Part V (habis): Liburan Singkat Nonpejabat

Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.
Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.

Bengkulu, 27 Desember 2013

09.00

Saya rampung membantu Teteh membilas pakaian yang sebelumnya digoes di mesin cuci. Bejibun sekali pakaian itu, termasuk juga baju dan celana levis saya. Setelah semuanya beres, sarapan dan lain sebagainya, saya bersiap mengantar Teteh dan Kak Ton ke klinik, sekaligus mau ngintip luka yang sebenarnya di kaki suami kakak kedua itu.

Saya bukan tidak bisa menggambarkan kondisi telapak dan punggung kaki sebelah kanan kakak ipar saya saat petugas klinik itu membuka perbannya. Saya lihat erat-erat luka yang membusuk itu, dekat sekali, karena saya berada di sampingnya, di samping ranjang.

Sebelumnya saya memang pernah searching di internet dengan menuliskan “luka diabetes pada kaki”. Hasilnya lumayan beragam dan gambarnya aduhai ngeri juga, ya. Tetapi, pas saya bandingkan dengan luka yang dialami kakak ipar saya, ternyata luka suami Teteh ini lebih parah tinimbang yang ada di net.

Klinik ini memang mengkhususkan diri dengan pengobatan herbal dan menghindari obat kimia. Makanya, bagi penderita diabetes, terutama diabetes melitus harus rajin membersihkan kakinya di klinik ini tiap hari. Sebelum dibungkus kembali, si kaki yang luka tadi diolesi terlebih dahulu, entah pakai  apa, yang pasti warna dan bentuknya kayak mentega. Itu herbal katanya.

Biaya sekali cuci luka itu, pas saya intip Rp. 145 ribu. Dan ini harus tiap hari sampai waktu yang belum ditentukan. Tetapi, “Seperti yang sudah-sudah dan bahkan lebih parah dari ini, akhirnya sembuh di klinik ini. Kami sudah menangani lebih dari 30 orang. Asal, jaga pola makan dan stres!” ucap petugas klinik.

Pukul 10.00. Kami pun pulang lalu istirahat. Saya salat jumat. Selepas jumatan, saya dan keponakan berangkat ke kampung halaman yang sesungguhnya: Putri Hijau. Ke rumah bapak dan ibu saya dengan menggunakan motor. Jelang beduk magrib, kami sampai dengan selamat di halaman rumah bapak. Salam sejahtera.

28 Desember 2013, Putri Hijau.

Esoknya. Saya bantu emak memanen buah cokelat di pekarangan yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Entah berapa semut  yang mengeroyok saya tatkala saya panjat pohon cokelat itu. Anehnya, semut itu sampai tega menggigit di daerah selangkangan saya, bahkan-ujung “alu” saya pun disengatnya.

Sepulang dari kebun cokelat itu, adik saya meminta buah jambu bol ke tetangga, Lek Win. Manjatlah Oman pada pohon yang entah berapa puluh kaki itu untuk memetik buah yang ranum itu. Sementara saya di bawah menangkap buah yang adik saya jatuhkan. Hup.

Magrib pun bersambut. Kami salat berjamaah dan keluarga menunjuk saya sebagai imam. Waduh. Saya bingung mau baca ayat apa. Bismillah sajalah. Para keponakan yang jumlahnya empat biji ikut berbaris di belakang saya, tetapi mereka banyaklah bercandanya tinimbang serius. Asyik.

“Besok mau bawa apa, San? Emak enggak punya apa-apa ini. Bawa ikan kering aja, ya. Nanti digoreng di Bandung. Mau bikin wajit juga enggak keburu.” Suara emak saat kami sedang makan malam di ruang tengah rumah kami. “Enggak usahlah, Mak. Di kosan enggak ada kompor!” kata saya.

29 Desember 2013

Pukul 04.00 puluhan juta tetesan air menimpuk-nimpuk genting rumah kami. Dingin sekali. Deras sekali hujannya. Waduh, gimana ini. Padahal, saya dan keponakan pukul 06.00 harus sudah beranjak dari rumah untuk pulang ke kota lagi: Bengkulu. Redakanlah,  ya Allah.

“San, cepatlah kau bangun. Katanya mau ke Bengkulu udah subuh. Nanti terlambat!,” Apak berteriak-teriak dari kamar sebelah. “Iya. Sip!” balas saya ke Apak yang telah lebih dahulu bangun sebelum pukul 04.00. Tetapi, karena merasa masih pukul 04.00, sarung saya buntelkan lagi ke sekujur tubuh. Dingin.

05.30. Saya bangun, tetapi di luar rumah hujan masih mendesah kencang. Cepat-cepat saya ke kamar mandi, bukan mandi, melainkan gosok gigi. Kemudian salat, melipat baju, memasukkannya ke dalam tas, membungkus ikan kering, dan mulai mendengarkan petuah Apak.

