dulu.” Bisa jadi, yang bersama ayah Neng itu saudaranya yang jauh, lalu dia minta antar ke tempat wisata. Atau, ya ada urusan bisnis atau apa dan bukan maksud selingkuh,” gumam hati saya.

Yang saya tahu, selama ini memang ayah si Neng kerja di pusat kota Tasikmalaya. Sedangkan, istri serta dua anaknya yang beranjak  gadis itu tinggal sekitar 30 kilometer dari kota. Istilah lain, istri-anak tinggal di pojok desa. Karena begitu, si ayah baru pulang ke rumah kalau liburan. “Biasa pulang ya sebulan sekali lah,” kata Neng suatu hari.

Jadi, kawannya si Neng yang sempat melihat ayahnya jalan bareng sama wanita lain di tempat wisata, ya diceritakanlah ke Neng apa adanya. Mengetahui info begitu, saya menduga, bukan hanya si Neng yang seperti disambar geledek, tetapi juga mungkin mamahnya serta adiknya yang masih SMP. Adik saya melanjutkan ceritanya ke saya.

“Mamah Neng dan juga Neng, langsung menanyakan ke ayahnya pas si ayah libur ke rumah soal cerita kawan Neng yang pernah lihat si ayah jalan bareng sama perempuan lain. Saat itu, kata Neng, si ayah sudah bersumpah-sumpah demi Tuhan tidak pernah jalan sama wanita lain. Pokoknya, si ayah Neng tidak mau ngaku!” lontar adik saya seperti diceritakan Neng.

Saya belum tahu lagi sampai dimana duduk persoalannya keluarga Neng. Saya hanya berharap, laku yang amat dibenci agama itu tak terjadi dan bisa diselesaikan secara damai. Walau begitu, saya masih pantau akun Facebook si Neng. “Membuka Lembaran Baru w/ mama & ade tersayang :):*,” begitu bunyi statusnya.

Kata mama seseorang yang benar2 sayang sama kita….dia akan mencari dan mengejar kita walau sejauh apapun itu dan dimanapun kita berada # catett,” celotehnya lagi sambil mengutip kata-kata Mamahnya, yang menurutnya menjadi falsafah hidup mereka.

Inget wae ka ayahanda inget wee kana lucuna, kana kanyaahna, kana belana, tapi eta baheula. Ayeuna mh ngan tinggal kenangan masa2 indah eta teh, saukur bisa ngeclakeun cimata . Ayah baca tah status ananda (Ingat terus sama ayah, ingat sama lucunya, sama kasih sayangnya, sama pembelaannya. Tapi, itu dulu. Sekarang hanya tinggal kenangan masa-masa indah itu, hanya bisa meneteskan air mata. Ayah, silakan baca status saya).”

Kali ini ada status Neng yang-saya pun belum tahu maksudnya. Seperti menemukan sosok pengganti ayah….Makasiiihh sayang. O, saya menduga, Neng punya pacar, dan si cowoknya itu menyipati ayahnya. Makanya, dia nulis statusnya begitu.

16 jam lalu, seperti tertulis di akun Facebook Neng, “Ya Alloh berikanlah aku kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi smua ujian-Mu....”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com

Berburu Tutut dan Mancing di Kaki Galunggung

Begini Kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, dengan latar gunung Galunggung
Begini Kampung Kelengsari, Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, dengan latar gunung Galunggung.

Bosan dengan menu makanan yang itu-itu saja, maka saya iseng-iseng mengajak adik serta dua saudara cewek dari pihak emak untuk mencari tutut. Tahu tutut? Tutut itu sejenis keong, namun warnanya hitam dan bentuknya lebih kecil dan biasanya hidup di dasar sungai, kolam, maupun persawahan. Dengan kata lain, tutut masih bersaudara sama keong mas, lebih tepatnya ponakan jauh lah.

Adik saya sedang memungut tutut di sawah di dekat rumah kami.
Adik saya sedang memungut tutut di sawah di dekat rumah kami.

