Bukan Marah tapi Segan

Gambar diambil dari: www.ahcrapp.blogspot.com
Gambar diambil dari: http://www.ahcrapp.blogspot.com

Saya bukan marah—tapi terlau segan kalau meladeni orang yang sering berpikir negatif—bukan hanya terhadap dirinya sendiri tapi orang lain. Terhadap dirinya saja tega menganggap negatif—apalagi dengan orang lain. Itu setidaknya yang saya tangkap dari beberapa orang teman saya yang hampir selalu tidak sabar untuk berpikir negatif.

Jujur saja—kalau saya sudah menemukan orang seperti itu, saya benar-benar segan untuk melanjutkan ngeladeninya ngobrol. Kasarnya, saya malas membaca ataupun mendengar keluhan-keluhan—yang mungkin tidak perlu. Sebab, mereka ataupun saya sebetulnya tahu, bahwa pikiran-pikiran negatif itu tak membawa kebaikan buat mereka dan saya.

Orang yang selalu berpikir positif saja belum tentu berpengaruh positif terhadap orang lain, apalagi ini yang jelas-jelas kerap berpikir negatif. Makanya, saya lebih baik menghentikan sejenak aktivitas berkomunikasi dengan orang yang masih menyemburkan aura negatif terhadap dirinya dan orang lain dengan memberinya sinyal “tidak begitu antusias” menanggapi ocehannya itu.

Nanti, andai mereka sudah tidak lagi membicarakan/mengirim pesan—yang menurut saya negatif—saya barulah melanjutkan perbincangan kami yang sempat terputus—walau tidak seantusias yang mereka harapkan. Ingat, bahwa saya bukan tidak butuh pikiran-pikiran negatif dari teman-teman saya. Saya sangat butuh, bahkan saya pernah meminta mereka,”Ayo, berpikirlah negatif mumpung ada waktu! Mumpung kau suka!” Pernah saya katakan seperti itu.

Nyatanya, permintaan saya itu malah ditanggapinya dengan negatif. Atau, lebih kurang mereka malah tersinggung. Padahal, bukankah berpikir negatif itu lebih cocok buat mereka dibanding berpikir negatif? Saya enggak tahu persisnya. Tapi mudah-mudahan anggapan saya ini salah dan terlalu lebay dan seolah-olah bahwa berpikir positiflah yang mendapatkan tempat.

Ya sudahlah. Ini semua barangkali refleksi buat saya—bahwa orang tidak akan berpikir negatif terhadap dirinya ataupun orang lain kalau bukan saya yang salah. Jadi, saya sumber masalahnya, ya? Sumber, sih, tidak, ya—tapi saya merasa saya ikut menjadi penyebab kenapa sampai teman-teman saya tega berpikir negatif.

Oke, keep spirit dan semoga jadi lebih baik!

Iklan

Enggak Berani Selingkuh

Foto diunggah dari: www.new.healingheartsradio.com
Foto diunggah dari: http://www.new.healingheartsradio.com

Suatu malam, teman kosan iseng tanya ke saya, ”San, kamu berani enggak selingkuh?” Saya juga heran kenapa teman saya itu bertanya seperti itu. Apakah dia ada indikasi ingin berselingkuh dari pacarnya yang kini telah dipacarinya hampir 3 tahun—padahal, katanya awal tahun depan mereka akan menikah? Semoga indikasi itu tidak benar.

“Lho, kenapa ente tanya begitu ke saya? Ente mau jajal selingkuh, ya? Udah bosan, ya sama pacar yang sekarang?” Saya balik tanya begitu ke teman saya sembari menunggu apa jawaban sebenarnya dari dia. Sebelum dia jawab, saya lebih dulu katakan, ”Sampai hari ini aku enggak ada niat sama sekali untuk berselingkuh dari pacar saya, Bro!”

“Bukan begitu. Saya mah tidak berani dan takut kalau selingkuh itu. Soalnya, kalau saya atau kamu selingkuh, saya takut, nanti anak atau cucu kita pun akan berbuat sama dengan apa yang pernah kita lakukan. Soalnya, apa yang diperbuat seorang ayah/ibu, itu pasti akan menurun kepada anak-anaknya kelak!” lontarnya memberi efek kejut.

