Batal

Saya kerap membatalan puasa hanya karena saya tergoda untuk ngomongin orang atau ketika ada bisikan merasuki hati saya, “Oh, baguslah kamu puasa. Orang pasti bilang kamu orang saleh, taat, dan hebat!” Saya pikir, godaan orang berpuasa itu banyak sekali. Dan saya kerap terlena dengan godaan itu. Duh, Gusti, tolong saya, dunk!

Saya akui, menjaga hati tidak lah mudah. Ya, Tuhan, sesungguhnya saya ini tidak berharap orang menilai atas apa yang saya lakukan. Atau saya ingin pujian dari orang lain. Tidak ingin sama sekali. Kecuali dalam pekerjaan, silakan orang lain atau atasan menilai atas pekerjaan saya. Selain itu, tolong, Ya Tuhan jangan perintahkan manusia untuk menilai saya. Cukup saya dan Engkau sajalah yang tahu. Apalagi, orang lain tahu apa soal hubungan kita, ya, Tuhan?

Kalau dulu, berapa kali pun saya ngomongin orang, berbohong, berbangga diri, ngehina orang, atau apa pun bisikan yang datang, puasa saya tetap saya teruskan. Karena yang saya tahu, puasa itu hanya menahan lapar dan haus. Sementara menjaga lisan dan hati, itu bukan bagian dari puasa. Sekarang, kalau kejadian itu terulang di tengah saya berpuasa (di luar ramadhan), maka puasa saya langsung saya batalkan! Yes! Percuma, Man diteruskan!

Ya, tantangan berbuat baik itu berat, Guys! Bukan hanya itu. Saya sering menunda berbuat baik ketika bisikan itu datang kembali, “Beli makanan kecil, sih buat teman-teman kantor. Pasti mereka senang dan kamu pasti disebut enggak pelit dan baik.” “Bantulah orang miskin, pasti kamu disebut dermawan!”Kalau kamu jadi imam salat, bagus-bagusin bacaannya dan baca surat yang panjang, pasti orang lain kagum, deh!” Dan banyak lagi. Bahkan yang lebih sadis dari itu.

Siapa yang harus saya salahkan? Setan? Tidak! Tak mungkin saya menyalahkan mereka, sebab, itu sudah menjadi tugas mereka membisiki saya. Membisiki semua orang di dunia ini. Saya ini maunya, ketika saya berniat berbuat baik, ya tidak perlulah ada bisikan ini itu atau tak perlulah saya harus tergoda ngomongin orang atau berbohong. Tapi entahlah, saya juga tidak tahu, kenapa hal seperti itu bisa terjadi.

Ya, Tuhan, sampai kapan saya harus membatalkan niat baik saya? Sampai kapan? Tuhan, selalulah jaga hati saya dari niat ingin dipuji orang, ingin disebut dermawan, ingin disebut orang baik, ingin disebut orang saleh, ingin disebut perhatian sama orang, ya, sampai kapan? Andai saya hidup ini hanya untuk itu, kenapa Kau ciptakan hati ini, ya, Tuhan?

Ah, ah, ah…

Sahur dan Buka Pertama di RSUD Cianjur

Gambar diambil dari: www.en.fotolia.com
Gambar diambil dari: http://www.en.fotolia.com

Siapa yang menyangka kalau pada ramadhan pertama tahun ini saya bakal sahur di rumah sakit? Namun, begitulah kenyataannya. Demi menemani seorang sahabat yang kemudian sudah saya anggap sebagai saudara sendiri–saya rela berbagi ketidaksukaan yang dia alami di sana. Untungnya, begitu mamanya kasih kabar lewat pesan BBM siang kemarin, saya sedang libur. Makanya saya putuskan berangkat ke Cianjur sejam setelah info tak menggembirakan itu sampai ke smartphone saya.

