Saya Salah Saya Kalah

Taken from: www.pickurpic.com
Taken from: http://www.pickurpic.com

Kadang-kadang saya sungkan untuk meminta maaf lebih dulu kepada seseorang—meski saya tahu saya salah. ”Bro, nantilah minta maaf sama dia. Ntar juga dia duluan, kok yang negur! Ngapain kamu duluan minta maaf!” Malah bisikan itu yang saya dapat. Di sisi lain, bisikan berbeda muncul,”Bro, cepatlah minta maaf sama dia. Enggak enak, lho didiamkan orang. Kamu, kan butuh dia. Soal dia mau memberi maaf atau tidak, itu urusan belakang!”

Keberanian untuk memulai meminta maaf—itu saya kira yang tidak mudah. Suka ada perasaan malu bila saya harus meminta maaf duluan sama orang itu. Pun ada perasaan takut—andai nanti saya sudah ngomong baik-baik minta maaf—malah dianya belum mau memaafkan, bahkan bertekad tidak ingin memaafkan saya. Dia beralasan, kesalahan saya fatal—karenanya tak ada kata maaf! Dan itu yang saya takutkan di dunia ini, selain ngidupkan kompor gas!

Sama sekali saya tidak mau cari pembenaran akan ungkapan ini,”Manusia itu tempatnya salah dan dosa”,”Tak ada manusia sempurna di dunia ini”,”Kalau kamu salah, itu wajar. Yang enggak wajar itu, kamu selalu benar!” Masalahnya—saya ini sudah tahu sesuatu itu salah bila dilakukan, eh, kok masih saja melakukannya dan tak bisa menahan atau jaga perasaan orang lain. Akhirnya apa? Akhirnya, ya teman saya itu jengkel dan marah ke saya lantaran saya melanggar perjanjian yang telah dibuat.

Dan karena perbuatan saya yang salah itu, hingga hari ini dan sejak kemarin—teman saya yang biasanya enak diajak bercanda ini—ya sikapnya berbeda dari biasanya—utamanya ke saya. Perubahan sikap teman saya itu, saya sangat sadar, itu karena ulah saya yang sebelumnya sempat mengecewakan dia. Oh, my god, saya salah. Tak pernah ada kekecewaan itu di awal, pastilah ia bereaksinya selalu di akhir. Ini yang kadang-kadang membuat saya sedih.

Saya pikir yang merasa enggak enak itu bukan hanya saya, teman saya juga—walau dia saya perkirakan berada di pihak yang benar. Bisa jadi, dia pun sempat berpikir,”Ah, kalau dia (saya) merasa salah, seharusnya dia (saya) yang minta maaf duluan! Aneh, dunk, dia (saya) yang salah, kok saya yang minta maaf duluan! Enggak adil! Mikir, dunk!” Nah, apa salah andai dia berpikir begitu? Ah, tidak!

Ketika saya ingin meneruskan menulis ini, saya iseng cek hape. “Aku gak mau sampe tiga hari, Bro kita gak saling tanya. Jadi sekarang mau gimana?” Begitu pesan via whatsapp dari teman yang udah dua hari ini mendiamkan saya. Saya akui, saya kalah cepat dari dia untuk berinisiatif mendamaikan suasana. Saya akui saya KO di satu sisi hari ini, tetapi saya gembira di sisi yang lain—karena berarti hari ini dan hari-hari berikutnya pertemanan kami kembali normal. Satu catatan: saya harus banyak belajar dari kejadian ini!

“Belum nyampe tiga hari, Bro. Tenang aja. Besoklah kita mulai normal lagi. Pastinya aku minta maaf atas segala kesalahanku, Bro, baik disengaja maupun tidak. Mudah-mudahan aku bisa lebih baik!” Itu balas saya ke teman saya—meski saya agak takut, memangnya umur saya masih ada besok, sementara saya pernah salah dan belum meminta maaf kepada orang tersebut? Tuhan, maafkan saya dan beri saya kekuatan untuk selalu meminta maaf dan memberi maaf kepada seseorang.

Pokoknya teman saya balas lagi pesan saya dan bilang,”Mutuskan silaturahmi itu dosa, Bray! Sama, aku juga minta maaf.” Ya, saya tahu saya salah, karena itu saya berdosa dan selanjutnya saya harus meminta maaf kepadanya dengan sebenar-benarnya maaf, bukan hanya di bibir, tetapi di hati. Setelah urusan dengan manusia selesai, barulah saya beraudensi dengan Tuhan yang telah menciptakan saya dan teman saya itu.

Terimakasih telah berinisiatif. Terimakasih telah mengingatkan saya. Dan terimakasih telah memaafkan saya.

Iklan

Bukan Marah tapi Segan

Gambar diambil dari: www.ahcrapp.blogspot.com
Gambar diambil dari: http://www.ahcrapp.blogspot.com

Saya bukan marah—tapi terlau segan kalau meladeni orang yang sering berpikir negatif—bukan hanya terhadap dirinya sendiri tapi orang lain. Terhadap dirinya saja tega menganggap negatif—apalagi dengan orang lain. Itu setidaknya yang saya tangkap dari beberapa orang teman saya yang hampir selalu tidak sabar untuk berpikir negatif.

Jujur saja—kalau saya sudah menemukan orang seperti itu, saya benar-benar segan untuk melanjutkan ngeladeninya ngobrol. Kasarnya, saya malas membaca ataupun mendengar keluhan-keluhan—yang mungkin tidak perlu. Sebab, mereka ataupun saya sebetulnya tahu, bahwa pikiran-pikiran negatif itu tak membawa kebaikan buat mereka dan saya.

Orang yang selalu berpikir positif saja belum tentu berpengaruh positif terhadap orang lain, apalagi ini yang jelas-jelas kerap berpikir negatif. Makanya, saya lebih baik menghentikan sejenak aktivitas berkomunikasi dengan orang yang masih menyemburkan aura negatif terhadap dirinya dan orang lain dengan memberinya sinyal “tidak begitu antusias” menanggapi ocehannya itu.

Nanti, andai mereka sudah tidak lagi membicarakan/mengirim pesan—yang menurut saya negatif—saya barulah melanjutkan perbincangan kami yang sempat terputus—walau tidak seantusias yang mereka harapkan. Ingat, bahwa saya bukan tidak butuh pikiran-pikiran negatif dari teman-teman saya. Saya sangat butuh, bahkan saya pernah meminta mereka,”Ayo, berpikirlah negatif mumpung ada waktu! Mumpung kau suka!” Pernah saya katakan seperti itu.

Nyatanya, permintaan saya itu malah ditanggapinya dengan negatif. Atau, lebih kurang mereka malah tersinggung. Padahal, bukankah berpikir negatif itu lebih cocok buat mereka dibanding berpikir negatif? Saya enggak tahu persisnya. Tapi mudah-mudahan anggapan saya ini salah dan terlalu lebay dan seolah-olah bahwa berpikir positiflah yang mendapatkan tempat.

Ya sudahlah. Ini semua barangkali refleksi buat saya—bahwa orang tidak akan berpikir negatif terhadap dirinya ataupun orang lain kalau bukan saya yang salah. Jadi, saya sumber masalahnya, ya? Sumber, sih, tidak, ya—tapi saya merasa saya ikut menjadi penyebab kenapa sampai teman-teman saya tega berpikir negatif.

Oke, keep spirit dan semoga jadi lebih baik!