Perjalanan ke Kampung Halaman di Utara Bengkulu

CAM02579

 

CAM02508

 

CAM02510

 

CAM02505

 

CAM02496

 

CAM02487

 

CAM02421

 

CAM02402

 

CAM02411

 

CAM02408

 

Tiap pulang ke kampung halaman di Bengkulu Utara, saya pastilah melewati jalan yang saya foto di atas. Dari Kota Bengkulu menuju desa saya kalau gunakan motor sekitar 3 jam normalnya. Kalau pake travel bisa 4-5 jam. Tak semua jalan menuju kampung saya mulus. Lihat saja foto ke-2 dari atas dan seterusnya. Lokasinya antara desa Urai-Serangai Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara. Mungkin itu dampak abrasi.

Sedangkan foto-foto selanjutnya (jalan berkoral) itu jalan masuk ke desa saya, Sukamakmur, Kecamatan Putri Hijau. Sebelum sampai ke desa saya, kami melewati desa Air Muring. Di sana, terdapat perkebunan karet milik pengusaha Indonesia. Itu ada fotonya. Bisa dilihat, ya. Entah berapa ratus hektar.

Foto  diambil saat liburan idul fitri 2014 kemarin.

Iklan

Part V (habis): Liburan Singkat Nonpejabat

Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.
Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.

Bengkulu, 27 Desember 2013

09.00

Saya rampung membantu Teteh membilas pakaian yang sebelumnya digoes di mesin cuci. Bejibun sekali pakaian itu, termasuk juga baju dan celana levis saya. Setelah semuanya beres, sarapan dan lain sebagainya, saya bersiap mengantar Teteh dan Kak Ton ke klinik, sekaligus mau ngintip luka yang sebenarnya di kaki suami kakak kedua itu.

Saya bukan tidak bisa menggambarkan kondisi telapak dan punggung kaki sebelah kanan kakak ipar saya saat petugas klinik itu membuka perbannya. Saya lihat erat-erat luka yang membusuk itu, dekat sekali, karena saya berada di sampingnya, di samping ranjang.

Sebelumnya saya memang pernah searching di internet dengan menuliskan “luka diabetes pada kaki”. Hasilnya lumayan beragam dan gambarnya aduhai ngeri juga, ya. Tetapi, pas saya bandingkan dengan luka yang dialami kakak ipar saya, ternyata luka suami Teteh ini lebih parah tinimbang yang ada di net.

Klinik ini memang mengkhususkan diri dengan pengobatan herbal dan menghindari obat kimia. Makanya, bagi penderita diabetes, terutama diabetes melitus harus rajin membersihkan kakinya di klinik ini tiap hari. Sebelum dibungkus kembali, si kaki yang luka tadi diolesi terlebih dahulu, entah pakai  apa, yang pasti warna dan bentuknya kayak mentega. Itu herbal katanya.

Biaya sekali cuci luka itu, pas saya intip Rp. 145 ribu. Dan ini harus tiap hari sampai waktu yang belum ditentukan. Tetapi, “Seperti yang sudah-sudah dan bahkan lebih parah dari ini, akhirnya sembuh di klinik ini. Kami sudah menangani lebih dari 30 orang. Asal, jaga pola makan dan stres!” ucap petugas klinik.

Pukul 10.00. Kami pun pulang lalu istirahat. Saya salat jumat. Selepas jumatan, saya dan keponakan berangkat ke kampung halaman yang sesungguhnya: Putri Hijau. Ke rumah bapak dan ibu saya dengan menggunakan motor. Jelang beduk magrib, kami sampai dengan selamat di halaman rumah bapak. Salam sejahtera.

28 Desember 2013, Putri Hijau.

Esoknya. Saya bantu emak memanen buah cokelat di pekarangan yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Entah berapa semut  yang mengeroyok saya tatkala saya panjat pohon cokelat itu. Anehnya, semut itu sampai tega menggigit di daerah selangkangan saya, bahkan-ujung “alu” saya pun disengatnya.

