Seperti Tepat Waktu

Saya belum mencoba mengerjakan pekerjaan kantor di luar jam kerja. Bukan tidak ingin. Tapi kalau pekerjaan kantor masih bisa dikerjakan pada jam kerja, kenapa harus dikerjakan di luar jam kerja? Sesungguhnya jika saya berlama-lama di kantor melebihi jam kantor, yakinlah, bahwa saya tidak sedang melanjutkan pekerjaan kantor, tetapi saya sedang brosing, Kawan.

Saya berusaha tepat waktu. Pas waktunya pulang kantor, ya pulang. Kecuali saat itu hujan disertai petir dan di depan kantor banjir 3 meter. Bila kerjaan kantor gak beres hari itu, ya dilanjutkan besok, tentu dengan semangat baru. Saya berusaha, seperti yang saya bilang, tidak mengerjakan pekerjaan kantor di luar jam kerja.

 Gak bakal ada habisnya bila terus mikirin dan ngerjain kerjaan kantor. Yakin? Kecuali, memang ada lemburan, ya mau gak mau harus saya lakukan karena ini berhubungan dengan target kerja. Lagian, biasanya, kalau lembur suka dikasih uang lembur. O, jadi hanya karena uang saya lembur? Ah, gak juga. Sekali lagi, saya belum pernah lembur. Kecuali menemani teman yang lembur!

Pun ketika saya berangkat ke kantor. Biasanya, sebelum 07.30 saya udah di kantor. BIASANYA.  Bukan apa-apa. Saya anak kos. Apa lagi? Iya, saya belum menikah. Jadi, kata teman di kantor yang udah nikah, saya datang pagi-pagi ke kantor adalah wajar. “Nah, saya dari rumah nganterin istri dulu ke kantor, belum lagi anak mau dianter ke sekolah! Jadi wajar kalo telat 10 menit atau setengah jam mah!” begitu kata salah satu teman.

Kendati begitu, kadang-kadang, hati saya selalu digoda oleh bisikan yang tidak bisa direkam oleh hape. “Kamu nanti jadi karyawan teladan. Bersiaplah dapat penghargaan.” Dan bisikan-bisikan lain yang lebih kejam. Siapakah pembisik itu? Setankah? Ah, belum tentu! Jangan-jangan memang hati saya sudah tidak steril sebelum setan membisik.

Bagi saya, bisikan-bisikan itu sulit saya hindari. Karenanya, ia tetap saya jadikan teman, walau bukan teman akrab. Saya berangkat ke kantor ya udah naluri saja. Udah kewajiban. Udah kebiasaan. Apalagi saya udah lebih dua tahun bekerja di perusahaan penerbitan ini. Jadi, saya tidak berharap apa-apa lagi selain ingin belajar lebih dalam lagi mengenai yang saya geluti dari teman-teman kantor yang lebih senior dan junior.

Andai pun ada orang yang memuji saya karena datang pagi-pagi ke kantor, anggaplah itu bonus yang tak pernah saya rancang. Tapi jujur, saya tak pernah nyaman dengan pujian. Jika berniat memuji saya, pikirkan kembali. Alihkan saja pujian itu ke orang lain yang lebih pantas. Bener, nih? Bentar, saya pikir dulu, ya.

Dadah!

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Menikah bukan karena Cinta

Ini sebuah pengakuan, dan ini penting. Setidaknya menurut saya yang tidak berpengalaman. Dua minggu lalu, teman saya menikah. Karena saya ingin tahu bagaimana perasaan mereka setelah menikah, maka saya bertanya ke teman yang kini berstatus sebagai suami itu. Siapa tahu, setelah dia bercerita tentang pengalamannya, saya jadi bersemangat untuk menikah. Masyaaa??

Eh, tidak! Sebelum saya bertanya ini itu mengenai perasaan teman saya setelah menikah, lebih dahulu teman itu menepuk bahu saya dan bilang, “Ayolah, Bro! Nunggu apa lagi. Jangan sampai kamu terlalu asyik bekerja, hingga lupa mikirkan berumah tangga…” Saya bales senyum. “Iya juga, ya,” pikir saya dengan perasaan cemas. “Ya udah, bantu aku cariin lawannya! Gimana, Ente ini!” balas saya.