Saya tanya ke mama teman saya itu sebelum saya berangkat ke terminal terbesar di Kota Bandung, Leuwi Panjang perihal sakit apa yang diderita teman saya sehingga bisa mampir di UGD RSUD di kota Taucok itu. “Tadi muntah darah, badannya kejang-kejang, pinsan di kamar mandi. Doakan saja, Cep. Ini belum sadar-sadar,” begitu tulis mamanya di pesan BBM–yang otomatis membuat jantung saya berdebar tak keruan.

Saya balas pesan mamanya itu dengan perasaan tak menentu–maklum baru tadi malam selepas isya, teman saya itu beranjak dari kosan saya. Bahkan, dengan meminjam motor teman, teman yang baru saja sidang tesis ini saya bonceng menuju jalan pertigaan untuk menunggu angkot karena hendak pulang ke kosannya setelah itu langsung pulang ke Cianjur. “Aduh sakit perut, Bro! Udah ke wc, tapi anehnya enggak keluar-keluar,” keluhnya saat masih di atas motor sebelum sampai di jalan pertigaan.

Saya sarankan saja banyak minum air putih, siapa tahu kemudian BAB-nya lancar. Ataukah dia salah makan? Ah, kata teman saya ini apanya yang salah makan. Rasanya tidak, bantahnya. Ya sudah kalau begitu, mungkin sakit perutnya sakit biasa atau kena masuk angin saja. Dan saya pikir tidak apa-apa, toh biasanya juga bakal cepat reda. Itu harapan saya, tetapi nyatanya berkata lain.

Saya lantas juga kirim pesan ke tetehnya teman saya itu, apakah sudah ada keterangan dari dokter sakit apa sebenarnya teman saya ini. Tetehnya itu cepat menjawab,”Ini masih nunggu hasil lab.” O, jadi memang belum diketahui apa sakitnya. Saya berdoa mudah-mudahan teman saya itu tak menderita penyakit yang tak pernah saya duga dan pikirkan. Saya berharap dia hanya kelelahan saja atau kurang vitamin begitu. Masalahnya, kok bisa sampai muntah darah, badannya kejang, terus pinsan? Benarkah gejala seperti itu hanya akibat kelelahan?

Teteh teman saya itu tanya ke saya sekarang sudah di mana. Saya bilang saya baru saja keluar tol Padalarang dan teteh itu menulis hati-hati saja di jalan ke saya. Sebelumnya saya tanya juga di ruang mana sang adik dirawat di RSUD Cianjur itu–takut hape saya mati karena kekurangan daya. “Ruang Flamboyan lantai 2 kamar nomor 1.” Saya katakan oke dan mudah-mudahan teman saya itu kuat dan cepat pulih.

Dan benar hape saya memang mati. Itu salah satu hal yang membuat saya kesal dari ribuan kekesalan sepanjang perjalanan saya di bus tujuan Bandung-Sukabumi. Sudah tahu bus yang saya tumpangi kursinya sudah penuh, tapi kondektur bus itu seenaknya bilang di sepanjang jalan,”Cianjur…cianjur…cianjur. Sukabumi..sukabumi..,sukabumi. Masih kosong…masih kosong.” Tak salah apa yang dikatakan kondektur itu, bahwa ruang tengah bis memang kosong!

Tak menunggu lama, bus berpendingin udara itu akhirnya sesak. Sepanjang lorong antara kursi di bagian kanan dan kiri bus berjejal anak manusia dari segala usia. Ya, mereka semua bergelantungan yang membuat peredaran udara di dalamnya semakin kacau. Entah embusan dari ketiak siapa yang mencoba masuk ke lubang hidung saya. Saya tak harus protes dengan keadaan ini. Nikmati dan jalani perjalanan ini, Bung!

“Ojeknya, A. Ojek, hayu ah!” Begitu kata salah satu tukang ojek ketika kaki kiri saya menapakkannya di tanah saat turun dari bus, di simpang empat lampu merah Ramayana–salah satu pusat perbelanjaan di kota berjuluk Kota Santri ini. “Rumah sakit, A!” ucap saya ke tukang ojek. “Jenguk yang sakit, A?” Tanpa diminta, tukang ojek cari info dari saya. Saya jawab iya ada saudara yang sakit.

