You are the Real God

ini cara bersyukur saya
ini cara bersyukur saya

orang-orang mulai ngomongin mudik, bahkan sudah jauh-jauh hari mereka sudah beli tiket, terutama yang rumahnya di luar kota bandung atau luar pulau jawa. sedangkan saya, sama sekali belum memikirkan mudik, pesen-pesen tiket, apalagi beli baju baru.

nantilah mikirkan itu. yang saya pikirkan saat ini adalah, kenapa Tuhan masih rela  memberikan saya nyawa dan kesehatan hingga detik ini. sementara saya bukanlah orang yang pandai bersyukur. itulah kenapa saya tidak pernah menghitung atas apa yang Tuhan limpahkan kepada saya.

buat apa saya menghitung? lagian nilai matematika saya sejak sd-sma tak pernah di atas teman-teman yang mendapat rangking 1, 2, atau 3. jika tidak menghitung nikmat tuhan, lalu apa tugas saya? tugas utama saya adalah menikmatinya, lalu bersyukur, itu pun kalau ingat dan sempat. jika tidak ingat, mungkin akan ada orang lain yang akan mengingatkan saya atau Tuhan sendiri turun tangan.

waw, tuhan turun tangan? saya enggak merasa takut? ya enggaklah. nyantai aja kali. kenapa mesti takut? wong saya ini sebenarnya milik siapa, sih? saya punya Dia, ya terserah Dia saya mau diapain dan digimanain juga. da aku mah apa atuh! jadi saya enggak perlu kesal atau marah-marah sama Dia, andai misalnya saya dikasih sakit atau apalah itu. justru saya harus senang! “You are the real god!”

saya sebenarnya tidak mau ada sekat antara saya dengan Tuhan. jadi saya bisa bebas ngobrol sama Dia di mana pun dan kapan pun saya mau. namun, saya selalu ingatkan diri saya sendiri, tolong jangan dekati Dia kalau tujuannya ingin menjilat. sebab Dia tahu niat saya yang mana yang Dia langsung tersenyum.

makanya saya tidak mau, lebih tepatnya belum mau memikirkan hal-hal di luar diri saya dan Tuhan. pesen tiket, lalu mudik? biarlah mereka mudik. birlah mereka berbelanja sebanyak apa pun yang mereka suka. saya nyantai sajalah di sini, tak perlu ikut arus. juga tak perlu khawatir tiket pesawat, bis, atau kereta habis oleh orang lain. saya cari tiket untuk menuju Tuhan saja, deh.

sudahlah, Bro. urusan beli tiket, mudik, belanja, itu semua urusan dunia. urusan yang sesungguhnya bisa membuat saya tidak tenang, bikin stres, timbul iri, dan hal-hal lain yang mengganggu stabilitas hubungan saya dengan Tuhan. sudah tahu hubungan saya dengan Tuhan lagi renggangg (emang pernah mesra, ya), eh, ini malah digoda dengan rayuan ini itu.

Tuhan, andai selama ini cara bersyukur saya ternyata tidak Engkau sukai, enggak papa, kan? kamu tidak marah, kan? saya yakin kamu tidak pernah marah sama saya. saya nya aja yang suka lebai menilai-Mu, suka berburuk sangka terhadap-Mu. dengan diri-Mu saja saya lihai berburuk sangka, apalagi dengan manusia, atau dengan segala apa yang telah dan sedang terjadi.

Tuhan, satu lagi. mumpung ingat. perlukah saya meminta maaf kepada-Mu, sementara setelah meminta maaf saya masih mengulang perbuatan ataupun perkataan yang menurut-Mu salah? lalu, apakah dengan begitu saya masih disebut hamba yang tidak bersyukur?

o, Tuhan. saya tidak ingat apa-apa lagi, apalagi tentang mudik dan hiruk pikuknya. maaf, saya hanya ingat diri-Mu.

Bukan Penulis Serius

Gambar diambil dari: www.livingfreenyc.com
Gambar diambil dari: http://www.livingfreenyc.com

Waktu saya cuma satu jam. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menulis sekarang! Ya, sekarang! Bukan nanti atau besok! Apalagi nunggu dulu mood baru saya menulis! Tidak sama sekali. Lalu, saya mau menulis tentang apa sekarang? Apa saja. Yang penting saya suka dan mampu menuliskannya.

Eh, bukannya kalau nulis itu harus ada ide dulu, ya? Ide itu akan datang dengan sendirinya kalau kita mau benar-benar duduk dengan tenang di hadapan leptop/komputer—kemudian buka word dan tuliskan apa saja yang sedang berseliweran di otakmu. Yakinlah, dengan begitu—ide akan berhamburan dan kau asyik menikmati itu sambil kau ketik!

Bohong! Kau bilang begitu karena kau belum mencoba. Iya, kau sudah mencoba, tapi kau terlalu lemah untuk berpikir dan kau malah tergoda untuk cepat-cepat meninggalkan leptop/komputermu lalu kau turn off-kan seenaknya—sementara ide nyaris meleleh, tapi kau tutup kembali lubangnya. Padahal, bila kau mau sabar sedikit saja, tulisan itu akan hadir!

