Abdur

Abdur. Foto diambil dari akun instagram miliknya.
Foto diambil dari akun instagram miliknya: aa_abdur

Saya bilang ke adik saya, tolong jangan buru-buru mau keluar dari kerja. Pikirkan 10 kali sebelum melangkah cari kerja yang lain. Apalagi, kata saya, ente belum ada persiapan mau ke mana begitu risain dari tempat kerja sekarang. Namanya bekerja itu mana ada yang enak, mana ada yang bikin nyaman selamanya. Adakalanya membosankan, bahkan jenuh tingkat kaisar!

Yang enggak pernah jenuh dan bosan barangkali Izrail—pembantu Tuhan yang tugasnya nyabut nyawa. Bayangkan, andai malaikat maut itu bilang sama tuannya,”Bos, rasanya aku udah bosen, nih kerja nyabut nyawa orang. Maaf, aku mau keluar aja, ya jadi pegawaimu? Soalnya aku mau cari pekerjaan lain yang kira-kira tak dibenci manusia.”

Nah, karena kau manusia, Abdur, jadi, tolong resapi, namanya beraktivitas di dunia ini, bila dirasa-rasa, ya sebenarnya enggak ada yang enak. Lelah, capek, depresi, males, dan gangguan-gangguan lain yang menyebabkan enggan melakukan sesuatu. Jadi tahan sebentar egomu untuk memutuskan keluar kerja. Pikirkan ulang maksud saya.

“Eggak ada perubahan kerja di Bengkulu, A!” Itu katamu, entah berapa puluh jam lalu. Siapa  yang enggak berubah? Dirimu, Bengkulunya sendiri, perusahaan tempatmu bekerja, pacarmu yang kembar itu, atau, jangan-jangan gajimu selama ini tak pernah cukup untuk biaya hidup sehari-hari di tengah harga-harga kebutuhan pokok kian melambung dan cicilan kredit motor yang memusingkan?

Untuk yang terakhir, saya tanya berapa bulan lagi cicilan motor yang harus adik saya bayar? ”Baru dibayar lima bulan, Bro! Setahun setengah lagi!” Terus, kalau kamu keluar gawe (kerja), siapa yang bakal bayarin motor? Begitu kejar saya ditelepon. Adik bungsu yang pewarta di salah satu media televisi lokal itu hanya bilang,”Motor dijual saja! Paling bayar aja berapa DP saya kemarin.”

Saya katakan lagi ke adik saya yang tinggi badannya melebihi saya,”Kalo bisa jangan seperti saya lah! Dua tahun lalu saya pun memutuskan keluar kerja  begitu saja tanpa memikirkan mau ke mana atau mau kerja di mana setelah saya keluar kerja, walau dengan alasan saat itu saya udah merasa bosan dengan pekerjaan itu dan lagi, gajinyo idak besak, sementara, sama, motor harus dibayar!”

Kamu, kan tahu, Dur. Saya ini baru bisa dapat kerja lagi setelah enam bulan menganggur luntang-lantung di Bandung. Kamu bisa bayangkan, bagi yang udah biasa bekerja dari pagi pulang sore, terus tiba-tiba aktivitas itu terhenti karena belum dapat kerja yang baru, wah, itu sungguh membuat nyaris stress. Wajar stress kali, ya. Uang enggak ada, sementara kredit motor harus dibayar! Bukan hanya itu, kan saya butuh makan. Hahaha.

Boleh kamu keluar kerja. Katamu, awal Maret ini kamu mau keluar dari tempat kerja. Bener, nih, Maret? Enggak salah? Gini, lho, Bro. Coba cari peluang dulu di sana, kontak semua teman yang udah kerja di tempat lain, kira-kira ada lowongan apa enggak, yang menurutmu, kamu bisa melakukan pekerjaan itu, jika memang pekerjaan yang sekarang sebenarnya bukan passion kamu. Lah!

