15 Menit Bersama Mahar Laskar Pelangi

koleksi pribadi
Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, Kucai, dan adik saya.

Mahar pemain film Laskar Pelangi meninggal. Begitu tulis adik saya di status BBM, Selasa (13/1) sore kemarin. Tak lama, displey picture (DP) BBM adik berganti dengan foto—setelah saya perhatikan, ternyata saya mengenalnya, bahkan di dalam foto tersebut terlampir diri saya, Verrys Yamarno (Mahar), Yogi Nugraha (Kucai), dan adik saya.

Saya baru ingat—pada 2009 saya dan adik saya berlibur ke Belitung—yang sekaligus menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana. Secara kebetulan, di Belitung juga tinggal kakak saya yang ketiga.

Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, dan Kucai.
Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, dan Kucai.

Tentu di sela-sela liburan itu, kami tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja tanpa menelusuri lokasi shooting film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Andrea Hirata tersebut. Dan, kalau bisa, pikir saya, kita harus ketemu dengan para pemain filmnya.

“Mumpung kalian di sini, mau enggak main ke rumah pemain film Laskar Pelangi nanti sore?” kata kakak saya, yang membuat saya bertanya, benarkah? Malu, ah ketemu artis, celetuk hati saya.

Mahar, selamat jalan.
Mahar sedang menelepon. Entah dengan siapa.

Belum saya menjawab, kakak tadi melanjutkan,”Setelah kita nonton sepak bola, barulah kita ke rumahnya. Kata teman mbak (istri kakak saya), rumah si Kucai enggak jauh dari stadion. Nanti kalian bisa berfoto buat kenang-kenangan!”

Benar saja, sebelum asar, kami bertiga lalu meluncur ke stadion kebanggaan warga Tanjung Pandan, Belitung guna menonton pertandingan sepak bola antarkecamatan se-Kabupaten Belitung. Entah dalam rangka apa, persisnya saya lupa lagi. Maklum, 2009 bro kami ke sana!

Kucai sedang memetik gitar
Kucai sedang memetik gitar

Di tengah pertandingan sepak bola yang kian menguras emosi, kakak bilang,”Hayu ah kita ke rumah Kucai. Barusan mbak sms, kata temannya Kucai sedang ada di rumah sama pemain film yang lain. Cepat, ah, keburu sore!”

Tak sulit mencari rumah orangtua Kucai. Tinggal berjalan ke arah utara dari stadion—sembari bertanya ke salah satu penduduk, eh langsung ketemu. “Lurus aja dari sini. Nanti ada rumah di sebelah kiri yang bercat hijau.” Hore, rumah Kucai pun ditemukan!

Ini sedang di Tanjung Tinggi, salah satu lokasi shooting film Laskar Pelangi.
Ini sedang di Tanjung Tinggi, salah satu lokasi shooting film Laskar Pelangi.

Sampai di rumah bercat hijau itu, seorang ibu menyambut kami,”Ya, ini rumah Kucai pemain film Laskar Pelangi. Itu di kursi ada Mahar!” Si ibu pun memanggil-manggil Kucai. Sebelum Kucai datang, Mahar terlebih dahulu menyalami kami sembari tersenyum. “Eh, ini Mahar, ya? Apa kabar?” kata saya. Dia bilang baik.

Tak berapa lama, Kucai muncul dari ruang dapur. Tersenyum, tapi juga agak kikuk. Saya duluan menyapa,”Kucai, ya?” Dia senyum saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin bingung kami ini siapa dan ada keperluan apa. “Boleh kami berfoto bersama kalian, ya?” Kedua pemain FLP itu mengangguk.

Sama, masih di Tanjung Tinggi.
Sama, masih di Tanjung Tinggi.

Selamat jalan Mahar. Kami nyusul, tapi entah kapan.

Iklan

Tak Cukup Doa Buat Palestina

Gambar diambil dari: www.alsofwa.com
Gambar diambil dari: http://www.alsofwa.com

Ramai-ramai mata dan hati kita tertuju kepada Palestina beberapa hari terakhir ini. Ini barangkali sebentuk rasa simpati kita terhadap korban meninggal dunia karena tank-tank Israel yang kurang ajar itu telah menghabisi nyawa orang tak bersalah. Hati jadi teriris tatkala yang jadi korban adalah kebanyakan anak-anak. Sekali lagi, fuck you tentara Israel!

Saya pikir, untuk bersimpati terhadap para korban keganasan Israel tak cukup hanya mengantarkan doa. Mereka itu saat ini butuh bantuan, tak sekadar doa, tapi bantuan berbentuk materil lah setidak-tidaknya. Maka perlu barangkali penggalangan dana yang masif buat para keluarga korban di sana, di jalur Gaza. Bukan berarti doa enggak boleh, lho. Boleh-boleh saja. Tapi, itu belum cukup. Mengutuk saja, misalnya di media sosial kebiadaban Israel, ah itu rasanya tidaklah cukup!