O, artinya kawan saya ini cuma ngetes saya aja, to? Dan, sebetulnya dia pun tak ada niat sama sekali untuk berselingkuh karena alasan khawatir dengan hukum karma. Atas alasannya dia tak ingin berselingkuh, saya belum percaya 100%. Tapi saya salut dengan alasannya tidak mau berselingkuh. Minimal, ia bisa menjaga hati dan perilaku.

Prinsip saya, saya katakan ke dia, ”Kalau sudah suka dengan satu cewek atau sudah punya pacar kepada si A misalnya, ya udah jalani dulu dengan benar dan sepenuh hati. Jangan main-main. Wanita atau pria mana yang suka dipermainkan, coba? Kecuali di tengah jalan tiba-tiba ada ketidakcocokan dia antara kita dan berakhir pisah, itu soal lain. Nah, barulah kalau mau pindah ke lain hati. Bagi aku, selingkuh itu no!”

Kawan saya tadi menimpali, ”Justru saya bersyukur karena pacar saya masih setia dan baik sama saya. Padahal, kalau kamu tahu, sebenarnya pacar saya itu jadi rebutan cowok-cowok lain, lho? Makanya, saya bersyukur banget punya dia, walau—kau tahu wajah saya biasa-biasa saja—ganteng jauh, jelek pun tidak!” ungkapnya jujur.

Saya katakan lagi ke dia sambil menyeruput kopi. “Sebetulnya, bagi cewek yang setia, dia pun berpikir sama, enggak mau berselingkuh dari cowoknya. Dan aku yakin, tampaknya pacar ente itu tipe wanita setia. Buktinya, kan sampai sekarang dia begitu sayang sama ente. Sama seperti ente, tiap hari ente antar jempu dia ke sekolah.”

Saya pun begitu. Saya yakin, walau saya dan pacar saya dipisahkan dengan jarak—saya yakin dia tidak berani untuk berselingkuh, walau sebetulnya, mungkin niat itu ada (isi hati seseorang siapa yang tahu). Saya pun begitu, hati terkadang kerap digoda, ”Cewek loe kan jauh, udah cari juga di sini!” Untungnya, saya bisa menangkal segala godaan itu. Satu yang saya lakukan: berpikir positif.

Sekarang, saya katakan ke kawan saya itu, ”Ada niat enggak kira-kira ente mau selingkuh?” “Ah, enggak lah! Saya, kan udah tunangan, Bro!” jawabnya sambil melanjutkan menulis sebuah artikel yang akan dikirimkan ke koran lokal karena isi dompetnya mulai menipis.

Bukan Orang Baik

Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com
Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com

Sekali lagi, saya hanya ingin bilang, bahwa saya sangat berterimakasih kepada orang-orang yang telah mengatakan saya ini orang yang tak tahu diri, tidak mengerti, tukang menyakiti hati, punya duit tapi tak bisa menolong teman yang kesusahan, punya hape lebih dari satu tetapi tak rela menjual salah satu hapenya, dan hasil penjualannya untuk membantu teman yang sedang butuh, atau saya ini dianggap baik, tetapi sebetulnya saya ini tak persis seperti apa yang mereka kira.

Bagi saya, semua orang, baik yang kenal maupun tidak kenal sama saya—mereka berhak menilai apa pun tentang diri saya semau dan sepuas mereka. Bahkan, kalau memang harus menuding saya dengan perkataan yang mereka inginkan, saya akan tetap menerima. Dan tenang saja, saya berusaha untuk tidak naik pitam saat mereka melakukan aksi tersebut.

Saya, kan, kalau tidak salah, pernah bilang, bahwa saya ini tak layak mendapat pujian—walau sebetulnya, mungkin mereka pantas melontarkan pujian tersebut kepada saya dengan berbagai alasan. Makanya, ketika saya dinilai, dianggap, dikata-katai saya ini orang yang tak punya perasaan, tak tahu diri, tak peka dengan derita orang lain, tak rela berkorban—sekali lagi, saya berusaha tidak membantah juga berusaha tidak akan membalas balik dan mengata-ngatai mereka ini itu.

Kenapa saya tidak membantah? Kenapa saya tidak membalas balik dan gantian mengata-ngatai mereka? Saya sadar, saya ini manusia yang kehadirannya di alam ini—kalau tak berkesempatan berbuat baik, ya tentu melakukan hal yang bikin jengkel manusia maupun membuat Tuhan marah. Karena, dua kelakuan itu (baik-buruk) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari oleh manusia seperti saya ini. Jadi, memang saya ini bukan manusia sempurna, apalagi disebut baik atau saleh.