Apa buktinya? Ini buktinya, kawan! Saya duduk di hadapan komputer ini dengan sabar. Dan ini hasilnya. Saya menulis apa yang sedang saya pikirkan. Bukan menulis apa yang ingin saya tulis! Pokoknya, apa yang terlintas dalam otak—itu langsung saya tulis tanpa beban, tanpa takut saya ini nanti bakal dicela setelah menuliskannya. Lumayan, kan sudah empat paragraf yang saya tulis?

Yang penting itu saya telah berhasil menumpahkan unek-unek saya—walau—menurut kalian, apa yang saya tulis ini sama sekali bukanlah tulisan berbobot, tetapi ini tulisan sampah dan memunculkan komentar negatif. “Nulis, kok kayak gini! Kayak anak kecil! Baca buku berapa puluh dia seminggu? Coba nulis tu yang serius, yang bikin orang terkesan! Ini malah kayak gini.”

Nulis yang serius?? Kamu nyuruh saya nulis yang serius?? Tulisan serius menurutmu itu seperti apa, sih? Tema politik, ekonomi, pendidikan—itu maksudmu? Sudahlah. Hidup ini tak ada yang serius. Hidup ini permainan, Bro! Kamu seperti tidak tahu saya, kapan saya pernah serius? Biarlah orang lain saja yang nulis tentang ekonomi, pendidikan, politik, dan apa lah itu. Saya ini orang yang tidak pernah serius, jadi akan tetap nulis hal-hal yang tak serius pula.

Wassalam. Astaga, sudah pukul 17.00!

Umrah

Gambar didownload dari: www.gshtour.com
Gambar didownload dari: http://www.gshtour.com

Sebelum pulang ke kosan, ada baiknya saya menulis dulu. Mau menulis apa, itu saya juga tidak tahu. Yang penting, apa yang melintas di pikiran—langsung saja saya tuangkan di sini seadanya yang saya ketahui dan saya ingini.

O, iya. Hari ini apak dan rombongan bertolak ke Arab Saudi dengan tujuan umrah. Sudah sejak semalam, selepas isya saya menelepon apak menanyakan gimana persiapan keberangkatannya.

Juga bilang, bahwa saya benar-benar mohon maaf tidak bisa hadir ke Bengkulu untuk sekadar mengantar apak sampai bandara Fatmawati melepas keberangkatan menuju bandara Cengkareng, Soekarno-Hatta untuk kemudian terbang ke tanah Arab.

Apak, tadi malam hanya bilang, segala perbekalan untuk dibawa selama menjalani umrah sudah siap semuanya, termasuk membawa catatan titipan doa dari anak-anaknya, termasuk saya di selembar kertas.

Tujuannya, ya supaya tidak lupa, bahwa saudara dan anak-anaknya nitip doa dan berharap supaya apak mendoakan apa yang diminta di tempat-tempat terkabulnya doa di tanah haram tersebut.

Selain itu, apak juga bawa abon, kecap, roti tawar, dan makanan persiapan buat selama perjalanan di pesawat. Kenapa mesti kecap, karena beberapa bulan ini apak tidak lagi selera makan dengan lauk yang lain kecuali kecap dan garam. Entah kenapa.

Makanya, kecap mesti dibawa ke tanah Arab sebagai teman nasi—kalau memang nanti panitia mempersiapan nasi bungkus di sana. Kalau abon, ya itu untuk persiapan saja, kalau-kalau bosan dengan kecap, kan abon ada.

Saya katakan ke apak, siapa yang akan nganter apak sampai bandara Fatmawati. Dia bilang emak, teteh, aa, dan barangkali keponakan saya yang lain. Tapi, rasanya tidak, karena semua keponakan pasti sekolah, kecuali, Opik, anak bungsu teteh.

Saya juga bilang, kalau Oman, adik saya yang sekarang sedang mengadu nasib di Jakarta bakal ke Bandara Soekarno-Hatta menemui apak dulu sesaat sebelum apak take off ke Makkah menggunakan Saudi Arabia Air Lines.

Apak hanya pesan ke saya, tolong doakan saja apak semoga diberi kesehatan, kelancaran, dan kemudahan selama menjalani rangkaian ibadah umrah di tanah suci. Saya bilang, tenang saja dan saya katakan saya siap mendoakan!

Pas menelepon apak itu, bahwa apak akan berangkat dari Bandara Soetta menuju Jeddah tepat pukul 16.00. Pokoknya sekitar 9 jam-an lah apak dan rombongan berada di udara. Lancar…lancar…lancar.

Dan, tanggal 1 Maret, apak akan sampai ke Kota Bengkulu sebelum asar. Kebetulan, tanggal segitu—saya berada di Bumi Rafflesia itu, mudah-mudahan bila tak ada halangan.