Kopdar: 1 Cowok 4 Cewek

Dari kiri: hasannote.wordpress.com, sitiagel.wordpress.com, kebomandi.wordpress.com, lianadaisha.wordpress.com
Dari kiri: hasannote.wordpress.com, sitiagel.wordpress.com, kebomandi.wordpress.com, lianadaisha.wordpress.com
Teman maya Liana, paling kanan, Dwi Welly SN juga ikut kopdar bersama kami. Kan jadi ramai.
Teman maya Liana, paling kanan, Dwi Welly SN juga ikut kopdar bersama kami. Kan jadi ramai.
Berpose dulu sebelum meninggalkan MADTARI
Berpose dulu sebelum meninggalkan MADTARI
Eh, mau minta difoto lagi...hmm. Bayar oi.
Eh, mau minta difoto lagi…hmm. Bayar oi.

Akhirnya, kopi darat (kopdar) malam Sabtu (7/3) kemarin di sebuah kedai bernama MADTARI, tak jauh dari kampus Unisba berjalan lancar dan berakhir sumringah. Kenapa? Walau ini adalah kali pertama bertemu di dunia nyata–rasanya seperti sudah kenal ratusan tahun yang lalu. Akrab dan saling bercanda. Kayak reunian gitu lah. Gak canggung!

Liana dari Jakarta Timur, Beki alias sitiagel blogger asal Bekasi yang kuliah di Bandung. Begitu juga dengan Kebomandi, cewek ini asal Kuningan–yang juga satu kampus sama Beki. Adapula Dwi Welly SN, ia teman facebook Liana yang asli Padang, Sumbar yang sedang berkuliah di ITB. Pascasarjana gitu, loh! Lalu Liana? Cewek berjilbab panjang itu masih bersekolah di salah satu MAN di Jaktim.

Moga kita bisa bertemu lagi, ya Beki, ya Kebo, ya Liana, ya Dwi Welly, ya Hasan. Sukses buatku, juga kalian!

Satu yang pasti: saya orang paling ganteng malam itu!

 

 

Iklan

Saya Botak, Maka Saya Tak Mau Kopdar!

Gambar didonlod dari: www.kaskus.co.id
Gambar didonlod dari: http://www.kaskus.co.id

Apa yang ditakutkan dari sebuah pertemuan? Apa yang membuat tuan dan puan ragu sehingga memutuskan untuk tidak bertemu dengan seseorang, hanya karena alasan tidak pede dan takut? Tidak pede dan takut adalah dua kata negatif—yang kalau tetap dipelihara, ia akan tumbuh subur di hati dan menyebabkan pelakunya susah-payah.

Beberapa kawan blogger pernah mengungkapkan kepada saya perihal ketakutan dan ketidakpedean mereka saat harus kopdar dengan sesama blogger. “Sering, sih teman ngajakin kopdar. Padahal dekat, di Bandung. Tapi, ya itu, gue malas karena gak pede dan takut!” begitu kata teman saya suatu hari dan baru kemarin alasan itu diulanginya lagi.

Saya tanya alasan spesifiknya, kok bisa gak pede sekadar kopdar saja ke teman saya itu. “Kepala gue di bagian depan rada botak. Makanya, jadi rada malu dan gak pede pokoknya. Males…males…males!” kata teman saya itu beralasan yang sebetulnya—saya gak mau sama sekali mendukungnya dan malah bikin saya ketawa. Uh, segitu aja dipikirin! Capek, deh!

Susah juga saya mau jawab apa saat kawan saya itu mengatakan dengan jujur perihal alasannya gak mau kopdar gara-gara persoalan fisik—yang menurutnya gak sempurna dan kepala di bagian depannya harus tidak botak. Memangnya manusia ada yang sempurna? Saya bisa jawab apa ke teman saya itu? “Alasan loe gak masuk ke otak gue! Alasannya bikin muntah!”

Teman saya ini rupanya masih bisa berkata-kata, entah bernada apa namanya. “Kenyataannya memang gitu. Gue orangnya gak pedean, minder, dan takut. Dan kalo gue bener-bener kopdar, yang ada gue pasti diketawain sama mereka! Gue putusin, walau udah beberapa kali kawan blogger ngajak buat kopdar, gue gak mau ikut! Gue bilang aja ke mereka kalau gue lagi balik kampung atau apalah gitu.”

Saya kesal mendengar alasannya—yang menurut saya apa yang dia katakan itu terlalu lebay. Ingat, bukan kesal kepada orangnya, tetapi kesal karena alasannya. Tapi, saya cepat-cepat diingatkan, bahwa problem tiap orang itu berbeda dan saya tidak bisa memaksa seseorang harus mengikuti gaya dan cara saya dalam menghadapi dan atau menanggapi sesuatu.

Dan kenapa teman saya itu begitu tidak pede, minder, dan takut kalau mau kopdar—tentu saya harus cari tahu dulu “kenapa”-nya dan saya berusaha tidak mau menganggap sepele apa yang dia rasakan. Ibaratnya, pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana—itu harus saya munculkan di benak saya sehingga saya tidak cepat-cepat memvonis kepada kawan saya itu, bahwa dia lebay atau apalah yang kira-kira prasangka negatif.

Lantas, saya katakan saja ke dia, kok ente begitu tidak pede ketemuan sama teman blogger—yang notabene selama ini ente akrab betul di dunia maya sama mereka. Padahal, kata orang kalo punya wajah ganteng, pasti dia paling pede, tetapi tidak bagi kawan saya ini. Meski dia berwajah tampan—yang gak beda jauh sama saya, kok gak pede dan minder untuk bertemu seseorang hanya karena rambut di bagian depan kepalanya agak botak. Capek, deh!

