Kondom

Ayah si Bintang, tetangga kosan bercerita ke saya sekitar dua minggu lalu, di tengah rintik hujan jelang isya. “Eh, tahu gak kenapa saluran air ke septikteng mampet kemarin?” Saya bilang saya tidak tahu, dan saya tanya kenapa.

Saya memang sempat melihat sekitar 3 orang menggali tanah di depan halaman kosan dua minggu lalu. Dan saya tidak ngeh, kalau mereka sedang bongkar saluran pipa yang mampet. Mana malam-malam lagi itu dibongkarnya. Di tengah gerimis pula.

“Kondom yang bikin mampet. Makanya orang yang bongkar pipa pada ngomel!” ujar ayah dua anak itu. Saya jawab waw keren dan ah masa!

“Masa kondom bisa menutup saluran pipa? Enggak masuk akal, Pak! Kondomnya berapa biji? Lagian itu kondom siapa, coba? Saya belum pernah beli, apalagi makai! Hahaha,” lontar saya ke bapak Bintang yang sedang ngudud.

“Kata yang gali, buntelan kondomnya sebesar betis kamu! Tahu enggak kondom bekas siapa? Rasanya enggak mungkinlah kalau yang udah berkeluarga masih pake kondom? Bener, gak?” cerocos pria yang berprofesi sebagai tukang pijit itu. Saya jadi pengen tahu, kondom siapa, sih??

“Orang-orang di kosan ini udah pada tahu, dan mereka ngeduga, itu kondom bekas si Aa sebelah kosan kamu! Nanti katanya dia mau dipanggil sama yang punya kosan. Mau dikasih peringatan. Soalnya, si Aa itu sering bawa cewek ke kosan, dan si cewek baru keluar kosan pas subuh!” ungkap lelaki asal Sukabumi itu.

Saya masih belum sepenuhnya percaya, jika semua kondom yang tertampung di saluran pipa ke septikteng di kosan saya, itu semua bekas si Aa sebelah kamar kosan saya. Seperti yang ayah Bintang katakan, benarkah yang berkeluarga tidak mungkin pakai kondom ketika berhubungan?

Ah, kata siapa tidak mungkin? Mungkin saja, tentu dengan berbagai alasan. Cuma masalahnya, mereka yang makai kondom di kosan kami, kok kondom bekasnya tidak disimpan di tempat aman? Malah langsung dimasukkan ke lubang wc? Sungguh mereka tidak bermain cantik!

Andai saya pemakai, maka kondom bekas itu tentu tidak saya buang di lubang wc. Saya akan menyimpannya di plastik dulu, pas saya keluar kamar atau hendak pergi ke mana, baru saya buang ke tong sampah yang bukan milik kosan! Gitu, dunk! Gimana, sih! Hahaha. Yang rapi, dunk kalau main.

Oke, kembali ke si Aa, penghuni kamar kosan sebelah saya. Kata ayah Bintang, si Aa udah punya istri, tapi enggak tinggal bareng sama si Aa. “Biasanya dua minggu sekali atau sebulan sekali istrinya suka ke sini sama anaknya,” ayah Bintang bilang begitu sebelum pembongkaran pipa septikteng, mungkin 3 bulan lalu.

Dan benar, saya beberapa kali melihat sang istri si Aa, juga anaknya datang ke kosan si Aa. Nginap di sana. Biasanya, mereka datang pas si Aa-nya libur kerja. Bahkan, anak si Aa, yang kelihatannya berumur 3 tahun itu pernah masuk ke kamar saya, nanya ini itu ala seorang bocah. Anaknya lucu. Laki-laki. Masih cadel kalau ngomong.

Perihal si Aa suka bawa cewek ke kamarnya, itu sering saya memergokinya. Biasanya, si Aa bawa cewek sehabis pulang kerja sekitar pukul 22.00. “Ya sering lah. Ceweknya beda terus. Cuma bapak mah enggak banyak omong, biarin aja. Itu urusan dia…” kata ayah Bintang suatu kali.

