Betapa Mahalnya Jeda

 www.mrmediatraining.com
http://www.mrmediatraining.com

Saya merindukan jeda. Saya belum bisa mengambil jeda meninggalkan smartphone beberapa menit sekadar memikirkan sesuatu atau menyelesaikan bacaan yang sempat tertunda. Atau ngobrol dengan teman dengan penuh perhatian. Susah kalau tiap detiknya hati ini selalu terpaut dengan ponsel pintar . Saking pintarnya, saya dibodohin. Sebentar-sebentar cek BBM. Sedikit-sedikit whatsapp-an. Luncur ke facebook. Terbang ke twitter. Mampir ke Path. Ah! Bosan! Saya bosan! Saya butuh jeda.

Beberapa saat lalu, teman lama menggoda saya,”Daftar Line, dunk! Bisa video call. Lebih asyik!” Saya buru-buru berujar dalam hati,”Mau Line, WA, BBM, facebook, twitter, atau Path, toh temannya itu-itu juga. Cuma beda tampilannya saja. Bagiku, punya satu atau dua akun di media sosial lebih dari cukup asal digunakan maksimal dan efektif. Intinya bisa komunikasi. Enggak neko-neko.”

Saya pernah punya Line. Saya akrab dengannya kira-kira dua bulan. Saking bingung saya ini mau fokus di media sosial yang mana, maka Line saya hapus—sementara saya masih mengasuh WA, BBM, Facebook, Twitter. Eh, iya, satu lagi—Instagram. Seminggu setelah Line saya singkirkan, barulah giliran Path saya kubur. Bukan tak mahir menggunakannya, tetapi saya butuh jeda. Saya sudah puas memelototi mereka tiap detiknya.

Bila saya tak pandai mengatur mereka—justru mereka yang mengatur saya. Sejak memelihara mereka, saya tidak pernah konsentrasi melakukan sesuatu—kecuali buang angin—bahkan acap gagal—padahal—urusan itu lebih penting. Saya tak mudah bersabar untuk selalu mengontrol mereka.

Secara sadar, saya ulangi, mereka berhasil mengatur saya. Memperdaya saya. Membuat saya berlama-lama berdiam diri sembari mendaki mereka. Sehingga kedua mata ini nyaris kabur dibuatnya. Seharusnya saya yang mengatur mereka. Saya! Bukan mereka! Saya benar-benar belum bisa menjadi penggembala seperti nabi.

Smartphone benar-benar menjauhkan saya dari keintiman bersama Tuhan. Entahlah. Kenapa saya diberi penasaran, kok inginnya selalu dekat dengan benda canggih itu. Padahal, kan bisa nanti bersama kembali. Sungguh, nyaris saya telah menduakan Tuhan yang sesungguhnya. Bukannya berdoa, setelah salam kanan-kiri selepas salat, saya malah mengambil handphone. Menyentuhnya dan meluncur ke dunia lain yang mengasyikkan. Oh.

Saya banyak memerhatikan, orang yang mengobrol itu tidak lagi intim. Padahal mereka sahabat lama, teman kantor, pacar, atau bahkan calon suami/istri. Yang satu ngajak ngobrol, sementara lawan bicaranya bukan mendengarkan sembari memerhatikan, tetapi malah sibuk main hape. Jengkel, enggak? Kenapa, sih sulit sekali mengambil jeda demi menghargai orang lain?

Saya pernah menegur seorang teman gara-gara dia asyik main smartphone–nya—padahal kita berdua sedang membicarakan sesuatu yang maha penting. Saat dia curhat, saya dengarkan—meski beberapa kali tangan dan mata dia fokus ke hape. Saya biarkan. Selesai dia bicara, giliran saya menanggapi. Sebelum kalimat ketiga saya sampaikan, saya lalu ngomong,”Gue enggak bisa melanjutkan obrolan ini. Maaf, gue orang yang salah!”

Saya tidak menyalahkan smartphone-nya, apalagi saya berharap orang menghormati saya. Yang saya butuhkan adalah keseimbangan dan penghormatan terhadap jeda. Saya punya prinsip—walau mungkin prinsip saya ini jauh dari ketepatan. Kalau saya mengobrol dengan siapa saja, face to face—saya harus fokus ngobrol dan memerhatikan orang yang saya ajak ngobrol. Dan smartphone, saya simpan di saku celana atau kemeja tanpa berpikir apakah ada pesan masuk dari teman facebook, BBM, WA, atau DM. Begitu obrolan selesai, nah barulah saya menimang kembali si pintar dengan kerinduan yang memuncak!

