Selingkuh

www.playbuzz.com
http://www.playbuzz.com

Yang harus dicari itu apa penyebab dia selingkuh? Kalau sudah tahu penyebabnya, tentu saya dan kita—barangkali akan paham dan tidak lagi membicarakannya. Paling banter,”O, gitu, ya? Pantesan atuh! Wajarlah kalau dia cari “kehangatan” di luar. Udahlah, itu urusan mereka, bukan kita!”

Masalahnya, saya ini termasuk orang yang selalu pengen tahu, bukan saja “why”-nya, tapi “how”-nya dia selingkuh. Jadi, enggak berhenti pada,”Ya udah, itu urusan orang lain!” Justru saya ingin tahu lebih dalam sejarah dan seluk-beluk mereka berselingkuh. Saya harus kepo. Kepo yang cerdas! Soft kepo, istilah lainnya.

Salah satu rekan kantor, sebut saja Mang Ilham, menyebutkan selingkuh itu tidak wajar. Kenapa, Mang? “Selingkuh, pasti ada yang tersakiti. Perbuatan menyakiti, itu kan tidak baik, ceuk (kata) saya mah!” Pria beranak tiga ini bahkan mengatakan,”Makanya, kalo jadi lelaki itu tak perlu banyak duit! Bahaya!”

O, jadi penyebab laki-laki berselingkuh itu karena banyak duit? “Iya, karena dia merasa mampu untuk membiayai hidup wanita lain selain istrinya. Bukan tidak boleh kaya, tapi bisa enggak laki-laki itu menghargai perempuan? Makanya, ketika suami gajian, segera setor ke istri. Kalau lama dipegang suami, bisa jadi uangnya untuk membiayai orang lain.”

Bukan berarti beristri lebih dari satu itu tidak boleh. Tapi,”Caranya yang penting. Kalau dia niat mau nikahin lagi wanita lain, ya coba lah dengan cara yang baik. Jangan sampai menimbulkan kecurigaan dan fitnah di mata orang lain. Sementara istri di rumah enggak tahu kalau sang suami jalan bareng sama wanita lain. Apakah ini sesuatu yang dibenarkan?” Ilham tampak sinis. Saya malah jadi deg-degan.

Bagaimana baiknya? “Cari dulu masalahnya kenapa dia selingkuh? Apakah di rumah memang si suami dan istri enggak harmonis, atau apa? Kalau secara ekonomi, kan dia (suami) mapan, to? Anak udah tiga lagi. Apa si istrinya yang posesif? Eh, posesif, teh naon, sih? Hahaha.” Mang Ilham seperti motivator yang ada di tv.

Saya jawab, posesif itu merasa menjadi pemilik dan mempunyai sifat cemburu. “Posesif itu bahkan wajib, Mang! Tapi itu tadi, sekadarnya saja, enggak berlebihan. Apa pun, tentu yang berlebihan itu efeknya tidak baik. Nanti kepala suami pusing kalau terlalu diposesifin. Percaya aja, deh sama suami! Akibat pusing, karena ngikutin ego, jadilah lari ke wanita lain!”

Bila merasa kurang puas (memang hidup ini untuk cari kepuasan? Kepuasan apa?) dengan istri pertama, suami yang bijak, tentu akan bilang kepada istri pertamanya,”Ma, papa mau nikah lagi, izinin, ya?” Yang penting jujur dulu sama istri—soal tanggapan istri selanjutnya, itu nomor sekian. Jelasnya, si istri harus tahu dulu keinginan suami.

Risiko bila akhirnya istri tidak setuju bahkan marah—atau menggugat sang suami agar menceraikannya. Risiko pula—andai sang istri mengizinkan suami menikah lagi. Cinta suami yang tadinya 100% buat istri, tiba-tiba  harus dibagi setengahnya ke istri kedua. Semuanya penuh risiko, Bro! Bergantung cara pandang—risiko bisa mengindahkan bisa pula menyakitkan.

Saya enggak sadar ternyata Mang Ilham masih ngoceh. “Mana ada, sih manusia yang pernah puas? Sudah punya istri satu, eh mau istri dua. Bener, nih udah punya dua istri, enggak niat punya istri ke-3? Sudah punya satu gunung, masih mau gunung yang lain. Manusia…manusia. Saya juga ingin kayak gitu, tapi saya merasa tidak mampu.”

Mang!

Iklan

Enggak Berani Selingkuh

Foto diunggah dari: www.new.healingheartsradio.com
Foto diunggah dari: http://www.new.healingheartsradio.com

Suatu malam, teman kosan iseng tanya ke saya, ”San, kamu berani enggak selingkuh?” Saya juga heran kenapa teman saya itu bertanya seperti itu. Apakah dia ada indikasi ingin berselingkuh dari pacarnya yang kini telah dipacarinya hampir 3 tahun—padahal, katanya awal tahun depan mereka akan menikah? Semoga indikasi itu tidak benar.