Di suatu sore selepas asar nan cerah itu, kami mulai menyusuri area persawahan yang dihuni jutaan padi yang mulai tubuh dewasa, di kaki gunung Galunggung, Kampung Kelengsari, Desa Sukahening, Kecamatan Sukahening, Kabupaten Tasikmalaya, pertengahan Juni lalu. Saya dan adik saya yang bertugas turun ke sawah memunguti tutut-tutut hitam itu. Sementara dua cewek sudara saya itu bertugas menenteng ember kecil.

Dua saudara cewek saya mengiring di belakang adik saya yang sedang menyisir tutut.
Dua saudara cewek saya mengiring di belakang adik saya yang sedang menyisir tutut.

Kami terus menyisir persawahan warga sekitar. Tutut-tutut itu bersembunyi di bawah rindang pohon padi, di balik lumpur-lumpur sawah. Memungut binatang tak berbisa itu, kami harus ekstra hati-hati. Selain tanah sawah itu dalam, juga ditakutkan padi-padi yang mulai ranum itu rusak terinjak oleh kaki kami yang semberono. Tapi, untungnya hal itu tak sampai terjadi. Tangan serta kedua kaki kami pun penuh lumpur. Kami sudah biasa dengan aktivitas begini, maklum, kami dididik di desa.

Tutut terus dicari
Tutut terus dicari

Ada sekitar satu jam, ember yang dibawa saudara saya nyaris penuh oleh tutut. Saya kira, satu ember kecil tutut ini cukup buat teman nasi malam nanti. Begitu ujar saya dalam hati. Ya sudah, pencarian tutut pun kami hentikan, selain karena mendung mulai berkejaran di atas langit sana. Kami pun pulang ke rumah. Satu ember tutut lalu dibersihkan, direndam dalam ember sekitar satu jam untuk mengeluarkan lumpur di tubuh si tutut. Barulah, sebelum digodok di atas tungku, bumbu masak terlebih dulu diracik. Maknyus!! Harumnya itu lho yang bikin ngiler. Selepas magrib, barulah tutut-tutut hasil jerih kami disantap bareng-bareng keluarga. Sesuatu yang jarang terjadi.

Petualangan kami ternyata belum usai. Keesokannya, sambil menengok paman yang sakit, adik saya lalu mengajak mancing di sebuh kolam miliknya. Ajakan adik saya itu tak lantas saya tolak. Saya langsung setuju. Apalagi, sejak berada di Tasikmalaya, anak-anak paman kerap menyuruh kami memancing ikan, kalau memang mau ikan. Mancing sendiri, diolah sendiri. Ya swalayan lah. Melayani sendiri. Dan itu paling saya suka.

Mancing. Mana, ya ikannya?
Mancing. Mana, ya ikannya?

Saya lihat, di kolam yang letaknya di belakang rumah itu banyak ikan gurame yang ukurannya sebesar papan. Sekitar 10 menit, mata pancing adi saya yang umpannya bala-bala itu ditarik-tarik ikan. Oh, saya lihat gurami yang menggodanya. Pas ditarik, eh, lepas lagi, bahkan gagang pancing patah. Waw! Gagang yang patah itu disambung dan diikat, mesi kurang efektif.

Pindah posisi. Bismillah.
Pindah posisi. Bismillah.

Lama-lama, gurame seukuran tas berhasil adik saya dapatkan. Ikan itu sempat diangkat ke darat, tapi pas dilihat, ini terlalu jumbo, dan menurut saya saat itu, juga kata adik saya dagingnya enggak enak kalau terlalu besar. Ya udah kami lepaskan lagi ikan berduri tajam itu. Byuuuur! Dadah, untung kau tak kami eksekusi, ikan!

Ikan bawal yang pada akhirnya kami ambil saat itu. Ini dia cuplikannya…

Horeee. Akhirnya, Bawal!
Horeee. Akhirnya, Bawal!
Kena, Kau!
Kena, Kau!

Makasih Bawal yang bawel!