 “Maafkan Apak dan Emak kalau ada dosa, ya. Tolong doakan Apak supaya sehat dan selalu dimudahkan. Karena tanggal 3 Februari ini apak insyaallah berangkat umrah. Doakan apak diberi kekuatan selama menjalankan ibadah di sana, doakan supaya panjang umur.”

Saya hanya mengangguk-angguk saja saat dengar ucapan Apak begitu. Saya bilang, itu pun dalam hati,” Iya, Pak. Tenang aja, anakmu ini akan selalu mendoakan apak supaya selalu sehat, dimudahkan urusannya, panjang umur, kekuatan, dan ketegaran.”

“O, iya, satu lagi. Kan sekarang udah kerja, mulailah menabung buat berkeluarga. Jangan sampai, pas setelah kamu kawin nanti, menyisakan hutang di sana-sini. Ayo, mulai nyicil nabungnya. Kalau sudah siap, buru-buru menikah mumpung Emak dan Apak masih ada.”

“Terus, mulai cicil juga beli jas buat persiapan kamu kalau ijab kabul nanti. Pesanlah di Tasik, di sana bagus bahannya, murah lagi. Biar nanti, pas dekat nikah, kamu enggak susah-susah lagi memilih baju.”

Kalau disinggung-singgung soal nikah menikah ini, saya tersenyum-senyum saja dan enggak bisa bilang apa-apa. Keponakan dan adik saya mulai heboh kalau mendengarkan tentang ini. Saya jadi kikuk dan akhirnya, saat itu juga muka saya, saya tutupin pakai koran bekas bungkus asin. Cuit…cuit.

Saya akhirnya pamit juga ke Emak Apak, walau hujan masih merintik. Soalnya ngejar waktu. Pukul 14.00 saya sudah mesti di bandara untuk terbang ke Cengkareng. Terjadilah cipika-cipiki di antara saya dan kedua orangtua saya. Emak tampak terisak, Apak tegar. See you later ya my beloved parent!

Inilah liburan singkat saya yang bukan pejabat ini. Meski  dua hari, tetapi setidaknya memuaskan pikiran dan hati saya lantaran telah bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Kepinginnya mau tahun baruan di Bengkulu, tetapi-karena alasan tertentu saya masih menjadikan Kota Kembang sebagai tempat untuk menutup 2013. Dadah. (habis)

Not Happy New Year but Hepi Nyu Yer

Saya tak pernah berpikir, bahwa besok sudah 2014. Tak pernah pula berencana mau apa di tahun itu. Apalagi, apa yang sering orang bilang, “Apa resolusi loe buat 2014?” Itu tak sama sekali tebersit dalam hati . Tahun boleh berganti, tetapi saya tetaplah saya yang begini apa adanya, tak minta dikurangi atau berharap dilebihkan. Atau berneko-neko yang saya sendiri enggak sanggup memenuhinya.

Saya hanya berusaha mengikuti alur hidup ini secara sederhana. Bairlah orang sibuk dengan persiapan merayakan pergantian tahun. Tak pula marah apalagi iri menyaksikan orang-orang mau berhura-hura di malam tahun baru ini nanti. Rencana saya ya rencana saya, rencana orang ya rencana orang. Yang penting, mereka enggak ganggu saya, saya pun enggak ngusik mereka.

Kalau ada orang yang dengan niat ingin berbuat ini itu di tahun 2014, barangkali memang orangnya berbeda jauh dengan saya, baik sikap, watak, atau sifatnya. Saya begini, orang begitu. Beda cara tetapi tetap, menuju terminal yang sama. Tak perlu pula, misalnya, Hasan kamu seharusnya begini bukan begitu. Saya pun tak sanggup mengatakan, kamu juga harus begini dan jangan begitu.

Kenapa saya tak suka memaksa? Sebab, saya pun tak mau dipaksa, dikekang, dipenjara dengan kata-kata yang saya hindari: jangan dan harus. Kecuali, misalnya ada orang yang meminta pendapat tentang sesuatu ke saya, baru saya bersuara. Kalau tak diminta, ya diam aja, sebab-saya yakin, orang itu tahu apa yang harus dia lakukan dan hindari. Saya pun tak pernah menyesal walau apa yang saya kemukakan tak dia ikuti.

Hasan, lantas apa rencana kamu di 2014? Kalau ada orang yang bertanya seperti itu ke saya, maka saya hanya menjawab, “Saya tak punya rencana apa-apa, tetapi saya akan terus berjalan di sepanjang 2014 dengan rasa optimistis dan hati-hati dan tak semberono seraya memungut apa yang baik dan tak memelihara sesuatu yang bikin penyakit.”

Terlalu bejibun orang-orang di sekeliling saya bahkan seantero jagat ini yang mengucapkan selamat tahun baru. Makanya, cukuplah orang-orang itu mewakili saya buat mengucapkan Hepi Nyu Yer. Kalau saya menambah mengucapkan kalimat serupa, saya kira malah menambah beban berat yang ditanggung dunia ini.