Perjalanan ke Kampung Halaman di Utara Bengkulu

CAM02579

 

CAM02508

 

CAM02510

 

CAM02505

 

CAM02496

 

CAM02487

 

CAM02421

 

CAM02402

 

CAM02411

 

CAM02408

 

Tiap pulang ke kampung halaman di Bengkulu Utara, saya pastilah melewati jalan yang saya foto di atas. Dari Kota Bengkulu menuju desa saya kalau gunakan motor sekitar 3 jam normalnya. Kalau pake travel bisa 4-5 jam. Tak semua jalan menuju kampung saya mulus. Lihat saja foto ke-2 dari atas dan seterusnya. Lokasinya antara desa Urai-Serangai Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara. Mungkin itu dampak abrasi.

Sedangkan foto-foto selanjutnya (jalan berkoral) itu jalan masuk ke desa saya, Sukamakmur, Kecamatan Putri Hijau. Sebelum sampai ke desa saya, kami melewati desa Air Muring. Di sana, terdapat perkebunan karet milik pengusaha Indonesia. Itu ada fotonya. Bisa dilihat, ya. Entah berapa ratus hektar.

Foto  diambil saat liburan idul fitri 2014 kemarin.

Iklan

Mau Sukses? Coba, deh Air Sumur Soekarno!

Ini sumur yang letaknya di belakang rumah peninggalan Bung Karno di Bengkulu. Gambar diambil dari: www.berita.plasa.msn.com
Ini sumur yang letaknya di belakang rumah peninggalan Bung Karno di Bengkulu. Gambar diambil dari: http://www.berita.plasa.msn.com
Ini bapak-bapak yang saya bilang dari Lampung itu sedang berwudhu menggunakan air sumur peninggalan ayah Megawati yang ada di Bengkulu (gambar diambil dengan hape)
Ini bapak-bapak yang saya bilang dari Lampung itu sedang berwudhu menggunakan air sumur peninggalan ayah Megawati yang ada di Bengkulu (gambar diambil dengan hape)
Ini dia tulisan perihal kandungan air sumur di rumah bekas kediaman Soekarno. (Foto diambil dari: www.jurnalbengkulu.com )
Ini dia tulisan perihal kandungan air sumur di rumah bekas kediaman Soekarno. (Foto diambil dari: http://www.jurnalbengkulu.com )

Pertengahan 2013, saya menyempatkan mampir ke rumah kediaman Bung Karno yang ada di Kota Bengkulu. Sebetulnya, itu adalah kunjungan saya entah ke berapa kalinya. Tetapi, pada kunjungan terakhir itu, saya mendapat info tentang dahsyatnya air sumur peninggalan keluarga mendiang ayah Megawati tersebut.

Apa saja khasiat air sumur nan jernih bekas keluarga presiden pertama itu? Berdasar penuturan sang penjaga rumah (gak dicatat siapa namanya), bahwa bila siapa saja orang yang mencuci muka dengan air sumur tersebut, maka ia akan awet muda. Benarkah, Bro?

“Dari dulu orang percaya itu. Asal yakin kalo air sumur itu bakal mendatangkan berkah, ya bisa saja. Tapi memang, kepercayaan itu sudah begitu melekat sejak Soekarno wafat. Bahkan, tak sedikit pengunjung kalau pulang bawa air sumur itu pake botol,” ucap sang penjaga kala itu.

Adakah khasiat lain dari air sumur yang letaknya di belakang rumah Soekarno yang ada di Bengkulu itu? Ada ternyata. Salah seorang pengunjung, bapak-bapak, dia berasal dari Lampung, menuturkan tentang kelebihan air sumur itu kepada saya. Apalagi, sih?

“Ada, dong. Apalagi, sumur ini kan peninggalan orang yang bukan sembarangan, bukan orang biasa. Mistisnya kuat. Insyaallah, apapun keinginan kita bisa terkabul setelah air sumur ini kita siramkan ke tubuh kita. Tapi tetap, Tuhan saja yang menjadi penentu, ini hanya perantara saja,” lontarnya yakin.