Yang perlu dilakukan oleh kita, kalau kita memang benar-benar sayang sama orang Palestina adalah tindakan nyata. Saya ulangi lagi, tak cukup kita berkoar-koar di medsos, sementara uang recehan pun tak keluar dari dompet kita. Mungkin kita bingung, mau nitip sama siapa duit itu? Tenanglah. Bakal ada lembaga/organisasi yang akan menghimpun dana kelak oleh orang yang tepercaya dan langsung diserahkan ke perwakilan di Palestina.

Saatnya berhenti berkicau, menulis status, misalnya,”Let’s pray for Gaza atau Palestina!”, kalau kita tak ada tindakan nyata. Memang tidak ada yang larang kita untuk nulis begitu di media sosial. Tapi, sekali lagi, sangat percuma kalau sekadar itu OMDO (omongan doang) di dunia maya, tak teraplikasi di dunia nyata. Ingat, orang Palestina tak butuh kita menulis status seperti itu atau caci maki Israel. Lebih baik talk less do more!

Silakan caci maki dan benci kepada tentara Israel karena mereka yang telah menyebabkan orang-orang Palestina mati sebelum waktunya barangkali. Namun, caci maki saja tidak cukup, apalagi curahannya didedahkan di media sosial. Saya pikir, kalau hanya seperti itu yang kita lakukan, sungguh tak berefek dan Israel tambah ngamuk. Lalu, apa yang tepat kita lakukan? Kalau sanggup bantu mereka langsung ke tanah Palestina, dan kita enggak takut mati, ya mungkin silakan. Kalau sekiranya takut mati, ya enggak perlu ke sana, cukup bantu dengan materil saja.

Ayo, bagi kita yang duitnya lebih, mari saatnya merogoh dompet buat saudara-saudara kita di Palestina–kalau kita memang menganggap mereka saudara. Minimal, duit yang kita sumbangkan itu, ya buat bantu beli obat, makanan, pakaian, dan kebutuhan lain. Baru, setelah kita bantu mereka dengan materil, tentu apa lagi yang kita lakukan selain doa buat mereka. Siapa tahu, kalau kata kawan saya, doa orang Indonesialah yang akan terkabul–mengingat ini tepat dengan bulan puasa.

Oke, give them money first than doa! Dan, saatnya bertindak, bukan malah ngoceh di media sosial–alih-alih supaya Anda dianggap orang yang paling bersimpati sama orang Palestina. Tetapi, mudah-mudahan, walau kita sering ngoceh di medsos soal Pray for Gaza, itu menggerakkan hati kita untuk merogoh sebagian kocek dari dompet kita!

Selamat Jalan, Kami Menyusul

Gambar diambil dari: www.republika.co.id
Gambar diambil dari: http://www.republika.co.id

Ada saja ide buat saya menulis hari ini. Kemarin (Minggu, 26/2) adalah hari duka cita bagi keluarga besar saya. Kakak ipar saya, Kak Ton telah lebih dahulu dipanggil Tuhannya sekitar pukul 04.30 atau menjelang subuh waktu Kota Bengkulu  karena kalah bertahan dengan diabetesnya.

Saya dapat kabar duka ini dari kakak pertama saya ketika saya masih terlelap dipeluk mimpi. Saya terbangun karena beberapa kali panggilan di hape bergetar. Antara sadar dan tidak, maka cepat saya angkat ponsel itu,”Cep, ini ada kabar duka. Kak Ton meninggal barusan!”

Saya masih tak percaya kakak pertama saya bilang begitu. Maka, saya pun mencoba menjawab,”Yang bener, A?” Tampaknya, mendapat jawaban yang demikian, kakak saya ini agak kesal, “Lho, masa kamu enggak percaya sama Aa? Memangnya Aa main-main, gimana kamu ini?”

Saya bukan tidak percaya mendapat kabar duka itu. Tetapi, pas malam minggu itu, saya baru sms-an dengan salah satu keponakan saya, Imam-yang juga anak pertama Kak Ton itu. “Kalau bapak gimana sekarang, Mam? lontar saya lewat pesan singkat ke Imam.

“Agak mendingan, Mang! Dagingnya mulai tumbuh. Doakan saja, ya, Mang.” begitu balas keponakan yang baru dua bulan punya pacar itu. “Kalau gitu, salam ke semuanya, ya: ibu, Ari, Rahmat, dan Opik. Sesekali sentuhlah sajadah di kamar itu,” tutup saya.

