Rayakan Agustusan dengan Sederhana

Gambar diambil dari: www.ayom52.deviantart.com
Gambar diambil dari: http://www.ayom52.deviantart.com

Saya tak pernah mengitung sudah berapa tahun persisnya Indonesia ini merdeka. Kalau mungkin ada pertanyaan mengenai ini masuk ke dalam soal tes CPNS tahun ini—saya akan hafalkan dan hitung. Tapi, karena belum pasti masuk tidaknya pertanyaan sudah berapa tahun Indonesia merdeka pada 2014 di soal tes CPNS—maka saya tak perlu mengingatnya. Yang perlu dicatat itu—hingga 2014, apakah kalian sudah benar-benar merdeka secara pribadi?

Saya menulis tentang Indonesia merdeka kali ini karena beberapa teman di kantor mengingatkannya. Karena peringatan kemerdekaan tahun ini tepat pada hari Minggu (17/8), maka salah satu teman kantor mengusulkan,”Kita rayakan momen hari kemerdekaan kita besok (Jumat) saja, gimana? Karena Minggu rasanya enggak mungkin kita ke kantor.”

Teman-teman yang lain, termasuk saya juga ikut memberi masukan mengenai kegiatan apa saja yang sebaiknya diisi pada Jumat besok untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke…?? Baik, kalau gitu saya hitung dulu, ya—kita ini sebenarnya pada 2014 sudah berapa tahun merdeka. O, ternyata setelah saya hitung dengan kalkulator komputer, kita ini—tahun ini memperingati hari kemerdekaan ke-69! Benar, enggak, ya?

Setelah diskusi yang tidak melelahkan dengan beberapa teman kantor dan unsur pimpinan lainnya soal kegiatan apa saja yang akan diisi untuk menyambut sekaligus memperingati 17-an, maka disepakati untuk mengadakan lomba-lomba spontanitas yang sifatnya menghibur. Di antaranya: makan kerupuk jengkol, mengambil/menggigit koin di pepaya, dan balap sendok pake kelereng. Tarik tambang dan panjat pohon salak tidak dikabulkan—padahal itu usul saya.

Sebelum lomba-lomba spontanitas itu dilaksanakan, pada pagi harinya kami harus mendengarkan sambutan dari ketua panitia kegiatan dadakan ini. Terus, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan puisi bertema perjuangan oleh salah satu dari kami, sharing cerita tentang pengalaman ber-Indonesia dan ber-negara dari masing-masing kami, sharing dari pimpinan perusahaan, dan terakhir ditutup doa sebagai rasa syukur karena kita telah hidup di bumi Indonesia yang merdeka yang dipandu oleh salah satu rekan kami.

Begitulah kegiatan kami menyambut hari merdeka di tahun ini. Sederhana. Dan semoga tetap bangga menjadi orang Indonesia yang telah merdeka 69 tahun. Bagaimana pun keadaannya Indonesia, siapa pun pemimpinnya—secara pribadi saya bangga dan tidak ada niat untuk pindah kewarganegaraan—seperti yang saya dengar dari beberapa anak bangsa ini—jika presidennya dipimpin anu, maka mereka akan memutuskan pindah negara.

Semoga jadi mereka pindah negara—sebab Indonesia tidak butuh orang yang berwatak demikian hanya karena capres-cawapres yang mereka pilih saat Pilpres kemarin belum ditakdirkan menang. Ya sudahlah. Tak usah lagi ngomongin soal capres-cawapres. Kita tunggu saja hasil keputusan para hakim MK memutuskannya nanti.

Rasanya tak cukup kita meneriakkan kata-kata,”Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Akan lebih merdeka bila kita berupaya melakukan upaya-upaya kebaikan—bukan saja bagi diri kita, tetapi buat bangsa tercinta ini. Tak perlu jauh-jauh berpikir, misalnya,”Apa yang bisa kita berikan buat bangsa ini?” Sebelum berbuat untuk bangsa Indonesia, lebih baik kita berbuat untuk kebaikan diri kita, keluarga, pacar, calon istri/suami. Yang paling penting dari semua itu, merdekakan terlebih dahulu hatimu sebelum memerdekakan yang lain.

Merdeka hatimu, merdeka Indonesia!