Sebelum saya meninggalkan rumah bekas kediaman Kusno-begitu panggilan Soekarno muda, saya sempatkan lagi ngobrol sama penjaga rumah itu. Ya, tentang keajaiban air sumur itu. Dia bilang, bahwa kunjungan ke rumah bersejarah itu akan ramai di hari-hari tertentu. Apa saja?

“Bukan hanya pas waktu liburan yang bikin ramai ini rumah. Tetapi, misalnya saat menjelang pemilihan kepala daerah atau pemilihan legislatif. Pastilah air sumur itu ditimbanya, cuci muka, dan sebagiannya mereka bekal ke rumah. Mungkin supaya keinginan mereka tercapai,” jelasnya.

Kalau supaya cepat dapat jodoh, bisa enggak, ya air sumur keramat itu digunakan? Memang saya tak sempat bertanya soal ini ke penjaga rumah itu. Tetapi, kalau merujuk kepada bapak yang dari Lampung tadi, ya mungkin bisa saja, asal yakin dan Tuhan sajalah Maha Pengabul doa.

Part V (habis): Liburan Singkat Nonpejabat

Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.
Cukuplah foto ini saja saya pajang di sini. Setidaknya, kau akan lihat, itulah jalan aspal yang ada di Bengkulu.

Bengkulu, 27 Desember 2013

09.00

Saya rampung membantu Teteh membilas pakaian yang sebelumnya digoes di mesin cuci. Bejibun sekali pakaian itu, termasuk juga baju dan celana levis saya. Setelah semuanya beres, sarapan dan lain sebagainya, saya bersiap mengantar Teteh dan Kak Ton ke klinik, sekaligus mau ngintip luka yang sebenarnya di kaki suami kakak kedua itu.

Saya bukan tidak bisa menggambarkan kondisi telapak dan punggung kaki sebelah kanan kakak ipar saya saat petugas klinik itu membuka perbannya. Saya lihat erat-erat luka yang membusuk itu, dekat sekali, karena saya berada di sampingnya, di samping ranjang.

Sebelumnya saya memang pernah searching di internet dengan menuliskan “luka diabetes pada kaki”. Hasilnya lumayan beragam dan gambarnya aduhai ngeri juga, ya. Tetapi, pas saya bandingkan dengan luka yang dialami kakak ipar saya, ternyata luka suami Teteh ini lebih parah tinimbang yang ada di net.

Klinik ini memang mengkhususkan diri dengan pengobatan herbal dan menghindari obat kimia. Makanya, bagi penderita diabetes, terutama diabetes melitus harus rajin membersihkan kakinya di klinik ini tiap hari. Sebelum dibungkus kembali, si kaki yang luka tadi diolesi terlebih dahulu, entah pakai  apa, yang pasti warna dan bentuknya kayak mentega. Itu herbal katanya.

Biaya sekali cuci luka itu, pas saya intip Rp. 145 ribu. Dan ini harus tiap hari sampai waktu yang belum ditentukan. Tetapi, “Seperti yang sudah-sudah dan bahkan lebih parah dari ini, akhirnya sembuh di klinik ini. Kami sudah menangani lebih dari 30 orang. Asal, jaga pola makan dan stres!” ucap petugas klinik.

Pukul 10.00. Kami pun pulang lalu istirahat. Saya salat jumat. Selepas jumatan, saya dan keponakan berangkat ke kampung halaman yang sesungguhnya: Putri Hijau. Ke rumah bapak dan ibu saya dengan menggunakan motor. Jelang beduk magrib, kami sampai dengan selamat di halaman rumah bapak. Salam sejahtera.

28 Desember 2013, Putri Hijau.

Esoknya. Saya bantu emak memanen buah cokelat di pekarangan yang jaraknya tak begitu jauh dari rumah. Entah berapa semut  yang mengeroyok saya tatkala saya panjat pohon cokelat itu. Anehnya, semut itu sampai tega menggigit di daerah selangkangan saya, bahkan-ujung “alu” saya pun disengatnya.

Sepulang dari kebun cokelat itu, adik saya meminta buah jambu bol ke tetangga, Lek Win. Manjatlah Oman pada pohon yang entah berapa puluh kaki itu untuk memetik buah yang ranum itu. Sementara saya di bawah menangkap buah yang adik saya jatuhkan. Hup.