Saya yakin ada pekerjaan yang lebih baik dari yang kamu kerjakan hari ini, asal dicari dan enggak usah ngeluh. Ngeluh boleh, tapi benarkah dengan kamu mengeluh masalah jadi tuntas? Ingat, Dur, tidak ada  kamus ngeluh di dalam tradisi keluarga kita. Bukan enggak boleh, lho. Awas, hati-hati mengartikan apa yang abangmu katakan ini.

Saya ini maunya jelas, Dur. Kamu bilang kamu mau cari kerja ke Bangka, eh tapi tahunya  teman kamu yang mau kamu ajak malah tidak diizinkan orangtuanya. Kamu enggak berani sendiri, ya, masa harus bergantung sama orang? “Bukan begitu. Yang tahu daerah Bangka, kan dia. Kalau saya harus sendiri ke sana, wuh, enggak enaklah kalau enggak ada kenalan!”

Saya sarankan adik saya coba hunting kerja ke Palembang. Di kota Pempek itu, sambung saya, minimal ada beberapa biji teman lama, yang sampai hari ini masih kontak-kontakan. “Hahaha! Tetap kurang enak kalau bukan teman saya. Sementara ini mau manfaatkan teman yang kerja di luar Bengkulu yang sebelumnya kenal sama saya. Bukan baru kenal, tapi udah kenal sejak lama.”

Saya langsung sebutkan beberapa teman dia yang kini tinggal di luar Bengkulu, termasuk kakak saya yang ada di Belitung dan saya menyuruhnya segera hubungi mereka, jika memang mau cari kerja di tempat lain dan enggak mau di Bengkulu. Dia malah terbahak habis-habisan, padahal saya tidak ada niat untuk melawak di pagi yang gerimis itu. “Udah, gini aja, saya mau ke Bandung! Tolong tampung saya dengan ikhlas di kosan! Titik tanpa koma!”

Brrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr.

Ya Tuhan, benarkah dia adik saya???

Bukan Kepo Biasa

Ilustrasi diunggah dari: www.sibuntungs.blogspot.com
Ilustrasi diunggah dari: http://www.sibuntungs.blogspot.com

Rasanya kurang etis kalau saya hendak mengetahui apakah seorang cewek ini sudah punya pacar atau sudah menikah, lalu saya langsung tanya begini, ”Eh, Teh, sudah punya pacar?” Atau,”Eh, Mbak, sudah menikah?” Cara seperti ini tak pernah saya lakukan. Niat pernah tercetus, tetapi pada kenyataannya tak pernah terjadi. Saya lebih baik ambil cara lain yang lebih luwes. Apalagi yang saya hadapi adalah orang baru.

Di kantor saya kebetulan dua hari ini telah bergabung karyawan baru. Dia cewek. Berjilbab. Berkacamata. Masih muda. Tampak enerjik. Menurut saya cantik. Dan, saya yakin belum tentu kalau menurut kalian. Dalam hati saya bilang—sejak kepala HRD kami memperkenalkannya kepada kami karyawan lama—pada suatu pagi sebelum doa bersama.

“Pokoknya saya harus tahu, kenapa si cewek itu kok mau ngelamar ke perusahaan tempat saya bekerja. Terus, sebelumnya dia bekerja di mana dan sebagai apa, saya juga harus tahu. Kuliahnya jurusan apa, asli orang mana, apa pengalaman kerja di tempat lama kalau memang dia udah kerja. Terakhir, saya mesti menyelidik, dia masih gadis atau udah janda. Eh, maksudnya, dia udah punya pacar atau memang sudah menikah.”

Pikiran-pikiran seperti itu sebetulnya spontan saja merasuki halaman otak saya—utamanya sejak kehadiran si cewek yang berstatus karyawan baru di perusahaan kami. Dan, saya pun tak bisa menepis keingintahuan saya mengenai sekelumit biodata dia. Ya, sekadar ingin tahu dan setelah itu, ya saya ingin kenal dekat saja. Tidak lebih. Kalau nanti udah kenal, tentu bisa diajak ngobrol ini itu. Di sanalah barangkali tersimpan inspirasi.