Kalau ada yang menilai saya ini orang yang baik—sesungguhnya itu penilaian yang salah alamat dan terlalu berlebihan. Apalagi, pernah ada yang bilang, saya ini orang yang terlalu baik. Nah, mendengar itu, saya langsung katakan,”Kamu terlalu berlebihan menilai saya. Kamu telah terjebak dengan sesuatu yang tampak baik, tapi belum tentu memberikan kenyamanan pada tahap selanjutnya. Sudahlah, kalo mau menilai, nilai saja penciptamu, bukan saya!”

Justru yang membuat saya senang dan bisa membuat ketawa, itu pada saat kamu katakan saya ini manusia jahat, tidak pengertian, nyakitin hati terus, pelit, sombong, tak tahu diri, punya utang gak dibayar-bayar padahal saya ini udah punya kerja, sms gak dibalas, telepon gak diangkat, atau kamu menyebut saya ini orang yang selalu memberikan janji dan tidak pernah memberi bukti. Oke, penilaian seperti inilah yang saya butuhkan dibandingkan saya ini baik, saya ini perhatian, dan bla bla bla.

Kalau misalnya setelah mereka—teman-teman saya itu menilai saya dari berbagai sisi dan ternyata mereka menyimpulkan saya ini termasuk orang yang tak pantas dijadikan teman baik atau sahabat penuh pengertian, saya tidak marah dan pula kecewa—sebab, saya katakan di awal—mereka berhak  menilai saya, terlepas penilain itu atas dasar keikhlasan atau sekadar meluapkan emosi karena orang yang bersangkutan sedang ingin minta diperhatikan.

Namanya hidup di dunia ini mestilah siap dituding-menuding, dicaci-memaki, dihina-menghina, dipuji-memuji, disakiti-menyakiti, menerima dan atau menolak sesuatu, bahkan saling membunuh, baik membunuh karakter maupun membunuh secara  fisik. Ini namanya dinamika kehidupan. Mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju, semua itu bakal kita lewati. Hanya saja, seberapa sadar kita mengingat-ingat itu semua, ya?

Saya yakin sikap yang saya tunjukkan demikian, itu tak semua orang setuju. Apalagi, saya pun tidak berharap orang-orang setuju dengan sikap saya ini—bahkan saya lebih suka, mereka itu harus berbeda sikap dengan saya dalam menanggapi berbagai hal dalam kehidupan. Dan, saya pun tidak pernah menganggap apa yang saya yakini ini cara yang paling benar atau sikap yang paling tidak populer.

Satu lagi, berani menjalin hubungan dengan manusia, entah hubungannya sebagai teman, sahabat, pacar, suami-istri, bahkan hubungan sesama jenis (gay-lesbian), bukan tidak berisiko. Sakit-menyakiti, perhatian tidak perhatian, cemburu-mencemburui, iri-irian, berusaha mencelakakan satu sama lain, saling ejek, puji, merasa terikat, menyanjung berlebihan, merasa kehilangan, dan perasaan-perasaan yang lebih dari itu bakal dilalui manusia.

Makanya, saya selalu berusaha sadar dan acap diingatkan, bahwa kalau saya melakukan ini, pastilah dampaknya itu. Kalau mengatakan ini, tentu akibatnya begitu. Pun bila saya tak melakukan itu, risikonya bakal seperti ini. Jadi, saya merasa, sebetulnya alur hidup yang saya jalani tak penuh kejutan sama sekali. Artinya, ya biasa saja dan tak ada yang istimewa dengan hidup ini. Saya hanyalah seorang musafir yang melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk menemukan diri.

Tentu, dalam helaan perjalanan bakal ditemui pengalaman unik yang mengultimatum, saya ini sanggup melanjutkan perjalanan ini atau tidak. Semakin saya sanggup menempuh perjalanan itu, semakin banyaklah risiko yang dihadapi. Dan salah satu risiko itu adalah banyaknya orang-orang yang akan menilai saya dengan beragam pendapat. Sekali lagi, saya bersyukur dengan itu—betapa saya ini makhluk Tuhan yang tidak baik!