Magrib pun bersambut. Kami salat berjamaah dan keluarga menunjuk saya sebagai imam. Waduh. Saya bingung mau baca ayat apa. Bismillah sajalah. Para keponakan yang jumlahnya empat biji ikut berbaris di belakang saya, tetapi mereka banyaklah bercandanya tinimbang serius. Asyik.

“Besok mau bawa apa, San? Emak enggak punya apa-apa ini. Bawa ikan kering aja, ya. Nanti digoreng di Bandung. Mau bikin wajit juga enggak keburu.” Suara emak saat kami sedang makan malam di ruang tengah rumah kami. “Enggak usahlah, Mak. Di kosan enggak ada kompor!” kata saya.

29 Desember 2013

Pukul 04.00 puluhan juta tetesan air menimpuk-nimpuk genting rumah kami. Dingin sekali. Deras sekali hujannya. Waduh, gimana ini. Padahal, saya dan keponakan pukul 06.00 harus sudah beranjak dari rumah untuk pulang ke kota lagi: Bengkulu. Redakanlah,  ya Allah.

“San, cepatlah kau bangun. Katanya mau ke Bengkulu udah subuh. Nanti terlambat!,” Apak berteriak-teriak dari kamar sebelah. “Iya. Sip!” balas saya ke Apak yang telah lebih dahulu bangun sebelum pukul 04.00. Tetapi, karena merasa masih pukul 04.00, sarung saya buntelkan lagi ke sekujur tubuh. Dingin.

05.30. Saya bangun, tetapi di luar rumah hujan masih mendesah kencang. Cepat-cepat saya ke kamar mandi, bukan mandi, melainkan gosok gigi. Kemudian salat, melipat baju, memasukkannya ke dalam tas, membungkus ikan kering, dan mulai mendengarkan petuah Apak.

 “Maafkan Apak dan Emak kalau ada dosa, ya. Tolong doakan Apak supaya sehat dan selalu dimudahkan. Karena tanggal 3 Februari ini apak insyaallah berangkat umrah. Doakan apak diberi kekuatan selama menjalankan ibadah di sana, doakan supaya panjang umur.”

Saya hanya mengangguk-angguk saja saat dengar ucapan Apak begitu. Saya bilang, itu pun dalam hati,” Iya, Pak. Tenang aja, anakmu ini akan selalu mendoakan apak supaya selalu sehat, dimudahkan urusannya, panjang umur, kekuatan, dan ketegaran.”

“O, iya, satu lagi. Kan sekarang udah kerja, mulailah menabung buat berkeluarga. Jangan sampai, pas setelah kamu kawin nanti, menyisakan hutang di sana-sini. Ayo, mulai nyicil nabungnya. Kalau sudah siap, buru-buru menikah mumpung Emak dan Apak masih ada.”

“Terus, mulai cicil juga beli jas buat persiapan kamu kalau ijab kabul nanti. Pesanlah di Tasik, di sana bagus bahannya, murah lagi. Biar nanti, pas dekat nikah, kamu enggak susah-susah lagi memilih baju.”

Kalau disinggung-singgung soal nikah menikah ini, saya tersenyum-senyum saja dan enggak bisa bilang apa-apa. Keponakan dan adik saya mulai heboh kalau mendengarkan tentang ini. Saya jadi kikuk dan akhirnya, saat itu juga muka saya, saya tutupin pakai koran bekas bungkus asin. Cuit…cuit.

Saya akhirnya pamit juga ke Emak Apak, walau hujan masih merintik. Soalnya ngejar waktu. Pukul 14.00 saya sudah mesti di bandara untuk terbang ke Cengkareng. Terjadilah cipika-cipiki di antara saya dan kedua orangtua saya. Emak tampak terisak, Apak tegar. See you later ya my beloved parent!