Betapa mahalnya jeda…

Iklan

Bukan Pembaca Kritis

Ilustrasi diambil dari: www.2012pbic.blogspot.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.2012pbic.blogspot.com

Saya itu orang yang paling tidak pandai menilai sebuah buku apakah buku tersebut bagus atau tidak–kendati buku itu telah rampung saya baca. Kalau saya baca sebuah buku, ya baca aja–tak ada sama sekali terucap, misalnya oh buku ini layak dibaca untuk orang yang sedang galau. Atau, uh buku ini bahasanya sulit dimengerti oleh saya, tetapi lebih cocok dibaca bagi mereka yang berkecimpung di dunia akademik karena bahasanya yang mungkin ilmiah.

Problemnya apa kalau begitu? Orang yang mahir menilai sebuah buku, tentu akan bilang ke saya kalau saya ini bukan pembaca yang kritis! Dan saya setuju itu. Sejak dari SMP saya sudah menginginkan bagaimana menjadi orang yang kritis terhadap sesuatu–bukan hanya pada buku yang dibaca. Tetapi, hingga hari ini nyatanya memang saya belum mampu–bahkan mungkin enggak bisa jadi manusia kritis.

Kenapa saya begitu ingin jadi orang yang selalu kritis? Pertama, saya sendiri kadang-kadang kagum kepada orang yang kritis. “Kenapa ya saya enggak bisa seperti dia? Dia kok bisa ya menanggapi sesuatu dari sudut pandang berbeda?” Begitulah, sering muncul pertanyaan di benak tiap saya memerhatikan orang yang punya kemampuan lebih dari saya. Dengan kata lain, saya suka iri–walau ya tidak seratus persen.

Kedua, orang yang kritis disukai siapa saja, utamanya kaum perempuan. Umumnya yang saya perhatikan memang begitu. Orang yang suka kritis, tentu dia punya penalaran tajam terhadap sesuatu. Sebabnya, imej orang kritis kerap disebut orang cerdas, tentu tidak salah. Dan saya bukan orang yang kritis, apalagi orang cerdas. Tidak sama sekali. IQ saya biasa-biasa saja–mungkin di bawah rata-rata. Apa buktinya? Tiga tahun lalu saya tes psikotes untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hasilnya? Saya tidak lulus.

Ketiga, orang yang kritis–karirnya–baik yang bekerja di swasta maupun negeri cepat memuncak. Semoga tidak keliru dengan pendapat seperti itu–walau kebanyakan, utamanya di instansi pemerintahan bahwa jabatan itu akan didapat bukan karena orang itu berprestasi, tapi siapa yang punya duit tebal, dialah yang dapat. Orang-orang biasa dan tak punya modal akan tersingkir dan hanya bisa gigit jari.

Keempat, orang yang kritis itu pintar matematika. Walau saya menyugesti diri bahwa saya harus bisa pelajaran matematika, eh nyatanya tidak bisa. Bayangkan, dari SD-SMA nilai matematika saya stagnan–kalau tidak empat ya lima. Makanya, saya ini bukan orang yang cerdas, apalagi, ampun kalau dibilang pintar. Salah satu idikator seseorang itu dilabeli cerdas, pintar, dan jenius adalah dia harus kuat matematikanya. Kesimpulannya, andai kalian ingin menipu saya dalam hitung-hitungan, misalnya, tentu sayalah orang yang tidak akan komplain itu.

Nah, jangankan untuk kritis terhadap yang lain–pada buku yang tengah atau sudah saya baca saja saya tidak bisa. Saya beritahu, kalau saya ini hobi baca–tapi saya mudah melupakan apa yang saya baca itu. Andai saya diminta untuk menceritakan ulang buku yang telah saya baca, saya akan buru-buru menolak. Atau saya akan katakan saya tidak pernah baca buku itu. Bisa juga saya bilang, saya ingat apa yang saya baca cuma seketika itu saja. Sejam atau tiga jam pasti hilang.

Jadi, saya ini maunya apa? Saya tidak mau apa-apa–walau awalnya saya berharap jadi orang yang selalu kritis. Sekarang saya tidak mau berharap jadi manusia kritis versi saya. Saya cukup menjadi orang yang biasa saja–yang tetap tidak akan menghilangkan kebiasaan saya, yaitu membaca. Membaca jenis buku dari genre apapun–walau, yah–saya suka tidak ingat apa yang pernah saya baca itu.

Kalau begitu, coba sebutkan buku apa saja dalam sebulan ini yang saya baca. Oke, tapi saya enggak akan kasih tahu apa isinya, ya. Soalnya saya enggak ingat. Minimal saya beritahu judul, penulisnya, dan masuk kategori apa buku tersebut. Baiklah. Satu, “Murjangkung cinta yang dungu dan hantu-hantu” kumpulan cerpen A.S. Laksana. Dua, “Corat coret di Toilet” kumpulan cerpen Eka Kurniawan. Tiga, “Inferno” novel karya Dan Brown. Empat, “Dunia Sophie” novel karya Jostein Gaarder. Lima, “Empat Kumpulan Sajak” karya almarhum W.S. Rendra.

Cukup, ya. Moga teman-teman menjadi pembaca yang kritis!