Rokok dan Keponakan

Ini sebagian keponakan saya
Ini sebagian keponakan saya

Saya bahkan tidak menyuruh ketiga keponakan sembunyi-sembunyi ketika merokok. Saya bilang ke mereka, buat apa kalian sembunyi-sembunyi gitu. Ngerokok ya ngerokok aja. Nyantai. Jangan ngerasa tertekan. Lagian keluarga udah pada tahu kalian suka merokok!

Jika ada salah satu saudara kita ngelarang ini itu atau enggak boleh ini enggak boleh itu, tambah saya ke mereka, ya hadapi aja. Enggak perlu takut. Dengarkan ocehan mereka. Jangan membantah. Kalau mau bilang, bilang aja ke mereka,”Marah-marah membunuhmu! Ngelarang ini ngelarang itu juga membunuhmu!”

Saya tidak pernah melarang mereka untuk tidak merokok. Bahkan, tiap ada kesempatan berkumpul bersama mereka, saya kadang-kadang minta rokok mereka, lalu merokok bersama-sama. Ketawa-tawa bersama, meski  saya kurang menyukai rokok favorit mereka.

Setidaknya, pas liburan lebaran kemarin, saya perhatikan betapa intimnya ketiga keponakan saya ini dengan rokok. Dilihat dari cara menghidupkan rokok dan memegang rokok ketika dihisap, mereka sudah seperti perokok berat alias profesional. Padahal, mereka ini masih kelas tiga sma, kecuali yang satu baru mau daftar kuliah.

Saya paling anti melarang-larang orang atau siapa pun di dunia ini terhadap sesuatu yang mereka senangi. Saya bilang ke keponakan saya sembari bercanda-canda: lakukanlah apa yang kalian senangi. Asal, jika bisa jangan melakukan yang polisi mengincarmu. Misal, ngisap ganja atau narkoba! Kalau sekadar merokok, sih wajar, tegas saya.

Ibu anak-anak itu, saya perhatikan juga tidak banyak berbuat apa-apa lagi jika melihat sang buah hati merokok. “Ibu maklum kalian merokok. Jangan saja melakukan yang lebih dari merokok. Yang penting kalian rajin ibadah, enggak males sekolah…” begitu yang saya dengar.

Iklan

Catatan Pagi dan Segalanya

Apak sudah tampak sumringah hari ini. Ia bisa berjalan, meski belum senormal orang kebanyakan. Masih sedikit tertatih. Menahan rasa ngilu, mungkin racun duri pohon salak masih enggan pergi. Tapi lumayan lah dibanding kondisinya dua hari lalu. Saya pun begitu, merasa bersyukur dan tambah bahagia. Apak pernah bilang, kalau apak sudah bisa ngerokok lagi, itu artinya apak sehat. Yup, persahabatan apak dengan kretek tampaknya belum bisa dipisahkan hingga kini.

Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan's foto)
Beginilah Apak. Katanya, kalau sudah merokok, itu pertanda sehat. (Hasan’s foto)

Masih ada lagi selain ngerokok, kalau apak itu dikatakan sehat. Lagi-lagi, ini apak yang cerita ke saya. Katanya, kalau apak posisi salatnya berdiri, itu pertanda apak benar-benar sehat. Dan, selama dua hari-semenjak dari dokter itu apak sudah mulai salat dengan cara berdiri. Meski, cara berdirinya belum seperti orang normal. Masih ditekuk-tekuk, ditahan-tahan. Yah, minimal, kalau sudah begitu, itu jalan mulus buat apak ke depan semakin segar-bugar.

“Cep, apak mau pulang hari ini. Doakan saja tambah sehat,” tiba-tiba apak bilang begitu.

“Bener, Pak mau pulang hari ini? Kan belum sehat nian. Tunggulah satu atau dua hari lagi. Biar fit nian,” kata saya.

“Enggak, Cep ah. Apak bosan di kota. Ini aja tolong, resep obat pegang. Kalau ada uang lebih, tolong belikan obat lagi ke apotek. Nanti uangnya apak ganti. Itu pun, kalau apak kerasa lagi sakitnya. Kalau enggak, ya gak usah. Doakan sajalah sehat terus,” begitu kata apak selanjutnya.

Ya sudahlah kalau begitu. Saya hanya nurut saja apa kata apak. Apak kan biasa kerja kalau di rumah. Sekalinya enggak kerja, tangannya serasa geregetan mau pegang sabit, cangkul, gergaji, dan alat-alat tani lainnya. Saya tahu, kalau umur apak tak lagi muda, tapi semangatnya menggauli pekarangan, sawah, dan ladang belum dapat dicegah. “Kalau nganggur seperti ini, bosan. Enggak bisa bergerak,” lanjut apak lagi.

“Apak karunya (kasihan) ke emak. Di rumah enggak ada yang bantu nyari kayu bakar. Kan biasanya juga apak yang nyari. Kalau emak, biasanya juga kerjanya yang ringan, paling-paling ngala (memetik/mengambil) coklat jeung (dan) ngala jambe. Ada Ari, Ari-nya kalau pulang sekolah malah langsung main. Belum terlalu dewasa untuk diandalkan,” celoteh apak, saat saya baca koran tentang ibu RT di Bengkulu yang mencabuli brondong sampai 8 orang.

“Di mana Yan? Nanti tolong bapak jemput ya di Prapto. Hari ini pulang. Biasa, ya minta di depan,” ucap apak lagi, sambil hape merahnya ditempelkan ke mulut telinga kiri. O, apak barusan nelepon Yayan, panggilannya Doyok-supir travel yang biasa menjadi langganan apak kalau mau ke Bengkulu atau pulang ke Putri Hijau. “Kalau Yayan mah bisa dianjuk heula ongkosna (diutangi dulu ongkosnya)!” celetuk apak.

“Okelah, Pak! Kalau Cep pulang nanti, Cep yang akan nyari kayu bakar. Pak, Cep mau coba ternak belut, siganamah (sepertinya) praktis! Kemarin liat buku cara beternak belut di toko Gramedia soalna.”

“Cobalah. Apak dulu di Jawa pernah coba ternak belut. Walah…lumayan atuh, Cep! Asal aya (ada) tempat, meuli (beli) semen wungkul (saja) Cecep ayeunamah (sekarang). Pasir dan batu mah aya (ada) di imah (rumah),” ungkap apak, nampaknya semangat kalau saya benar-benar mau jadi pawang belut, yang selanjutnya, barangkali jadi pawang uang. “Coba aja, Cep!”

Oke pak, hati-hati aja di jalan hari ini. Ntar Cep nyusul. Maafin, kalau ada kata/laku yang tak sengaja membuat hati tak nyaman. Salam buat emak dan Ari.

“Ke Ari, kurangi main game-nya gitu. Seminggu lagi soalnya mau UN,” pesan saya ke apak.

Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran. (Hasan's foto)
Ari, keponakan saya sedang asyik membaca koran Bengkulu Ekpress. (Hasan’s foto)