Ngredit Lagiiii, ah!

Sekiranya saudara tidak disiplin membayar kreditan motor, ya jangan coba-coba kredit motor. Nanti yang susah juga saudara. Pikirkan sampai 10 kali andai benar saudara kepengen kredit motor. Pikirkan, nanti uang cicilannya dari mana, terus, bisa konsisten enggak bayarnya. Jika masih mikir,”Dari mana, ya ntar duitnya?”, tak usah lah saudara kredit motor. Mening nabung emas aja! Haha.

Teman saya bilang, nyicil motor kreditan itu hanya semangat di awal. “Pengalaman aku gitu, kok! Awal-awal ya semangat, eh pas pertengahan, males banget mau bayar. Bayangin, tiap bulan kudu nyetor duit ke orang lain!” Dia juga mengingatkan,”Kalau mau beli motor,  nabung, dung! Yang seken aja belinya! Ada duit 3 atau 5 juta kamu bisa dapet motor bagus, kok! Percaya, deh sama aku!” Saya percaya Tuhan, bukan kamu.

Saya setuju itu. “Tapi aku pengen yang baru, Bro! Biar kece dan tenaga motornya mantap!” kata saya. “Boleh aja kamu mau ngambil dengan cara kredit. Tapi ingat, bayarnya tolong disiplin. Jangan telat. Emangnya mau dikejar-kejar depkolektor!? Terus, kalau mau ngredit, saranku, jangan lebih dari setahun setengah! Masa mau kredit motor ampe 3 tahun?? Mikir! Mikir!”

Omongan teman itu mengingatkan saya ketika saya pernah nyicil motor selama dua tahun. Asem! Itu terjadi tiga tahun lalu. Coba, deh bayangkan oleh saudara. Waktu itu, gaji saya 1,3 juta perbulan. Cicilan motor 520 ribu. Yang enggak mengenakkan itu, sehari atau dua hari sebelum jatuh tempo, si pihak leasingnya udah menelepon saya. Itu mungkin akibat beberapa kali saya pernah telat bayar! Yah!

Bukan tidak mau disiplin bayarnya, tapi ketika saya udah gajian, saya suka males untuk membayarnya! Jadinya suka nyantai gitu. Eh, tahu-tahu duit yang udah dipisahkan untuk bayar cicilan motor udah ludes! Terpaksalah saya membuat orang lain ikut susah dan prihatin dengan keadaan saya. Mulailah saya gerilya sana-sini untuk minjam duit. Saya. Saya. Saya. Jangan begitu, ya. Eh iya, motor saya itu udah saya jual ke saudara saya.

Baiklah. Jika saya mau motor baru lagi, ya nabunglah dulu dengan sabar, setelah terpenuhi, baru beli cash! Ya, beli cash! Hindari ngredit kalau bisa. Ingat, ya KALAU BISA. Saya pahamlah, ngredit itu bikin pusing kepala. Tapi, baru-baru ini saya dapat kabar jika leasing akan mempersulit orang yang mau beli motor secara cash! Apa benar? Ah, saya tidak tahu. Tapi saya harap itu benar.

Dua hari lalu, adik saya ngirim pesan via BBM. “Kak, talangin dulu buat bayar motor. Sabtu gak dibayar motor diambil leasing! Tolongggggggggggg…” Ah, si bungsu ini emang suka bikin kejutan. Dia bilang begitu pas saya enggak pegang duit. Ada duit pun, saya belum tentu kasih pinjam, siapa tahu saya ada kebutuhan yang lebih mendesak dari itu. “Coba pinjam ke kakak yang lain. Aku bokek!”

Dua minggu lalu, pas makan siang, salah satu teman kantor mengeluh. “Aku pusing banyak cicilan. Rumah lah, motor lah, kulkas, belum yang lain. Aku mau oper kredit motor, mau gak kamu nerusin? Lagian kamu gak punya cicilan, kan? Jomblo gitu, nyicil apa, coba. Haha…” lontar teman. Semoga saya tidak tergoda, Tuhan. Sebab saya tahu banget bagaimana keadaan saya ketika ngredit!

Esoknya,”Kamu tinggal bayar depe ke aku dan bayar cicilan ke-4 bulan ini. Ayo, mau, ya?” Eh, ya Tuhan. Ini godaan atau saya memang harus menolong dia, ya? “Okelah! Tunggu gajian!” Tiba-tiba saya bilang begitu sambil mikir segala konsekuensi yang akan saya terima selama saya nyicil nanti. Ya Tuhan, saya ngredit lagi. Ya Tuhan, saya nyicil lagi tiap bulan selama 30 bulan. Alhamdulillah. Awal tahun dibuka dengan cicilan motor. Lancarkan. Kuatkan. 

