Saya dan Gadget

Ini era digital! Jadi, tak ada yang saya lakukan ketika bangun pagi selain mengecek hape. Berkunjung ke instagram. Silaturahmi ke facebook. Mampir ke line, WA, BBM, dan sesekali ke path atau twitter. Dua yang terakhir, sebenarnya sudah saya abaikan sejak 3 bulan lalu, bahkan lebih. Alasannya biasa: bosan.

Tidak terasa, kadang-kadang saya berselancar di dunia mereka, tahu-tahu sudah satu jam, sementara waktu subuh sudah lewat! Ah, itu biasa. Yang mengalami seperti itu, saya yakin bukan hanya saya. Mungkin. Tapi, semoga tidak lah. Yang begitu hanya saya saja.

Begitulah tiap hari yang saya lakukan. Pas melek, ya langsung cari-cari hape, yang padahal itu hape berada di samping telinga. Sebelum tidur pun gitu, minimal sejam atau lebih lah saya harus memaksa diri memelototi android, entah itu untuk membalas WA teman, BBM, atau berkeliling di taman media sosial.

Awalnya mengasyikkan aktivitas seperti itu. Tapi lama-lama membosankan juga. Pernah bilang dalam hati, “Udah ah enggak mau terhipnotis dengan segala fasilitas yang ada di hape. Saya yang ngatur hape, bukan hape ngatur saya!” Tapi tetap saja, tanpa disadari, ia malah kian menggoda, bahkan seolah-olah ia membatasi  saya untuk berinteraksi dengan dunia luar.

Mungkin zamannya harus begitu. Saya harus menyesuaikan, meski sebisa mungkin tak harus ber-euforia  kebablasan. Saya menolak zaman pun rasanya tak mungkin. Disebut apa nanti saya. “Katrok, loe!” “Kekinian, dunk!” “Autis-autisan biasa kalo zaman sekarang, Bro!” “Ini bukan zaman Siti Nurbaya!”

Oke saya terima dengan lapang dada perubahan zaman ini. Saya tak harus konsisten dengan hape yang masih berlayar kuning, tetapi, jika mampu mulai bertransformasi ke hape layar sentuh yang memiliki beragam fasilitas. Transformasi yang saya lakukan itu bukan karena gengsi, kan? Bercampur lah: gengsi dan kebutuhan.

Saya sesekali suka berpikir akan kembali ke masa ketika saya cuma punya hape berlayar kuning yang berukuran kecil. Yang daya batrenya tahan seminggu, bahkan lebih! Tapi saya khawatir, kalau saya kembali ke zaman itu saya takut ketinggalan info-info terhangat dari teman-teman. Padahal belum tentu, kan? Itu hanya ketakutan saja.

Saya akan mencobanya. Mencoba kembali sunyi seperti dulu yang tidak pernah mengecek notifikasi di media sosial. Kapan? Nanti, ketika hape saya yang android ini benar-benar batuk parah. Janji, saya janji tidak membeli hape/gadget yang lebih canggih dari yang saya punya sekarang. Tidak sama sekali. Jika pun dunia digital kian prontal, saya cukup tahu saja. Tidak untuk jadi konsumen.

Sekian. Lagi mainin gadget, ya?

Iklan

Tak Cukup Doa Buat Palestina

Gambar diambil dari: www.alsofwa.com
Gambar diambil dari: http://www.alsofwa.com

Ramai-ramai mata dan hati kita tertuju kepada Palestina beberapa hari terakhir ini. Ini barangkali sebentuk rasa simpati kita terhadap korban meninggal dunia karena tank-tank Israel yang kurang ajar itu telah menghabisi nyawa orang tak bersalah. Hati jadi teriris tatkala yang jadi korban adalah kebanyakan anak-anak. Sekali lagi, fuck you tentara Israel!

Saya pikir, untuk bersimpati terhadap para korban keganasan Israel tak cukup hanya mengantarkan doa. Mereka itu saat ini butuh bantuan, tak sekadar doa, tapi bantuan berbentuk materil lah setidak-tidaknya. Maka perlu barangkali penggalangan dana yang masif buat para keluarga korban di sana, di jalur Gaza. Bukan berarti doa enggak boleh, lho. Boleh-boleh saja. Tapi, itu belum cukup. Mengutuk saja, misalnya di media sosial kebiadaban Israel, ah itu rasanya tidaklah cukup!

Yang perlu dilakukan oleh kita, kalau kita memang benar-benar sayang sama orang Palestina adalah tindakan nyata. Saya ulangi lagi, tak cukup kita berkoar-koar di medsos, sementara uang recehan pun tak keluar dari dompet kita. Mungkin kita bingung, mau nitip sama siapa duit itu? Tenanglah. Bakal ada lembaga/organisasi yang akan menghimpun dana kelak oleh orang yang tepercaya dan langsung diserahkan ke perwakilan di Palestina.

Saatnya berhenti berkicau, menulis status, misalnya,”Let’s pray for Gaza atau Palestina!”, kalau kita tak ada tindakan nyata. Memang tidak ada yang larang kita untuk nulis begitu di media sosial. Tapi, sekali lagi, sangat percuma kalau sekadar itu OMDO (omongan doang) di dunia maya, tak teraplikasi di dunia nyata. Ingat, orang Palestina tak butuh kita menulis status seperti itu atau caci maki Israel. Lebih baik talk less do more!

Silakan caci maki dan benci kepada tentara Israel karena mereka yang telah menyebabkan orang-orang Palestina mati sebelum waktunya barangkali. Namun, caci maki saja tidak cukup, apalagi curahannya didedahkan di media sosial. Saya pikir, kalau hanya seperti itu yang kita lakukan, sungguh tak berefek dan Israel tambah ngamuk. Lalu, apa yang tepat kita lakukan? Kalau sanggup bantu mereka langsung ke tanah Palestina, dan kita enggak takut mati, ya mungkin silakan. Kalau sekiranya takut mati, ya enggak perlu ke sana, cukup bantu dengan materil saja.

Ayo, bagi kita yang duitnya lebih, mari saatnya merogoh dompet buat saudara-saudara kita di Palestina–kalau kita memang menganggap mereka saudara. Minimal, duit yang kita sumbangkan itu, ya buat bantu beli obat, makanan, pakaian, dan kebutuhan lain. Baru, setelah kita bantu mereka dengan materil, tentu apa lagi yang kita lakukan selain doa buat mereka. Siapa tahu, kalau kata kawan saya, doa orang Indonesialah yang akan terkabul–mengingat ini tepat dengan bulan puasa.

Oke, give them money first than doa! Dan, saatnya bertindak, bukan malah ngoceh di media sosial–alih-alih supaya Anda dianggap orang yang paling bersimpati sama orang Palestina. Tetapi, mudah-mudahan, walau kita sering ngoceh di medsos soal Pray for Gaza, itu menggerakkan hati kita untuk merogoh sebagian kocek dari dompet kita!