Iklan

Keluarga Sabtu, Saya Minggu

Ilustrasi diambil dari: www.konsultasisyariah.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.konsultasisyariah.com

Keluarga besar saya itu berlatar Muhammadiyah. Jadi malam ini mereka mulai tarawih. Sedangkan pemerintah telah menetapkan bahwa puasa ramadhan tahun ini jatuh pada 29 Juni 2014. Saya sendiri ikut yang mana? Saya ikut pemerintah saja-supaya lebih semarak, begitu kata orang awam.

Sama seperti tahun yang lalu, awal puasa tahun ini saya tidak bersama keluarga besar. Mereka di Bengkulu, sementara saya sekarang ada di Bandung. Saya baru akan mudik-bila tak ada aral melintang, ya nanti pada 25 atau 26 Juli 2014 atau 3 sampai 4 hari jelang lebaran. Mungkin mudiknya naik bus saja. Pesawat bosan. Mobil pribadi enggak mungkin. Motor belum berani. Becak, ya becak siapa yang mau antar saya.

Maunya memang saya ini awal puasa ya di rumah emak dan apak-biar bisa bareng tarawih sekaligus sahurnya. Kayaknya enak gitu kalau bareng mereka–walau ya mungkin menu sahurnya sederhana ala kaki lima. Makan spageti rasanya enggak mungkin. Atau si Ikimura–makanan khas Jepang itu. Biarlah, sama lauk asin dan tumis kangkung yang penting nikmat dan siang harinya supaya cepat ngantuk dan bangun 15 menit jelang beduk magrib.

Saya hanya berdoa saja buat teman-teman blogger–ya utamanya yang tergabung dalam naungan wordpress yang suka puasa kala ramadhan datang, semoga saudara sekalian tetap semangat jalani ibadah selama di bulan berkah ini. Gairah menulisnya tak pernah padam, juga selalu optimistis bahwa ruh ramadhan akan menjadikan saudara sekalian jadi lebih dekat dengan-Nya.

Ya ampun, emak-apak dan semua keluarga saya itu keluarga yang baik. Wajib rasanya saya mendoakan mereka supaya umurnya panjang dan selalu memberikan manfaat kepada orang lain. Berkah rezekinya. Anak-anak kakak saya Tuhan menjadikannya berbakti. Terus, kepinginnya emak-apak saya ini naik haji–walau antriannya itu sampai 5-6 tahun, saking orang-orang Indonesia ini maniak terhadap rukun Islam ke-5 itu. Kalau harus nunggu lama begitu, terus ada cukup duit, ya lebih baik umrah sajalah didahulukan, yang penting nanti sudah pernah lihat hajar aswad dan ka’bah. Makanya, karena ramadhan ini bulan sakral, keluarga saya mesti banyak berdoa apapun yang diinginkan.

Eh, iya. Dua kawan saya di kosan tetiba ngajak saya sahur. Saya bilang ayo saja, tapi kalau paginya saya lihat di dekat kosan ada si bibi jualan nasi kuning, saya tetap beli buat sarapan sebelum pukul 10 pagi. “Iya enggak papa. Yang penting kamu temenin kami sahur. Kamu nanti mau neruskan puasa atau enggak, kami enggak rugi, kok! Tapi minimal Tuhan telah mencatat, bahwa kami telah beramal.” Begitu kata salah satu teman saya–yang sebetulnya saya jengkel sekali mendengarnya.

Okelah. Saya lelah dengan dunia di sekitar saya. Lebih capek lagi karena salah satu teman yang katanya mau sahur nanti sebelum azan subuh, mengatakan bahwa pada 9 Juli mendatang bakal milih salah satu dari capres-cawapres yang dia jagokan, tetapi diujung obrolan dia memandang negatif capres-cawapres lain dan katanya haram kalau memilihnya. Saya benar-benar capek mendengarnya. Karenanya saya mau tidur sekarang dan mau bangun kalau dibangunkan buat sahur.

Pak Polisi, Kapan Mau Nilang Saya Lagi?