 

 

 

 

 

Uak Ratma

Uak Ratma berpulang. Saya tahu informasi itu dari sms yang dikirm adik saya pukul 02.09 dini hari, Selasa 11 Juni 2013. Pesan duka itu datang ketika saya berada di kotaTasikmalaya, menemani seorang kawan berkunjung ke ibu angkatnya di jalan Leuwi Anyar no 71. Padahal, 3 hari sebelumnya, apak, emak, oman, dan saya bersalaman dengan paman saya itu. Tak disangka, itu adalah salaman terakhir kami pada paman yang tinggal di sebuah kampung, tepat di kaki gunung Galunggung itu.

“Yuuung, uak meninggal jam 2 tadi.”

“Yuuung banguuuun uak meninggal jam 2.”

“Pagi2 ke Kelengsari yung.”

“Yuuuuuuung banguuuuuuun.”

“Ass. Innalillahi wainnailaihi rojiun..ua Ratma barusan jam 02 tos ngantunkeun (meninggal)..mudah2an diampuni  dosa2 na sareng di lapangkeun kburna..amiin…”

Setengah sadar saya sambil membaca lima sms kiriman adik saya. Saya dibangunkan oleh bunyi sms di hape. Meski, sebenarnya sms itu tidak saya harapkan. Tapi, apalah daya, jika telah sampai waktunya, maka Tuhan pun berkehendak. Berulang saya baca pesan dari adik saya itu. Hingga tiga kali. Barangkali saja itu hanya mimpi. Bukan ternyata, ini bukan mimpi. Saya cubit pipi yang mulai renta ini dengan sepenuh hati. Uh. Sakit.

Beberapa saat, ada lagi pesan masuk ke ponsel saya. Padahal, semua pesan dari adik saya belum kelar saya baca. O. kakak ke tiga saya memberi kabar serupa. Rupanya kakak saya ini lebih dulu tahu dari saya mengenai kematian uak Ratma. Saya bilang, baik ke adik maupun ke kakak saya, bahwa baru setelah subuh saya bisa ke Panunggal, kampung tempat paman saya itu tinggal. Dipenuhi pesan duka itu, lantas saya tak sanggup lagi meneruskan perjalanan tidur saya. Kantuk lenyap seketika. Yang ada malah deg-degan. Kaget.

Adzan subuh pun bersambut. Ibu angkat kawan saya itu sibuk di dapur. Terdengar, ia sedang mencuci beras. Tak lama, tercium pula aroma telur ayam digoreng. Pasti itu sarapan buat kami. Saya membatin. Tapi saya pikir, saya habis subuh langsung pamit mau ke Kelengsari, lalu diteruskan ke Panunggal-kalau keburu mau ikut memandikan jenazah uak Ratma. Kalau sekiranya ibu angkat itu menawari sarapan, pantaskah saya menolak? Sementara saya harus segera ke Sukahening!

“Umi, saya harus segera ke Sukahening sekarang karena paman ngantunkeun (meninggal) tadi tabuh (pukul) 02.00,” ucap saya di hadapan ibu angkat kawan saya.

Innalillahi wainnailaihi rojiun,” wajah umi langsung memperlihatkan kekagetan,”sekarang makan dulu aja. Nasi sudah masak.”

“Punten (maaf) umi, biarlah enggak usah. Kapan-kapan saya bisa ke sini lagi,” sambung saya.

“Jangan begitu, pamali. Ayo, lauk dan nasi sudah disediakan!” tandas umi, yang mau tak mau saya tak bisa lagi mengelak.

Saya dan kawan lalu makan. Tak sampai 15 menit, telur dadar yang saya lumuri kecap serta sayur kentang buatan umi saya lesakkan ke perut. Alhamdulillah. Rezeki datang dari siapa saja, asal yakin bahwa maha kasih dan sayang Tuhan unlimited. Di tengah asyik melahap nasi itu, hati saya ingat uak Ratma. Uak yang selama 5 bulan terakhir ini diterpa sakit-sakitan. Sakitnya parah. Bahkan, pengakuan salah satu anaknya, Elik bahwa ayahnya itu selalu teriak-teriak kalau malam hari. “Selalu mengerang, seperti ada rasa sakit di pinggang dan dada.”

