Mudik #Part 2

hai, apa kabar para blogger yang baik hatinya?

o, iya. saya waktu itu janji mau cerita tentang perjalanan mudik dengan cara estafet, cara yang sebelumnya tidak pernah saya lakukan.

begini. saya lupa lagi tanggal berapa saya berangkat dari bandung untuk memulai perjalanan mudik waktu itu. jelasnya, 4 atau 5 hari sebelum lebaran. atau sehari atau dua hari sebelum puncak arus mudik.

ok. selepas pulang kantor, kebetulan hari itu kantor kami masuk setengah hari, sebab hari itu hari terakhir ngantor. sekitar pukul 15.00 waktu kota bandung, saya dan adik ke terminal leuwi panjang dengan menumpang mobil seorang teman. Dia sendiri yang nawarin,”Hayu aku anterin ke terminal!” Jujur, saya males nolak!

lama juga kami harus sampai ke terminal leuwi panjang dari cinambo. klasik: MACET! Tapi, itu kami nikmati sambil ngobrol. tak sedikit pun di antara kami mengeluhkan tentang padatnya kendaraan. untuk apa? saya pikir tiada guna. Andai pun ada yang mengeluh ketika itu, saya akan menyuruhnya turun dari mobil dan silakan pilih kendaraan lain. untungnya tidak! Alhamdulillah.

“Turun di sini aja, Bro!” kata saya ke teman saya ketika mobil yang kami tumpangi nyaris sampai di depan pintu gerbang terminal leuwi panjang. pukul 16.30. saya dan teman berpisah. Terjadilah dadah-dadahan di antara kami, cuma tanpa MUUUAAAACH! tengkiyu, brader, kata saya.

langit mendung. Kenapa mendung? Karena saya lihat sendiri ke atas langit. Merintik pula. saya dan adik setengah berlari menuju dalam terminal. Saya menuju bis Arimbi: BANDUNG-MERAK. Ada sekitar 2 atau 3 lagi armada busnya. Saya juga khawatir. Jangan-jangan bisnya penuh. Males kalo gak kebagian kursi. Males berdiri. Gak nyaman berdesak-desakan.

yang saya khawatirkan tidak terjadi. Pas saya dan adik memasuki bis, eh, kursi bis masih lowong. Baru ada sekitar 5 orang di dalam bis. Gak tahu persis siapa mereka dan pekerjaannya apa. Jelasnya, di barisan kursi sebelah kiri ada seorang anggota TNI. Mungkin mau mudik juga, sama kayak saya. Aman lah pokoknya kalau di bis ada tentara. Minimal kalo ada pengamen yang tak santun, dia bisa diandalkan untuk menanganinya.

Penjual gorengan masuk bis. Nawarin dagangannya ke setiap penumpang. Dari penumpang di depan sampai belakang. “Gorengannya A sarebuan. gorengannya, teh. Persiapan untuk buka,” lontar si mamang yang mengenakan topi hitam. Karena saya takut di rest area bis ini gak berhenti, maka saya beli gorengan 7 ribu ke si mamang itu, sekalian buat buka puasa. “Nuhun A,” ucap si penjual gorengan. Sementara air mineral botolan saya beli dari pedagang lain yang berseliweran di dalam bis

Bis mulai maju perlahan. Kenek bis terus berkoar: MERAK…MERAK. Para penumpang juga sibuk dengan dirinya masing-masing. Ada yang ngobrol. Bayi nangis. Khusyuk dengan gadgetnya. Ada pula yang makan-minum, walau bedug magrib belum berkumandang. Saya juga sempat tergoda buka puasanya pengen dipercepat. Juga didorong alasan bahwa saya ini MUSAFIR, jadi diperbolehkkan tidak puasa. Ah, males! Tanggung! Ini udah pukul 17.00. sejam lagi juga magrib. Akhirnya saya kuatkan lagi niat untuk menyelesaikan puasa saya. Yes!

Bis udah masuk tol purbaleunyi. Hape saya mati. Habis daya. Saya minta ke adik saya tolong kasih tahu emak dan apak bahwa kita baru berangkat dari bandung menuju merak. Minta doa mereka. “Yang puasa, silakan buka. Udah magrib!” kenek bilang gitu tiba-tiba. Oi, alhamdulillah! Akhirnya! Gorengan dingin yang tadi saya beli, saya lahap perlahan, setelah sebelumnya minum air mineral.

Lagu cirebonan yang mengalun di dalam bus membuat saya mengantuk. Merak masih lama. Mungkin ada sekitar 3 jam-an lagi. saya lebih baik tidur dulu, biar nanti pas bangun udah nyampe Merak. Eh, tapi saya belum salat magrib. Saya pun tayamum lalu salat magrib dan isya dijama’.

