Mudik #part 1

Awalnya saya enggan mudik tahun ini. Enggan sekali. Karena, ritual tahunan itu sudah begitu lama saya jalani. Ada rasa bosan. Bukan tidak rindu kedua orangtua dan keluarga, melainkan, saya akan mengunjungi mereka di luar hari mudik, misalnya 3 minggu setelah lebaran. Biar sepi. Biar ongkosnya pun normal, tidak gila seperti saat ini.

Namun, rencana itu gagal! Gagal total gara-gara adik saya ngajakin bareng mudik, karena kita berdua sudah tinggal di satu kota. “Ayolah, sekali ini saja. Saya gak enak kalo mudik sendiri.” Kasian juga saya pas mendengarnya. “Oke, tapi saya gak mau naik pesawat! Kita estafet saja kalo mau! Saya tak mau buru-buru nyampe rumah. Saya mau menikmati perjalanan!”

Adik saya setuju. “Oke! Siapa tahu jadi ngirit ongkos! Lagian kita siangnya puasa, jadi gak banyak makan. Kecuali udah lelah banget, ya udah berbuka aja, apalagi  kita musafir!” “Ah, musafir! Musafir dengkulmu, Bro!” kata saya serius.

Saya belum pernah mudik dengan cara estafet. Makanya saya akan coba tahun ini. Siapa tahu lebih asyik. Siapa tahu lebih irit. Biasanya, selama ini, kalau saya pulang ke Bengkulu, ya naik pesawat atau bis Bandung-Bengkulu. Bis SAN, Putra Rafflesia, atau Bengkulu Kito.

Saya iseng cek harga tiket pesawat di traveloka beberapa hari lalu, uh, udah naik 700 ribu (yang biasa 400-an). Saya tanya ke loket bis di Caringin (jurusan Bandung-Bengkulu), eh, naik juga: 575 ribu (yang biasa 375). Ya udah, saya kira estafet adalah cara terbaik, meski saya belum bisa memprediksi seperti apa perjalanannya nanti. Moga lebih irit. Jika pun membengkak, ah, itu risiko saya, bukan siapa-siapa, apalagi Anda.

Ok, bismilah. Rencananya, saya berangkat jumat besok setelah magrib dari Leuwi Panjang, Bandung menggunakan bis ke Merak. Bis Arimbi atau Bima Suci. Saya tidak tahu berapa ongkos Bandung-Merak dengan bis itu. Teman bilang 85 ribu. Walau naik, semoga kenaikannya tidak membuat saya dan adik membatalkan mudik! Perjalanan Bandung-Merak sekitar 6 jam. Kalau lancar. Semoga saja lancar ya Allah. Jika tidak, jangan pula jadikan kami hamba yang mengomel.

Pastinya, setelah di Merak, kami cari penjual tiket kapal laut untuk menyeberang ke Bakauheuni, Lampung. Baca-baca di internet, kapal laut Merak-Bakauheuni beroperasi 24 jam. Semoga. Ongkosnya saya belum tahu berapa per-orang. Ada yang bilang 13 ribu. Ada juga 15 ribu. Mana yang benar? Tunggu, ya pada tulisan saya setelah lebaran, Guys.

Karena niatnya pengen jalan-jalan dulu, jadi begitu nyampe di pelabuhan Bakauheuni, ya diam dulu. Nyantai dulu, menikmati udara di sana. Menikmati orang-orangnya. Semuanya akan kita nikmati dulu, baru setelah itu kita lanjutkan ke Bandar Lampung. Kebetulan, saya belum pernah ke kotanya. Mau naik bis atau travel, itu juga saya belum tahu. Ya, gimana nanti lah. Kadang hidup memang tak harus sesuai rencana. Haha.

Begitulah rencana mudik saya kali ini. Saya belum tahu, dari Lampung ke Bengkulu mau naik apa. Bis atau travel, belum kepikiran. Soalnya mau diitung-itung dulu. Bis berapa, travel berapa, dan kalau jalan kaki berapa lama. Atau, saya sih berharap bisa naik truk. Kali aja ada supir truk yang butuh teman selama perjalanan Lampung-Bengkulu. Atau juga, naik mobil teman, yang tiba-tiba ketemu di jalan, yang dia juga mau ke Bengkulu. Ah, itu semua hanya hayalan, Kawan! Tapi, kalau ada kesempatan, kenapa juga diabaikan, ya, kan?

