Cerpen

Picture from: ww2.kqed.org
Picture from: ww2.kqed.org

Sabtu. Tanggal merah, bertepatan dengan 1 Muharram, tahun baru Islam. Kalau hari itu tanggal merah, ya sama aja buat saya, enggak ngaruh, wong saya memang libur. Koran pasti enggak terbit. Ah, payah! Beli Tabloid Nova sajalah. Banyak cerita tentang wanita dan artis! Bukan, bukan karena itu saya beli Nova, tapi saya hanya ingin baca cerpennya. Titik!

Entah sudah berapa ratus cerpen saya baca sejak kuliah hingga hari ini. Yang paling banyak saya baca itu, terutama cerpen yang dimuat koran Minggu, baik koran lokal maupun nasional. Saya rasa, semakin saya banyak baca cerpen semakin saya bingung, apa itu cerpen? Dan, yang lebih parah, mimpi saya bisa buat cerpen belum jua terwujud! Lain kata, bagi saya, tak mudah bikin cerpen itu!

Sampai kosan, saya buka Nova. Baca liputan pernikahan Raffi Ahmad-Slavina, profil walikota Bandung, Ridwan Kamil, dan terakhir saya beralih ke rubrik cerpen. Judulnya: Gemerincing Hati yang ditulis oleh Bamby Cahyadi. Saya enggak kenal siapa dia, tapi saya suka gayanya bercerita, walau saya bingung pada awalnya. Tentang perempuan dan perasaan perempuan, itu inti ceritanya. Semoga saya salah menyimpulkan.

Setelah saya baca Gemerincing Hati hingga tuntas, selanjutnya saya diserang kantuk hebat. Efek cerpen Bamby merasuk ke seluruh penjuru tubuh. Saya paling senang bacaan yang buat saya ngantuk! Oke, saya tidur sampai duhur dan lalu mandi karena harus berkeliling Kota Bandung. Eh, maaf, enggak jadi karena keburu ingat, isi dompet tinggal selembar bergambar Pattimura bawa parang!

Minggu pagi pun tiba. Saatnya ke pasar kaget di pinggiran sungai tak jauh dari kosan. Selain hunting jajanan super murah, ya bisa sekalian beli koran kalo ada. Makanan yang pertama saya beli adalah serabi atau surabi bahasa Sundanya. Penganan berbentuk bundar pipih berpori-pori, dibuat dari adonan tepung beras (gandum), air kelapa (santan dsb),  ragi, dan sebagainya tersebut murah! Hanya Rp.2000-an.

Makan serabi udah, ngopi juga kelar. Apalagi, ya? O, iya beli koran! Akhirnya saya dan teman pulang ke kosan sebelum akhirnya beli koran di pertigaan pom bensin yang tak jauh dari pasar induk Gede Bage. Teman beli Tribun Jabar, teman satu lagi nitip koran Pikiran Rakyat, dan saya beli Kompas. Adapun Tempo dan Republika, saya pikir baca Senin aja di kantor.

Sebelum mampir ke tukang koran itu, kami terlebih dahulu ke pasar Gede Bage—karena tiap Minggu pasti ada pasar tumpah alias pasar kaget. Niatnya, siapa tahu ada buku atau majalah bekas bagus yang dijual oleh dua penjual buku bekas: Mang Rovi dan Mang Entam. Dari Mang Rovi saya beli satu majalah Ummi karena tersihir dengan kovernya: Din Syamsuddin dan istri. Bukan itu, sih tapi di Ummi ada cerpennya.

Teman beli dua majalah Tempo jadul. Edisi khusus bila tak salah. Baiklah, sinar mentari kian meninggi dan kami pun segera pulang ke kosan. Pertama-tama saya baca dulu cerpen yang ada di Tribun Jabar: Baju Bekas, begitulah judulnya. Penulisnya Ni Komang Ariani, cerpenis asal Bali yang cerpennya pun pernah masuk di buku kumpulan cerpen Kompas.

Pikiran Rakyat. Cerpen yang dimuat di surat kabar yang didirikan pada 1966 tersebut judulnya Burung-burung Pencuri Sesajen yang ditulis oleh Absurditas Malka. Yang saya tahu, Oktober ini dia menjadi peserta pada Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2014 dengan beberapa penulis lainnya, baik dari dalam maupun luar negeri.

Majalah Ummi adalah majalah terakhir yang saya baca hari itu sekaligus baca cerpennya. Aku Mencintai Istrimu, itu judulnya yang ditulis oleh Novia Syahidah. Adapun cerpen di harian Kompas, saya cukup baca judul dan penulisnya saja: Bulu Bariyaban, oleh Zaidinoor karena keburu ngantuk dan lapar. Mungkin malam nanti saya teruskan.

Kapan cerpen saya dibaca orang yang suka baca koran? Tunggu!

Iklan

Jaya Suprana Dihargai Rp 20 Ribu

Oleh-oleh saya dari Palembang yang dibawa ke Bengkulu bukan Pempek atau makanan khas lainnya, melainkan sebuah buku. Cuma satu buku. Buku karangan Jaya Suprana, yang konon seorang kelirumolog-nya Indonesia. Buku dengan sampul warna hitam yang gambar depannya Jaya Suprana itu saya dapatkan dari salah satu toko buku Gramedia di jalan Atmo, kota Palembang beberapa minggu lalu. Harganya murah, Rp 20.000! Tebalnya 416 halaman. Maklum, di lantai 4 toko buku itu sedang ada diskon!