“Umi, kayaknya Cep pamit dulu ya. Nuhun (terimakasih) atas sarapannya. Soalnya apak sudah sms supaya Cep cepat ke Sukahening,” saya beranikan bilang begitu ke umi, meski sebenarnya masih segan mau bilang terima kasih. Saya salami umi. “Nanti main ke sini lagi kalau ada waktu ya. Jangan kapok main ke sini. Nih, ada ongkos buat naik becak. Lumayan.” Umi memberi uang itu pada kawan saya. Kawan saya ini-saya tahu ia pura-pura langsung menolak pemberian uang umi. “Udah mi, jangan. Saya ada kok ongkos mah!” ucap kawan saya itu sambi tangannya menahan tangan umi yang ingin memasukkan uang ke saku baju depan kawan saya itu. Jujur, melihat aksi kepura-puraan menolak kawan saya itu kurang saya senangi. Kenapa? Karena, baik saya dan dia (kawan saya itu) detik itu sedang krisis keuangan. Oleh karena itu, uang dibutuhkan subuh jelang siang itu! Tak mungkin dengan uang Rp 7000 yang ada di kantong kami cukup buat ongkos ke Sukahening! Uang itu hanya cukup buat angkot dari simpang Pancasila sampai ke Indihiang. Lalu untuk menyambung ke Rajapolah? Harus jalan kaki begitu? Belum lagi dari Rajapolah ke Sukahening?

“Sudah, jangan menolak rezeki. Nolak rezeki itu pamali,” tukas umi pada kawan saya yang pura-pura nolak itu. Diambilnya juga uang pemberian umi itu. Yes!!! Asyik, akhirnya keajaiban itu datang. Tadinya, kalau tak ada uang tambahan, kami berencana mau jalan kaki dari Indihiang ke Rajapolah. Atau, kalau pun terpaksa, dari Indihiang akan kami stop mobil angkutan barang untuk meminta tumpangan sampai Rajapolah. Kalau sudah sampai Rajapolah, gampang. Tinggal sms adik saya atau saudara di Kelengsari minta jemput pake motor.

Untungnya itu tidak terjadi. Saat berjalan menuju simpang handak menyetop angkot jurusan Indihiang, saya tanya ke kawan saya. “Hey, coba lihat, emang berapa uang yang dikasih umi tadi? Sudahlah, jangan berpura-pura di tengah kesengsaraan hidup. Kalau umi sudah kau anggap sebagai ibu sendiri, tak usahlah segan, walau itu meminta duit. Kalau kepepet semuanya bakal terjadi. Bahkan, sampai hal yang memalukan sekali pun!” semprot saya ke teman saya sambil ketawa-tawa gembira.

Kawan saya ini membalas ketawa. “Malu lah bro! Kalau soal meminta-minta apalagi mengharapkan sesuatu dari orang lain, saya tak sanggup, saya malu. Tapi, sebenarnya saya selalu yakin, bahwa kuasa Tuhan akan selalu ditunjukkan kepada hamba yang yakin kepada-Nya. Maka, pemberian uang Rp 50.000 dari umi ini adalah jawabannya, Bro! Udah, jangan dipikirkan lagi. Yu ah, kita cari warung dulu. Beli rokok. Masam, nih mulut!”

Angkot bercat putih merah jurusan Indihiang kami naiki. Kegembiraan masih bersemilut, tapi juga-uak Ratma tak bisa lepas dari ingatan saya. “Innalillahi wa innailaihi rojiun.” Berkali-kali mulut hati saya berucap begitu, bahwa kita ini milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya pula. Kata-kata itu pulalah yang saya jadikan status pertama di facebook pagi itu dengan menggunakan seluler android kawan saya.

“Minjam hape Bro. Mau nulis status, nih!”

“Di mana?” sms masuk ke hape saya. O, adik saya.