Ilustrasi saya tilang di: www.itoday.co.id
Ilustrasi saya tilang di: http://www.itoday.co.id

Saya mengalami dua kali ditilang polisi. Enggak lucunya, kasusnya itu sama: saya enggak bawa SIM. Bukan enggak bawa, tetapi saya memang belum bikin surat izin berkendara itu. Pertama, di jembatan Sungai Hitam sebelum terminal Sungai Hitam, Kota Bengkulu pertengahan 2013. Saya waktu itu memang sudah pasrah, andai ada operasi—saya ikhlas damai di tempat. Dan saya pun malas kalau harus sidang di pengadilan.

Siapa yang tak kaget plus gugup saat kendaaraan siapa pun diberhentikan oleh polisi—apalagi saat operasi pemeriksaan kendaraan bermotor. Saya pun kala itu sedikit deg-degan karena merasa saya ini memang salah. Surat-surat motor saya enggak lengkap. SIM belum punya. Alasan paling realistis kenapa saya belum punya SIM sampai hari ini karena saya malas ngurusnya.

Kenapa saya kala itu begitu siap kalau ada penilangan? Saya kapan pun selalu siap kena tilang walau saya belum punya SIM. Ya, saya selalu siap kalau kebetulan saat itu sedang punya uang cukup. Minimal di dompet ada duit sekitar 150-200 ribuan. Nah, kalau ada duit minimal segitu, saya tetap berani pakai motor ke mana pun—walau, ya tanpa SIM. Saya sudah siap bayar andai benar-benar kena tilang.

Bagaimana bila saya tak punya cukup uang, apakah saya tetap memaksa harus pakai motor yang surat-suratnya belum lengkap—sementara ada urusan yang mesti dikerjakan? Saya tetap gunakan motor itu—dengan tak henti-hentinya berdoa, ”Tuhan, tolong jangan dulu ada penilangan. Walau pun ada, tolong loloskan saya dari operasi itu. Sebab aku tahu, Engkau Maha Menjaga dan Penyayang.”

Beberapa kali kadang lolos. Tetapi, pada hari yang lain saya kena juga. Saya sebut ini takdir. Contohnya, ya saya kena tilang di dekat jembatan Sungai Hitam, Kota Bengkulu. Saya meminggirkan motor dengan sadar—sebab dari kejauhan tangan polisi sudah memberi kode. “Selamat siang, Pak. Maaf, bisa menunjukkan surat-surat motornya?” ungkap salah satu polisi berseragam dan berkacamata hitam itu.

Ya, pada siang terik jelang dhuhur itu, saya langsung bilang jujur ke polisi yang mencegat saya, ”Saya belum punya SIM, Pak. Gimana, dunk, Pak?” Si bapak polisi itu menggumam datar dan langsung bilang, ”Ya silakan minggir ke sana dulu, ya. Datangi kawan saya yang di sana itu. Ayo cepat!” kata polisi itu ke saya. Saya langsung nyeberang jalan dan mendatangi 2-3 orang polisi dekat sebuah warung—yang mereka juga sedang berurusan dengan orang yang ditilang.

Satu orang polisi di situ langsung mendatangi saya, ”Eh, kamu kenapa lagi ini? Mana surat-surat motornya? Saya mau lihat!” Saya di sana mencoba santai—layaknya ngobrol sama orangtua saya kala di rumah. Saya juga coba ramah. Siapa tahu, polisi itu penuh pengertian. ”Saya enggak bawa SIM, Pak! Jadi gimana, dunk, Pak?” “Ya udah, motor kamu ditilang! Sidang di pengadilan nanti. Gimana?” ujar polisi itu.

“Oke, Pak. Silakan aja ambil STNK saya. Nanti sidang saja. Soalnya saya mau buru-buru ini, Pak! Saudara saya sedang di rumah sakit.” Saya lancar ngomong begitu di hadapan polisi itu. “Motor ditahan di sini, ya? Silakan kamu pulang pakai angkot dari sini!” Saya heran polisi bilang begitu ke saya. Bukannya kalau saya mau sidang dan enggak damai di tempat, cuma STNK-nya aja yang ditahan? Kalau enggak salah, sih begitu.

Saya sudah berusaha bilang ke polisi itu, tolong motor saya jangan ditahan dan saya siap sidang di pengadilan. Si polisi keukeuh, bahwa motor saya mesti disimpan di sana dan mempersilakan saya gunakan angkot pulang ke rumah. Polisi itu  bilang lagi sambil mondar-mandir, ”Jadi gimana ini?” Saya membaca, bahwa polisi itu maunya diselesaikan saja di tempat dengan membayar uang “titipan” dan saya boleh bawa motor plus STNK-nya.