Awalnya, saya tak berniat mampir ke toko buku itu. Usut punya usut, tidak adanya niat ke toko ilmu pengetahuan itu lantaran belum memadainya kocek alias pulus. Tapi, sore menjelang magrib itu saya langsung saja masuki pintu gerbang toko itu. Niatnya, ya hanya ingin membaca saja. “Mas, tempat penitipan barang dimana, ya?” ungkap saya memberanikan diri ke salah satu petugas toko. Nampaknya, ia sekuriti.

Tas gendong dan barang bawaan di tangan saya titipkan sesuai petunjuk karyawan toko itu. Di pojok ujung sebelah kanan. Tertera “Tempat Penitipan Barang”. “Isinya apa di tas ini, Mas? Leptop? Atau ada dompetnya?” lagi-lagi petugas di tempat penitipan barang membuat saya harus bersuara. “Enggak ada, Mas!” jawab saya. Leptop memang tidak ada di tas, tapi cuma dompet. Dompet yang isinya hanya: KTP, catatan utang-piutang, tanda bukti pembayaran kreditan motor, plus foto hitam-putih 2×3 saat SD dulu. Sementara duit saya kantongi di saku celana. Enggak suka nyimpen uang di dompet!

Buku-buku cetakan baru berjejer di rak-rak toko itu. Harumnya beda. Beberapa rak buku saya singgahi, saya buka bukunya, dibaca sekilas. Banyak yang menarik dan harus dibeli. Tapi tidak untuk sekarang, pikir saya. Di rak bagian novel, sudah saya tandai novel yang suatu saat saya harus membelinya. Begitu juga di bagian rak yang lain, beberapa buku juga menggoda  hati saya untuk memilikinya. Yup, nanti pasti tercapai. Tapi tidak buat sekarang!

Lama-lama pusing juga melihat buku sebanyak itu. Apalagi harus membaca-meski sekilas sambil berdiri. Di ruang ber-AC lagi. “Buku murah, diskon! Harga mulai Rp 5000-20.000!” ada tulisan begitu, tepat di tangga yang hendak menuju lantai 2 dengan tanda panah menunjukkan ke atas. Karena penasaran, saya langsung meninggalkan lantai 1. Tepat pukul 17.30 pas saya intip di hape nokia hitam saya waktu itu.

Berada di lantai 2 toko buku yang kelihatan mewah itu, nampak beberapa pengunjung khusuk melihat-lihat buku, membaca, tapi ada pula-sepasang cewek-cowok bersitatap di pojok rak di sudut kiri ruangan. Saya hanya lihat sekilas, setelah itu enggak memerhatikan lagi. “Buku murah, diskon! Harga mulai Rp 5000-20.000!” saya menatap tulisan begitu lagi. Anehnya, petunjuk itu berada di dekat tangga menuju lantai 3 dengan tanda panah yang menunjuk ke lantai 3.

Anak tangga menuju ke lantai 3 saya tapaki. Sampailah saya di ruangan buku-buku lantai 3. Saya tak lagi membaca pentunjuk di tangga menuju lantai 4. Cus. Sedikit berlari, lantai 4 toko buku elit itu saya jajah. Hamparan buku terbentang di hadapan saya. Lupa pula mau mengabadikannya lewat kamera hape. Ini saking bernafsunya saya melihat buku berserak, lalu ditawarkan dengan harga murah! Tak sabar saya membolak-balik buku berharga miring itu. Belum juga ditemukan yang cocok.

http://news.liputan6.com
http://news.liputan6.com

Beralih ke tumpukan lain. Tak sedikit buku-buku tentang pengembangan diri yang saya lirik.  Komik-komik juga berlimpah. Buku resep memasak dari berbagai daerah, meski cetakan lama tapi masih berbungkus plastik. Novel-novel juga tersedia, baik terjemahan maupun karangan asli orang Indonesia. Yang tebal ada, yang tipis banyak. Buku-buku traveling, saya lihat juga menghiasi tumpukan buku yang lain. Rasa-rasanya, mau saya beli semua buku yang berada di lantai 4 itu. Lagi-lagi, tapi tidak untuk sekarang, Cep!

Saya terus berkeliling di ruang lantai 4 itu. Terus membolak-balik buku yang menumpuk berserak. Sekilas, saya lihat telapak tangan saya kotor, menghitam. Tak sengaja, saat hendak membalik beberapa buku di samping kiri saya, saya langsung menjamah salah satu buku warna hitam yang depan covernya gambar Jaya Suprana. “Naskah-Naskah KOMPAS Jaya Suprana.” begitu judulnya. Pengantar buku itu ditulis oleh Jakob Oetama-Pemimpin Umum Kompas.

Mengapa saya tertarik dengan buku itu dan langsung membeli? Pertama, buku itu merupakan kumpulan artikel Jaya Suprana yang pernah dimuat di Harian Kompas- yang menurut Jakob-dalam kata pengantarnya bahwa penulis buku itu adalah sosok yang serba bisa, bahkan luar biasa. Misalnya, kehadiran Musium Rekor Indonesia (Muri) yang digagasnya hingga kini terus eksis berkembang. Yang paling bikin saya tertarik memiliki buku itu, karena-lanjut Jakob, Jaya Suprana itu humoris! Bahkan dia pula yang mencetuskan istilah “kelirumologi”. Mempelajari kekeliruan demi mencari kebenaran.

https://www.google.com
https://www.google.com