Saya hafal betul di mana ruang Flamboyan RSUD Cianjur. Tiga tahun lalu, sahabat saya itu juga pernah nginap sampai seminggu di ruang itu karena jalani operasi hernia. Bedanya, kali ini dia berada di lantai 2 kamar nomor 1. Sedangkan dulu dirawat di lantai 1 kamar 17. “Assalamualikum,” ucap saya begitu mendorong pintu kamar nomor 1. Mamah teman saya sedang salat, papanya, yang sedang duduk di samping teman saya menjawab salam saya.

Berdasarkan cerita mamah, Ido panggilan akbrab teman saya yang sedang terkulai itu bahwa dia baru mulai siuman pukul 15.00 WIB sejak pingsan pukul 11.00 WIB. Mamah bercerita sembari memeluk saya. Mama berlinang air mata. Saya ikut berkaca-kaca. “Sabar, ya, Mah. Ido pasti sehat.”

Dan, dua jam lagi beduk magrib berkumandang. Selepas buka puasa saya mau langsung ke Bandung lagi karena keesokannya kantor saya tak menjadwalkan libur. “Jangan lama-lama di rumah sakit, Bro! Mudah-mudahan besok bisa pulang ke rumah,” celetuk saya.

Keluarga Sabtu, Saya Minggu

Ilustrasi diambil dari: www.konsultasisyariah.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.konsultasisyariah.com

Keluarga besar saya itu berlatar Muhammadiyah. Jadi malam ini mereka mulai tarawih. Sedangkan pemerintah telah menetapkan bahwa puasa ramadhan tahun ini jatuh pada 29 Juni 2014. Saya sendiri ikut yang mana? Saya ikut pemerintah saja-supaya lebih semarak, begitu kata orang awam.

Sama seperti tahun yang lalu, awal puasa tahun ini saya tidak bersama keluarga besar. Mereka di Bengkulu, sementara saya sekarang ada di Bandung. Saya baru akan mudik-bila tak ada aral melintang, ya nanti pada 25 atau 26 Juli 2014 atau 3 sampai 4 hari jelang lebaran. Mungkin mudiknya naik bus saja. Pesawat bosan. Mobil pribadi enggak mungkin. Motor belum berani. Becak, ya becak siapa yang mau antar saya.

Maunya memang saya ini awal puasa ya di rumah emak dan apak-biar bisa bareng tarawih sekaligus sahurnya. Kayaknya enak gitu kalau bareng mereka–walau ya mungkin menu sahurnya sederhana ala kaki lima. Makan spageti rasanya enggak mungkin. Atau si Ikimura–makanan khas Jepang itu. Biarlah, sama lauk asin dan tumis kangkung yang penting nikmat dan siang harinya supaya cepat ngantuk dan bangun 15 menit jelang beduk magrib.

Saya hanya berdoa saja buat teman-teman blogger–ya utamanya yang tergabung dalam naungan wordpress yang suka puasa kala ramadhan datang, semoga saudara sekalian tetap semangat jalani ibadah selama di bulan berkah ini. Gairah menulisnya tak pernah padam, juga selalu optimistis bahwa ruh ramadhan akan menjadikan saudara sekalian jadi lebih dekat dengan-Nya.

Ya ampun, emak-apak dan semua keluarga saya itu keluarga yang baik. Wajib rasanya saya mendoakan mereka supaya umurnya panjang dan selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Berkah rezekinya. Anak-anak kakak saya Tuhan menjadikannya berbakti. Terus, kepinginnya emak-apak saya ini naik haji–walau antriannya itu sampai 5-6 tahun, saking orang-orang Indonesia ini maniak terhadap rukun Islam ke-5 itu. Kalau harus nunggu lama begitu, terus ada cukup duit, ya lebih baik umrah sajalah didahulukan, yang penting nanti sudah pernah lihat hajar aswad dan ka’bah. Makanya, karena ramadhan ini bulan sakral, keluarga saya mesti banyak berdoa apapun yang diinginkan.