Sepulang dari kebun cokelat itu, adik saya meminta buah jambu bol ke tetangga, Lek Win. Manjatlah Oman pada pohon yang entah berapa puluh kaki itu untuk memetik buah yang ranum itu. Sementara saya di bawah menangkap buah yang adik saya jatuhkan. Hup.

Magrib pun bersambut. Kami salat berjamaah dan keluarga menunjuk saya sebagai imam. Waduh. Saya bingung mau baca ayat apa. Bismillah sajalah. Para keponakan yang jumlahnya empat biji ikut berbaris di belakang saya, tetapi mereka banyaklah bercandanya tinimbang serius. Asyik.

“Besok mau bawa apa, San? Emak enggak punya apa-apa ini. Bawa ikan kering aja, ya. Nanti digoreng di Bandung. Mau bikin wajit juga enggak keburu.” Suara emak saat kami sedang makan malam di ruang tengah rumah kami. “Enggak usahlah, Mak. Di kosan enggak ada kompor!” kata saya.

29 Desember 2013

Pukul 04.00 puluhan juta tetesan air menimpuk-nimpuk genting rumah kami. Dingin sekali. Deras sekali hujannya. Waduh, gimana ini. Padahal, saya dan keponakan pukul 06.00 harus sudah beranjak dari rumah untuk pulang ke kota lagi: Bengkulu. Redakanlah,  ya Allah.

“San, cepatlah kau bangun. Katanya mau ke Bengkulu udah subuh. Nanti terlambat!,” Apak berteriak-teriak dari kamar sebelah. “Iya. Sip!” balas saya ke Apak yang telah lebih dahulu bangun sebelum pukul 04.00. Tetapi, karena merasa masih pukul 04.00, sarung saya buntelkan lagi ke sekujur tubuh. Dingin.

05.30. Saya bangun, tetapi di luar rumah hujan masih mendesah kencang. Cepat-cepat saya ke kamar mandi, bukan mandi, melainkan gosok gigi. Kemudian salat, melipat baju, memasukkannya ke dalam tas, membungkus ikan kering, dan mulai mendengarkan petuah Apak.

 “Maafkan Apak dan Emak kalau ada dosa, ya. Tolong doakan Apak supaya sehat dan selalu dimudahkan. Karena tanggal 3 Februari ini apak insyaallah berangkat umrah. Doakan apak diberi kekuatan selama menjalankan ibadah di sana, doakan supaya panjang umur.”

Saya hanya mengangguk-angguk saja saat dengar ucapan Apak begitu. Saya bilang, itu pun dalam hati,” Iya, Pak. Tenang aja, anakmu ini akan selalu mendoakan apak supaya selalu sehat, dimudahkan urusannya, panjang umur, kekuatan, dan ketegaran.”

“O, iya, satu lagi. Kan sekarang udah kerja, mulailah menabung buat berkeluarga. Jangan sampai, pas setelah kamu kawin nanti, menyisakan hutang di sana-sini. Ayo, mulai nyicil nabungnya. Kalau sudah siap, buru-buru menikah mumpung Emak dan Apak masih ada.”

“Terus, mulai cicil juga beli jas buat persiapan kamu kalau ijab kabul nanti. Pesanlah di Tasik, di sana bagus bahannya, murah lagi. Biar nanti, pas dekat nikah, kamu enggak susah-susah lagi memilih baju.”

Kalau disinggung-singgung soal nikah menikah ini, saya tersenyum-senyum saja dan enggak bisa bilang apa-apa. Keponakan dan adik saya mulai heboh kalau mendengarkan tentang ini. Saya jadi kikuk dan akhirnya, saat itu juga muka saya, saya tutupin pakai koran bekas bungkus asin. Cuit…cuit.