Begitulah sodara-sodara. Selamat natal bagi yang merayakan! Moga kasih Tuhan selalu menyertaimu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Anjing Malam

Saya yakin ini yang dinamakan KDRT itu. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Ini bisa dilakukan seorang suami terhadap istri. Pun sebaliknya. Bentuknya bermacam-macam. Ada kekerasan fisik dan nonfisik. Di antara keduanya, saya tidak tahu dampaknya yang lebih buruk yang mana.

Dua hari lalu, jelang tengah malam, obrolan kami sempat terpotong saat mendengar si Abang, suami si teteh tetangga kosan kami berkata kepada istrinya. “Maneh mah da anjing, goblog!” Terdengar di teteh terisak! Seketika, niat saya kepengen nikah tahun ini atau tahun depan buyar sudah! Hanya gara-gara itu?

Awalnya, saya menduga, mempunyai istri/suami itu menyenangkan. Eh, tahunya saya salah duga. Ternyata, apa yang terjadi dengan tetangga kosan yang telah menikah itu menunjukkan sesuatu yang selama ini tidak sempat saya pikirkan. Sesunggunya siapa yang salah dan apa yang tengah terjadi dengan mereka, saya tidak tahu.

Pokoknya, sejak malam itu, saya jadi murung, sembari berpikir, ”Jangan-jangan kalau saya telah beristri saya melakukan seperti yang si abang lakukan terhadap istrinya.” Ah, rasanya saya harus berpikir ulang mengenai rencana saya menikahi seorang gadis yang saya impikan (siapa dia, emang udah ada?) Ah, saya bingung!

Malam itu, bukan saja omongan si abang kepada si teteh yang membuat saya jadi takut, tapi sebelum kata-kata si abang membuncah, terlebih dahulu terdengar plak…plak. Itu suara pukulan si abang yang didaratkan ke si teteh. Ya ampun! “Ya Tuhan, apakah saya harus menolong si teteh dan membogem si abang?” pikir saya.

Tidak. Tidak mungkin saya masuk ke kamar sebelah kosan saya mendatangi mereka dan bilang, ”Hai, Bang, apa yang kau lakukan terhadap istrimu? Kalau mau berduel, denganku saja! Anjing kau, Bang! Malam-malam gini! Ganggu orang tidur, tahu! Gimana kalau orang pada datang ke sini! Goblog!”

Sesungguhnya bila pun saya sampai mengatakan seperti itu, itu hanyalah ketiksengajaan. Apalagi saya selama ini tidak terbiasa bilang “anjing” maupun “goblog”, setidaknya secara terang-terangan. Andai itu benar-benar terjadi, itu hanyalah akibat keadaan sekitar yang menghendaki saya melakukannya.

Saya pikir lagi. Apa hak saya, tiba-tiba, tanpa salam masuk ke kamar mereka dan meluncurkan kata-kata—yang mungkin sudah sepatutnya saya muntahkan ke mereka. Eh, bukan mereka, tapi ke muka si abang yang kurang ajar itu. Kenapa saya katakan tidak mungkin saya mengatakan seperti itu?

Kau barangkali tidak tahu, sesaat setelah si abang memuntahkan kata-kata sampah terhadap si teteh, tiba-tiba Nasya, buah hati mereka yang berumur 3 tahun meraung, memanggil-manggil ibunya. Saya dengar dengan saksama, bersamaan dengan raungan Nasya, seketika itu pula si teteh berteriak tak beraturan,”Sudahlah, Bang! Aku mau pergi saja dari sini! Anjing!”

Setelah itu saya hanya dengar suara gelas terpelanting dari kamar sebelah. Tangisan Nasya kian menjadi dan suara pintu terbanting. Siapa yang keluar dari kamar mereka, saya tidak tahu. “Anjing!” kata teman saya lirih sembari membuang puntung rokok ke asbak di depan kami.

Resmi Pindah Kosan

Gambar dari: www.wartapunyamedan.com
Gambar dari: http://www.wartapunyamedan.com

Saya resmi menempati kosan baru sejak awal Oktober 2014. Saya memutuskan pindah dari kosan lama karena beberapa alasan yang harus saya sebutkan di sini.

