Enggak Jadi Golput Nulis

Gambar diambil dari: www.edudemic.com
Gambar diambil dari: http://www.edudemic.com

Berjumpa lagi.

Saking banyaknya ide—saya jadi tidak menulis untuk beberapa hari ke belakang. Bahkan, saya sempat berpikir untuk tidak menulis—setidak-tidaknya pada  April 2014 ini saja. Bukan tanpa alasan, sebab 9 April saya golput—maka sepanjang bulan ini pun semestinya saya golput menulis.

Tetapi tak kesampaian. Buktinya, hari ini saya malah menulis. Malah buang-buang waktu. Seharusnya saya puasa menulis. Eh, malah dibatalin. Tapi tak apalah ya—sebab, itu bukan omongan dari hati. Cuma luapan emosi yang enggak pernah dipikirkan akan dampaknya setelah ucapan itu membuncah.

Baiklah. Ke mana saja saya selama ini? Maksudnya, kenapa saya tidak menulis di blog sederhana saya ini? Saya enggak ke mana-mana. Ada di sini. Malam di kosan. Siang di kantor. Sabtu-Minggu menghabiskan waktu jalan kaki menyusuri daerah yang belum saya singgahi di kota yang saya tinggali atau berkunjung ke rumah teman kuliah.

Itu kalau lagi ada uang. Kalau sedang seret, ya diam di kosan. Dengarin radio. Sesekali liat acara di tivi-D Academi. Indonesian Idol. Berita-beritanya. Selain itu, menyambangi teman-teman kosan: ngobrol ngalor ngidul yang enggak pernah penting—minimal buat orang yang enggak menganggap penting sebuah pertemuan sambil ngadu kretek.

O, iya. Saya juga sakit dua hari lalu. Nyaris tak masuk kantor—karena kalau izin saya merasa enggak enak. Makanya lebih baik masuk walau hidung sambil meler, kedua mata memerah, dan tak lupa sapu tangan dan tisu stenbai di depan meja kerja. Ya sudah lah. Itu kemarin. Sekarang ya sekarang. Alhamdulillah sudah sehat. Saya tahu itu berkat doa rekan dan kehendak Tuhan.

Saya amat bersyukur bisa menulis hari ini. Pun berterimakasih terhadap orang-orang yang menganggap saya belum mengerti atau tidak mau mengerti. Sekian. Semoga Tuhan selalu mengindahkan hati kalian.

Iklan

Catatan Pagi dan Segalanya

Apak sudah tampak sumringah hari ini. Ia bisa berjalan, meski belum senormal orang kebanyakan. Masih sedikit tertatih. Menahan rasa ngilu, mungkin racun duri pohon salak masih enggan pergi. Tapi lumayan lah dibanding kondisinya dua hari lalu. Saya pun begitu, merasa bersyukur dan tambah bahagia. Apak pernah bilang, kalau apak sudah bisa ngerokok lagi, itu artinya apak sehat. Yup, persahabatan apak dengan kretek tampaknya belum bisa dipisahkan hingga kini.

Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan's foto)
Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan’s foto)

Masih ada lagi selain ngerokok, kalau apak itu dikatakan sehat. Lagi-lagi, ini apak yang cerita ke saya. Katanya, kalau apak posisi salatnya berdiri, itu pertanda apak benar-benar sehat. Dan, selama dua hari-semenjak dari dokter itu apak sudah mulai salat dengan cara berdiri. Meski, cara berdirinya belum seperti orang normal. Masih ditekuk-tekuk, ditahan-tahan. Yah, minimal, kalau sudah begitu, itu jalan mulus buat apak ke depan semakin segar-bugar.

“Cep, apak mau pulang hari ini. Doakan saja tambah sehat,” tiba-tiba apak bilang begitu.

“Bener, Pak mau pulang hari ini? Kan belum sehat nian. Tunggulah satu atau dua hari lagi. Biar fit nian,” kata saya.

“Enggak, Cep ah. Apak bosan di kota. Ini aja tolong, resep obat pegang. Kalau ada uang lebih, tolong belikan obat lagi ke apotek. Nanti uangnya apak ganti. Itu pun, kalau apak kerasa lagi sakitnya. Kalau enggak, ya gak usah. Doakan sajalah sehat terus,” begitu kata apak selanjutnya.