“Lagi di WC terminal Rajapolah! Udah di mana?”

“Di jalan, mau ngantar neng dulu ke sekolah!”

“Yup.”

Oman datang. Bawa motor . Jadilah kami berboncengan tiga orang. Motor yang kami tumpangi nyaris reyot. Maklum, beban motor bertambah. Berat saya diperkirakan 45 kilogram, kawan saya, mungkin saja 50, sedangkan adik saya, entahlah, barangkali 50-an juga. “Jam berapa emang kau dapat info uak Ratma, Man?” sentil saya ke Oman, sembari motor terus menabrak angin-angin jalanan yang kedinginan sebelum sampai di kampung Kelengsari.

“Apak nelepon saya itu pas jam 02.00. awalnya saya rejec. Tapi, apak nelepon lagi. baru saya angkat. Awalnya saya mengira, kalau enggak apak yang sakit, ya ada sesuatu dengan uak Ratma. Karena malam itu memang apak demam. Tapi ternyata uak Ratma pupus (meninggal)!” lontar Oman. Saya tak memberi tanggapan lagi. Motor pun sampai di Kelengsari. Padi-padi di kanan-kiri jalan ikut berduka, mengheningkan cipta buat uak Ratma. Terima kasih padi-padi atas perhatian kalian.

Tak sampai setengah jam saya di Kelengsari. Beberapa saudara dari pihak ibu dan bapak sedang bersiap menuju Panunggal, tempat keluarga uak Ratma tinggal. Maka saya pun bareng saja sama mereka, mumpung ada tumpangan gratis. Sekira setengah jam, kami pun sampai di rumah uak Ratma. Tak ada keramaian di depan rumah itu. Seperti tak ada kejadian apa-apa. Saya langsung masuk ke rumah, menemui emak dan apak.

“Pak, ua Ratma tos dikurebkeun (dikuburkan)?”

“Nya, atos. Barusan pisan. Awalnya mau menunggu ke tiga anaknya yang masih di perjalanan dari Jakarta. Tapi, anaknya sudah ikhlas menyuruh kelurga yang ada di rumah untuk cepat dikubur saja. Takut kelamaan katanya, kasian.”

Saya menyesal karena tak bisa ikut mensalatkan uak Ratma terlebih dulu. Minimal, saya ingin melihat raut muka terakhir paman saya itu sebelum bersatu ke liang lahat. Tapi, ternyata tidak bisa. Saya terlambat. Ya sudah uak, selamat menempuh di alam yang baru. Ini hanya perpindahan tempat saja. Dari tempat fana yang serba susah, menuju alam keabadian. Tuhan maha pemberi ampun terhadap hamba yang dikehendaki-Nya.

Besok ke Tasik

Saya hari ini batal ke Tasikmalaya. Musababnya hanya satu: enggak ada duit! Rasanya tak ada alasan lain. Klasik memang. Tapi, itulah yang terjadi. Begitulah yang saya rasakan hari ini. Maksudnya, enggak ada duit di saat saya sangat membutuhkan. Saya butuh duit itu tadi pagi, bukan siang, apalagi malam saat saya menulis ini. Duit baru saya peroleh, tepatnya  pukul 17.00 waktu kota Bandung, di saat langit menitikkan serpihan-serpihan kesedihannya.

Duit yang saya dapatkan itu pun penuh perjuangan dan penuh harap. Dengan memohon-mohon pada seorang kawan-yang kebetulan lebih beruntung dari saya. Ia sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta di kota Bandung. “Halo Bro, apa kabar? Bisa bantu aku, enggak? Aku minjam duit Rp 100 ribu. Kepepet. Aku mau ke Tasik. Ada urusan!” saya beranikan diri menelepon kawan itu sore kemarin. Agak malu sebenarnya, tapi apapun bisa terjadi kalau lagi kepepet. Betapa dahsyatnya kekuatan kepepet itu, Bro!