Eh, iya. Dua kawan saya di kosan tetiba ngajak saya sahur. Saya bilang ayo saja, tapi kalau paginya saya lihat di dekat kosan ada si bibi jualan nasi kuning, saya tetap beli buat sarapan sebelum pukul 10 pagi. “Iya enggak papa. Yang penting kamu temenin kami sahur. Kamu nanti mau neruskan puasa atau enggak, kami enggak rugi, kok! Tapi minimal Tuhan telah mencatat, bahwa kami telah beramal.” Begitu kata salah satu teman saya–yang sebetulnya saya jengkel sekali mendengarnya.

Okelah. Saya lelah dengan dunia di sekitar saya. Lebih capek lagi karena salah satu teman yang katanya mau sahur nanti sebelum azan subuh, mengatakan bahwa pada 9 Juli mendatang bakal milih salah satu dari capres-cawapres yang dia jagokan, tetapi diujung obrolan dia memandang negatif capres-cawapres lain dan katanya haram kalau memilihnya. Saya benar-benar capek mendengarnya. Karenanya saya mau tidur sekarang dan mau bangun kalau dibangunkan buat sahur.

Saya Pilih Nomor Dua

Foto diambil dari: www.poskotanews.com
Foto diambil dari: http://www.poskotanews.com

Saya ngobrol dengan beberapa teman yang juga perantau di Kota Bandung ini. Saya tanya apakah sudah pesan bus, kereta, atau pesawat buat mudik jelang lebaran tahun ini? Salah satu dari mereka, Mas Tarno yang juga seorang supir di sebuah perusahaan bilang, ”Udah boking kereta buat 5 orang ke Ngawi. La sampean?”

Saya katakan saya santai saja, tidak main boking-bokingan. Soalnya, saya jelaskan ke dia, ”Aku udah cek dua bulan lalu di salah satu web yang jual tiket pesawat. Eh, mahal sekali, Mas! Udah 800 ribu ke Bengkulu. Kalau sekarang pastilah udah sejutaan. Jadi mening naik bus aja, deh. Liburannya, kan panjang, jadi pake bus enggak papa.”

Ongkos naik jelang lebaran itu wajar. Enggak usah protes. Terima saja. Pesawat, kereta, atau bus bukan punya saya. Sebagiannya milik swasta. Yang lain milik perusahaan di bawah BUMN. Kalau mau mudik, ya mudik—selagi ongkosnya cukup. Sekira memberatkan, ya udah berlebaran di kos sendirian atau numpang ke rumah teman. Gampang, kan?

Saya sendiri baru akan pesan bus, ya minimal seminggu sebelum berangkat—walau tentu—saya sudah pastikan kursi bus sudah full. Atau, saya mungkin bakal kebagian kursi bernomor jumbo. Enggak mau. Enggak mau. Saya biasa pesan nomor urut 1 atau 2. Posisinya di belakang supir atau kursi nomor 3 atau 4—yang berada persis di sebelah kursi yang ada di belakang supir.

 Kenapa saya begitu ribet, soal kursi bus saja pilih-pilih? Eh, hidup itu pilihan—dan tidak bisa pasrah begitu saja. Sama dengan, ya Pilpres kali ini. Untung cuma ada dua pasangan capes-cawapres. Jadi lebih mudah mengenal mereka—walau sebagian orang masih bingung harus pilih yang mana. Dan, orang pun memiliki alasan kenapa pilih capres A atau B.

Saya pun begitu. Saya lebih suka—entah sampai kapan kalau mudik naik bus, ya akan pilih kursi bernomor muda:  1 atau 2. Dan, hati saya bilang, ”San, kamu nanti pesen kursi nomor 2 saja. Enak soalnya, deket kaca jendela. Kan biasa liat-liat pemandangan. Udah, jangan ragu. Pesen kursi nomor 2, ya.”