Pertama, saya sudah setahun di kosan itu, jadi harus segera cari tempat baru yang lebih menggairahkan. September lalu genap satu tahun saya ngekos di wisma hijau itu. Buat saya, cukup setahun sajalah merasakannya, enggak perlu lama-lama.

Kedua, aspirasi penghuni kosan enggak didengar pengelola kosan. Ini yang membuat saya jadi tidak bergairah lagi tinggal di sana. Mungkin sudah setahun lalu saya katakan ke pengelola kosan, ”Pak, lampu depan kamar kami enggak ada lampunya, bisa dipasang?” Si bapak jawab, ”Iya, nanti, ya.” Dan sampai saya pindah, lampu itu belum juga dipasang. Ya udah, saya keluar. Saya memang cengeng!

Ketiga, penghuni kosan diwajibkan ngeronda. Awalnya, sebelum lebaran kemarin, jadwal ronda di lingkungan RT kami sebulan dua kali. Yang enggak hadir untuk satu kali ronda didenda Rp. 50.000/orang. Saya senang pada awalnya, meski hati agak menolak. Tapi setelah saya pikir-pikir, baik juga adanya ronda yang melibatkan anak kosan. Selain bisa banyak kenal dengan orang-orang sekitar RT, ngeronda juga bentuk kepedulian kita terhadap keamanan lingkungan. Ceileeeee!

Belakangan, saat saya bayar kosan dua bulan lalu, bapak kosan memberikan selembar kertas, ”San, ini ada pesan. Bisa dibaca nanti, ya.” Pas di kamar, saya langsung baca isi pesan yang tertulis di selembar kertas itu. Salam sejahtera. Semoga kita selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Sehubungan dengan telah ditetapkannya jadwal ronda, maka kami tegaskan untuk tetap dilaksanakan sebaik-baiknya. Bila merasa keberatan dengan peraturan yang ada, maka dipersilakan untuk menempati kosan lain yang lebih cocok. Wasalam. Pengelola kosan.

Keempat, volume air kamar mandi kecil dan warna air kuning. Walau begitu, selama setahun itu saya kuat, kok bertahan dengan keadaan seperti itu. Istilahnya, saya itu sabar. Hahaha. Diakui, di kawasan kami itu sekelilingnya area persawahan. Jadi wajar kalau itu berpengaruh terhadap air yang kami konsumsi. Makanya, di ujung keran kamar mandi saya balut dengan kain yang tujuannya menyaring supaya warna air tidak kuning. Lumayan, dengan begitu air jadi jernih dan untungnya tidak merusak pakaian.

Kelima, sudah dua motor yang hilang di kosan itu. Kosan kami itu bangunannya tingkat dua dengan jumlah kamar lebih dari dua puluh. Kosan itu termasuk bangunan baru dengan gerbang besi mentereng di depannya. Entah kenapa, selama saya setahun tinggal di wisma itu, dua motor dengan jenis dan merek berbeda raib pada malam harinya. Padahal, tiap malam gerbang yang terbuat dari terali besi itu selalu dikunci. Anehnya, saat kehilangan dua benda berharga itu, si gembok gerbang dirusak oleh si maling tanpa kami dengar suara kelontang-kelonteng! Mungkin kami dibuat terlelap oleh si maling. Bisa juga kami dihipnotis malam itu. Kejadian hilangnya motor kawan kami itu sebelum jadwal ronda intensif dilakukan. Tapi, ada kabar tak sedap, bahwa meski jadwal ronda telah aktif, eh tetap saja satu buah motor tetangga yang rumahnya tak jauh dari kosan kami, juga hilang digondol orang! Jadi, percuma, dunk ada ronda? I don’t know lah!

Keenam, ya sudah kalau begitu saya memutuskan pindah kosan sejak dua hari lalu ke tempat yang peraturannya saya senangi dan tidak memberatkan. Kalau menurut saya terlalu ribet aturan di kosan lama, kenapa pula harus dipertahankan. Lebih baik cari kosan yang adem ayem. Iya, kan?