Saya membuka pintu kantor ketika si teteh karyawan baru itu sedang duduk manis di kursi kerjanya sambil asyik dengan smartphone-nya. Karena kebetulan, rekan kami yang baru ini adalah petugas front office menggantikan kawan kami yang sudah risain. Saya lempar senyum ke dia sambil terus berjalan ke meja saya yang ada di lantai dua. “Nah, sekarang aja, deh ngobrol sama si dia. Mumpung karyawan lain belum datang,” celetuk hati saya.

Setelah meletakkan tas, lalu saya turun kembali ke lantai satu. Saya langsung menuju tempat pegawai baru itu. “Hai, Teh! Eh, lupa, siapa namanya, ya?” Dia sebutkan namanya sambil tersenyum—yang sebetulnya membuat saya grogi—dan nyaris salah tingkah. “Rara. Oh, iya, dengan bapak siapa, ya?” Dia balik tanya ke saya. Dan saya, dipanggil “bapak”. Duh!

“Saya Hasan, Teh!”

“O, Bapak Hasan, to. Soalnya saya belum hafal nama-nama karyawan di sini.” Dia senyum. Saya pun begitu.

“Saya bukan bapak, Teh! Panggil aja Hasan.” Si Rara tawanya membuncah. Saya senyum, tetapi tak terlalu lebar.

“O, ya, sebelumnya kerja di mana, Teh?”

“Tele house.”

“Sebagai apa?”

“Bagian admin, terakhir juga di front office.”

“Teteh asli orang mana?”

“Cileunyi.”

“O, dekat atuh, ya. Berarti ngangkot, dunk?”

“O, enggak. Bareng suami pake motor!”

Nah, saya kan jadi tahu kalau ternyata Rara karyawan baru ini sudah menikah dan bukan seorang gadis. Dengan saya tahu statusnya, tentu saya—sebagai lelaki lajang tak harus terlalu akrab dengan dia—walau sebetulnya, bila ditilik dari sekujur tubuhnya, si teteh tampak belum bersuami. Akrab boleh, tetapi tak kebablasan. Saling menjaga saja.

“Kalau Hasan dari mana asalnya?”

“Hmm. Bengkulu!”

“Wah, jauh amat!”

“Kata siapa? Pernah ke sana? 50 menit aja, kok pake pesawat dari Jakarta!”

“Hahaha. Hmmm. Belum, sih! Tinggal di mana?”

“Kos di belakang.”

“Sendiri, dunk di Bandung?”

“Ya enggak lah, Teh! Di kosan saya banyak teman-teman, kok. Hahaha.”

“Maksudnya udah menikah apa belum, gitu…”

“Alhamdulillah belum, Teh!”

“Dua hari di sini, gimana rasanya, Teh?”

“Lumayan, tapi masih coba nyesuaikan. Meskipun dulu saya juga di fron office di tempat kerja lama, tapi ada dikit perbedaan dengan di sini. Jadi memang saya mesti banyak tanya di sini.”

“Nanti juga dengan sendirinya lancar, Teh. Tenang aja. Eh, dulu kuliah di mana, Teh?”

“Enggak kuliah. Dulu pas tamat SMA langsung kerja. Pernah kuliah tapi enggak selesai karena saya fokus kerja.” Selesai Rara ngomong seperti itu, saya sambil lihat jam di tangan saya: 07.55. Sebentar lagi doa pagi bersama. “Oke, Teh, udah dulu, ya. Makasih, Teh!”

 

 

 

Tuhan, Jangan Luluskan Aku Jadi PNS

www.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com

 “Tapi salah banget nggak sih kalo aku berharap supaya nggak lulus tes (CPNS) aja? Aku nggak mau jd PNS. beneran!”