 

 

 

 

 

 

 

Resmi Pindah Kosan

Gambar dari: www.wartapunyamedan.com
Gambar dari: http://www.wartapunyamedan.com

Saya resmi menempati kosan baru sejak awal Oktober 2014. Saya memutuskan pindah dari kosan lama karena beberapa alasan yang harus saya sebutkan di sini.

Pertama, saya sudah setahun di kosan itu, jadi harus segera cari tempat baru yang lebih menggairahkan. September lalu genap satu tahun saya ngekos di wisma hijau itu. Buat saya, cukup setahun sajalah merasakannya, enggak perlu lama-lama.

Kedua, aspirasi penghuni kosan enggak didengar pengelola kosan. Ini yang membuat saya jadi tidak bergairah lagi tinggal di sana. Mungkin sudah setahun lalu saya katakan ke pengelola kosan, ”Pak, lampu depan kamar kami enggak ada lampunya, bisa dipasang?” Si bapak jawab, ”Iya, nanti, ya.” Dan sampai saya pindah, lampu itu belum juga dipasang. Ya udah, saya keluar. Saya memang cengeng!

Ketiga, penghuni kosan diwajibkan ngeronda. Awalnya, sebelum lebaran kemarin, jadwal ronda di lingkungan RT kami sebulan dua kali. Yang enggak hadir untuk satu kali ronda didenda Rp. 50.000/orang. Saya senang pada awalnya, meski hati agak menolak. Tapi setelah saya pikir-pikir, baik juga adanya ronda yang melibatkan anak kosan. Selain bisa banyak kenal dengan orang-orang sekitar RT, ngeronda juga bentuk kepedulian kita terhadap keamanan lingkungan. Ceileeeee!

Belakangan, saat saya bayar kosan dua bulan lalu, bapak kosan memberikan selembar kertas, ”San, ini ada pesan. Bisa dibaca nanti, ya.” Pas di kamar, saya langsung baca isi pesan yang tertulis di selembar kertas itu. Salam sejahtera. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Sehubungan dengan telah ditetapkannya jadwal ronda, maka kami tegaskan untuk tetap dilaksanakan sebaik-baiknya. Bila merasa keberatan dengan peraturan yang ada, maka dipersilakan untuk menempati kosan lain yang lebih cocok. Wasalam. Pengelola kosan.

Keempat, volume air kamar mandi kecil dan warna air kuning. Walau begitu, selama setahun itu saya kuat, kok bertahan dengan keadaan seperti itu. Istilahnya, saya itu sabar. Hahaha. Diakui, di kawasan kami itu sekelilingnya area persawahan. Jadi wajar kalau itu berpengaruh terhadap air yang kami konsumsi. Makanya, di ujung keran kamar mandi saya balut dengan kain yang tujuannya menyaring supaya warna air tidak kuning. Lumayan, dengan begitu air jadi jernih dan untungnya tidak merusak pakaian.

Kelima, sudah dua motor yang hilang di kosan itu. Kosan kami itu bangunannya tingkat dua dengan jumlah kamar lebih dari dua puluh. Kosan itu termasuk bangunan baru dengan gerbang besi mentereng di depannya. Entah kenapa, selama saya setahun tinggal di wisma itu, dua motor dengan jenis dan merek berbeda raib pada malam harinya. Padahal, tiap malam gerbang yang terbuat dari terali besi itu selalu dikunci. Anehnya, saat kehilangan dua benda berharga itu, si gembok gerbang dirusak oleh si maling tanpa kami dengar suara kelontang-kelonteng! Mungkin kami dibuat terlelap oleh si maling. Bisa juga kami dihipnotis malam itu. Kejadian hilangnya motor kawan kami itu sebelum jadwal ronda intensif dilakukan. Tapi, ada kabar tak sedap, bahwa meski jadwal ronda telah aktif, eh tetap saja satu buah motor tetangga yang rumahnya tak jauh dari kosan kami, juga hilang digondol orang! Jadi, percuma, dunk ada ronda? I don’t know lah!

Keenam, ya sudah kalau begitu saya memutuskan pindah kosan sejak dua hari lalu ke tempat yang peraturannya saya senangi dan tidak memberatkan. Kalau menurut saya terlalu ribet aturan di kosan lama, kenapa pula harus dipertahankan. Lebih baik cari kosan yang adem ayem. Iya, kan?