Inilah liburan singkat saya yang bukan pejabat ini. Meski  dua hari, tetapi setidaknya memuaskan pikiran dan hati saya lantaran telah bertemu dengan orang-orang yang saya cintai. Kepinginnya mau tahun baruan di Bengkulu, tetapi-karena alasan tertentu saya masih menjadikan Kota Kembang sebagai tempat untuk menutup 2013. Dadah. (habis)

Menikmati King of Fruit di Bumi Rafflesia

Rajanya buah-buahan, ya Durian. Makanya, disebut King of Fruit, begitu kata Kiai Wikipedia.org yang pernah saya jenguk. Malam ini, selepas salat Isya, adik saya menantang saya, “Durian lagi banjir, tuh di jalan-jalan sekitar kota, Bro! Kalau mau, sini duitnya, ayo kita beli!” itu yang saya tangkap di gendang telinga saya, di malam bertabur gemintang itu.

Tantangan itu tak saya sia-siakan. Mumpung masih ada sisa duit THR, maka saya beranikan diri menjawab, “Siapa takut! Cepat, kita sisir Durian itu berada. Sekarang!”ucap saya keras-keras di hadapan adik saya, yang rencananya Selasa (20/8) besok mau sidang skripsi ini. Ya udah, itung-itung menjamu menghadapi sidang skripsi, maka saya beri dia buah asli Asia Tenggara itu. Gratis!!

Adik saya mulai memilah "Raja dari Segala Buah", di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, Kamis (15/8) malam.
Adik saya mulai memilah “Raja dari Segala Buah”, di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, Kamis (15/8) malam.

Tak menunggu lama, kami pun langsung meluncur ke beberapa titik yang biasa digunakan penjual Durian mangkal. Tepat di seberang gedung BCA, atau di jalan S. Parman, Kota Bengkulu, di sana, saya lihat bertumpuk-tumpuk buah Durian segar. Kami pun mencoba mampir, memegang-megang, menawar-nawar. Bila tak cocok harga, ya kami harus pindah tempat.

Kata penjualnya, ini Durian Utara, tepatnya dari Lubuk Durian.
Kata penjualnya, ini Durian Utara, tepatnya dari Lubuk Durian.

Durian berbuah setahun sekali. Awalnya, saya mengira kalau buah kontroversial itu berbuah dua tahun sekali atau lebih. Ternyata tidak. “Setahun sekali, Bang!” kata penjual Durian pas saya tanya. “Ini Durian Utara (Kabupaten Bengkulu Utara, red). Rasanya lebih manis dari durian Selatan (Kabupaten Bengkulu Selatan, red),” begitu lanjutnya.

"Lebih enak dari Durian Selatan," kata penjual itu.
“Lebih enak dari Durian Selatan,” kata penjual itu.

Begitulah pedagang. Akhir 2012, saya sempat beli buah yang memiliki nama latin Durio Zibethinus di depan gedung Balai Buntar, tak jauh dari Rumah Dinas Wakil Gubernur Bengkulu. “Ini Durian Selatan, Bang! Lebih enak dari Durian Utara. Dijamin enggak menyecewakan. Ayo pilih!” lontar pedagangnya waktu itu. Kalau begitu, para penjual, baik yang menjual Durian Utara maupun Selatan-mereka saling menjelekkan. Ini persaingan tak sehat.

Anak kecil saja, malam-malam begitu cari Durian, ia diantar mamanya saya lihat.
Anak kecil saja, malam-malam begitu cari Durian, ia diantar mamanya saya lihat.

Saya lihat, Durian yang menumpuk di seberang gedung BCA itu tampak gempal-gempal, sehat-sehat. Dari bentuk fisik, mantap pokoknya. Saya percayakan, kalau memilah-memilih buah yang bisa dijadikan Tempoyak itu pada adik saya. Ia paling jago milih Durian, mana yang kualitas isinya enak, dengan yang rasanya hambar. Belum lagi, adik saya ini pebohi Durian paling utama di keluarga saya, setelah saya.

"Sabar, ya, Dek. Mamang kupas dulu buahnya."
“Sabar, ya, Dek. Mamang kupas dulu buahnya.”

Buah Durian memang belum begitu banjir. Dan itu, tentu saja berdampak pada harga. Semakin banjir, harga pun relatif murah. Kalau masih jarang, ya bisa-bisa harga satu butir Durian, kalau ukuran besar mencapai Rp 50 ribu! “Kalau yang ini 15 ribu, yang sebelahnya Rp 20 ribu, kalau yang ini Rp 30 ribu,” kata penjual Durian ke adik saya.