Saya langsung bilang saja ke polisi—sebab saya enggak mau berlama-lama di tempat itu. Apalagi, kebetulan di dompet saya waktu itu ada 300 ribu. “Gini aja, Pak. Kalau saya bayar di sini, berapa kira-kira?” Eh, si polisi malah langsung menunjukkan surat tilang ke saya, ”Eh, Dek, baca ini. Denda yang enggak punya SIM itu sejuta!” Saya hiraukan ocehan polisi itu dan, ”Pak, saya cuma punya 50 ribu. Gimana?”

Saya menyangka dengan saya katakan seperti itu, polisi itu mau marah—eh, tapi tahunya enggak. “Aduh, Dek, Dek! Lain kali jangan ulangi lagi kayak gini, ya. Kalau kayak gini, kan jadi ribet urusannya. Segera bikin SIM nanti, ya! Ya udah, nih STNK-nya!” ucap polisi yang—sebetulnya bikin saya senang. Yes! Akhirnya tembus juga dengan 50 ribu! Sebelum saya tinggalkan tempat “negoisasi” itu, saya salami kedua polisi itu terlebih dahulu. ”Makasi, ya, Pak!”

Adapun pengalaman kedua saya ditilang, itu tepatnya kemarin (29/5) sore jelang magrib di pertigaan Gedung Sate, Kota Bandung. Dari kejauhan, saya sudah memerhatikan kalau di pos polisi itu ada  3 orang Polantas berseragam. Enggak tahu kenapa, salah satu polisi itu nyeberang jalan sambil melambaikan tangan ke arah motor saya. Saya meminggirkan motor saya ke kiri dekat pos polisi. Alamak! Kena ini. Kenai ini. Pasrah. Mau diapain saya, saya siap!

“Sore, Pak! Maaf, bisa tunjukkan surat-suratnya?” kata polisi berkacamata hitam bermasker itu. Saya diam sejenak enggak langsung jawab karena ingin menenangkan hati. “Ya, Bapak, bisa ditunjukkan surat-surat kendaraannya?” Saya jawab saja kalau saya enggak punya SIM. “Kalo gitu, silakan bapak masuk ke pos dulu sebentar, ya.” Saya buka helm lalu ikuti apa yang diperintahkan—masuk karantina.

“Kenapa enggak bawa SIM? Kamu tahu enggak kalo sampai akhir Juni nanti akan ada operasi dalam rangka pengamanan jelang Pilpres dan puasa?” Saya jawab kalau SIM saya hilang—walau sebetulnya saya belum pernah sama sekali bikin SIM—tetapi anehnya bisa hilang. SIM siapa yang hilang? Ya bisa SIM siapa saja lah. Kalau jawab jujur saya belum bikin SIM, tentu imbasnya barangkali saya kena semprot sama polisi.

Saya tahu dari berita televisi akan ada operasi terhadap kendaraan bermotor oleh polisi sampai akhir Juni nanti dalam rangka tingkatkan keamanan jelang Pilpres dan puasa ramadhan. Kalau saya katakan, saya tahu info ini ke polisi di pos itu, saya pastilah kena omel juga. ”Nah, sudah tahu, kan? Kalau udah tahu kenapa masih maksa jalan-jalan bawa motor?” begitu semprot polisi kira-kira. Jadinya saya bilang bahwa saya belum tahu info tentang adanya operasi itu. Sebab, tahu atau tidak, saya tetap kena tilang.

Kejadiannya sama saat saya kena tilang yang pertama kali. Pak Polisi terhormat itu menunjukkan denda di surat tilang bagi mereka yang berkendara enggak memiliki SIM. Saya baca, ya dendanya sejuta. “Jadi gimana, nih? Mau sidang atau ngasih uang titipan saja di sini? Kalau mau sidang, ini saya mau tulis sesuai dendanya nanti pas di pengadilan. Gimana, Kang?”