Soal nomor—saya kira sangat sensitif akhir-akhir ini. Saya cuma pesan nomor kursi bus nomor 2 saja, saya ini dibilang dukung capres-cawapres yang kebetulan berurut 2: Jokowi-Kalla. Pun, kalau saya pilih kursi bus nomor 1, kemungkinan orang menyangka saya ini pendukung fanatik Prabowo-Hatta. Yo wes, sak karepmu, Le!

Saya hanya berdoa, pas nanti saya pesan bus buat mudik ke kota tercinta saya, Bengkulu—saya beroleh kursi yang saya inginkan: 1 atau 2. Andai kedua nomor urut itu sudah lebih dulu diboking, dengan sungguh-sungguh saya akan berdoa, ”Tuhan, tolong batalkan keberangkatan orang yang sudah pesan kursi nomor 1 atau 2. Soalnya saya ini enggak mau kursi yang lain. Tolong, ya, Tuhan…”

Entah kebetulan atau tidak. Tuhan mengabulkan doa saya. Saya akhirnya bisa dapat kursi bus di belakang supir. Benar, saya tidak sedang membual. Itu terjadi pada mudik tahun lalu. Dan, saya berharap, tahun ini pun akan terulang seperti tahun lalu. Maklum, saking sakralnya bulan puasa, apa yang dimohonkan hamba-Nya tentu tak sulit Tuhan mengabulkannya.

Manu nulis apa lagi? Cukup ah!

Part I: My Journey My Holiday

6 Agustus 2013

05.20

Salat Subuh dan mandi sempurna saya tunaikan. Alhamdulillah. Saatnya saya bersiap-siap ke loket SAN (Siliwangi Antar Nusa), sebuah loket bus yang akan mengantarkan saya ke Bumi Rafflesia, Kota Bengkulu, yang letaknya di jalan Soekarno-Hatta, Bandung tak begitu jauh dari Pasar Induk Caringin.

Di sepanjang perjalanan dari Bundaran Cibiru ke loket, dinginnya minta ampyun, deh! Tak ada panas sedikit pun. Jaket saya pasang. Doa-doa saya luncurkan, berharap mentari segera menolong. Belum lagi, pak supir angkot jalankan angkot penuh nafsu, seperti dikejar setoran. Mentang-mentang jalanan masih sepi.

Hiruk pikuk Bandung mulai terasa ketika lewat di depan gerbang Terminal Leuwi Panjang. Ibu-ibu, anak muda, serta bapak-bapak sambil menggendong tas mulai menyebrang jalan menuju terminal bus antarkota di Jawa Barat itu. Maklum, dua hari lagi Ramadan tutup. Riuh klakson hilir mudik di sekitar depan terminal menambah daftar panjang tanda-tanda bulan suci segera berakhir.

Saya sampai juga di loket SAN. Masih sepi. Cuma dua orang petugas loket yang berjaga, itu pun tampak di kedua wajahnya baru bangun. Di depan loket, sebuah bus bertulisan “SAN” diam membisu, tapi menyemburkan aroma harum, karena mungkin kemarin sore habis dimandiin. “Wah, mantap, nih busnya!” kata saya.

Bus Siliwangi Antar Nusa (SAN) yang saya tumpangi itu (www.jakbus.com)
Bus Siliwangi Antar Nusa (SAN) yang saya tumpangi itu (www.jakbus.com)

08.00

Para calon penumpang bus jurusan Bandung-Bengkulu sudah berkumpul. Sebagian melunasi tiketnya. Ada pula yang sibuk sms atau teleponan. “Ya, kami sekarang udah di loket SAN. Bentar lagi berangkat. Doakan, ya,” ucap salah satu dari mereka. Yang lain juga ada yang mondar-mandir ke Toilet. Sementara saya, memikirkan, kapan bus SAN segera berangkat.

