Resmi Pindah Kosan

Gambar dari: www.wartapunyamedan.com
Gambar dari: http://www.wartapunyamedan.com

Saya resmi menempati kosan baru sejak awal Oktober 2014. Saya memutuskan pindah dari kosan lama karena beberapa alasan yang harus saya sebutkan di sini.

Pertama, saya sudah setahun di kosan itu, jadi harus segera cari tempat baru yang lebih menggairahkan. September lalu genap satu tahun saya ngekos di wisma hijau itu. Buat saya, cukup setahun sajalah merasakannya, enggak perlu lama-lama.

Kedua, aspirasi penghuni kosan enggak didengar pengelola kosan. Ini yang membuat saya jadi tidak bergairah lagi tinggal di sana. Mungkin sudah setahun lalu saya katakan ke pengelola kosan, ”Pak, lampu depan kamar kami enggak ada lampunya, bisa dipasang?” Si bapak jawab, ”Iya, nanti, ya.” Dan sampai saya pindah, lampu itu belum juga dipasang. Ya udah, saya keluar. Saya memang cengeng!

Ketiga, penghuni kosan diwajibkan ngeronda. Awalnya, sebelum lebaran kemarin, jadwal ronda di lingkungan RT kami sebulan dua kali. Yang enggak hadir untuk satu kali ronda didenda Rp. 50.000/orang. Saya senang pada awalnya, meski hati agak menolak. Tapi setelah saya pikir-pikir, baik juga adanya ronda yang melibatkan anak kosan. Selain bisa banyak kenal dengan orang-orang sekitar RT, ngeronda juga bentuk kepedulian kita terhadap keamanan lingkungan. Ceileeeee!

Belakangan, saat saya bayar kosan dua bulan lalu, bapak kosan memberikan selembar kertas, ”San, ini ada pesan. Bisa dibaca nanti, ya.” Pas di kamar, saya langsung baca isi pesan yang tertulis di selembar kertas itu. Salam sejahtera. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Sehubungan dengan telah ditetapkannya jadwal ronda, maka kami tegaskan untuk tetap dilaksanakan sebaik-baiknya. Bila merasa keberatan dengan peraturan yang ada, maka dipersilakan untuk menempati kosan lain yang lebih cocok. Wasalam. Pengelola kosan.

Keempat, volume air kamar mandi kecil dan warna air kuning. Walau begitu, selama setahun itu saya kuat, kok bertahan dengan keadaan seperti itu. Istilahnya, saya itu sabar. Hahaha. Diakui, di kawasan kami itu sekelilingnya area persawahan. Jadi wajar kalau itu berpengaruh terhadap air yang kami konsumsi. Makanya, di ujung keran kamar mandi saya balut dengan kain yang tujuannya menyaring supaya warna air tidak kuning. Lumayan, dengan begitu air jadi jernih dan untungnya tidak merusak pakaian.

Kelima, sudah dua motor yang hilang di kosan itu. Kosan kami itu bangunannya tingkat dua dengan jumlah kamar lebih dari dua puluh. Kosan itu termasuk bangunan baru dengan gerbang besi mentereng di depannya. Entah kenapa, selama saya setahun tinggal di wisma itu, dua motor dengan jenis dan merek berbeda raib pada malam harinya. Padahal, tiap malam gerbang yang terbuat dari terali besi itu selalu dikunci. Anehnya, saat kehilangan dua benda berharga itu, si gembok gerbang dirusak oleh si maling tanpa kami dengar suara kelontang-kelonteng! Mungkin kami dibuat terlelap oleh si maling. Bisa juga kami dihipnotis malam itu. Kejadian hilangnya motor kawan kami itu sebelum jadwal ronda intensif dilakukan. Tapi, ada kabar tak sedap, bahwa meski jadwal ronda telah aktif, eh tetap saja satu buah motor tetangga yang rumahnya tak jauh dari kosan kami, juga hilang digondol orang! Jadi, percuma, dunk ada ronda? I don’t know lah!

Keenam, ya sudah kalau begitu saya memutuskan pindah kosan sejak dua hari lalu ke tempat yang peraturannya saya senangi dan tidak memberatkan. Kalau menurut saya terlalu ribet aturan di kosan lama, kenapa pula harus dipertahankan. Lebih baik cari kosan yang adem ayem. Iya, kan?

Asal kau tahu, ya. Di kosan yang baru ini, saya merasa nyaman. Tempatnya itu di bibir kali—yang kata saya sebelumnya itu airnya tercemar. Ya enggak terlalu di bibir juga, sih. Begitulah, setelah saya banding-bandingkan dengan kosan lama, kosan baru lebih sejuk dan adem. Itu pertama yang saya suka.

Selanjutnya, saya sekarang sedang menikmati kosan yang baru. Mudah-mudahan lebih nyaman dibanding kosan lama. Yu ah tidur! Met tahun baru Islam bagi orang Islam.