Polisi itu melanjutkan,”Atau, gini, aja, deh. Enggak punya SIM dendanya, kan sejuta. Dan saya yakin, kamu sekarang enggak punya duit segitu. Nah, dari sejuta itu, kamu berani nawar berapa?” Yang saya bingung itu, di dompet saya cuma ada 7 ribu. Wah, ini harus ke ATM dulu, pikir saya. Batin saya pun berkecamuk,”Duh, kasih lima puluh atau seratus, ya?” celetuk hati saya. “Seratus gimana, Pak? Tapi saya mesti ke ATM dulu ambil uangnya,” lontar saya.

“Okelah kalau gitu. Tolong jangan diulangi lagi nanti, ya. Cepet bikin SIM!” kata Polisi. Saya langsung bilang, ”Pak, nanti kalau saya kena tilang lagi gimana, dunk?” Kata polisi itu enggak papa, nanti tinggal bilang kalau saya sudah kena tilang di pos Gedung Sate. “Kalau gitu saya mau ke ATM dulu, Pak!” lanjut saya. “ATM apa?” timpal polisi lagi. “BCA, Pak!” balas saya. “O, BCA dari sini lurus belok kiri. Pokoknya enggak jauh dari Jonas Foto!”

Saya akhirnya meluncur ke ATM BCA. Di tengah jalan hendak kembali ke pos polisi, saya berpikir, kok tadi saya enggak bilang sanggup bayar 50 ribu aja, ya? Kalau 50 ribu, kan kekecilan—sementara saya memang salah: enggak punya SIM! Kalau gitu, nanti akan saya nego lagi, bisa enggak kira-kira kalau 50 ribu saja. Apa salahnya menawar, celetuk hati saya. Harus coba nawar, ah! Harus. Urusan diterima atau ditolak, itu nanti.

Saya sampai di pos. Saya duduk lagi di kursi. Di dalam sudah ada dua orang korban yang sedang ngobrol sama polisi. Saya curi dengar obrolan mereka. “Pak, saya ini saudaranya brigadir anu. Bener, Pak. Saya ini saudaranya brigadir anu. Kalau enggak percaya, saya mau telepon dia sekarang!” Entah kenapa, tetiba si polisi yang satunya melepas begitu saja korban penilangannya itu yang sebelumnya ada aksi berpelukan antara si korban dan polisi.

Saya langsung bilang, ”Pak, bisa nego, enggak, Pak? Lima puluh, ya? Ayo, dunk, Pak. Bisa, ya? Bisa, ya, Pak? Saya belum gajian, Pak. Bener, nih. Gimana, Pak?” Saya sebetulnya tidak perlu merengek-rengek seperti itu. Sebab enggak ada gunanya. Saya mesti bertanggungjawab. Di awal saya sanggup bayar seratus, ya bayar segitu—mumpung saya ada uang. “Waduh, Kang, beneran enggak bisa! Seharusnya dua setengah biasanya juga! Beneran ini, mah!” ucap polisi.

Ya, pada intinya kalau saya enggak mau bayar seratus, ucap polisi itu, STNK motor saya ditahan dan saya mesti sidang di pengadilan. Dan, di pengadilan nanti, tambah Pak Polisi yang mondar-mandir di ruangan pos itu—saya akan kena denda sesuai dengan tertulis pada surat tilang, yakni sejuta. “Jadi gimana, mau selesai di sini atau sidang aja, nih? Seratus itu udah murah! Biasanya juga dua setengah!”

Akhirnya saya letakkan uang seratus ribu di bawah topi yang biasa dikenakan polisi saat mengatur lalu lintas yang tergeletak di atas kursi panjang di ruang pos polisi tersebut sesuai permintaan salah satu polisi yang ada di sana. “Cepat, letakkan aja di bawah topi ini!” STNK lalu diberikan kembai ke saya. Sebelum saya pamit, saya salami dulu kedua polisi itu. “Lampunya jangan lupa hidupkan terus, Kang!” pesan polisi.

Pak polisi, kapan mau nilang saya lagi? Saya siap kalau cuma ngasih 50-100 ribu. Suer. sumpah!

Enggak Kampanye Hitam Enggak Asyik

Ilustrasi diambil dari: www.Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.  Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik! Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampenya keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu! Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan? Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut: Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik. Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya! Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres. Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!
Ilustrasi diambil dari: http://www.pkspalembang.or.id

Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.

Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik!

Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampanye keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu!

Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan?

Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut:Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik.

Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya!

Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres.

Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!