“Bener, mau, nih? Sini-sini, bentar…”sambil menuruni anak tangga kantor, teman saya bilang begitu. Teman saya itu menunjukkan foto seseorang dari akun instagramnya. Dia pun menyebutkan namanya, berasal dari mana, dan apa kegiatannya. “Baru lulus kuliah. Deket Palasari rumahnya. Cari yang deket-deket aja dulu. Dia akhwat banget, lho!” “Ya iyalah harus akhwat, masa ihwan! Hahaha…” balas saya. Saya dongakkan kepala saya untuk melihat foto seseorang yang teman saya tunjukkan di hapenya.

“Soalnya, kalo aku liat di postingan akun instagramnya, dia ini terus posting tentang nikah melulu. Kayak yang galau, gitu, deh. Hahaha. Kalau kamu mau dan serius, ya udah datangin keluarganya…”sambung teman saya itu dengan mimik muka serius, tapi masih senyum. “Ya, udah aku coba. Tapi gimana, aku bingung. Maksudnya, gimana kamu mempertemukan dia sama aku, Bro!” lontar saya. “Nanti malem saya coba hubungi dulu, ya..”

Kami pun ke parkiran motor. “Bro, aku mau nanya. Gimana perasaan kamu setelah menikah? Kalau sekira ada sesuatu yang menggembirakan, aku mau juga, dunk nikah. Hehehe..” Teman saya itu siap-siap menjawab, sambil mencantolkan plastik di motornya. “Aku jadi lebih tenang sekarang. Aku menikahinya bukan karena kita sama-sama cinta, tapi karena kami ingin menikah. Jadi, ya biasa saja. Cinta, aku pikir, seiring berjalan waktu akan tumbuh di antara kami…”jelas teman saya. Tentu saya ngangguk-ngangguk saja.

Dan……saya pun tak ada ide lagi untuk meneruskan tulisan ini. Oke, dadah, selamat melanjutkan tidur lagi.

 

 

 

 

Anjing Malam

Saya yakin ini yang dinamakan KDRT itu. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ini bisa dilakukan seorang suami terhadap istri. Pun sebaliknya. Bentuknya bermacam-macam. Ada kekerasan fisik dan nonfisik. Di antara keduanya, saya tidak tahu dampaknya yang lebih buruk yang mana.

Dua hari lalu, jelang tengah malam, obrolan kami sempat terpotong saat mendengar si Abang, suami si teteh tetangga kosan kami berkata kepada istrinya. “Maneh mah da anjing, goblog!” Terdengar di teteh terisak! Seketika, niat saya kepengen nikah tahun ini atau tahun depan buyar sudah! Hanya gara-gara itu?

Awalnya, saya menduga, mempunyai istri/suami itu menyenangkan. Eh, tahunya saya salah duga. Ternyata, apa yang terjadi dengan tetangga kosan yang telah menikah itu menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak sempat saya pikirkan. Sesunggunya siapa yang salah dan apa yang tengah terjadi dengan mereka, saya tidak tahu.

Pokoknya, sejak malam itu, saya jadi murung, sembari berpikir, ”Jangan-jangan kalau saya telah beristri saya melakukan seperti yang si abang lakukan terhadap istrinya.” Ah, rasanya saya harus berpikir ulang mengenai rencana saya menikahi seorang gadis yang saya impikan (siapa dia, emang udah ada?) Ah, saya bingung!

Malam itu, bukan saja omongan si abang kepada si teteh yang membuat saya jadi takut, tapi sebelum kata-kata si abang membuncah, terlebih dahulu terdengar plak…plak. Itu suara pukulan si abang yang didaratkan ke si teteh. Ya ampun! “Ya Tuhan, apakah saya harus menolong si teteh dan membogem si abang?” pikir saya.

Tidak. Tidak mungkin saya masuk ke kamar sebelah kosan saya mendatangi mereka dan bilang, ”Hai, Bang, apa yang kau lakukan terhadap istrimu? Kalau mau berduel, denganku saja! Anjing kau, Bang! Malam-malam gini! Ganggu orang tidur, tahu! Gimana kalau orang pada datang ke sini! Goblog!”