Asyik! Dapat Jadwal Ronda

Gambar diambil dari: www.masduwi.wordpress.com
Gambar diambil dari: http://www.masduwi.wordpress.com

Saya itu di kosan dapat jadwal ronda dari pengurus RT tadi malam. Saya juga kaget, kok penghuni kosan dilibatkan dalam ronda-meronda di lingkungan RT saya? Sejenak saya berpikir, bagus juga saya dan teman-teman kosan diikutsertakan dalam menjaga kemananan lingkungan. Itu artinya, saya dan penghuni kosan pun bertanggungjawab besar dalam menjaga keamanan di mana kami tinggal.

Selain itu, bagus juga kata saya ke beberapa teman kosan kalau kita diminta ikut dalam kegiatan RT, termasuk ronda itu. Kenapa saya sebut bagus? Karena tentu saya pribadi bisa lebih kenal lagi dengan warga—yang tadinya tidak begitu kenal. Apa hubungannya? Iya, jadwal ronda itu, kan tiap malam bukan satu atau dua orang, tapi—saya lihat di jadwal yang terlampir sekitar 12 orang untuk sekali ronda. Nah, tentu kesempatan seperti ini jadi ajang saling kenal.

Masalahnya itu, oke kalau jadwal saya ronda itu pas kebetulan hari libur—misalnya malam Sabtu dan malam Minggu. Tapi kalau jadwal saya diletakkan di hari-hari aktif, Senin-Jumat, ampun, deh Pak RT—saya enggak bisa! Bukan apa-apa, sebagaimana jadwal ronda yang terlampir, mulai meronda itu sejak pukul 22.00-04.00 WIB. Bayangkan kalau jadwal saya ronda Senin atau Rabu misalnya. Saya bergadang, dong? Lalu pukul 08.00 WIB saya mesti berangkat ke kantor. Wah, ini BOCOR! BOCOR! Saya enggak mau, pokoknya!

Saya katakan saja ke salah satu pengurus RT—yang malam itu kebetulan mengantar jadwal undangan ronda ke saya. Namanya Pak Ridwan—yang tak lain dia ini adalah pengelola kosan saya. “Tapi, Pak, jadwal saya di kertas ini mulai ronda minggu pertama Juli 2014 hari Senin. Pak, pindah, ya jadwal saya ke Jumat malam Sabtu? Soalnya, kan saya kerja, Pak! Kalau saya tidak kerja di kantor mah, saya mau aja ronda kapan pun. Oke, ya, Pak?” pinta saya ke Pak Ridwan dan dijawab langsung sama dia,”Iya, nanti saya pindahkan!”

Di tengah asyik negoisasi dengan Pak Ridwan, eh tiba-tiba muncul Rangga—yang tak lain adalah teman kosan—yang lagi-lagi dia ini juga teman satu kantor saya. “Pak, saya juga jadwal rondanya tuker aja ke hari Jumat malam Sabtu, bareng aja sama si Hasan. Saya juga, kan kerja, Pak! Bisa aja, sih, Pak saya ronda pada malam Selasa, tapi sampe jam dua belas malam! Kalau sampai jam empat, ntar saya di kantor ngantuk, pasti enggak efektif. Mana di kantor terlarang ngerokok, Pak!” Pak Ridwan terpaksa meng-oke-kan pinta lelaki kerempeng itu.

Awalnya, saya dan beberapa teman di kosan sepakat tidak mau ngeronda meski ada jadwalnya. Kami cukup bayar saja ke RT tiap salah satu dari kami mendapat giliran ngeronda. Begitu awalnya. Tapi setelah membaca dengan lengkap pada lembaran kertas pertama—di sana tertulis: “Tidak hadir ronda sekali didenda Rp. 50.000.” Dan, bagi yang tidak hadir ronda sampai lima kali dendanya fantastis: Rp. 500.000! Alamak!

Tadinya, kalau denda tidak ikut ronda cuma Rp. 5000—saya dan beberapa teman akan bayar saja ke pengurus RT. Eh, karena denda tidak hadir ronda sekali saja cukup besar, maka kami putuskan tetap ikut berpartisipasi ronda—tetapi dengan syarat kami rondanya pada hari di mana kami libur: Jumat malam Sabtu atau Sabtu malam minggu. Dan alhamdulillah apa yang kami mau dikabulkan. Yes!

Saya tanya akhirnya ke Pak Ridwan apa saja, sih kegiatan meronda itu. “Ya paling-paling berkeliling di sekitar kompleks RT kita. Udah itu ya nga-liwet (masak nasi) bareng. Asyik, kok!” Perlu juga diketahui, bahwa dua bulan lalu di kosan kami telah hilang sebuah motor Mio warna merah milik salah satu kawan kami, Kang Asep. Dan, sekitar tiga bulan sebelum motor Kang Asep raib, di kosan yang sama hilang pula sebuah motor Supra X milik Ajang. Dua hari setelah kehilangan, Ajang langsung pindah kosan, entah ke mana. Sementara Kang Asep sampai sekarang masih bertahan.

Apakah karena kejadian itu kami penghuni kosan ini diminta ngeronda mulai bulan ini? Padahal, selama saya ngekos sewaktu kuliah tak pernah, tuh mahasiswa diminta pengurus RT di lingkungan saya untuk ngeronda. Ya, memang baru kali ini saya ngekos diikutsertakan untuk ngeronda. Ah, asyiknya!