Mana Kunci Motormu? Udah, Tinggalin aja di Parkiran

Untungnya, saya masih menyimpan beberapa foto saat berlibur ke Tanjung Pandan, Belitung, 3 tahun lalu. Beberapa tempat wisata nan eksotis yang ada di negeri Laskar Pelangi tersebut, pun saya kunjungi. Saya hanya ingin membuktikan, benarkah keindahan alam yang ditampilkan di film besutan Riri Riza itu benar-benar bukan khayalan? Eh, ternyata, benar, batu-batu besar yang disorot di film hasil adaptasi novel Andrea Hirata itu tak bohong. Pokoknya, indah banget, deh! Saya mau ke sana lagi suatu saat, tapi entah kapan. Mungkin kalau nanti merayakan bulan madu. Ha.

Untuk sementara ini, saya tidak hendak membagikan soal keindahan alam Belitung, tetapi pengalaman lain saya ketika jalan-jalan ke salah satu pasar di Kota Tanjung Pandang suatu pagi bersama adik, kakak, dan kakak ipar. Saat memasuki kawasan pasar itu, saya terkaget-kaget melihat motor yang terparkir di sekitar pasar itu, kunci kontaknya kok masih tergeletak di tempatnya, alias terbujur di lubang kunci itu. Maka, saking penasarannya, saya mencoba berkeliling di antara puluhan motor yang terparkir. Dan benar, anak kunci itu masih bertengger di motor!

Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.
Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.

Saya tanya ke salah satu pedagang sayur-mayur di sana. Kata si ibu itu, memang sengaja para pemilik kendaraan, terutama motor sengaja tidak mencabut kunci motornya. Kenapa, ya? “Di sini memang nyaman, kok, Dek! Udah biasa, di Belitung ini tidak ada yang maling. Kita di sini sudah saling menjaga.” begitu kata ibu-ibu yang menjual wortel dan sayur lainnya saat saya tanya alasan kenapa pemilik motor tak mengambil kuncinya.

Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.
Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.

Saya lihat, di sana memang berkeliaran tukang parkir. Si juru parkir, selalu mengingatkan kepada warga yang hendak memarkir motornya, untuk tidak mengunci stang motor. Rupanya, ini untuk memudahkan mereka kalau ingin menggeser atau memindahkan motor supaya lebih rapi dan tidak parkir sembarangan. Makanya, kebetulan, kakak saya pun waktu itu membawa motor dan memarkirkan motornya di depan gedung pasar. Eh, ternyata, kakak saya ini pun tak mengambil kunci motornya. “Enggak, tenang aja. Di sini aman, kok!” ucap kakak ¬†ke saya yang tampak khawatir.

Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.
Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.

Makanya, karena menurut saya itu hal unik, kamera poket yang saya bawa tak disiasiakan. Beberapa motor yang terparkir pun saya bidik, terutama titik tembaknya tepat pada kunci yang masih menggantung. Kontan, beberapa orang di sekitar pasar, sesekali melirik saya sambil ketawa-tawa. Ah, saya cuek saja, yang penting kan saya bukan sedang mengincar salah satu motor, untuk kemudian dibawa kabur. Ah, kalau ke Belitung lagi, saya mau ke pasar lagi, mau lihat-lihat, masih adakah kunci motor menempel saat diparkir.

Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.
Iklan

Angelina Jolie dan Penjual Kantong Plastik

Tiga bocah datang dengan betisnya yang kecipratan lumpur. Pakainnya lusuh. Basah kuyup pula. Dua cewek satu cowok. Yang cowok badannya kurus. Sedangkan yang cewek agak gemukan dikit, tapi masih kelihatan kurus. Cewek yang terakhir, ini agak beda. Tubuhnya lebih tinggi dibanding dua anak itu dan tampak lebih dewasa. Cantik. Wajahnya mirip Angelina Jolie. Saya waktu itu lagi membilas pakaian di sebuah masjid di kota Bengkulu. Saya terus membilas baju, sementara ketiga anak yang bercelana pendek itu menunggu di samping pintu WC. Antri.

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Bang, WC-nya penuh, ya?”

Saya: “Tunggu aja dulu!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Buang air besar seribu kan, Bang?”

Saya: “Biasanya, kalo buang air besar pasti buang air kecil juga, kan?”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Hmmm…haha. Berarti seribu lima ratus dong, Bang? Tapi aku mau mandi aja, kok!”

Saya: “Mandi juga, biasanya gak cuma mandi. Terkadang juga sekalian¬† buang air besar, juga tentu buang air kecil, Dek!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Alah Abang ni!”

Si cewek yang wajahnya mirip Angelina Jolie masuk duluan ke WC ketika anak lelaki-yang juga sepantaran mereka keluar WC. Lelaki itu memegang perutnya. Mungkin sakit. Atau, saat asyik mengebom lubang WC, ia mencret. Huh, sungguh enggak enak yang namanya mencret!