Dua hari sebelumnya pun, saya mengirim sms ke Teteh saya. “Teh, gimana Kak Ton? Ada perkembangan?” Kira-kira setengah jam kemudian, Teteh yang sudah memiliki anak empat ini membalas sms dari saya,”Sudah agak lumayan, Cep. Daging di kakinya sudah mulai tumbuh. Minta doanya aja, ya.”

“Innalillahiwainnailaihirajiun,” baru saya bilang begitu sebelum Kakak pertama saya menutup teleponnya. Setelah mendapat kabar seperti itu, subuh itu saya tak bisa lagi tidur walau sebetulnya dingin sekali di kos saya. Saya lantas kirim sms ke beberapa saudara dan sahabat mengenai duka itu.

Tak lama, sahabat saya balas, “Kan masih muda, Cep? Penyebabnya apa?” Saya bingung mau jawab apa ke sahabat saya ini. Sambil gemetar, saya jawab sekenanya,”Memangnya Izrail pilih-pilih orang kalau nyabut nyawa? Mau tua atau muda, bagi Tuhan sama saja, Bro! Kena diabetes.”

Saya langsung hubungi Teteh. Lama enggak diangkat. Saya tahu, kakak kedua saya ini pastilah sedang kalut sekaligus terkejut. Akhirnya, diangkat juga telepon saya. “Iya, Cep. Bapak Imam meninggal setengah jam lalu.” Suara gaduh terdengar. Teteh pun terbata saat bicara.

“Teh, sabar, ya. Kuat, ya, Teh!” saya hanya bisa bilang begitu dan langsung saya tutup. Beberapa menit, kakak ketiga saya yang ada di Belitung, menelepon saya, “Cecep udah tahu, kan? Kak Ton meninggal. Barusan Aa telepon,” ucap kakak saya itu.

Saya katakan ke kakak ketiga itu, bahwa saya juga dikasih tahu Aa perihal kabar duka itu. “Jadi, gimana A, ada rencana mau ke Bengkulu? Cecep pengennya ke Bengkulu, A. Tapi gimana ini, belum punya uang dan memang belum gajian,” berondong saya ke kakak saya bernama Harun itu.

Belum ada keputusan pasti dari kakak ketiga itu. Yang pastinya, pagi itu saya hendak menenangkan diri dulu sambil berguman dalam hati, “Ini soal waktu. Tinggal menunggu giliran saja, kapan saya akan dijemput sang penjagal kematian, Izrail. Ya, tinggal soal waktu.”

Seperti pada tulisan sebelumnya-KLIK DI SINI bahwa kakak ipar saya ini memang sedang mengidap diabetes/kencing manis. Kata orang, suami Teteh saya ini terkena diabetes melitus. Kaki kanannya-saat saya jenguk beberapa minggu lalu, itu sudah membusuk: jempol dan keempat jarinya terkena abrasi.

Kata Teteh, luka di kakinya bermula saat suatu siang tiga bulan lalu, sang suami itu berjalan di aspal bertelanjang kaki. Sesampainya di rumah, dampal kaki Kak Ton terkelupas-mungkin saking panasnya aspal. Sebetulnya, Kak Ton tahu kalau dia ini sudah sejak menikah terkena kencing manis.

Terkena luka sedikit saja, siapa saja yang sedang mengidap diabetes, itu bisa berbahaya kalau tak segera ditangani. Gula darah tinggi pula. Saya juga pernah baca artikel, yang menyatakan, bahwa diabetes adalah pintu gerbang segala penyakit.

Artinya, siapa saja yang mengalami diabetes, maka penyakit lain akan segera susul-menyusul. Itu kata medis. Tapi, apapun penyebab kakak ipar saya ini meninggal, ini harus menjadi pelajaran penting buat saya dan keluarga yang ditinggalkan, terutama perihal menjaga kesehatan.

Pola makan dan gaya hidup, itu perlu selalu diperhatikan oleh setiap kita. Gaya hidup yang tak sesuai dan pola makan yang serampangan lah yang menyebabkan mudahnya seseorang terserang penyakit. Terus, selalu lah berpikir positif.  “You what you eat and you what you think!”

Atas kejadian yang menimpa keluarga saya ini, saya hanya bisa bilang, “Mudah-mudahan kita selalu menjadi hamba Tuhan yang selalu bersyukur, ikhlas, dan sabar. Sedih boleh saja, tapi tak perlu berminggu-minggu, sebab tak ada gunanya. Kuat, kuat, kuat!”

Selamat jalan Kak Ton hingga ke terminal berikutnya. Kami menyusul.