Sesungguhnya bila pun saya sampai mengatakan seperti itu, itu hanyalah ketiksengajaan. Apalagi saya selama ini tidak terbiasa bilang “anjing” maupun “goblog”, setidaknya secara terang-terangan. Andai itu benar-benar terjadi, itu hanyalah akibat keadaan sekitar yang menghendaki saya melakukannya.

Saya pikir lagi. Apa hak saya, tiba-tiba, tanpa salam masuk ke kamar mereka dan meluncurkan kata-kata—yang mungkin sudah sepatutnya saya muntahkan ke mereka. Eh, bukan mereka, tapi ke muka si abang yang kurang ajar itu. Kenapa saya katakan tidak mungkin saya mengatakan seperti itu?

Kau barangkali tidak tahu, sesaat setelah si abang memuntahkan kata-kata sampah terhadap si teteh, tiba-tiba Nasya, buah hati mereka yang berumur 3 tahun meraung, memanggil-manggil ibunya. Saya dengar dengan saksama, bersamaan dengan raungan Nasya, seketika itu pula si teteh berteriak tak beraturan,”Sudahlah, Bang! Aku mau pergi saja dari sini! Anjing!”

Setelah itu saya hanya dengar suara gelas terpelanting dari kamar sebelah. Tangisan Nasya kian menjadi dan suara pintu terbanting. Siapa yang keluar dari kamar mereka, saya tidak tahu. “Anjing!” kata teman saya lirih sembari membuang puntung rokok ke asbak di depan kami.

Pilihan

From: www.dream.co.id
From: http://www.dream.co.id

Tahun baru 2013—kala itu saya merayakannya di puncak gunung Dempo, Pagaralam, Sumsel. Ada keinginan, pergantian tahun 2014 ke 2015 saya merayakannya kembali di puncak gunung. Beberapa teman sudah ada yang ngajak saya ke gunung Bromo, sebagian lain minta ditemani ke Kerinci—malah, dua hari lalu—teman kuliah memaksa saya ke Ciremai.

Lain lagi teman SMA—mereka mengajak saya berpetualang ke Belitung, Tanjung Pandan—Negeri Laskar Pelangi pas libur Natal dan tahun baru ini. Tiga hari sebelum saya menulis ini, teman kantor ngajakin saya ke Taman Nasional Way Kambas—Lampung Timur—tempat para gajah bersekolah sekaligus tempat rekreasi keluarga.

Saya jadi bingung mau pilih ajakan teman yang mana. Manjat Bromo nan cantik, Kerinci yang aduhai atau Ciremai yang anggun? “Ke Belitung aja, di sana, kan ada kakakmu. Oke, ya? Kamu, kan belum ke Pulau Lengkuasnya dulu pas kamu ke sana? Asyik, lho!” goda hati saya. Tuhan, berilah hamba petunjuk untuk memilih yang teman-teman tawarkan. Segera!

Jujur, meski saya tinggal di Bengkulu dan sering melewati Lampung—kala saya liburan, nyatanya Pusat Konservasi Gajah (PKG) yang berada di Way kambas tersebut—hingga kini belum saya sambangi. Gimana kalau saya memilih ke Way Kambas saja? Apalagi, di sana juga terdapat International Rhino Foundation—yang tugasnya menjaga spesies badak agar tidak punah. Ah!

Bisa jadi saya tiba-tiba pesan tiket pesawat ke Bengkulu, sebab seminggu lalu, emak saya mengabarkan bahwa rambutan di pekarangan rumah mulai ranum. Tak hanya rambutan, tapi, “Iya, duren di depan dan di samping rumah juga siap jatuh. Di belakang dapur juga ada beberapa yang berbuah. Yang itu isinya kuning kayak mentega.”

Atau…atau…atau…atau…saya menikah saja? Saya minta doa dari para blogger—semoga Tuhan memilihkan saya yang pantas dan baik atas pilihan-pilihan di atas–utamanya akhir 2014 dan awal 2015. Dan, semoga pula pada 2015 kita berjumpa lagi dalam suasana berbeda dan lebih berkualitas—dalam hal apapun. Yuk, mareeee!