Di tempat wudhu, atau di luar WC kini tinggal dua anak, yang tentu kawan sepermainan anak yang mirip Angelina Jolie. Kedua anak itu, saya lihat memutar-mutar keran hingga melelehkan air. Dipermainkannya air bening itu. Saya memerhatikannya saja sambil terus membilas baju, celana, sempak, baju dalaman, plus kaos kaki.

“Dari mana, Dek?” saya arahkan suara itu ke anak lelakinya, yang masih kelihatan main keran.

“Dari pasar, Bang!”

“Di mana rumah, Dek?”

“Rawa Makmur, Bang!”

“Kok, jauh-jauh main ke sini (pasar)? Mau ngapain?”

“Jualan asoy plastik, Bang!” celetukan itu bukan berasal dari mulut si bocah lelaki, tapi si cewek, yang jelas-jelas di samping saya. Sambil ketawa-ketiwi saja dia. Gigi bagian depannya kelihatan ompong. Barangkali karena kebanyakan makan permen atau diserbu ulat gigi.

“Asoy??? Jadi tadi adek di pasar jualan asoy?”

“Iya, Bang!” hampir serempak mereka berdua menjawab.

“Kelas berapa, Dek?”

“Kelas empat, Bang!”

“Di SD mana?”

“SD 85, Bang?”

“Di mana itu, Dek?”

“Di Rawa Makmur!”

“Libur sekolah, ya?” saya masih tanya begitu, meski tahu hari ini (9/5) emang tanggal merah karena kenaikan Isa Al-Masih.

“Iya, Bang!” masih kata yang cewek. Yang cowok sibuk dengan kerannya. Cewek yang mirip Angelina Jolie masih di dalam WC. Katanya tadi mau mandi.

“Jadi, adek ni jualan asoy-nya pas liburan aja, kan? Berarti hari Minggu juga?”

“Iya, Bang, sambil ngawani (nemani) ibu jualan sayur.”

“O, sambil ngawani ibu, to, Dek!”

“Iya, Bang!”

“Duit jualan asoy buat apa, Dek?” menunduk-nunduk saya sambil membilas baju yang enggak tuntas-tuntas.

“Beli buku, Bang!” kali ini keduanya menjawab serempak lagi.

“La, kalo yang adek ini, memang kelas berapa?” saya membalik badan menghadap ke arah bocah perempuannya.

“Dio (dia) kelas satu, Bang!” malah bocah lelakinya yang cepat-cepat menjawab.

“Buku LKS juga dibeli dari duit jualan asoy, ya?”

“Iya, Bang!”

“Katanya harga LKS mahal, ya?”

“Sembilan ribu Bang satunya!”

“Bang, kotor bajunya kalo diletakkan di lantai ini. Lantai ini pernah kena muntah dulu,” ujar si anak cowok ke saya. “Ini udah bersih, Dek! Barusan lantai ini dipel, jadi enggak papa.”

“O.”

“O, jadi ibu kalian jualan sayur di pasar, ya?”

“Iya, Bang!”

“Kalo bapak?”

“Ngojek, Bang!”

“Ngojek??? Tiap hari, ya?”

“Iya, ngojek. Iya tiap hari, Bang!

“Di gang dekat rumah ngojeknya, Dek?”

“Bukan, Bang! Di Tanah Patah!” lagi-lagi serempak dua bocah ini menjawab. Saya curiga.

“Kalian adik-kakak, ya?”

“Iya, Bang!”

“Berapa beradik emang?”

“Sembilan, Bang!”

“Ah, ngicu (bohong) kau, Dek?” saya beranikan diri kali ini menepuk-nepuk pundak si anak yang cowok berambut pendek itu.

“Enggak percaya Abang ini!”

“Masa, sih sembilan, Dek?”

“Iya, Bang!”

“Ini adek saya anak ke tujuh, Bang!” sambil menunjuk ke anak cewek yang kini berada di sampingnya.

“Anak pertama udah nikah, ya?”

“Udah, Bang! Udah punya anak.”

“Heh, kamu enggak ke WC?” lontar si cewek yang mirip Angelina Jolie begitu keluar WC kepada dua temannya.

“Enggak ah!” kata mereka yang ketahuan kalau ternyata adik-kakak itu.

“Jadi dua ribu, ya Bang! Tadi aku cuma mandi, kok!” kata si cewek yang mirip Angelina Jolie senyum-senyum.

“Nih, uangnya, Bang!”

“Tarok aja di kotak di atas meja itu, Dek!”

Bilasan pakaian saya tinggal dua lagi ketika tiga bocah itu tak lagi tampak punggungnya.