Ya sudahlah kalau begitu. Saya hanya nurut saja apa kata apak. Apak kan biasa kerja kalau di rumah. Sekalinya enggak kerja, tangannya serasa geregetan mau pegang sabit, cangkul, gergaji, dan alat-alat tani lainnya. Saya tahu, kalau umur apak tak lagi muda, tapi semangatnya menggauli pekarangan, sawah, dan ladang belum dapat dicegah. “Kalau nganggur seperti ini, bosan. Enggak bisa bergerak,” lanjut apak lagi.

“Apak karunya (kasihan) ke emak. Di rumah enggak ada yang bantu nyari kayu bakar. Kan biasanya juga apak yang nyari. Kalau emak, biasanya juga kerjanya yang ringan, paling-paling ngala (memetik/mengambil) coklat jeung (dan) ngala jambe. Ada Ari, Ari-nya kalau pulang sekolah malah langsung main. Belum terlalu dewasa untuk diandalkan,” celoteh apak, saat saya baca koran tentang ibu RT di Bengkulu yang mencabuli brondong sampai 8 orang.

“Di mana Yan? Nanti tolong bapak jemput ya di Prapto. Hari ini pulang. Biasa, ya minta di depan,” ucap apak lagi, sambil hape merahnya ditempelkan ke mulut telinga kiri. O, apak barusan nelepon Yayan, panggilannya Doyok-supir travel yang biasa menjadi langganan apak kalau mau ke Bengkulu atau pulang ke Putri Hijau. “Kalau Yayan mah bisa dianjuk heula ongkosna (diutangi dulu ongkosnya)!” celetuk apak.

“Okelah, Pak! Kalau Cep pulang nanti, Cep yang akan nyari kayu bakar. Pak, Cep mau coba ternak belut, siganamah (sepertinya) praktis! Kemarin liat buku cara beternak belut di toko Gramedia soalna.”

“Cobalah. Apak dulu di Jawa pernah coba ternak belut. Walah…lumayan atuh, Cep! Asal aya (ada) tempat, meuli (beli) semen wungkul (saja) Cecep ayeunamah (sekarang). Pasir dan batu mah aya (ada) di imah (rumah),” ungkap apak, nampaknya semangat kalau saya benar-benar mau jadi pawang belut, yang selanjutnya, barangkali jadi pawang uang. “Coba aja, Cep!”

Oke pak, hati-hati aja di jalan hari ini. Ntar Cep nyusul. Maafin, kalau ada kata/laku yang tak sengaja membuat hati tak nyaman. Salam buat emak dan Ari.

“Ke Ari, kurangi main game-nya gitu. Seminggu lagi soalnya mau UN,” pesan saya ke apak.

Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran. (Hasan's foto)
Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran Bengkulu Ekpress. (Hasan’s foto)

Semacam Curhat Buat Tuhan

“Ya Tuhan, berilah kekuatan pada apak. Berilah ia kesehatan. Kembalikan kesehatannya ke semula supaya apak bisa beraktivitas lagi. Biar bisa turun ke sawah lagi. Biar bisa menaman pisang lagi. Biar bisa mencari kayu bakar lagi. Juga biar bisa berkumpul bersama emak di rumah. Tuhan, jangan biarkan apak berlama-lama sakit seperti ini. Bukan aku menolak atau tak menerima kenyataan ini. Tapi, kalau apak sehat, tentu menyembah-Mu juga akan lebih khusuk. Kekhusukan itu dibutuhkan, ya Tuhan. Tolong hamba-Mu yang lunglai ini.”

“Ya Robbi, betapa aku mencintai-Mu sepengetahuanku. Engaku tahu, sudah dua hari ini  apak ada bersamaku, di Bengkulu. Tapi, kebersamaan apak tidaklah segembira hatinya di hari-hari lain. Kali ini, apak benar-benar fisiknya dilanda sakit, makanya harus berobat. Hari pertama di Bengkulu, apak harus ke dokter Agus, memeriksa lagi keluhan sakit pada kakinya. Kakinya bengkak. Kata apak, itu karena tertusuk duri salak. Betapa sakitnya itu ya, Tuhan. Aku hanya ingin, ringankan sakitnya, Tuhan. Sabarkanlah apak menerima cobaan ini. Sabarkanlah.”