Asal kau tahu, ya. Di kosan yang baru ini, saya merasa nyaman. Tempatnya itu di bibir kali—yang kata saya sebelumnya itu airnya tercemar. Ya enggak terlalu di bibir juga, sih. Begitulah, setelah saya banding-bandingkan dengan kosan lama, kosan baru lebih sejuk dan adem. Itu pertama yang saya suka.

Selanjutnya, saya sekarang sedang menikmati kosan yang baru. Mudah-mudahan lebih nyaman dibanding kosan lama. Yu ah tidur! Met tahun baru Islam bagi orang Islam.

Asyik! Dapat Jadwal Ronda

Gambar diambil dari: www.masduwi.wordpress.com
Gambar diambil dari: http://www.masduwi.wordpress.com

Saya itu di kosan dapat jadwal ronda dari pengurus RT tadi malam. Saya juga kaget, kok penghuni kosan dilibatkan dalam ronda-meronda di lingkungan RT saya? Sejenak saya berpikir, bagus juga saya dan teman-teman kosan diikutsertakan dalam menjaga kemananan lingkungan. Itu artinya, saya dan penghuni kosan pun bertanggungjawab besar dalam menjaga keamanan di mana kami tinggal.

Selain itu, bagus juga kata saya ke beberapa teman kosan kalau kita diminta ikut dalam kegiatan RT, termasuk ronda itu. Kenapa saya sebut bagus? Karena tentu saya pribadi bisa lebih kenal lagi dengan warga—yang tadinya tidak begitu kenal. Apa hubungannya? Iya, jadwal ronda itu, kan tiap malam bukan satu atau dua orang, tapi—saya lihat di jadwal yang terlampir sekitar 12 orang untuk sekali ronda. Nah, tentu kesempatan seperti ini jadi ajang saling kenal.

Masalahnya itu, oke kalau jadwal saya ronda itu pas kebetulan hari libur—misalnya malam Sabtu dan malam Minggu. Tapi kalau jadwal saya diletakkan di hari-hari aktif, Senin-Jumat, ampun, deh Pak RT—saya enggak bisa! Bukan apa-apa, sebagaimana jadwal ronda yang terlampir, mulai meronda itu sejak pukul 22.00-04.00 WIB. Bayangkan kalau jadwal saya ronda Senin atau Rabu misalnya. Saya bergadang, dong? Lalu pukul 08.00 WIB saya mesti berangkat ke kantor. Wah, ini BOCOR! BOCOR! Saya enggak mau, pokoknya!

Saya katakan saja ke salah satu pengurus RT—yang malam itu kebetulan mengantar jadwal undangan ronda ke saya. Namanya Pak Ridwan—yang tak lain dia ini adalah pengelola kosan saya. “Tapi, Pak, jadwal saya di kertas ini mulai ronda minggu pertama Juli 2014 hari Senin. Pak, pindah, ya jadwal saya ke Jumat malam Sabtu? Soalnya, kan saya kerja, Pak! Kalau saya tidak kerja di kantor mah, saya mau aja ronda kapan pun. Oke, ya, Pak?” pinta saya ke Pak Ridwan dan dijawab langsung sama dia,”Iya, nanti saya pindahkan!”

Di tengah asyik negoisasi dengan Pak Ridwan, eh tiba-tiba muncul Rangga—yang tak lain adalah teman kosan—yang lagi-lagi dia ini juga teman satu kantor saya. “Pak, saya juga jadwal rondanya tuker aja ke hari Jumat malam Sabtu, bareng aja sama si Hasan. Saya juga, kan kerja, Pak! Bisa aja, sih, Pak saya ronda pada malam Selasa, tapi sampe jam dua belas malam! Kalau sampai jam empat, ntar saya di kantor ngantuk, pasti enggak efektif. Mana di kantor terlarang ngerokok, Pak!” Pak Ridwan terpaksa meng-oke-kan pinta lelaki kerempeng itu.