Saya akhirnya pamit juga ke Emak Apak, walau hujan masih merintik. Soalnya ngejar waktu. Pukul 14.00 saya sudah mesti di bandara untuk terbang ke Cengkareng. Terjadilah cipika-cipiki di antara saya dan kedua orangtua saya. Emak tampak terisak, Apak tegar. See you later ya my beloved parent!

Inilah liburan singkat saya yang bukan pejabat ini. Meski  dua hari, tetapi setidaknya memuaskan pikiran dan hati saya lantaran telah bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Kepinginnya mau tahun baruan di Bengkulu, tetapi-karena alasan tertentu saya masih menjadikan Kota Kembang sebagai tempat untuk menutup 2013. Dadah. (habis)

Memanen Pisang Siem

Hari ketiga di rumah emak-apak, 23 April 2013

“Cep, ngala cau siem ka WU. Sigana tos kolot da. Mawa bengkong jeung karung, jeung Imam kaditu. Kamari mah katingali tos kolot. (Cep, ambil pisang siem ke WU. Kayaknya sudah tua. Sambil bawa parang dan karung, sama Imam ke sana. Kemarin sudah kelihatan tua),” apak bilang begitu dan jarang sekali pake bahasa Indonesia.

Ari barusan berangkat ke sekolah. Hari ini katanya ujian bahasa Inggris. Atau hari kedua ujian nasional (UN) untuk tingkat SMP/MTS serempak seluruh Indonesia. Dan tempat saya sekarang, Kecamatan Putri Hijau, masih bagian NKRI, meski SBY belum pernah nginjak Putri Hijau sama sekali. Gak usah lah ke sini pak Beye, jalannya juga jelek,kok!

Mak, mana karungna? Cauna teh di sabeulah mana, Mak? Di sabeulah duren atau deukeut bumi pak setu? Siuen salah tebang keh! (Mak, dimana karungnya? Pisangnya sebelah mana, Mak? Di sebelah pohon duren atau dekat rumah pak Setu? Takut salah tebang)!” ucap saya sambil ngeloyor ke dapur.

Itu, nu di deukeut pak setu, pas perbatasan. Engke cauna leubeutkeun kana karung. Tong hilap bawa tali rapia keur nalina engke, meh teu ragrag! (Itu, yang dekat pak Setu, pas perbatasan. Nanti pisangnya masukkan ke karung. Jangan lupa bawa tali rapia untuk diikat supaya enggak jatuh!)” jawab emak.

Motor diaktifkan. Brem…brem…bremmmmmmmmmm. Tiga tupai, saking kagetnya langsung lari tunggang langgang, loncat ke pohon pinang, lalu ke randu, pohon jengkol, dan terakhir, saya lihat bertengger di pohon rambutan sebelah rumah. Tupai entah melanjutkan perjalanan kemana lagi. Sementara saya dan Imam langsung menuju TKP memburu pisang siem.

“Mam, ini sekolah SD mang Ncep dulu. Ini ruang kelas V dan di sebelahnya kelas VI,” kata saya memberitahu Imam sambil menunjuk ke arah sekolah bercat kuning itu,” di kelas V itulah mang Cep sering kena hukum sama pak Zainal, wali kelas dulu. Kalau enggak bisa ngerjakan soal matematika di papan tulis, hukumannya lari 10 kali keililing lapangan sekolah, siang-siang lagi. Pernah juga, pak Zainal mukul kepala mang Cep dengan buku paket matematika, uh, yang tebalnya ad mungkin 200-an, Mam!” kenang saya ke Imam. Imam, tak menyangka kalau akhirnya ketawa terkekeh hingga tubuhnya yang ramping itu berguncang hebat. Motor yang kami naiki pun akhirnya terseok-seok dibuatnya. Maksudnya apa, Mam kamu ketawa?