Awalnya, saya pikir, orang ini aneh, kok dia berdoa supaya enggak lulus jadi PNS. Padahal, teman saya ini beberapa minggu lalu ikutan tes CPNS di kotanya, Timur Indonesia. Saya belum tahu pastinya kenapa, sarjana pendidikan bahasa Inggris itu sampai mengatakan seperti itu. Saya yakin, dia mengatakan yang demikian, itu bukan secara tiba-tiba, dan mesti ada musababnya. Nah, soal musababnya ini, yang masih saya pertanyakan. Kenapa pula saya rela membahas tentang ucapan kawan saya ini? Entahlah. Saya merasa, ini inspirasi saya buat menulis di sore ini, di tengah kebuntuan yang kian menggejala.

Semua orang tahu, bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling dicari di Indonesia. Karena alasan inilah, saya mempertanyakan ke teman, yang juga blogger itu sampai tega melontarkan, bahwa dia berdoa-walau pengumumuan hasil tes CPNS belum diumumkan, mudah-mudahan dirinya tidak lulus CPNS. Ini gila, kata saya seketika, walau saya tidak berani mengatakan langsung kepadanya. Saya hanya bilang, setiap pilihan itu tidak ada yang salah. Yang salah itu, ucap saya-mereka yang tak berani memilih di antara dua pilihan.

Waduh. Saya pun, sebenarnya tidak serta merta memarahi kawan akrab saya di dunia maya itu, tersebab telah mengatakan sesuatu di luar jalur mainstream. Apalagi, selama ini-jalur mainstream adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan, bahkan paling dianggap wilayah yang paling benar, walau-secara pribadi saya tidak selalu mengagungkan mainstream. Walau demikian, saya amat salut sesalut-salutya kepada orang yang sanggup berpikir dan bertindak di luar jalur kebiasaan, walau harus juga menerima segala konsekuensinya.

Saya belum tahu, apa konsekuensi yang akan didapatkan/diterima oleh kawan saya yang satu ini-yang berani berharap, “Mudah-mudahan saya tidak lulus tes CPNS!” Utamanya, barangkali dari orang-orang terdekat: kedua orangtua, kakak, adik, ponakan, tetangga, teman kuliah yang juga sama-sama ikut tes CPNS, pacar, dan semua lingkungan yang pernah ia sambangi. Pastilah, kalau orang tahu dia ini berharap tidak lulus tes CPNS, pendapat pun akan beragam. Tapi, tampaknya perlu diingat, bahwa ada salah satu instansi pemerintah yang mengultimatum, bahwa bila orang bersangkutan itu lulus tes dan mengundurkan diri, maka terkena denda yang tak sedikit, lho. Sampai puluhan juta kalau tak salah.

Semuanya memang, siapapun orangnya harus memikirkan  matang-matang sebelum bertindak. Jangan sampai, kata orang-kalau salah bertindak ataupun berbicara, maka bisa fatal akibatnya. Mungkin saja, kawan saya ini-dulu, daftar CPNS karena ikut-ikutan teman, gengsi, atau tak sadar, bahwa ia ikut daftar tes CPNS. Atau, barangkali-ini sering, karena dipaksa orangtuanya, yang kebetulan-mereka juga PNS. Kalau anak enggak PNS, enggak keren. Itu mungkin pikir kebanyakan orangtua Indonesia. Saya berharap, kawan saya ini daftar CPNS kemarin bukan karena alasan yang saya sebutkan di atas.

Atau, kenapa kawan saya ini memutuskan bilang, “Tuhan, tolong jangan luluskan saya jadi CPNS!”, karena memang dia telah punya pekerjaan yang lebih nyaman daripada menjadi PNS. Dan bahkan, penghasilannya pun lebih lumayan dari seorang abdi negara itu. Mudah-mudahan saja begitu. Dan, bagi saya-bekerja di mana pun, itu sama saja-yang penting itu nyaman dan sesuai passion, kata orang-orang. Uang yang dicari? Oh, sebanting tulang apapun ia dicari, ya, sama saja, kok. Kalau tak pandai mengelolanya, matilah kita. Tetapi, walau gaji kecil, asal kebutuhan terpenuhi, nyantailah kita. Begitu, bukan? Semoga tak tepat.