“Ya, penumpang Bandung via Lubuk Linggau silakan naik ke bus!” ujar salah satu petugas loket. Saya tak buru-buru naik. Biarlah penumpang lain dulu yang naik. Karena saya tahu, kursi duduk saya di depan: nomor 2! “Dahulukan yang duduk di belakang kursi saya dulu lah!” seloroh saya.

Semua penumpang tampaknya sudah naik. Tak ada sisa, kecuali dua orang kondektur dan dua supir yang masih berdiri di samping bus. Absen dimulai! “Cecep!” kata petugas loket. “Yup!” timpal saya. Begitu juga dengan penumpang lain. Pengabsenan usai. Pak sopir mulai memijak gas. Yup, berangkat! Bismillah!

“Maaf, pak, bu, ya. Saya enggak puasa, nih. Saya ngerokok. Saya kalau puasa sambil nyetir mata ini berkunang-kunang. Jadi, maaf, ya…” kata supir, sesaat sebelum berbelok ke arah Tol Kopo. “Ya, kami maafin!” begitu ucap seorang bapak yang duduk di samping saya. Saya senyum-senyum saja.

Pas di Tol Cipularang. Kondektur bus mulai menyalakan tivi, disetel lagu-lagu dangdut. Ya, video dangdut koplo! Asyik, asoy, ciamik! Tanpa ada yang memerintah, kedua kaki ikut berlenggok. Tapi, ada yang tidak pas sebetulnya. Seharusnya, di tengah bulan puasa begitu, video klipnya jangan yang begituan, dunk!

“Yang begituan” gimana? Yang namanya video dangdut koplo itu, mana ada penyanyinya berpakaian sopan? Ya udah, mau gimana lagi. Mana saya duduk paling depan lagi. Mata saya ke tivi itu kira-kira 50 sentimeter! Amat dekat. Jadi, enggak bisa menghindar. Huh! Seharusnya awak bus yang lebih mengerti, kalau mau putar video-video dangdut seronok, ya tolonglah di luar puasa. “Ah, sok alim loe, Cep!” hati saya malah bilang begitu.

10.00

Bus sampai di loket perwakilan yang ada di Jakarta, Rawamangun. Beberapa penumpang ada yang naik ke bus kami. Lagu dangdut super koplo masih menggema dari dalam bus. Saya turun dari bus. Waw! Panas begini udara Jokowi, eh Jakarta. Saya cari konter hape. Ketemu. Beli batre hape, harganya Rp 50 ribu. Non original. Yang Original Rp 95 ribu, tapi kata si tukang konter, barangnya habis.

Bus berjalan lagi. Di sepanjang jalan di ibukota, lengang saat itu. Meleset dari perkiraan. Awalnya, saya prediksi, H-2 Jakarta macet, tapi, eh ternyata sepi, Bro! Pokoknya, sampai di mulut gerbang pintu Tol Merak, tak ada keramaian! Melompong sepi! “O, mungkin nanti antri kendaraan saat menaiki kapal ramainya,” pikir saya selanjutnya.

Kirain Jakarta mau macet pas H-2, ternyata lengang, tuh!
Kirain Jakarta mau macet pas H-2, ternyata lengang, tuh!
Ini pas di Tol sekitar Serang, Banten, sebelum gerbang keluar Tol Merak.
Ini pas di Tol sekitar Serang, Banten, sebelum gerbang keluar Tol Merak.
Nah, ini dia gerbang keluar Tol Merak. Kirain mau macet, eh, lengang.
Nah, ini dia gerbang keluar Tol Merak. Kirain mau macet, eh, lengang.

 

13.00

Ah. Lengang juga. Bahkan, bus kami adalah kendaraan pertama yang masuk ke kapal. “Puncaknya arus mudik itu Senin (5/8/2013) kemarin. Kami aja macet di Merak sampai 6 jam!” celoteh supir kepada salah satu penumpang yang coba bertanya soal macet tidaknya di hari sebelumnya. Saya dengarkan saja percakapan mereka.