Ok, Guys! Met mudik, ya.

Mudikmu bukanlah mudikku.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Umrah

Gambar didownload dari: www.gshtour.com
Gambar didownload dari: http://www.gshtour.com

Sebelum pulang ke kosan, ada baiknya saya menulis dulu. Mau menulis apa, itu saya juga tidak tahu. Yang penting, apa yang melintas di pikiran—langsung saja saya tuangkan di sini seadanya yang saya ketahui dan saya ingini.

O, iya. Hari ini apak dan rombongan bertolak ke Arab Saudi dengan tujuan umrah. Sudah sejak semalam, selepas isya saya menelepon apak menanyakan gimana persiapan keberangkatannya.

Juga bilang, bahwa saya benar-benar mohon maaf tidak bisa hadir ke Bengkulu untuk sekadar mengantar apak sampai bandara Fatmawati melepas keberangkatan menuju bandara Cengkareng, Soekarno-Hatta untuk kemudian terbang ke tanah Arab.

Apak, tadi malam hanya bilang, segala perbekalan untuk dibawa selama menjalani umrah sudah siap semuanya, termasuk membawa catatan titipan doa dari anak-anaknya, termasuk saya di selembar kertas.

Tujuannya, ya supaya tidak lupa, bahwa saudara dan anak-anaknya nitip doa dan berharap supaya apak mendoakan apa yang diminta di tempat-tempat terkabulnya doa di tanah haram tersebut.

Selain itu, apak juga bawa abon, kecap, roti tawar, dan makanan persiapan buat selama perjalanan di pesawat. Kenapa mesti kecap, karena beberapa bulan ini apak tidak lagi selera makan dengan lauk yang lain kecuali kecap dan garam. Entah kenapa.

Makanya, kecap mesti dibawa ke tanah Arab sebagai teman nasi—kalau memang nanti panitia mempersiapan nasi bungkus di sana. Kalau abon, ya itu untuk persiapan saja, kalau-kalau bosan dengan kecap, kan abon ada.

Saya katakan ke apak, siapa yang akan nganter apak sampai bandara Fatmawati. Dia bilang emak, teteh, aa, dan barangkali keponakan saya yang lain. Tapi, rasanya tidak, karena semua keponakan pasti sekolah, kecuali, Opik, anak bungsu teteh.

Saya juga bilang, kalau Oman, adik saya yang sekarang sedang mengadu nasib di Jakarta bakal ke Bandara Soekarno-Hatta menemui apak dulu sesaat sebelum apak take off ke Makkah menggunakan Saudi Arabia Air Lines.

Apak hanya pesan ke saya, tolong doakan saja apak semoga diberi kesehatan, kelancaran, dan kemudahan selama menjalani rangkaian ibadah umrah di tanah suci. Saya bilang, tenang saja dan saya katakan saya siap mendoakan!

Pas menelepon apak itu, bahwa apak akan berangkat dari Bandara Soetta menuju Jeddah tepat pukul 16.00. Pokoknya sekitar 9 jam-an lah apak dan rombongan berada di udara. Lancar…lancar…lancar.

Dan, tanggal 1 Maret, apak akan sampai ke Kota Bengkulu sebelum asar. Kebetulan, tanggal segitu—saya berada di Bumi Rafflesia itu, mudah-mudahan bila tak ada halangan.

Kala Hati dan Pikiran Berseteru

Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com
Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com

Tuhan sengaja membuat hati saya enggan untuk menulis, setidaknya melanjutkan cerita bersambung saya di blog ini. Entah kenapa, antara hati dan pikiran saya sedang tidak harmonis alias BERSETERU. Kalau ditanya apa penyebabnya, saya benar-benar tidak tahu. Suer, deh!

Pokoknya hati saya sedang tidak stabil. Gundah. Merasa tidak tenang. Konsentrasi hilang. Baru saja  mengetikkan dua sampai lima kata, tiba-tiba seperti ada yang membisiki hati saya,”Sudahlah. Besok aja nulisnya. Jangan dipaksakan, mening kerjakan dulu yang lain.”

Satu sisi, berkecamuk ide di pusaran otak ini yang saya niatkan untuk saya tuliskan di blog ini. Mulai dari, kenapa sampai hari ini tidak ada rute pesawat Bandung-Bengkulu maupun sebaliknya, salat dhuhur berhadiah umrah, haji, dan Innova yang digagas walikota Bengkulu, Helmi Hasan, dan soal Kota Kembang disebut sebagai “Bandung, The City of Pigs” yang ditulis oleh blogger asal Bulgaria,  Inna Savova beberapa saat lalu.

