Jodoh, Maut, dan Rezeki

From my hape

Biarlah. Semua saya serahkan kepada Tuhan. Perkara apa pun. Jodoh, maut, dan rezeki. Hanya soal itu?

Jodoh. Tentu saya ingin, Tuhan yang memilihkan saya jodoh. Saya akan berjodoh dengan siapa, itu rahasia Tuhan. Terlebih, si jodoh itu adalah milik Tuhan. Jadi, saya hanya berusaha mendekati si jodoh dan sambil merayu Tuhan, supaya dia berjodoh dengan saya (ini doa egois, menurut ahli tasawuf). Andai Tuhan tidak suka dengan rayuan saya, ya sudah, Tuhan tentu Maha Tahu saya ini harus berjodoh sama siapa. Jadi nyantai, ya.

Maut. Saya pun tidak tahu kapan, di mana, dan dalam keadaan seperti apa saya ketika izrail menjemput saya. Jelasnya, sampai tulisan ini dibuat, saya tidak ragu, bahwa saya sudah siap mati. Tak perlu ragu untuk membahas soal kematian, sebab saya pun selalu bersenang-senang ketika membicarakan tentang kehidupan. Jika saat keluar dari rahim ibu saya, saya menangis, tentu ketika pulang, saya harus tersenyum. Semoga.

Rezeki. Apa yang disebut rezeki, otak saya selalu mengatakan, ia adalah uang, ia adalah pakaian, ia adalah makanan, ia adalah minuman, ia adalah tempat tinggal, dan ia adalah segala sesuatu yang menggembirakan hati. Dan segala sesuatu yang membuat hati saya sakit, itu bukan rezeki, melainkan musibah atau bisa juga kutukan. Apa benar begitu? Pemahaman saya soal rezeki, sampai detik ini, baru sebatas itu. Dalam arti lain, ingin mendapatkan sesuatu yang menyenangkan, ya berusaha.

Ya, segini saja pagi ini.

Minta Doa

gambar dari; www.google.co.id
gambar dari; http://www.google.co.id

Teman saya di kantor, akhir Desember ini berencana menunaikan umrah bersama keluarganya. Maka, saya pun bilang ke ibu itu, “Mbak, jangan lupa nanti pas di Baittullah doain aku, ya supaya cepet dapet jodoh yang tepat.” “Insyaallah…hahaha…”kata teman saya itu. “Makasih, ya, Mbak.” balas saya. Saya pikir, saya harus banyak meminta doa kepada orang-orang yang rela mendoakan saya, apalagi-teman saya ini sebentar lagi mau ke tanah suci. Siapa tahu, di tempat mustajabnya doa itu, permintaan saya melalui teman saya ini terkabul. Amin.

Februari 2014 pun, ayah saya mau umrah juga. Makanya, sejak rencana itu muncul, saya telah-dengan sedikit memaksa, juga meminta kepada ayah saya supaya saya didoakan dalam kebaikan, baik digampangkan soal jodoh, rezeki, panjang umur, dan hal-hal lain yang belum saya capai selama ini. “Tolong, ya, Pak.” ucap saya ke ayah suatu hari. Saya juga tak menyangka kalau ayah saya bisa umrah-walau-sebetulnya, impian terbesar saya, ayah dan ibu saya bisa haji terlebih dulu. Tapi, namanya kesempatan, kenapa harus ditolak, toh itu sudah ketetapan-Nya.

Jadi begini. Umrahnya ayah saya itu, seperti ditulis pada tulisan sebelumnya, bukan karena ongkos pribadi, tetapi kasarnya-diongkosi. Makanya, saat tahu begitu, kami sekeluarga sangat berterimakasih sekali, baik kepada Allah, juga kepada orang yang rela membayarkan ayah saya ke tanah suci. Sayangnya memang, ibu saya belum mendapat kesempatan untuk umrah bareng sama ayah. Maunya saya, sih-emak juga umrah bareng apak, tapi-tampaknya belum kesampaian. Mudah-mudahan, suatu saat, kesempatan buat emak akan datang pada waktunya.

Saya hanya bisa berdoa, semoga rencana ayah untuk umrah Februari tahun depan terlaksana dan lancar-lancar saja. Yang paling penting, ayah selalu sehat, kuat fisiknya, dan panjang umur. Sebab, saya sangat paham, bahwa ibadah umrah adalah ibadah fisik. Apalagi, usia ayah kini tak lagi muda. Wong pas Indonesia merdeka saja, ayah saya sudah lahir dan pernah merasakan masa-masa penjajahan itu berlangsung. Tapi, apapun, semuanya dikembalikan kepada Allah, Tuhan pemilik langit dan bumi. Sebagai anak, saya hanya bisa mendoakan yang terbaik buat my beloved father.

“Pak, jangan lupa, ya. Kalau nanti di Ka’bah, doain Hasan supaya dapat istri yang shalehah, tepat, dan sayang sama-bukan saja kepada keluarganya, tetapi keluarga kita juga. Oke, ya, Pak.” pinta saya ke apak, entah beberapa minggu lalu. Adapun sekarang, kata apak kemarin pas ditelepon, masih ngurusin paspor dan hal-hal yang berkaitan dengan keberangkatan ke tanah Haram itu. Ya udah, deh, Pak. Lancar aja, ya. Moga saja, kalau umrah saja tercapai, apalagi haji, moga juga tercapai, ya. Meski, semua pada tahu ongkos naik haji untuk saat ini terbilang mahal. Tapi, ya, apapun-kalau Allah telah memanggil, rezeki ada saja, kok. Cekidot!!!