Kami sampai juga di lokasi pekarangan apak. Kalau dari rumah, kira-kira 1000 meter lah. Atau letaknya di jalur WU. Entah apa singkatan WU itu. Kalau di jalur rumah saya, namanya KRS. Baik WU maupun KRS, nama itu berasal dari para pemborong pembangunan rumah transmigran waktu itu. Kira-kira tahun 1983-an.

Pisang sudah saya eksekusi dalam karung. Ternyata, pisang itu sudah ada yang masak di pohon. Kalau enggak salah ada 3 yang sudah menguning. Satu dilahap Imam, sedangkan yang dua lagi, sudah tak utuh. Kroak. Sisa tupai barangkali. Setengah jam kira-kira di lokasi itu. Akhirnya kami kembali ke rumah. Alhamdulillah selamat. Alhamdulillah kuyup keringat. Dan Alhamdulillah laparrrrrr.

Beberapa menit, kala saya lagi nyantai di dapur menghadap tungku, Ari datang. Ari masuk ke rumah, tak lama udah keluar lagi tanpa baju, tapi masih pake celana. Ya celana sekolah itu, yang biru itu. Yang di dengkulnya sobek itu, yang Ari juga sebenarnya betah dengan celana itu. Yah, pokoknya yang itu, deh!

“Kawan Ari tadi pas ngisi soal bahasa Inggris dikasih tahu jawabannya sama guru. Lemak nian! tapi yang dikasih tahu itu bukan yang di kelas Ari, tapi kelas Feri, kawan Ari. Feri aja tujuh soal yang dikasih tahu sama guru pengawas. Kalau Regi, dikasih dua jawabannya. Yang banyak jawabannya dikasih tahu itu anak yang bodoh. Kalau yang anak yang pintar dapat dua jawaban!” papar Ari tanpa sedikit pun saya minta bercerita soal itu.

“Masa Ari enggak dapat, sih? Ngicu nian Ari nih!” kata saya mencoba memberi tanggapan atas pernyataan Ari, yang menurut saya dinilai jujur lah.

“Nian dak dapek, mang Cep! La dibilang, yang dikasih tahu jawaban itu bukan di kelas Ari, tapi kelas yang lain! Sebelum Ari tadi keluar ruangan, bapak  pengawas Ari bilang, ‘katanya bapak minta maaf ya enggak bisa bantu kalian. Bapak bukan guru bahasa Inggris. Kalau guru bahasa Inggris, kalian pasti bapak bantu jawabannya,” begitu kata pengawas Ari, yang diceritakan ulang oleh ponakan saya itu.

Siang begitu terik saat kumandang adzan dhuhur terdengar dari masjid Nurul Huda, pasar Kamis. Mau mandi ke sumur, uhhh..betapa panasnya. Pantas aja, kolam di sebelah sumur tampak kering, hanya saja tanahnya belum belah-belah. Terpaksa saya berlari ke sumur. Byurrrrrr. Air sumur satu ember saya taburkan ke seluruh lekuk tubuh. Segarrr. Matahari tampak semakin genit. Segenit kumbang malam di bibir seksi pantai panjang Bengkulu.

Sayur melinjo menjadi teman akrab makan siang. Sambal buatan emak juga masih ada. Apak, kalau dua hari lalu makannya hanya bergaram saja. Tapi siang ini, apak bisa mencicipi kuah sayur melinjo. Itu pun hanya sedikit. Memang, sejak apak sakit kena duri pohon salak, nafsu makan apak berkurang. Makan nasi pun, sebenarnya hanya dipaksakan. Sabar dulu ya pak. Tunggu sampai pulih.

Pukul 14.00-16.35. Rentang waktu itu saya terbujur kaku di kamar emak. Mimpi saya begitu banyak. Kalau disuruh cerita mengenai mimpi, saya tak mampu. Tepatnya, bukan enggak mampu, tapi memang tak pernah ingat kalau harus menceritakan detail apa yang pernah saya alami ketika mimpi. Dalam mimpi itu penuh imaji, penuh oleh ketidakmasukakalan.