“Oke. Gampang. Aku juga kebetulan besok (hari ini) gajian. Pokoknya kamu besok (hari ini) datang aja ke kantorku.” Jawaban kawan saya begitu di ujung telepon. Saya sedikit cerah. Sumringah. Yang tadinya terasa lapar, tak jadi lapar. Yang awalnya haus, eh, pas dapat jawaban kawan begitu kok malah lenyap rasa hausnya. Semua seperti terbayarkan oleh kebaikannya, meski belum terwujud. Yah, memang, kalau sudah terlanjur menjadi kawan, apalagi kawan dekat, ia harus menanggung segala resikonya kalau berteman dengan saya. Ha.

Saya jadi berpikir, kawan saya itu diperkirakan baru menerima gaji pasti enggak mungkin pagi. Benar tebakan saya. Padahal, sekali lagi-saya butuh duit itu pagi-pagi, bukan siang, sore ataupun malam. “Bro, sori, aku baru gajiannya mungkin udah Dhuhur. Soalnya paginya kami ada rapat evaluasi. Enggak papa, kan?” kawan saya itu menelepon lagi dan saya jawab,”Oke!” Maka saya pun mencari alternatif lain. Maksudnya, mengingat-ingat kawan lama yang masih bercokol di Bandung-yang kira-kira sudi kiranya meminjamkan uang ke saya. Kali ini saya harus agak memaksa, meski dengan bahasa halus-supaya tak tampak seperti memaksa. Soalnya, penting banget, Bro!

Ada sekitar 4-5 kawan yang saya hubungi. Baik lewat telepon maupun sms. Jawaban mereka nyaris sama: euweuh duit, Cep! Hampura! Saya memang hebat. Duit enggak ada, tapi pulsa di Hape cukup buat menelepon sekaligus sms. Maklum, saya suruh adik saya mengirim pulsa ke ponsel saya dua hari lalu. Beruntung, adik saya yang satu ini-barangkali merasa iba ke saya, lalu mungkin agak sedikit jengkel dikirimnyalah pulsa 20 ribu. Asyik ah! Makasih, Bro! Moga kau cepat diwisuda akhir tahun ini! Kalau sudah wisuda kan gampang, mau kawin, ya silakan kawin. Kalau belum mau, biar Aa-mu ini yang duluan.

Alhasil, sekira pukul 16.00 atau selepas asar saya menemui kawan yang bersedia meminjamkan duit Rp 100 ribu. Saya ke kantornya di jalan Otista, tak jauh dari Tegal Lega, ya pusatnya kota Bandung lah. “Mas Bro, aku udah di depan kantormu, nih! Keluar, dong!” saya layangkan pesan singkat itu, sementara jari tangan saya gemetaran. Agak deg-degan. Takut-takut uang yang diberikan nanti tak sesuai rencana. Bismillah aja lah.

“Memang berapa mau pinjamnya, Bro?”

“Ya Rp 100 ribu! Aku mau ke Tasik sore ini (meski akhirnya enggak jadi)”

“Hampura (maaf), duit seratus ribu sudah pecah. Ini ada juga Rp 80 ribu. Mau? Maaf, gaji saya dipotong kantor buat hutang. Terus, tadi tiba-tiba ada kawan kantor yang sakit tifus, lalu saya ngantar ke rumah sakit. Jadi kepake Rp 20 ribu. Pake aja dulu ya Rp 80 ribu ini. Maaf, Bro!”

Saya mau gimana setelah mendengar pengakuan kawan saya itu. Saya marah? Harus kecewa? Saya memutuskan untuk tidak berkawan lagi? Atau, tetap menerima duit yang Rp 80 ribu tadi, tapi dalam hati berkesal-kesal ria sambil mengumpat, sambil mengata-ngatai dia pembohong, lalu saya tak berniat mengembalikan utang itu? Terus, dalam hati saya bilang,”Memang orang ini enggak niat banget mau minjamin duit!”  Pikiran saya memang bisa disetir kemana saja. Untungnya, itu tak sampai terjadi.

Thanks, Bro! Besok pagi saya ke Tasik!