Seabrek ide yang berkumpul di meja redaksi otak saya sungguh hanya sebatas ide dan tidak benar-benar tumpah menjadi sebuah tulisan menarik, setidak-tidaknya menurut saya. Dan saya menyesal kalau ada ide ternyata tidak sampai lahir. Siapa yang tidak kesal kalau seseorang hanya hamil saja tetapi pas di-USG, eh ternyata bayinya lenyap entah ke mana, padahal-dia notabene sedang mengandung.

Untung saya tidak hamil dalam arti sama dengan para perempuan itu. Saya hanya hamil ide karena beberapa hari sebelumnya saya memang telah bersenggama dengan realitas beberapa kali, bahkan di tiap menitnya. Tetapi itulah, betapa pun saya melakukan persenggamaan-saya belum bisa bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan.

Padahal, di tengah persenggamaan yang intim itu, sekuat tenaga saya sudah menyugesti diri bahwa saya harus bertanggungjawab. Tanggung jawabnya adalah saya harus menikahi ide itu sebaik-baiknya untuk kemudian menuliskan ide itu dalam bentuk tulisan. Pendek kata, saya hanya berani menghamili dan tak berani bertanggungjawab.

Intinya, kalau antara hati dan pikiran sama-sama tidak galau, sama-sama sehat, sama-sama seimbang, maka pastilah saya tetap konsisten melanjutkan menulis di blog ini tanpa ada alasan ini itu atau ina inu. Sekali lagi, kalau saya ditanya oleh siapa saja kenapa hati dan pikiran saya sedang tidak proposional, saya hanya jawab, “Tuhan masih membuat hati saya berselingkuh dengan yang lain.”

Jadi, balik-baliknya, saya adalah orang pertama yang tahu harus bagaimana saya selanjutnya supaya saya ini menyeimbangkan kembali perangkat tubuh ini: hati dan pikiran. Tidak harmonis bukan berarti tidak ada masalah di dalamnya, kan? Saya sebaiknya segera mengajak berdamai antara kubu hati dan pikiran supaya mereka membahagiakan saya. Sekarang!

Part V (habis): Liburan Singkat Nonpejabat

Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.
Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.

Bengkulu, 27 Desember 2013

09.00

Saya rampung membantu Teteh membilas pakaian yang sebelumnya digoes di mesin cuci. Bejibun sekali pakaian itu, termasuk juga baju dan celana levis saya. Setelah semuanya beres, sarapan dan lain sebagainya, saya bersiap mengantar Teteh dan Kak Ton ke klinik, sekaligus mau ngintip luka yang sebenarnya di kaki suami kakak kedua itu.

Saya bukan tidak bisa menggambarkan kondisi telapak dan punggung kaki sebelah kanan kakak ipar saya saat petugas klinik itu membuka perbannya. Saya lihat erat-erat luka yang membusuk itu, dekat sekali, karena saya berada di sampingnya, di samping ranjang.

Sebelumnya saya memang pernah searching di internet dengan menuliskan “luka diabetes pada kaki”. Hasilnya lumayan beragam dan gambarnya aduhai ngeri juga, ya. Tetapi, pas saya bandingkan dengan luka yang dialami kakak ipar saya, ternyata luka suami Teteh ini lebih parah tinimbang yang ada di net.

Klinik ini memang mengkhususkan diri dengan pengobatan herbal dan menghindari obat kimia. Makanya, bagi penderita diabetes, terutama diabetes melitus harus rajin membersihkan kakinya di klinik ini tiap hari. Sebelum dibungkus kembali, si kaki yang luka tadi diolesi terlebih dahulu, entah pakai  apa, yang pasti warna dan bentuknya kayak mentega. Itu herbal katanya.

Biaya sekali cuci luka itu, pas saya intip Rp. 145 ribu. Dan ini harus tiap hari sampai waktu yang belum ditentukan. Tetapi, “Seperti yang sudah-sudah dan bahkan lebih parah dari ini, akhirnya sembuh di klinik ini. Kami sudah menangani lebih dari 30 orang. Asal, jaga pola makan dan stres!” ucap petugas klinik.