Bosan dengan teman nasi yang itu-itu saja, maka saya, sore jelang magrib itu langsung mengambil nangka muda, gori kalau dalam bahasa jawanya untuk disayur. Saya kupas di pancuran. Dipotong kecil-kecil di dapur lalu direbus supaya lembut di tungku. Saya belah dua buah kelapa yang sudah renta. Dicungkil. Lalu saya parut, dicampur 2 cangkir air bening, saya remas-remas, saya peras saripatinya, keluar, lalu ditampung di kuali. Cara tradisional yang saya pake. Jari dan lengan saya makin berotot saja kalau tiap hari begitu.

Bumbunya apa, ya? Satu siung kunyit, dua siung bawang merah, dua siung bawang putih, satu siung jahe, kemiri satu sendok, cabe keriting 5 batang, garam secukupnya, laos seadanya, dan nanti kalau nangka muda bergumul dengan air santan di atas tungku barulah ditambah daun serai serta daun salam.

Nangka yang direbus, pas saya coba sudah tampak lembut, maka saya angkat. Kini giliran kuali-yang tadi tergenang air santan saya letakkan di atas tungku yang bara apinya, wowww…merah menyala. Apalagi, sumbu-sumbu di bawahnya disesaki kayu-kayu kering pekarangan rumah. Makanya, belum sampai sejam saya di depan tungku, peluh, tanpa terasa menjalar dari ujung kepala hingga batas pinggang. Selanjutnya, bumbu saya masukkan, saya kucek-kucek, warna santan mulai berubah kekuning-kuningan. Dan, bruss, potongan nangka kecil-kecil saya tumpahkan ke gelombang kuali berisi campuran santan dan bumbu. Hmmm. Maknyos!! Masakan ala chef Hasan!

“Cep, magrib! Nanti diteruskan lagi!” suara apak dari rumah menyelusup ke gendang telinga.

Kompor Gas?? Oh, No!

Ada apa dengan kompor gas? Kompor gas-terutama hasil subsidi pemerintah yang beratnya 3 kilogram itu membuat saya takut sekaligus trauma. Maksud saya-saya tidak akan pernah-walau saya nanti berumah tangga menggunakan kompor gas di rumah saya. Saya takut, kalau kompor gas itu menghabiskan nyawa saya. Tegasnya, saya tidak mau mati di tangan kompor gas! Tentu saya punya alasan untuk itu.

Program pemerintah untuk meringankan rakyat pun berjalan. Namun, belakangan diketahui, kalau tabung gas yang digunakan warga itu ternyata-bukan saja menguntungkan, tapi di sisi lain terdapat kekurangan. Sebagian warga mengeluhkan tidak adanya sosialisasi mengenai tata cara penggunaan tabung gas mungil 3 kilogram itu. Makanya, akibat salah memasang sambungan dari kompor ke tabung, banyak tabung gas yang meledak. Tak sedikit, korban meninggal pun berjatuhan. Saya tidak tahu, siapa yang patut dipersalahkan. Saya menduga, kualitas tabung gas yang dibagikan kepada warga tidak diperhatikan dengan baik oleh pemerintah.

http://jakarta.okezone.com
Tabung ini yang bikin saya trauma dan takut. (http://jakarta.okezone.com)

Sejak saat itu-saya memutuskan untuk ‘berani’ menolak, jika saja ada teman atau kerabat lainnya yang menyuruh saya menghidupkan kompor gas. Amat takut, ngeri pokoknya. Ternyata benar, saat saya kuliah-saya tentu sering, jika liburan main ke rumah saudara di Cianjur dan Tasikmalaya. Rata-rata, keluarga saya itu menggunakan kompor gas subsidi bila memasak.