Saya hanya katakan ke teman baik saya itu, ”Sampai kapan loe bersikap seperti itu? Mau ini malu, mau itu gak pede, mau begini selalu ngeliat kekurangan. Sampai kapan loe berpikir seperti itu? Orang belum tentu berpikiran seperti yang loe pikirkan, Bray! Itu mah dugaan dan pikiran negatif  kamu. Belum kejadian udah mikir macem-macem! Positif coba, positif, Bro! Gimana, sih! Lagian orang itu gak melulu liat penampilan fisik, tapi sikap, Bro!”

Saya berkesimpulan, bahwa karakter dan kepribadian seseorang itu tak ada yang sama. Pokoknya beda. Yang mesti saya hargai adalah menerima keberbedaan itu dengan lapang dada dan ikhlas bahwa Tuhan ciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Soal ada orang yang belum pede dan belum menerima dirinya apa adanya—biarlah, suatu saat mereka pun akan menjadi manusia pede dan tidak penakut seiring berjalannya waktu.

Barangkali saya menyebut orang yang ragu dan tidak pede adalah—mereka itu sedang ditimpa musibah psikologis dengan berbagai latar belakangnya. Mereka menjadi seperti itu—tentu ada musababnya. Meyakinkan orang tersebut supaya lebih pede dan tidak takut, juga perlu kesabaran ekstra, utamanya dari saya sebagai teman sekaligus sahabatnya—yang harus terus-menerus memotivasinya semampu saya.

Oke, ya. Kalian pasti bisa, kalian pasti sanggup meluluhkan prasangka negatif terhadap apapun.

Kopdar, Yuk? Dan Harus Jadi Kali ini

Gambar diambil dari: ilarizky.blogdetik.com
Gambar diambil dari: ilarizky.blogdetik.com

Ceritanya kita ini—Sabtu (7/3) malam besok mau kopdar dengan beberapa teman blogger yang berasal dari Jakarta dan Bandung. Sebetulnya, ide untuk ngumpul bareng di dunia nyata—itu tercetus  sejak saya kenal mereka. Tetapi, entah kenapa—rencana itu selalu gagal  karena beragam alasan. Dan, kopdar kali ini, harus jadi pokoknya, ya!

Yang tampaknya kopdar kali ini membuat tidak batal—ya karena, salah satu blogger asal Jakarta Timur—sebut saja Liana namanya—eh, dia udah ada di Bandung sejak tiga hari lalu. Entah tujuannya mau apa. Tetapi, sebelum dia sampai di Kota Kembang ini, dia lebih dulu mewanti-wanti saya, ”Pokoknya, kalau gue ntar ke Bandung kita harus kopdar!”

Saya katakan saat itu, mudah-mudahan saya bisa ketemuan sama blogger yang juga masih duduk di bangku SMA di ibu kota tersebut. Saya maunya, kalau ketemuan nanti, itu bukan hanya bertemu sama dia saja, tetapi kawan-kawan blogger yang ada di Bandung, utamanya yang saya kenal dan dia kenal—ya ngumpul juga gitu. Biar rame dan asoy.

Liana lalu kasih tahu ke saya lewat pesan facebook, bahwa Ayyu Aghniaty—yang juga blogger asal Bandung yang kini sedang persiapan wisuda, itu juga mau ikut kopdar katanya. “Kak, kak Ayu juga katanya mau kopdar bareng kita. Sabtu malam, ya jadi kita kopdarnya. Harus!” begitu kata dara berjilbab panjang itu dengan nada pengin banget ketemu saya. Ha.

“Ayyu, kita kopdar, ya Sabtu malam. Liana udah di Bandung. Kasian kalo musafir itu gak kita temuin. Ajak Sitiagel juga. Mudah-mudahan dia mau,” saya kirimkan kata-kata itu lewat pesan BBM milik Ayyu—alumnus Telkom University (Tel-U) Bandung itu. Saya tak menunggu lama untuk dapat jawaban dari orang Kuningan itu. Intinya, Ayyu siap untuk kopdar dan tampaknya bersemangat.

“Iya, ntar Sitiagel juga diajak kalau dia gak sibuk skripsi,” kata Ayyu. Zaman gini masih skripsi Beki? Beki itu panggilan Sitiagel. Ha. Maksudnya, Sabtu malam, masa, sih masih mikirin skripsi? Libur dunk! Ntar Senin dilanjutkan lagi skripsi mah. Begitu dalam hati saya yang tak diketahui Beki. Mungkin. Maka, saya beranikan diri meng-whatsApp ke Beki, ”Beki, kopdar, yuk?” “Kapan?” jawab Beki yang juga berkacamata itu.

“Sabtu malam. Kebo Mandi juga mau, kok  kopdar. Mau, ya?” lanjut saya. Rasanya, pesan saya itu sejam belum berbalas. O, iya—mungkin sedang bergulung dengan skripsinya atau dia kelelahan dan tidur di kos sehingga lupa kalau saya kirim pesan bernada ajakan kopdar. Tepat pukul 19.02, barulah Beki jawab, ”Oke!” Saya balas lagi, ”Waited!” Saya ini seperti yakin, saya juga akan datang atau tidak saat kopdar nanti. Ha.

Yang mau bergabung kopdar bareng kami silakan, ya pemirsa blogger. Sabtu malam (7/3)-sekitar pukul 17.00 ampe puas. Tempat: Tamansari, dekat kampus Universitas Islam Bandung (Unisba), entah di kafe apa namanya saya lupa. Pokoknya ke sana aja dulu, deh, ya. Monggo ziarahi 7671d059 (BBM). Selamat bertemu, ya kawan-kawan di TKP! Tak perlu banyak, yang penting makanannya bejibun!

Maaf bila tak menyebutkan kawan-kawan satu persatu di sini, ya…:)