Pukul 10.00. Kami pun pulang lalu istirahat. Saya salat jumat. Selepas jumatan, saya dan keponakan berangkat ke kampung halaman yang sesungguhnya: Putri Hijau. Ke rumah bapak dan ibu saya dengan menggunakan motor. Jelang beduk magrib, kami sampai dengan selamat di halaman rumah bapak. Salam sejahtera.

28 Desember 2013, Putri Hijau.

Esoknya. Saya bantu emak memanen buah cokelat di pekarangan yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Entah berapa semut  yang mengeroyok saya tatkala saya panjat pohon cokelat itu. Anehnya, semut itu sampai tega menggigit di daerah selangkangan saya, bahkan-ujung “alu” saya pun disengatnya.

Sepulang dari kebun cokelat itu, adik saya meminta buah jambu bol ke tetangga, Lek Win. Manjatlah Oman pada pohon yang entah berapa puluh kaki itu untuk memetik buah yang ranum itu. Sementara saya di bawah menangkap buah yang adik saya jatuhkan. Hup.

Magrib pun bersambut. Kami salat berjamaah dan keluarga menunjuk saya sebagai imam. Waduh. Saya bingung mau baca ayat apa. Bismillah sajalah. Para keponakan yang jumlahnya empat biji ikut berbaris di belakang saya, tetapi mereka banyaklah bercandanya tinimbang serius. Asyik.

“Besok mau bawa apa, San? Emak enggak punya apa-apa ini. Bawa ikan kering aja, ya. Nanti digoreng di Bandung. Mau bikin wajit juga enggak keburu.” Suara emak saat kami sedang makan malam di ruang tengah rumah kami. “Enggak usahlah, Mak. Di kosan enggak ada kompor!” kata saya.

29 Desember 2013

Pukul 04.00 puluhan juta tetesan air menimpuk-nimpuk genting rumah kami. Dingin sekali. Deras sekali hujannya. Waduh, gimana ini. Padahal, saya dan keponakan pukul 06.00 harus sudah beranjak dari rumah untuk pulang ke kota lagi: Bengkulu. Redakanlah,  ya Allah.

“San, cepatlah kau bangun. Katanya mau ke Bengkulu udah subuh. Nanti terlambat!,” Apak berteriak-teriak dari kamar sebelah. “Iya. Sip!” balas saya ke Apak yang telah lebih dahulu bangun sebelum pukul 04.00. Tetapi, karena merasa masih pukul 04.00, sarung saya buntelkan lagi ke sekujur tubuh. Dingin.

05.30. Saya bangun, tetapi di luar rumah hujan masih mendesah kencang. Cepat-cepat saya ke kamar mandi, bukan mandi, melainkan gosok gigi. Kemudian salat, melipat baju, memasukkannya ke dalam tas, membungkus ikan kering, dan mulai mendengarkan petuah Apak.

 “Maafkan Apak dan Emak kalau ada dosa, ya. Tolong doakan Apak supaya sehat dan selalu dimudahkan. Karena tanggal 3 Februari ini apak insyaallah berangkat umrah. Doakan apak diberi kekuatan selama menjalankan ibadah di sana, doakan supaya panjang umur.”

Saya hanya mengangguk-angguk saja saat dengar ucapan Apak begitu. Saya bilang, itu pun dalam hati,” Iya, Pak. Tenang aja, anakmu ini akan selalu mendoakan apak supaya selalu sehat, dimudahkan urusannya, panjang umur, kekuatan, dan ketegaran.”

“O, iya, satu lagi. Kan sekarang udah kerja, mulailah menabung buat berkeluarga. Jangan sampai, pas setelah kamu kawin nanti, menyisakan hutang di sana-sini. Ayo, mulai nyicil nabungnya. Kalau sudah siap, buru-buru menikah mumpung Emak dan Apak masih ada.”

“Terus, mulai cicil juga beli jas buat persiapan kamu kalau ijab kabul nanti. Pesanlah di Tasik, di sana bagus bahannya, murah lagi. Biar nanti, pas dekat nikah, kamu enggak susah-susah lagi memilih baju.”

Kalau disinggung-singgung soal nikah menikah ini, saya tersenyum-senyum saja dan enggak bisa bilang apa-apa. Keponakan dan adik saya mulai heboh kalau mendengarkan tentang ini. Saya jadi kikuk dan akhirnya, saat itu juga muka saya, saya tutupin pakai koran bekas bungkus asin. Cuit…cuit.