“Silakan penumpang naik kapal (lantai 2). Nanti, minta tolong, sebelum kapal merapat di pelabuhan Bakauheuni, bapak-ibu sudah naik ke bus ini,” bilang kondektur begitu bus diparkir mantap di salah satu pojok-kiri kapal. Penumpang yang kebanyakan akan turun di Lubuk Linggau dan Curup itu pun mulai turun dari bus dan segera naik ke lantai 2 kapal.

Tuh, liat. Bus SAN diparkir dipojok ujung-kiri, Sementara penumpangnya turun lalu naik ke lantai dua.
Tuh, liat. Bus SAN diparkir dipojok ujung-kiri, Sementara penumpangnya turun lalu naik ke lantai dua.

13.30

Klakson kapal memuntahkan suaranya. Pom..pom..pom..Kapal laut yang kami tumpangi mulai bergerak. Saya mencari tempat aman. Berkeliling. Karena begitu panas, saya agak menghindar dari jilatan matahari. Tapi, tetap saja, sumber kehidupan mahluk di dunia itu tak bisa saya hindari. Ampun, ampun. Ditambah angin kencang, apalagi saat di tengah laut.

Nah, di ruangan ber-AC ini saya istirahat. Ini ada di lantai 2 kapal. Di sini bayar, lho. Rp 10 ribu.
Nah, di ruangan ber-AC ini saya istirahat. Ini ada di lantai 2 kapal. Di sini bayar, lho. Rp 10 ribu.

Saya berpikir, bahwa 10 tahun ke depan saya tak lagi menggunakan kapal laut untuk menyebrang Merak-Bakauheuni atau sebaliknya. Kenapa? Sebab, pemerintah, pada awal 2014 berencana membangun jembatan penyebrangan penghubung dua pulau tersebut. Jembatan yang diperkirakan panjangnya 30 kilometer itu satu sisi akan memudahkan laju ekonomi masyarakat kedua pulau. Di sisi lain, pemilik kapal mungkin  akan sedikit merugi, karena jarangnya penumpang. Ah, harus jadi, tuh jembatan! Suramadu aja bisa, kok!

Kalau mau yang gratisan, ya di sini tempatnya: di sisi kanan-kiri kapal. Pas keliling-keliling, dapat, deh foto ini. Maaf, ya bu.
Kalau mau yang gratisan, ya di sini tempatnya: di sisi kanan-kiri kapal. Pas keliling-keliling, dapat, deh foto ini. Maaf, ya bu.
Kalau lantai pertama itu tempat bus dan mobil-mobil besar, nah di lantai 2 buat mobil kecil/sedang.
Kalau lantai pertama itu tempat bus dan mobil-mobil besar, nah di lantai 2 buat mobil kecil/sedang.
Termasuk kendaraan roda dua, ia ada di lantai 2.
Termasuk kendaraan roda dua, ia ada di lantai 2.
Tak sampai di situ, di bagian depan dek kapal, sebagian penumpang kapal sedang menikmati sepoinya angin laut.
Tak sampai di situ, di bagian depan dek kapal, sebagian penumpang kapal sedang menikmati sepoinya angin laut.
Kami juga berpapasan dengan sebuah kapal muatan dari Bakauheuni hendak ke Merak.
Kami juga berpapasan dengan sebuah kapal muatan dari Bakauheuni hendak ke Merak.
Pulau-pulau kecil juga kami lalui. Indah menawan.
Pulau-pulau kecil juga kami lalui. Indah menawan.

