Sahur dan Buka Pertama di RSUD Cianjur

Gambar diambil dari: www.en.fotolia.com
Gambar diambil dari: http://www.en.fotolia.com

Siapa yang menyangka kalau pada ramadhan pertama tahun ini saya bakal sahur di rumah sakit? Namun, begitulah kenyataannya. Demi menemani seorang sahabat yang kemudian sudah saya anggap sebagai saudara sendiri–saya rela berbagi ketidaksukaan yang dia alami di sana. Untungnya, begitu mamanya kasih kabar lewat pesan BBM siang kemarin, saya sedang libur. Makanya saya putuskan berangkat ke Cianjur sejam setelah info tak menggembirakan itu sampai ke smartphone saya.

Saya tanya ke mama teman saya itu sebelum saya berangkat ke terminal terbesar di Kota Bandung, Leuwi Panjang perihal sakit apa yang diderita teman saya sehingga bisa mampir di UGD RSUD di kota Taucok itu. “Tadi muntah darah, badannya kejang-kejang, pinsan di kamar mandi. Doakan saja, Cep. Ini belum sadar-sadar,” begitu tulis mamanya di pesan BBM–yang otomatis membuat jantung saya berdebar tak keruan.

Saya balas pesan mamanya itu dengan perasaan tak menentu–maklum baru tadi malam selepas isya, teman saya itu beranjak dari kosan saya. Bahkan, dengan meminjam motor teman, teman yang baru saja sidang tesis ini saya bonceng menuju jalan pertigaan untuk menunggu angkot karena hendak pulang ke kosannya setelah itu langsung pulang ke Cianjur. “Aduh sakit perut, Bro! Udah ke wc, tapi anehnya enggak keluar-keluar,” keluhnya saat masih di atas motor sebelum sampai di jalan pertigaan.

Saya sarankan saja banyak minum air putih, siapa tahu kemudian BAB-nya lancar. Ataukah dia salah makan? Ah, kata teman saya ini apanya yang salah makan. Rasanya tidak, bantahnya. Ya sudah kalau begitu, mungkin sakit perutnya sakit biasa atau kena masuk angin saja. Dan saya pikir tidak apa-apa, toh biasanya juga bakal cepat reda. Itu harapan saya, tetapi nyatanya berkata lain.

Saya lantas juga kirim pesan ke tetehnya teman saya itu, apakah sudah ada keterangan dari dokter sakit apa sebenarnya teman saya ini. Tetehnya itu cepat menjawab,”Ini masih nunggu hasil lab.” O, jadi memang belum diketahui apa sakitnya. Saya berdoa mudah-mudahan teman saya itu tak menderita penyakit yang tak pernah saya duga dan pikirkan. Saya berharap dia hanya kelelahan saja atau kurang vitamin begitu. Masalahnya, kok bisa sampai muntah darah, badannya kejang, terus pinsan? Benarkah gejala seperti itu hanya akibat kelelahan?

Teteh teman saya itu tanya ke saya sekarang sudah di mana. Saya bilang saya baru saja keluar tol Padalarang dan teteh itu menulis hati-hati saja di jalan ke saya. Sebelumnya saya tanya juga di ruang mana sang adik dirawat di RSUD Cianjur itu–takut hape saya mati karena kekurangan daya. “Ruang Flamboyan lantai 2 kamar nomor 1.” Saya katakan oke dan mudah-mudahan teman saya itu kuat dan cepat pulih.

Dan benar hape saya memang mati. Itu salah satu hal yang membuat saya kesal dari ribuan kekesalan sepanjang perjalanan saya di bus tujuan Bandung-Sukabumi. Sudah tahu bus yang saya tumpangi kursinya sudah penuh, tapi kondektur bus itu seenaknya bilang di sepanjang jalan,”Cianjur…cianjur…cianjur. Sukabumi..sukabumi..,sukabumi. Masih kosong…masih kosong.” Tak salah apa yang dikatakan kondektur itu, bahwa ruang tengah bis memang kosong!

Tak menunggu lama, bus berpendingin udara itu akhirnya sesak. Sepanjang lorong antara kursi di bagian kanan dan kiri bus berjejal anak manusia dari segala usia. Ya, mereka semua bergelantungan yang membuat peredaran udara di dalamnya semakin kacau. Entah embusan dari ketiak siapa yang mencoba masuk ke lubang hidung saya. Saya tak harus protes dengan keadaan ini. Nikmati dan jalani perjalanan ini, Bung!

“Ojeknya, A. Ojek, hayu ah!” Begitu kata salah satu tukang ojek ketika kaki kiri saya menapakkannya di tanah saat turun dari bus, di simpang empat lampu merah Ramayana–salah satu pusat perbelanjaan di kota berjuluk Kota Santri ini. “Rumah sakit, A!” ucap saya ke tukang ojek. “Jenguk yang sakit, A?” Tanpa diminta, tukang ojek cari info dari saya. Saya jawab iya ada saudara yang sakit.