Saya akhirnya pamit juga ke Emak Apak, walau hujan masih merintik. Soalnya ngejar waktu. Pukul 14.00 saya sudah mesti di bandara untuk terbang ke Cengkareng. Terjadilah cipika-cipiki di antara saya dan kedua orangtua saya. Emak tampak terisak, Apak tegar. See you later ya my beloved parent!

Inilah liburan singkat saya yang bukan pejabat ini. Meski  dua hari, tetapi setidaknya memuaskan pikiran dan hati saya lantaran telah bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Kepinginnya mau tahun baruan di Bengkulu, tetapi-karena alasan tertentu saya masih menjadikan Kota Kembang sebagai tempat untuk menutup 2013. Dadah. (habis)

Part III: Liburan Singkat Nonpejabat

www.jaunted.com
http://www.jaunted.com

Di dalam pesawat Lion Air

08.30

Saat menaiki tangga pesawat, saya liat cat merah bertulis “LION” pada pinggang pesawat tampak baru. Sebelum masuk ke pintu depan pesawat, saya menawari ke keponakan saya, “Mau difoto dulu enggak kamu dengan latar Lion?” Dia menggelengkan kepala, rautnya tersirat malu. Saya mengerti.

Nomor kursi pesawat saya adalah 9B, sementara keponakan saya 9A. O, ternyata kedua kursi ada di barisan sebelah kanan dekat jendela. Karena pesawat yang kami tumpangi ini kelas ekonomi, maka formasi kursinya 3-3, tiga kursi sebelah kanan dan tiga kursi sebelah kiri.

Kami berdua pun lalu duduk. Saya terus memerhatikan tingkah dan wajah keponakan saya itu. Ia tertawa-tawa, tetapi tampak cemas, air mukanya seperti diliputi takut. Ini adalah kali pertama dia naik pesawat dan dia mengira, risiko paling berbahaya adalah menaiki pesawat. Kasian deh elo.

Duduk di sebelah saya adalah seorang bapak bertopi hitam, tetapi kurang antusias kalau diajak ngobrol. Seperti tidak lepas kalau ia bicara. “Bapak tinggal di mana di Bengkulu?” Saya bilang begitu karena bapak itu duluan yang mengajak saya ngobrol. “Adalah di sana,” itu jawaban si bapak. Rahasia, ya, Pak?

Bapak itu kelihatannya lagi bermasalah. Entah dengan siapa. Menjawab pertanyaan saja sekenanya dan tanpa menghiraukan si penanya, apakah mengenakkan atau tidak jawaban singkat tetapi tidak jelas itu. Bapak, bapak. I like u’r style, Pak! Eh, belumlah pesawat mengudara, si bapak sudah dipeluk mimpi.

Di kursi baris sebelah kanan, bayi lelaki yang sedang di atas pangkuan ibunya meronta-ronta seraya meraung-raung. Tak ayal, mata saya tak lagi fokus ke bapak di sebelah saya, tetapi saya arahkan ke jabang bayi itu. Tangis seorang bayi lebih menarik tinimbang seorang bapak yang sudah ngorok.

Ini yang unik dan membuat kedua mata saya tak lelah memandangnya. Empat pramugari nan anggun hilir mudik di lorong, di antara kursi di sebelah kanan dan kiri pesawat. Aduhai pokoknya, Bung! Sekujur tubuh mereka dilapisi batik merah muda. Siapa yang tak betah di ruang berpendingin udara kalau ada mereka.

Saya tak mau cerita apa yang akan dilakukan oleh pramugari cantik itu selanjutnya di hadapan para penumpang jelang terbang. Sebab, yang pernah naik pesawat juga sangat tahu adegan apa yang mereka pesembahkan buat penumpang. Bla..bla..pokoknya.

Pukul 09.15 barulah pesawat yang saya tumpangi benar-benar sudah berada di atas awan. Ini telat sekali dan di luar jadwal. Seharusnya pukul 08.00 berangkat, eh malah ngaret. Orang-orang mulai berkomentar di dalam pesawat, “Pantesan, mau terbang aja antri. Tuh lihat di depan Sriwijaya mau take off juga.”

Dari atas pesawat entah boeing berapa itu, saya tak tidur, tetapi malah melongok ke jendela dan melihat-lihat rumah-rumah, awan, terus laut, hutan, awan lagi, dan begitu seterusnya hingga Lion ini mendaratkan kami ke Bandara Fatmawati, Bengkulu. Welcome to my city! (bersambung…)