“Lho, kenapa ente tanya begitu ke saya? Ente mau jajal selingkuh, ya? Udah bosan, ya sama pacar yang sekarang?” Saya balik tanya begitu ke teman saya sembari menunggu apa jawaban sebenarnya dari dia. Sebelum dia jawab, saya lebih dulu katakan, ”Sampai hari ini aku enggak ada niat sama sekali untuk berselingkuh dari pacar saya, Bro!”

“Bukan begitu. Saya mah tidak berani dan takut kalau selingkuh itu. Soalnya, kalau saya atau kamu selingkuh, saya takut, nanti anak atau cucu kita pun akan berbuat sama dengan apa yang pernah kita lakukan. Soalnya, apa yang diperbuat seorang ayah/ibu, itu pasti akan menurun kepada anak-anaknya kelak!” lontarnya memberi efek kejut.

O, artinya kawan saya ini cuma ngetes saya aja, to? Dan, sebetulnya dia pun tak ada niat sama sekali untuk berselingkuh karena alasan khawatir dengan hukum karma. Atas alasannya dia tak ingin berselingkuh, saya belum percaya 100%. Tapi saya salut dengan alasannya tidak mau berselingkuh. Minimal, ia bisa menjaga hati dan perilaku.

Prinsip saya, saya katakan ke dia, ”Kalau sudah suka dengan satu cewek atau sudah punya pacar kepada si A misalnya, ya udah jalani dulu dengan benar dan sepenuh hati. Jangan main-main. Wanita atau pria mana yang suka dipermainkan, coba? Kecuali di tengah jalan tiba-tiba ada ketidakcocokan dia antara kita dan berakhir pisah, itu soal lain. Nah, barulah kalau mau pindah ke lain hati. Bagi aku, selingkuh itu no!”

Kawan saya tadi menimpali, ”Justru saya bersyukur karena pacar saya masih setia dan baik sama saya. Padahal, kalau kamu tahu, sebenarnya pacar saya itu jadi rebutan cowok-cowok lain, lho? Makanya, saya bersyukur banget punya dia, walau—kau tahu wajah saya biasa-biasa saja—ganteng jauh, jelek pun tidak!” ungkapnya jujur.

Saya katakan lagi ke dia sambil menyeruput kopi. “Sebetulnya, bagi cewek yang setia, dia pun berpikir sama, enggak mau berselingkuh dari cowoknya. Dan aku yakin, tampaknya pacar ente itu tipe wanita setia. Buktinya, kan sampai sekarang dia begitu sayang sama ente. Sama seperti ente, tiap hari ente antar jempu dia ke sekolah.”

Saya pun begitu. Saya yakin, walau saya dan pacar saya dipisahkan dengan jarak—saya yakin dia tidak berani untuk berselingkuh, walau sebetulnya, mungkin niat itu ada (isi hati seseorang siapa yang tahu). Saya pun begitu, hati terkadang kerap digoda, ”Cewek loe kan jauh, udah cari juga di sini!” Untungnya, saya bisa menangkal segala godaan itu. Satu yang saya lakukan: berpikir positif.

Sekarang, saya katakan ke kawan saya itu, ”Ada niat enggak kira-kira ente mau selingkuh?” “Ah, enggak lah! Saya, kan udah tunangan, Bro!” jawabnya sambil melanjutkan menulis sebuah artikel yang akan dikirimkan ke koran lokal karena isi dompetnya mulai menipis.

“D Ujung Perceraian A”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com

Ada kabar tak menggembirakan. Apa itu? Saudara saya di Tasikmalaya, Jawa Barat, rumah tangga mereka di ujung karam. Saya tahu ini dari anak gadisnya yang baru tamat SMA. Beberapa status galaunya berderet di akun Facebooknya beberapa hari lalu. Maka, saya tanya, ada apakah gerangan? Eh, ternyata enggak langsung dijawab.

Sehari sesudah saya tanya begitu, barulah dia jawab-yang sebetulnya sudah saya prediksi. D ujung perceraian a,” balasan sms pun akhirnya datang, walau tak pernah saya harapkan. “Memangnya tak bisa lagi dibenarkan, Neng?” tanya saya lagi penasaran. Kali ini, si Neng-panggilan akrabnya sehari-hari menjawab agak panjang.

Udah ga ad yang bisa d pertahankan lg a. Orang dianya (ayahnya) juga udah ga peduli sama sekali sama kita. Neng sama mamah juga besok mau berangkat k Tangerang, mau kerja:p, begitu penjelasan Neng. Lalu, saya tanya lagi, “Eh, Neng, di keluarga belum ada yang menengahi, ya?” Sayang, hingga tulisan ini dibuat, sms saya belum berbalas. Saya mengerti mengapa.