Asal kau tahu, ya. Di kosan yang baru ini, saya merasa nyaman. Tempatnya itu di bibir kali—yang kata saya sebelumnya itu airnya tercemar. Ya enggak terlalu di bibir juga, sih. Begitulah, setelah saya banding-bandingkan dengan kosan lama, kosan baru lebih sejuk dan adem. Itu pertama yang saya suka.

Selanjutnya, saya sekarang sedang menikmati kosan yang baru. Mudah-mudahan lebih nyaman dibanding kosan lama. Yu ah tidur! Met tahun baru Islam bagi orang Islam.

Mana Kunci Motormu? Udah, Tinggalin aja di Parkiran

Untungnya, saya masih menyimpan beberapa foto saat berlibur ke Tanjung Pandan, Belitung, 3 tahun lalu. Beberapa tempat wisata nan eksotis yang ada di negeri Laskar Pelangi tersebut, pun saya kunjungi. Saya hanya ingin membuktikan, benarkah keindahan alam yang ditampilkan di film besutan Riri Riza itu benar-benar bukan khayalan? Eh, ternyata, benar, batu-batu besar yang disorot di film hasil adaptasi novel Andrea Hirata itu tak bohong. Pokoknya, indah banget, deh! Saya mau ke sana lagi suatu saat, tapi entah kapan. Mungkin kalau nanti merayakan bulan madu. Ha.

Untuk sementara ini, saya tidak hendak membagikan soal keindahan alam Belitung, tetapi pengalaman lain saya ketika jalan-jalan ke salah satu pasar di Kota Tanjung Pandang suatu pagi bersama adik, kakak, dan kakak ipar. Saat memasuki kawasan pasar itu, saya terkaget-kaget melihat motor yang terparkir di sekitar pasar itu, kunci kontaknya kok masih tergeletak di tempatnya, alias terbujur di lubang kunci itu. Maka, saking penasarannya, saya mencoba berkeliling di antara puluhan motor yang terparkir. Dan benar, anak kunci itu masih bertengger di motor!

Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.
Tuh, kan, bener! Dua motor bergandengan, liat kuncinya, kan masih bergantung.

Saya tanya ke salah satu pedagang sayur-mayur di sana. Kata si ibu itu, memang sengaja para pemilik kendaraan, terutama motor sengaja tidak mencabut kunci motornya. Kenapa, ya? “Di sini memang nyaman, kok, Dek! Udah biasa, di Belitung ini tidak ada yang maling. Kita di sini sudah saling menjaga.” begitu kata ibu-ibu yang menjual wortel dan sayur lainnya saat saya tanya alasan kenapa pemilik motor tak mengambil kuncinya.

Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.
Motor merek lain, dan di tempat berbeda, tapi masih di sekitar pasar.

Saya lihat, di sana memang berkeliaran tukang parkir. Si juru parkir, selalu mengingatkan kepada warga yang hendak memarkir motornya, untuk tidak mengunci stang motor. Rupanya, ini untuk memudahkan mereka kalau ingin menggeser atau memindahkan motor supaya lebih rapi dan tidak parkir sembarangan. Makanya, kebetulan, kakak saya pun waktu itu membawa motor dan memarkirkan motornya di depan gedung pasar. Eh, ternyata, kakak saya ini pun tak mengambil kunci motornya. “Enggak, tenang aja. Di sini aman, kok!” ucap kakak  ke saya yang tampak khawatir.

Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.
Nah, ini kan motor mahal, tapi, lihat, kuncinya masih tidur di situ.

Makanya, karena menurut saya itu hal unik, kamera poket yang saya bawa tak disiasiakan. Beberapa motor yang terparkir pun saya bidik, terutama titik tembaknya tepat pada kunci yang masih menggantung. Kontan, beberapa orang di sekitar pasar, sesekali melirik saya sambil ketawa-tawa. Ah, saya cuek saja, yang penting kan saya bukan sedang mengincar salah satu motor, untuk kemudian dibawa kabur. Ah, kalau ke Belitung lagi, saya mau ke pasar lagi, mau lihat-lihat, masih adakah kunci motor menempel saat diparkir.

Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Bener, ya, kunci motor saja ditinggal, mungkin besok-besok dompet.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.
Foto terakhir ini, ya bisa dibilang bonus lah! Ya, gambar ini juga masih dari Belitung, di pasar itu.