 

15.30

Kapal merapat di pelabuhan Bakauheuni. Cuaca Lampung terang benderang. Panas masih terasa. Kira-kira setengah jam perjalanan, entah di daerah apa namanya, di depan kami sebuah bus terbakar. Beberapa petugas kepolisian terlihat berjaga di sekitar bus. Saya dongakkan kepala, o, bus itu berplat “BE”, kode kendaraan daerah Lampung. Belum diketahui pasti apa penyebab terbakarnya bus. Entah ada korban atau tidak, itu juga saya tidak tahu. Mudah-mudahan tidak.

17.55

Bus memarkir diri di halaman rumah makan Taruko, Lampung Selatan. “Kita berhenti di rumah makan ini saja pak, bu, sambil menunggu buka puasa. Kalau semua sudah berbuka, makan, kita berangkat lagi, ya,” ujar supir sebelum para penumpang turun.

Magrib berhenti untuk berbuka puasa (www.jakbus.com)
Magrib berhenti untuk berbuka puasa (www.jakbus.com)

Adzan bergema dari beberapa masjid di sekitar rumah makan itu. Saya langsung mengambil tempat di sebuah meja di sudut ruangan rumah makan. “Makan, Bang, satu!” kata saya kepada pelayan yang lewat di depan saya. “Teh hangatnya satu, ya!” Tak lama, hidangan pun datang.

18.45

Bus kembali membelah malam. Kantuk mulai tak tertahan. Lagu-lagu kenangan mulai diputar sang kondektur. AC bus terus membahana turut mengganggu kekhusukan saya tidur. Sesekali bangun, sesekali tidur. Sekalinya bangun, eh, saya lihat kanan-kiri hutan semua. Semak-semak belukar. Ih, ngeri. Tidur lebih baik daripada memandang ke luar kaca bus.

7 Agustus 2013

02.00

“Yang saur silakan makan,” ucap supir. Saya terbangun. O, udah di rumah makan lagi. “Udah sampai mana, ya, Pak?” kata saya sesaat sebelum turun dari bus. “Lahat, Dek.” Cepat banget udah nyampe Lahat. Tahu Lahat? Salah satu Kabupaten/kota di Sumatera Selatan, atau kira 10 jam-an lagi ke Kota Bengkulu. Saur dulu, ah!

“Bang, kalau dari sini (Lahat, red) ke Linggau berapa jam lagi, ya?” kata saya iseng ke salah satu pelayan rumah makan setelah makan saur di rumah makan Padang itu. “5 jam lagi!” jawabnya. “Gilaaaaaa! Masih lama, juga, ya.”

02.30

Jalan lagi bus kami. Dingin oi di dalam bus ini. Selimut saya kebatkan di tubuh. “Saya berniat tidur lagi karena Allah.” Lep. Tak teringat apa-apa lagi.

06.00

Bus sampai di Lubuk Linggau. Banyak penumpang turun, termasuk bapak di sebelah saya. Dia anggota TNI yang bertugas di BRIGIF Cimahi. “Ya, begitulah,” kata dia, pas saya tanya dimana bekerja. Bapak ini aslinya Wong Jowo mau mudik ke rumah orangtuanya. Mudik sendiri. Istri dan satu anaknya enggak dibawa. Tapi, “Mereka mudik ke rumah orangtuanya, di dekat sana juga.”

Penumpang bus SAN tinggal sedikit, bisa dihitung jari. Lengang. Tinggal menurunkan penumpang di Curup dan terakhir di Kota Bengkulu. Bus terus mengejar jalan yang panjang itu. Matahari mulai menyingsing, membidik lewat kaca jendela bus. Mau tidur, tapi hati saya sudah tak tenang. Ingin cepat-cepat turun. Ingin cepet-cepet mandi. Ingin cepet-cepet ketemu sanak-sanak.

10.30

Alhamdulillah. Akhirnya, Bumi Rafflesia saya pijak lagi, saya belai lagi. Akhirnya pula, saya urung berlebaran di Bandung. “Mak, Pak, Ncep udah nyampe di Bengkulu,” sms saya ke orangtua di rumah begitu sampai di loket SAN, di Kampung Bali, Kota Bengkulu, tepat H-1.