Harganya memang belum terlalu murah. Belum banjir banget.
Harganya memang belum terlalu murah. Belum banjir banget.

Tawar menawar pun berlangsung sengit. Akhirnya,  adik saya pilih Durian yang harganya Rp 15 ribu/buah. Lumayan gede lah. 3 buah dipilihnya. “Mana uangnya?” adik saya bilang begitu ke saya. Cepat-cepat saya sodorkan uang Rp 50 ribu ke penjual buah yang bikin ketagihan itu. Lalu, pakai apa bawa buah itu ke rumah?

Begini cara efektif bawa Durian kalau di motor.
Begini cara efektif bawa Durian kalau di motor.
Aduh, kaki mungil saya kelihatan. Jadi malu, nih.
Aduh, kaki mungil saya kelihatan. Jadi malu, nih.

 

“Cantolkan aja di motor!” ucap saya. Kami pun meninggalkan tukang buah Durian dengan perasaan lega. Udara malam terus kami jelajahi. Motor yang dijalankan adik saya tak terlalu kencang. Kalau ngebut, tali ikatan Durian bisa jadi lepas. Kan berabe kalau sampai menggelinding di tengah jalan.

Nyampe juga ke rumah. Alhamdulillah, ikatan talinya enggak lepas!
Nyampe juga ke rumah. Alhamdulillah, ikatan talinya enggak lepas!
Pokoknya, 3 biji ini harganya Rp 45 ribu.
Pokoknya, 3 biji ini harganya Rp 45 ribu.

 

Sampai rumah, parang panjang merobek tubuh kulit yang berlekuk-lekuk keras nan tajam itu. Bila tak hati-hati, kulitnya yang menyerupai duri itu bisa melukai tangan. Tak sampai 10 menit, tubuhnya terbuka. Nyam. Nyam. Nyam. Huih, manis banget, kental mirip Blue Band.

Mantap, kan isinya? Siapa dulu, dunk  yang pilih.
Mantap, kan isinya? Siapa dulu, dunk yang pilih.
Saudara Aljud juga ikut menikmati. Nyam. Yami!
Saudara Aljud juga ikut menikmati. Nyam. Yami!

 

Angelina Jolie dan Penjual Kantong Plastik

Tiga bocah datang dengan betisnya yang kecipratan lumpur. Pakainnya lusuh. Basah kuyup pula. Dua cewek satu cowok. Yang cowok badannya kurus. Sedangkan yang cewek agak gemukan dikit, tapi masih kelihatan kurus. Cewek yang terakhir, ini agak beda. Tubuhnya lebih tinggi dibanding dua anak itu dan tampak lebih dewasa. Cantik. Wajahnya mirip Angelina Jolie. Saya waktu itu lagi membilas pakaian di sebuah masjid di kota Bengkulu. Saya terus membilas baju, sementara ketiga anak yang bercelana pendek itu menunggu di samping pintu WC. Antri.

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Bang, WC-nya penuh, ya?”

Saya: “Tunggu aja dulu!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Buang air besar seribu kan, Bang?”

Saya: “Biasanya, kalo buang air besar pasti buang air kecil juga, kan?”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Hmmm…haha. Berarti seribu lima ratus dong, Bang? Tapi aku mau mandi aja, kok!”

Saya: “Mandi juga, biasanya gak cuma mandi. Terkadang juga sekalian  buang air besar, juga tentu buang air kecil, Dek!”

Cewek yang mirip Angelina Jolie: “Alah Abang ni!”

Si cewek yang wajahnya mirip Angelina Jolie masuk duluan ke WC ketika anak lelaki-yang juga sepantaran mereka keluar WC. Lelaki itu memegang perutnya. Mungkin sakit. Atau, saat asyik mengebom lubang WC, ia mencret. Huh, sungguh enggak enak yang namanya mencret!

Di tempat wudhu, atau di luar WC kini tinggal dua anak, yang tentu kawan sepermainan anak yang mirip Angelina Jolie. Kedua anak itu, saya lihat memutar-mutar keran hingga melelehkan air. Dipermainkannya air bening itu. Saya memerhatikannya saja sambil terus membilas baju, celana, sempak, baju dalaman, plus kaos kaki.