Saya hafal betul di mana ruang Flamboyan RSUD Cianjur. Tiga tahun lalu, sahabat saya itu juga pernah nginap sampai seminggu di ruang itu karena jalani operasi hernia. Bedanya, kali ini dia berada di lantai 2 kamar nomor 1. Sedangkan dulu dirawat di lantai 1 kamar 17. “Assalamualikum,” ucap saya begitu mendorong pintu kamar nomor 1. Mamah teman saya sedang salat, papanya, yang sedang duduk di samping teman saya menjawab salam saya.

Berdasarkan cerita mamah, Ido panggilan akbrab teman saya yang sedang terkulai itu bahwa dia baru mulai siuman pukul 15.00 WIB sejak pingsan pukul 11.00 WIB. Mamah bercerita sembari memeluk saya. Mama berlinang air mata. Saya ikut berkaca-kaca. “Sabar, ya, Mah. Ido pasti sehat.”

Dan, dua jam lagi beduk magrib berkumandang. Selepas buka puasa saya mau langsung ke Bandung lagi karena keesokannya kantor saya tak menjadwalkan libur. “Jangan lama-lama di rumah sakit, Bro! Mudah-mudahan besok bisa pulang ke rumah,” celetuk saya.

Saya Pilih Nomor Dua

Foto diambil dari: www.poskotanews.com
Foto diambil dari: http://www.poskotanews.com

Saya ngobrol dengan beberapa teman yang juga perantau di Kota Bandung ini. Saya tanya apakah sudah pesan bus, kereta, atau pesawat buat mudik jelang lebaran tahun ini? Salah satu dari mereka, Mas Tarno yang juga seorang supir di sebuah perusahaan bilang, ”Udah boking kereta buat 5 orang ke Ngawi. La sampean?”

Saya katakan saya santai saja, tidak main boking-bokingan. Soalnya, saya jelaskan ke dia, ”Aku udah cek dua bulan lalu di salah satu web yang jual tiket pesawat. Eh, mahal sekali, Mas! Udah 800 ribu ke Bengkulu. Kalau sekarang pastilah udah sejutaan. Jadi mening naik bus aja, deh. Liburannya, kan panjang, jadi pake bus enggak papa.”

Ongkos naik jelang lebaran itu wajar. Enggak usah protes. Terima saja. Pesawat, kereta, atau bus bukan punya saya. Sebagiannya milik swasta. Yang lain milik perusahaan di bawah BUMN. Kalau mau mudik, ya mudik—selagi ongkosnya cukup. Sekira memberatkan, ya udah berlebaran di kos sendirian atau numpang ke rumah teman. Gampang, kan?

Saya sendiri baru akan pesan bus, ya minimal seminggu sebelum berangkat—walau tentu—saya sudah pastikan kursi bus sudah full. Atau, saya mungkin bakal kebagian kursi bernomor jumbo. Enggak mau. Enggak mau. Saya biasa pesan nomor urut 1 atau 2. Posisinya di belakang supir atau kursi nomor 3 atau 4—yang berada persis di sebelah kursi yang ada di belakang supir.

 Kenapa saya begitu ribet, soal kursi bus saja pilih-pilih? Eh, hidup itu pilihan—dan tidak bisa pasrah begitu saja. Sama dengan, ya Pilpres kali ini. Untung cuma ada dua pasangan capes-cawapres. Jadi lebih mudah mengenal mereka—walau sebagian orang masih bingung harus pilih yang mana. Dan, orang pun memiliki alasan kenapa pilih capres A atau B.

Saya pun begitu. Saya lebih suka—entah sampai kapan kalau mudik naik bus, ya akan pilih kursi bernomor muda:  1 atau 2. Dan, hati saya bilang, ”San, kamu nanti pesen kursi nomor 2 saja. Enak soalnya, deket kaca jendela. Kan biasa liat-liat pemandangan. Udah, jangan ragu. Pesen kursi nomor 2, ya.”

Soal nomor—saya kira sangat sensitif akhir-akhir ini. Saya cuma pesan nomor kursi bus nomor 2 saja, saya ini dibilang dukung capres-cawapres yang kebetulan berurut 2: Jokowi-Kalla. Pun, kalau saya pilih kursi bus nomor 1, kemungkinan orang menyangka saya ini pendukung fanatik Prabowo-Hatta. Yo wes, sak karepmu, Le!

Saya hanya berdoa, pas nanti saya pesan bus buat mudik ke kota tercinta saya, Bengkulu—saya beroleh kursi yang saya inginkan: 1 atau 2. Andai kedua nomor urut itu sudah lebih dulu diboking, dengan sungguh-sungguh saya akan berdoa, ”Tuhan, tolong batalkan keberangkatan orang yang sudah pesan kursi nomor 1 atau 2. Soalnya saya ini enggak mau kursi yang lain. Tolong, ya, Tuhan…”

Entah kebetulan atau tidak. Tuhan mengabulkan doa saya. Saya akhirnya bisa dapat kursi bus di belakang supir. Benar, saya tidak sedang membual. Itu terjadi pada mudik tahun lalu. Dan, saya berharap, tahun ini pun akan terulang seperti tahun lalu. Maklum, saking sakralnya bulan puasa, apa yang dimohonkan hamba-Nya tentu tak sulit Tuhan mengabulkannya.

Manu nulis apa lagi? Cukup ah!