Oke, setelah salat saya langsung tidur…BERSAMBUNG…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mudik #part 1

Awalnya saya enggan mudik tahun ini. Enggan sekali. Karena, ritual tahunan itu sudah begitu lama saya jalani. Ada rasa bosan. Bukan tidak rindu kedua orangtua dan keluarga, melainkan, saya akan mengunjungi mereka di luar hari mudik, misalnya 3 minggu setelah lebaran. Biar sepi. Biar ongkosnya pun normal, tidak gila seperti saat ini.

Namun, rencana itu gagal! Gagal total gara-gara adik saya ngajakin bareng mudik, karena kita berdua sudah tinggal di satu kota. “Ayolah, sekali ini saja. Saya gak enak kalo mudik sendiri.” Kasian juga saya pas mendengarnya. “Oke, tapi saya gak mau naik pesawat! Kita estafet saja kalo mau! Saya tak mau buru-buru nyampe rumah. Saya mau menikmati perjalanan!”

Adik saya setuju. “Oke! Siapa tahu jadi ngirit ongkos! Lagian kita siangnya puasa, jadi gak banyak makan. Kecuali udah lelah banget, ya udah berbuka aja, apalagi  kita musafir!” “Ah, musafir! Musafir dengkulmu, Bro!” kata saya serius.

Saya belum pernah mudik dengan cara estafet. Makanya saya akan coba tahun ini. Siapa tahu lebih asyik. Siapa tahu lebih irit. Biasanya, selama ini, kalau saya pulang ke Bengkulu, ya naik pesawat atau bis Bandung-Bengkulu. Bis SAN, Putra Rafflesia, atau Bengkulu Kito.

Saya iseng cek harga tiket pesawat di traveloka beberapa hari lalu, uh, udah naik 700 ribu (yang biasa 400-an). Saya tanya ke loket bis di Caringin (jurusan Bandung-Bengkulu), eh, naik juga: 575 ribu (yang biasa 375). Ya udah, saya kira estafet adalah cara terbaik, meski saya belum bisa memprediksi seperti apa perjalanannya nanti. Moga lebih irit. Jika pun membengkak, ah, itu risiko saya, bukan siapa-siapa, apalagi Anda.

Ok, bismilah. Rencananya, saya berangkat jumat besok setelah magrib dari Leuwi Panjang, Bandung menggunakan bis ke Merak. Bis Arimbi atau Bima Suci. Saya tidak tahu berapa ongkos Bandung-Merak dengan bis itu. Teman bilang 85 ribu. Walau naik, semoga kenaikannya tidak membuat saya dan adik membatalkan mudik! Perjalanan Bandung-Merak sekitar 6 jam. Kalau lancar. Semoga saja lancar ya Allah. Jika tidak, jangan pula jadikan kami hamba yang mengomel.

Pastinya, setelah di Merak, kami cari penjual tiket kapal laut untuk menyeberang ke Bakauheuni, Lampung. Baca-baca di internet, kapal laut Merak-Bakauheuni beroperasi 24 jam. Semoga. Ongkosnya saya belum tahu berapa per-orang. Ada yang bilang 13 ribu. Ada juga 15 ribu. Mana yang benar? Tunggu, ya pada tulisan saya setelah lebaran, Guys.

Karena niatnya pengen jalan-jalan dulu, jadi begitu nyampe di pelabuhan Bakauheuni, ya diam dulu. Nyantai dulu, menikmati udara di sana. Menikmati orang-orangnya. Semuanya akan kita nikmati dulu, baru setelah itu kita lanjutkan ke Bandar Lampung. Kebetulan, saya belum pernah ke kotanya. Mau naik bis atau travel, itu juga saya belum tahu. Ya, gimana nanti lah. Kadang hidup memang tak harus sesuai rencana. Haha.

Begitulah rencana mudik saya kali ini. Saya belum tahu, dari Lampung ke Bengkulu mau naik apa. Bis atau travel, belum kepikiran. Soalnya mau diitung-itung dulu. Bis berapa, travel berapa, dan kalau jalan kaki berapa lama. Atau, saya sih berharap bisa naik truk. Kali aja ada supir truk yang butuh teman selama perjalanan Lampung-Bengkulu. Atau juga, naik mobil teman, yang tiba-tiba ketemu di jalan, yang dia juga mau ke Bengkulu. Ah, itu semua hanya hayalan, Kawan! Tapi, kalau ada kesempatan, kenapa juga diabaikan, ya, kan?

Ok, Guys! Met mudik, ya.

Mudikmu bukanlah mudikku.