“Ya Tuhan maha penguasa jagat. Apak bukan saja sakit di kakinya. Sebelum duri salak bersarang di daging rentanya, apak memang sudah lama bergelut dengan sakit kepala. Aku tahu persis, saat aku SD, betapa apak seringkali terserang sakit kepala, yang menurutku-sakitnya benar-benar akut. Pokoknya parah. Makanya, suatu kali apa minta diantar ke rumah sakit jiwa untuk diperiksa. Aku lihat saat itu, sekeliling kepala apak penuh dipasang kabel kecil. Bervariasi warnanya. Entah mau mendeteksi apa.  Seminggu setelahnya, apak baru cerita kalau apak menderita gangguan pada sarafnya.”

“Ya Tuhan yang maha kasih. Aku bertanya kenapa apak bisa terkena gangguan saraf. Berceritalah apak mengenai masa mudanya dulu, masa dimana Indonesia masih muda. Kata apak, apak pernah mengalami kecelakaan saat bis yang ia tumpangi terjun ke sungai. Untungnya, apak tak ikut terbawa bis yang tercebur ke dalamnya. Itu perasaan apak. Tapi, apak tahu-tahu sudah berada di rumah sakit dengan luka-luka yang cukup serius. Kaki apak patah, belum lagi tulang rusuk juga mengalami hal sama.”

“Ya Tuhan, dari sanakah sakit saraf apak bermula? Apak pun membenarkan, bahwa kepala apak terbentur benda keras saat kecelakaan bis yang ditumpanginya. Apak masih sadar waktu itu apa penyebab bis terjerembab ke dalam sungai. Katanya, bis itu remnya blong! Apalagi, jalan turun yang dilalui bis sangat curam. Kanan-kirinya bebatuan serta jurang. Banyak korban meninggal saat itu. Tapi apak, masih diselamatkan kasih Tuhan, meski harus menanggung resikonya hingga hari ini.”

“Tuhan, apak bilang dokter dulu memutuskan ingin mengamputasi kakinya. Mendengar itu, kata apak, ia kaget dan menolak saran dokter. Apak masih sayang dengan kakinya. Akhirnya, dokter pun tidak bisa memaksa. Apak lalu dibawa ke kampung,lebih baik diobati secara tradisional. Apak lalu ditemukan orang pintar yang bisa menyambung tulang-tulang patah yang ada di dalam tubuhnya. Proses penyembuhannya berbulan-bulan. Sampai akhirnya, apak pun normal seperti biasa, berkegiatan seperti semula. Alhamdulillah, ya Tuhan.”

“Ya Tuhan, tiap bulan sekali apak harus berobat ke Bengkulu tatkala kepalanya mengalami sakit. Dan itu sudah berlangsung lama. Bayangkan, saat saya menginjak SD, apak sudah merasakan begitu. Terkadang, di saat sepertiga malam, tiba-tiba kepala apak diserang sakit. Aku kerap terbangun oleh erangannya. Dan emak, saat mataku melek, sudah berada di samping apak, mengurut-urut kepala apak.”

“Ya Tuhan, saat ini, di tahun 2013, tahun dimana SBY berkuasa, di usia apak yang masuk 78, apak masih ditemani rasa sakit di kepalanya. Sampai kapankah, ya Tuhan? Berilah kami sekeluarga selalu…selalu…selalu…diberikan ketabahan, kesabaran menghadapi, menerima semua-yang menurutku ini salah satu nikmat-Mu juga. Meski begitu, aku berharap, ya, Tuhan, engkau meringankan beban kami. Tuhan, tak ada lagi yang patut dijadikan tempat bersimpuh selain-Mu. Aku siap menerima apa adanya. Karena aku tahu, aku tidak memiliki kekuatan, kekuasaan apa-apa untuk melawan-Mu. Jadikan hamba-Mu ini menjadi manusia yang selalu membutuhkan-Mu.”

Apak, saat masih sehat terlihat sedang bermain dengan salah satu cucunya, Opik Awan. (Cecep Hasannudin)
Apak, saat masih sehat terlihat sedang bermain dengan salah satu cucunya, Opik Awan. (Hasan’s foto)