Beberapa jam kemudian, lalu saya facebook walking ke akunnya si Neng. Saya dapatkan beberapa status “galau” yang menggambarkan suasana keluarganya. “Ya Alloh sakiitttt banget rasanya liat mama sedih n ngelamun terus… tulis statusnya, tanggal 16 Agustus 2013. Saya terus kitari akun pribadi Neng bentukan Mark Zuckerberg itu.

Ada lagi status Neng yang bikin hati saya deg-degan. Mungkin ini jalan trbaik untuk kita semua….Terimakasih Tuhan telah membuka mata hati mama:) Smoga dimanapun kita berada,kita tetap berada pada perlindungan Alloh… amiiin,,,!!!!! kita pasti bisa bahagia walau tanpa dia (si ayah),,Love you mom, tulisnya lagi, masih di tanggal yang sama. 

Saya memang belum tahu pasti penyebab retaknya rumah tangga saudara saya itu. Tapi, adik saya bilang, “Si Neng memang pernah bilang pas kita ke Tasik kemarin, kalau teman si Neng yang satu sekolah pernah memergoki ayah Neng sedang jalan-jalan ke tempat wisata. Dan, ayah Neng itu ditemani seorang wanita.”

Atas cerita adik saya itu, memang saya tak lantas memercayai sepenuhnya. Saya malah memutar otak, gimana caranya isi otak ini tak berburuk sangka dulu.” Bisa jadi, yang bersama ayah Neng itu saudaranya yang jauh, lalu dia minta antar ke tempat wisata. Atau, ya ada urusan bisnis atau apa dan bukan maksud selingkuh,” gumam hati saya.

Yang saya tahu, selama ini memang ayah si Neng kerja di pusat kota Tasikmalaya. Sedangkan, istri serta dua anaknya yang beranjak  gadis itu tinggal sekitar 30 kilometer dari kota. Istilah lain, istri-anak tinggal di pojok desa. Karena begitu, si ayah baru pulang ke rumah kalau liburan. “Biasa pulang ya sebulan sekali lah,” kata Neng suatu hari.

Jadi, kawannya si Neng yang sempat melihat ayahnya jalan bareng sama wanita lain di tempat wisata, ya diceritakanlah ke Neng apa adanya. Mengetahui info begitu, saya menduga, bukan hanya si Neng yang seperti disambar geledek, tetapi juga mungkin mamahnya serta adiknya yang masih SMP. Adik saya melanjutkan ceritanya ke saya.

“Mamah Neng dan juga Neng, langsung menanyakan ke ayahnya pas si ayah libur ke rumah soal cerita kawan Neng yang pernah lihat si ayah jalan bareng sama perempuan lain. Saat itu, kata Neng, si ayah sudah bersumpah-sumpah demi Tuhan tidak pernah jalan sama wanita lain. Pokoknya, si ayah Neng tidak mau ngaku!” lontar adik saya seperti diceritakan Neng.

Saya belum tahu lagi sampai dimana duduk persoalannya keluarga Neng. Saya hanya berharap, laku yang amat dibenci agama itu tak terjadi dan bisa diselesaikan secara damai. Walau begitu, saya masih pantau akun Facebook si Neng. “Membuka Lembaran Baru w/ mama & ade tersayang :):*,” begitu bunyi statusnya.

Kata mama seseorang yang benar2 sayang sama kita….dia akan mencari dan mengejar kita walau sejauh apapun itu dan dimanapun kita berada # catett,” celotehnya lagi sambil mengutip kata-kata Mamahnya, yang menurutnya menjadi falsafah hidup mereka.

Inget wae ka ayahanda inget wee kana lucuna, kana kanyaahna, kana belana, tapi eta baheula. Ayeuna mh ngan tinggal kenangan masa2 indah eta teh, saukur bisa ngeclakeun cimata . Ayah baca tah status ananda (Ingat terus sama ayah, ingat sama lucunya, sama kasih sayangnya, sama pembelaannya. Tapi, itu dulu. Sekarang hanya tinggal kenangan masa-masa indah itu, hanya bisa meneteskan air mata. Ayah, silakan baca status saya).”

Kali ini ada status Neng yang-saya pun belum tahu maksudnya. Seperti menemukan sosok pengganti ayah….Makasiiihh sayang. O, saya menduga, Neng punya pacar, dan si cowoknya itu menyipati ayahnya. Makanya, dia nulis statusnya begitu.

16 jam lalu, seperti tertulis di akun Facebook Neng, “Ya Alloh berikanlah aku kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi smua ujian-Mu....”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com