Awalnya, saya dan beberapa teman di kosan sepakat tidak mau ngeronda meski ada jadwalnya. Kami cukup bayar saja ke RT tiap salah satu dari kami mendapat giliran ngeronda. Begitu awalnya. Tapi setelah membaca dengan lengkap pada lembaran kertas pertama—di sana tertulis: “Tidak hadir ronda sekali didenda Rp. 50.000.” Dan, bagi yang tidak hadir ronda sampai lima kali dendanya fantastis: Rp. 500.000! Alamak!

Tadinya, kalau denda tidak ikut ronda cuma Rp. 5000—saya dan beberapa teman akan bayar saja ke pengurus RT. Eh, karena denda tidak hadir ronda sekali saja cukup besar, maka kami putuskan tetap ikut berpartisipasi ronda—tetapi dengan syarat kami rondanya pada hari di mana kami libur: Jumat malam Sabtu atau Sabtu malam minggu. Dan alhamdulillah apa yang kami mau dikabulkan. Yes!

Saya tanya akhirnya ke Pak Ridwan apa saja, sih kegiatan meronda itu. “Ya paling-paling berkeliling di sekitar kompleks RT kita. Udah itu ya nga-liwet (masak nasi) bareng. Asyik, kok!” Perlu juga diketahui, bahwa dua bulan lalu di kosan kami telah hilang sebuah motor Mio warna merah milik salah satu kawan kami, Kang Asep. Dan, sekitar tiga bulan sebelum motor Kang Asep raib, di kosan yang sama hilang pula sebuah motor Supra X milik Ajang. Dua hari setelah kehilangan, Ajang langsung pindah kosan, entah ke mana. Sementara Kang Asep sampai sekarang masih bertahan.

Apakah karena kejadian itu kami penghuni kosan ini diminta ngeronda mulai bulan ini? Padahal, selama saya ngekos sewaktu kuliah tak pernah, tuh mahasiswa diminta pengurus RT di lingkungan saya untuk ngeronda. Ya, memang baru kali ini saya ngekos diikutsertakan untuk ngeronda. Ah, asyiknya!

Berterimakasih

Nah, di atap ini biasa saya jemur pakain. Karena ini musim hujan, yah, jadinya payah. Itu baju-baju saya tempo hari.
Nah, di atap ini biasa saya jemur pakaian. Karena ini musim hujan, yah, jadinya payah. Itu baju-baju saya tempo hari.

Saya diingatkan untuk berterimakasih. Seminggu yang lalu, saya mencuci pakaian sebelum berangkat ke tempat kerja dan menjemurnya di atas atap kosan, sebab saya pikir, tampaknya hari itu cuaca cerah dan rasanya tak turun hujan. Alhasil, jelang istirahat siang atau sebelum mendengar kumandang azan dhuhur, hujan mulai merintik. Eh, lama-lama, ternyata keran langit ini kok tambah deras. Saya sudah berburuk sangka, pasti baju yang saya jemur di atas atap basah semua, karenanya saya tak punya baju bersih yang kering. Tapi, saya sudah pasrah. Basah, ya basah. Lagian besok juga masih ada panas. Pikir saya siang itu.

Pukul 17.00. Saya keluar dari kantor  berpendingin udara itu. Langkah tak saya cepatkan, karena memang saya ingin menikmati sisa rintikan hujan yang mereka-mereka ini, siang tadi telah dengan tega membasahi baju, celana dalam, kaos kaki, levis, sapu tangan, dan peralatan dalaman lainnya yang saya taruh di atas atap kos. Hari itu, hati saya memang dibuat kelimpungan, merasa menyesal kenapa kok saya menjemurnya tidak di tempat jemuran yang ada atapnya. Kan kalau hujan sebesar apapun tetap aman. Tapi ini tidak, saya malah memilih mengeringkan pakaian di atas atap, yang kalau tidak hujan dan matahari lagi bagus, cukup dua jam saja langsung kering.

