Penulis Pinjam Duit ke Editor

0

Apa jadinya jika seorang penulis meminjam duit ke editor?

Suatu sore. Tiga hari yang lalu, di tengah rintik hujan. Salah seorang penulis (pokoknya ada. Tak perlu saya sebut nama) tiba-tiba ngirim pesan via WA.

“Mas, punya uang sejuta?”

“Waduh, maaf, Mas. Gaji saya bulan ini untuk persiapan nikah (terpaksa jujur. Dosa pula kalau bohong …”

“500 ribu juga gak ada, Mas? Nanti saya ganti kalo udah gajian …”

“Bener, gak ada, Mas. Maaf belum bisa bantu, nih …”

“Kalo 300?”

“Serius, gak ada, Mas. Beneran inimah …”

“Duit itu buat teman saya sebenarnya, Mas. Dia butuh banget. Saya lagi gak ada duit …”

“Nyesal, Mas saya gak bisa bantu pas orang lain butuh. Sekali lagi maafkan …”

“Iya, Mas ndak papa. Makasih, ya …”

Inginnya saya bisa bantu rekan saya ini. Walau, awalnya saya ragu untuk meminjamkan uang (andai ada uang ketika itu). Ragu mungkin wajar. Apalagi, saya dengan si calon peminjam duit itu belum pernah ketemu. Selama ini hanya chatting via WA. Dia hanya saya anggap sebagai relasi kami di kantor.

Tapi, di tengah-tengah chattingan, saya berpikir lagi,”Kenapa harus ragu bantu orang kalau saya mampu. Kecuali kamu gak mampu. Lagian dia penulis. Data dia udah di save. Misal dia gak balikin, ya udah lah. Saya yakin kamu gak akan mempermasalahkan ini …” Ternyata memang ketika itu saya sedang tidak mampu untuk bantu dia. Uhh!

Padahal, doa saya tiap hari,”Tuhan, beri kemampuan padaku untuk bisa bantu siapa saja yang membutuhkan. Jauhkan aku dari sifat pelit yang gak ketulungan …”

Iklan

Sebab Hidup tak Harus Disiplin

0

Yang membuat saya tidak disiplin menulis bukan karena tidak ada waktu, melainkan karena saya malas!

Waktu tak perlu disalah-salahkan. Waktu memang sudah begitu adanya. Tinggal, saya bisa mengatur waktu atau saya yang diatur waktu. Itu saja. Simpel. Dan saking simpelnya, perlahan saya sedang dianiaya waktu. Ah, kesal sekali!

Kesal juga tidak ada gunanya bagi saya. Tak harus menyesal. Yang sudah biarlah berlalu. Yang dipikirkan (kalau mau, sih), ya ke depan mau gimana? Mau tetap menulis yang biasa aja tapi tidak disiplin atau tetap menulis tapi disiplin dan biasa saja?

Tentu saya memilih tetap menulis yang biasa saja dan tak perlu disiplin! Ya, tak perlu disiplin! Untuk apa disiplin? Toh, nanti kenyataannya gak bakalan disiplin. Yup, saya harus yakin dengan pernyataan itu: NANTI KENYATAANNYA GAK BAKALAN DISIPLIN.

Apa bukti ketakdisiplinan itu? Selama 2017, baru satu tulisan yang muncul. Itu pun tulisan biasa aja. Tulisan yang mungkin sudah banyak diulas. Dan saya hanya mengulang-ulang saja. Redaksinya saja yang berbeda. Sekali lagi, apa yang saya lakukan itu bukanlah pekerjaan orang yang kreatif.

Udah, segitu dulu aja. Saya tak berharap, setelah tulisan kedua di 2017 ini tayang, akan tayang tulisan ketiga, keempat, kelima atau dan seterusnya. Sama sekali tidak berharap. Sebab berharap, bila tak kesampaian akan baper. Akan sakit hati. Pernah sakit hati? Semoga pernah, biar nanti bisa diceritakan ke anak, istri, dan bekal untuk ditulis di status medsos.

Selamat siang,
Selamat Jumatan!