“Cep, tolong masak air buat bibi mandi, ya,” kata saudara saya di Tasikmalaya kala itu. Deg-degan langsung menyergap. Saya pun tak mungkin menolak dengan mengatakan,”Enggak mau, Bi. Masak aja sendiri. Cecep enggak bisa ngidupin kompornya!” tentu merontokkan wibawa saya kalau kejujuran saya itu sampai terungkap di tengah rumah. Makanya, saya cari cara, gimana supaya air tetap dimasak tapi bukan saya yang menghidupkan kompor.

“Iya, Bi, bentar.” Bibi saya ke warung yang jaraknya kira-kira 50 meter dari rumah. Dan, sebenarnya, itu yang saya harapkan. Bila perlu, si bibi saya itu berlama-lama di warung, ngobrol ini-itu sama tetangga. Di rumah pun, saya bingung, saya harus meminta tolong ke siapa menghidupkan kompor gas ini. “Mang, ada Bibi?” suara bersumber dari pintu belakang rumah memecahkan kebingungan saya. “O, barusan ke warung, katanya mau beli terasi. Eh, Ndri, tolong hidupkan kompor gas dulu, mamang mau ke Wc dulu. Tolong, ya. Bisa, kan?”

“Mang…Andri mau ke warung dulu. Kompor idup, tuh!” Brakkk. Pintu nampak dianiaya anak lelaki bibi saya yang lain itu. Untung dia masih SD, kalau yang membanting sepantaran anak SMA, rasanya belah juga pintu dari kayu itu. “Alhamdulillah, ya Tuhan. Akhirnya bisa juga ngidupkan kompor ini,” celetuk hati saya. Saya tuangkan air bersih ke ceret alumunium, lalu dipanggang di atas kompor. Kompor bertabung gas 3 kilogram!

Andai orang tahu kalau saya ini tak bisa menghidupkan kompor gas, pastilah orang-orang, termasuk pembaca menyangka saya aneh. Bahkan, penilaiannya lebih dari itu. “Masak, gitu aja enggak bisa! Banci amat, tuh orang! Memalukan!”. Barangkali itu yang saat ini saya pikirkan. Sebagian orang pasti akan berujar seperti itu. Sebenarnya, saya pun merasa malu karena ketakutan saya yang berlebihan ini. Tapi mau gimana lagi. Saya terlanjur dibuat ngeri!

Saya mengatakan, kalau berumah tangga, saya juga tidak akan menggunakan kompor gas. Benarkah itu Cecep Hasannudin? Memangnya, istri saya nanti-orangnya juga anti kompor gas? Atau, dia juga memiliki ketakutan yang sama terhadap kompor gas? Nah, itu yang malah saya pikirkan sekarang. Bagaimana caranya saya bilang ke istri saya, kalau saya ini takut sama kompor gas, ya? Aduh, payah, nih!

Maka, saya lebih baik hidup di desa. Kalau mau masak, saya cari kayu bakar sebanyak-banyaknya. Apalagi, aroma masakan yang dimasak di tungku itu lebih khas dan enak-setidak-tidaknya, itu menurut pengalaman saya yang berasal dari desa di kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara. Saya akan memanfaatkan reranting kayu yang berserakan di kebun saya. Masak menggunakan kayu bakar tak terlalu beresiko menghabiskan nyawa seperti pakai kompor gas.

Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan's foto)
Daripada memasak pakai kompor gas, lebih baik begini kayak di rumah saya. Aman. (Hasan’s foto)

Emak di desa pun menolak menerima kompor dan tabung gas dari pemerintah. Mendengar ini, saya-tanpa basa-basi langsung menyatakan setuju! Ya, itu tadi saya khawatir sama emak-bapak saya kalau menggunakan kompor gas di saat masak. “Kompor gas ada tuh di dapur. Enggak dipakai. Rencana mau dibalikkan ke pak RT. Enggak biasa makainya. Takut lagi, seperti kayak di berita banyak yang mati karena kompor gas!” emak saya bilang begitu. Horeee. Kata saya.

Jangan coba-coba menyuruh saya menghidupkan kompor gas!