“Dari mana, Dek?” saya arahkan suara itu ke anak lelakinya, yang masih kelihatan main keran.

“Dari pasar, Bang!”

“Di mana rumah, Dek?”

“Rawa Makmur, Bang!”

“Kok, jauh-jauh main ke sini (pasar)? Mau ngapain?”

“Jualan asoy plastik, Bang!” celetukan itu bukan berasal dari mulut si bocah lelaki, tapi si cewek, yang jelas-jelas di samping saya. Sambil ketawa-ketiwi saja dia. Gigi bagian depannya kelihatan ompong. Barangkali karena kebanyakan makan permen atau diserbu ulat gigi.

“Asoy??? Jadi tadi adek di pasar jualan asoy?”

“Iya, Bang!” hampir serempak mereka berdua menjawab.

“Kelas berapa, Dek?”

“Kelas empat, Bang!”

“Di SD mana?”

“SD 85, Bang?”

“Di mana itu, Dek?”

“Di Rawa Makmur!”

“Libur sekolah, ya?” saya masih tanya begitu, meski tahu hari ini (9/5) emang tanggal merah karena kenaikan Isa Al-Masih.

“Iya, Bang!” masih kata yang cewek. Yang cowok sibuk dengan kerannya. Cewek yang mirip Angelina Jolie masih di dalam WC. Katanya tadi mau mandi.

“Jadi, adek ni jualan asoy-nya pas liburan aja, kan? Berarti hari Minggu juga?”

“Iya, Bang, sambil ngawani (nemani) ibu jualan sayur.”

“O, sambil ngawani ibu, to, Dek!”

“Iya, Bang!”

“Duit jualan asoy buat apa, Dek?” menunduk-nunduk saya sambil membilas baju yang enggak tuntas-tuntas.

“Beli buku, Bang!” kali ini keduanya menjawab serempak lagi.

“La, kalo yang adek ini, memang kelas berapa?” saya membalik badan menghadap ke arah bocah perempuannya.

“Dio (dia) kelas satu, Bang!” malah bocah lelakinya yang cepat-cepat menjawab.

“Buku LKS juga dibeli dari duit jualan asoy, ya?”

“Iya, Bang!”

“Katanya harga LKS mahal, ya?”

“Sembilan ribu Bang satunya!”

“Bang, kotor bajunya kalo diletakkan di lantai ini. Lantai ini pernah kena muntah dulu,” ujar si anak cowok ke saya. “Ini udah bersih, Dek! Barusan lantai ini dipel, jadi enggak papa.”

“O.”

“O, jadi ibu kalian jualan sayur di pasar, ya?”

“Iya, Bang!”

“Kalo bapak?”

“Ngojek, Bang!”

“Ngojek??? Tiap hari, ya?”

“Iya, ngojek. Iya tiap hari, Bang!

“Di gang dekat rumah ngojeknya, Dek?”

“Bukan, Bang! Di Tanah Patah!” lagi-lagi serempak dua bocah ini menjawab. Saya curiga.

“Kalian adik-kakak, ya?”

“Iya, Bang!”

“Berapa beradik emang?”

“Sembilan, Bang!”

“Ah, ngicu (bohong) kau, Dek?” saya beranikan diri kali ini menepuk-nepuk pundak si anak yang cowok berambut pendek itu.

“Enggak percaya Abang ini!”

“Masa, sih sembilan, Dek?”

“Iya, Bang!”

“Ini adek saya anak ke tujuh, Bang!” sambil menunjuk ke anak cewek yang kini berada di sampingnya.

“Anak pertama udah nikah, ya?”

“Udah, Bang! Udah punya anak.”

“Heh, kamu enggak ke WC?” lontar si cewek yang mirip Angelina Jolie begitu keluar WC kepada dua temannya.

“Enggak ah!” kata mereka yang ketahuan kalau ternyata adik-kakak itu.

“Jadi dua ribu, ya Bang! Tadi aku cuma mandi, kok!” kata si cewek yang mirip Angelina Jolie senyum-senyum.

“Nih, uangnya, Bang!”

“Tarok aja di kotak di atas meja itu, Dek!”

Bilasan pakaian saya tinggal dua lagi ketika tiga bocah itu tak lagi tampak punggungnya.