Saya sampai pintu gerbang kos. Karena kamar saya letaknya di lantai dua, dengan ikhlas saya panjati anak tangga itu. Saya tak langsung ke kamar nomor 14, tetapi langsung bergegas belok kanan menuju tangga lain yang tembus ke tempat jemuran. Sampailah saya di lantai tiga. Mata saya langsung saya picingkan ke arah atap kosan sebelah pojok kanan. Saya kaget, kok pakaian saya enggak ada, ya? Ribuan tanya dalam hati saya. Guna memastikan, saya dekati atap yang pagi tadi sempat saya datangi pas jemur pakaian. Ternyata, baju dan lain sebagainya lenyap. Tapi, bersyukurnya, waktu itu saya tidak menyangka pakaian saya hilang dicuri seseorang. Saya hanya bilang, mungkin ada orang yang mengangkat baju saya pas hujan tadi siang.

Ini kosan saya. Murah! Rp200 ribu sebulan!
Ini kosan saya. Murah! Rp200 ribu sebulan!

Saya langsung berjalan ke arah tempat jemuran yang biasa kawan-kawan kosan menjemur pakaian-yang saya bilang tadi-jemuran itu ada tali buat menggantungkan pakaian-dan, kalau pun hujan baju-baju yang dijemur di sana enggak bakal basah. Eh, apalagi yang harus saya ucapkan selain berterimakasih kepada orang yang telah rela mengangkat baju-baju saya dari atap kala hujan merintik siang tadi. Siapa pun orangnya, sekali lagi, makasih, ya. Dan saya tahu, di tempat kos-kosan saya, penghuninya yang enggak pernah pergi, baik siang maupun malam adalah dia, ya-seorang ibu penghuni kamar nomor 7. Kenapa ia selalu stenbai di kamarnya? Ya enggak tahulah saya. Yang pasti, suami si ibu ini tiap hari yang keluar mencari nafkah, sementara ia-si ibu, ya diam aja di kos, kadang ngobrol dengan ibu-ibu lain-yang kalau ngobrol sering kali ngakaknya minta ampyun!

Dan, hari ini terulang lagi. Pagi tadi, sebelum berangkat beraktivitas, saya lebih dulu mencuci pakaian dan langsung saya jemur di atas atap. Mudah-mudahan enggak hujan sampai dhuhur. Pikir saya. Eh, dugaan, perkiraan, dan pikiran saya 100 persen tidak betul! Sebelum dhuhur, saya dengar keran langit meneteskan berkahnya. Kalau air langit itu membasahi pakaian di atas atap yang sebelumnya kering, apakah masih disebut berkah? Saya buka jendela kantor, waw, dahsyat, hujan sungguh kencang dan lebat! Karena saya ini, barangkali terlalu lebay (mungkin), saya langsung menghampiri facebook,”Duh, pakaianku basah, dunk!” Seorang teman langsung balas,”Eh, kalau jemur jangan sembarangan, dunk!”

Saya buru-buru pulang ke kosan. Kebetulan jarak kantor ke kos, ya paling-paling sepelemparan batu lah. Niat  saya hanya satu: nengok baju yang dijemur di atas, di atas atap. Dua pikiran saya: baju-baju saya berhamburan lalu jatuh ke lantai, lalu kotor. Kedua, pakaian saya tetap teronggok, lesu, dan, ya basah. “Terlanjur basah, ya sudah mandi sekali…” itu kata lagu. Saya sampai di kos, langsung naik ke lantai tiga, eh, baju-baju saya enggak ada di atap! Oh, sudah berpindah ternyata ke tempat jemuran bertali. Ajaibnya, pakaian saya itu tersusun rapi. Makasih, ya Tuhan. Tengs buat si ibu penghuni kamar nomor 7! Allah sajalah yang akan mencatat kebaikanmu.

Besok pun saya akan mencuci baju yang saya kenakan hari ini. Masih mau menjemur di atap di saat musim hujan yang tak pernah bisa diduga kapan turunnya ini? Lihat saja besok, ya.