Lalu, siapa kawan saya itu? Ada, dia blogger di sini, seorang cewek yang juga hobi berfoto dan jalan-jalan. Hahaha. Tengs inspirasinya buat hari ini, administrator!

Alhamdulillah, Duit Saya Menipis!

Duit mulai menipis. Gajian juga belum. Ha? Gajian? Emang saya kerja apa sampai harus gajian? Yup, enggak usah dibahas. Jelasnya, hari ini dan beberapa hari ke belakang uang di dompet saya berkurang. Entah tinggal berapa, sementara saya malas menghitungnya. Kalau mau tahu berapa rupiah sisa pulus yang saya punya, nih fotonya di bawah sini.

Berapa, ya itu duit?
Berapa, ya itu duit?

Walau keadannya seperti itu, saya tetap  masih bisa senyum, bahagia, jailin kawan-kawan, berhumor mesti enggak lucu, jalan kaki tiap pagi, dan tentu tetap ingat sama yang punya dunia dan seisinya ini. Saya juga bisa tenang sekarang, betapa pun habisnya duit saya, baik di dompet maupun mesin ATM.

Kenapa tenang? Sebab, untungnya, saya sudah pindah kosan yang dekat dengan kegiatan saya sehari-hari. Jadi, kalau mau ke kantor, ya tinggal jalan kaki saja. Tanpa mengeluarkan uang recehan buat ngangkot maupun nge-bis. Paling-paling membutuhkan waktu 7 menit, dan saya telah bercokol di hadapan komputer, duduk manis di kursi empuk, serta memandangi deretan buku-buku menumpuk di kanan-kiri.

Saya berpikir, bahwa saya patut bersyukur kalau duit sedang menipis. Tetapi, bukan berarti kalau sedang dompet penuh lantas saya tidak wajib bersyukur, lho! Bukan itu. Kenapa mesti ikhlas dan bersyukur kala uang tak ada lagi di kantong? Ya, itu artinya mengharuskan saya, bagaimana caranya bisa menghasilkan pulus untuk hidup keseharian. Saya juga yakin, tanpa ada duit pun, manusia bisa tetap hidup.

Memang, awalnya, saat hampir perbekalan habis, dalam hal ini duit, hati saya limbung. Dalam bahasa lain, qolbu saya mengalami “KONTROVERSI”. Namun, kejadian itu hanya sebentar dan tak sampai 24 jam! Saya bisa mengatasinya sendiri. Caranya? Saya mencoba merenung, ya sekitar 10 menit lah. Apa yang direnungkan?

Bahwa tidak penting kamu galau hanya gara-gara kehabisan uang. Juga jangan merasa senang karena kamu punya uang. Sekarang, nyantai sajalah. Buat apa sedih? Boleh, tapi jangan larut. Yang kamu harus lakukan itu, bekerjalah dengan sungguh-sungguh di tempat kerjamu. Kalau kerja, hindari  lihat jam tangan maupun jam dinding. Kalau itu kamu lakukan, kamu enggak betah di tempat kerja. Abaikan itu, Bro! Berpikirlah positif!

Itu yang saya renungkan. Saya juga tidak tahu apakah itu pantas dikatakan sebagai renungan atau khayalan. Duit itu, kalau diusahakan, ya ia akan datang dengan sendirinya. Apapun cara usaha itu. Asal mau!

Lantas, di tengah kekurangan duit itu, saya bongkar-bongkar di bawah kasur, di dompet yang lama, terus di sela-sela tumpukan buku. Maksudnya, ya siapa tahu ada uang-uang saya yang tercecer. Tapi, betapa mengagetkannya. Kenapa? Ini, saya dapat duit kertas warna biru. Ini dia hasil pencarian itu.

Walau menemukan ini, tapi, mana mau warung nerima duit beginian.
Walau menemukan ini, tapi, mana mau warung nerima duit beginian.

Ya udah deh. Tuhan, bahagiakan aku dalam keadaan apapun.