Menikah

0

Kadang-kadang saya lupa kalau saya harus menulis di rumah maya ini, meski tidak terjadwal. Tapi biarlah, yang penting saya menulis, yang penting rumah sederhana ini tak sepi kayak kuburan. Eh, kuburan mana dulu? Kuburan para wali rame, kok!

Baiklah. O, iya, 15 Juni lalu  tepat dua bulan saya menikah. Sebelum menikah, saya lupa mengundang rekan-rekan (rekan blogger) untuk hadir pada resepsi saya di Sukabumi. Maafkan saya, ya. Semoga kalian tidak apa-apa.

Saya sebenarnya tak menyangka akan menikah secepat (padahal mah telat kaliii…:D. Umur lo berapa?) itu. Tapi, ya sudahlah, saya tetap syukuri saja apa yang terjadi. Toh menikah, mau cepat atau lambat, tetap nikmat, kok, dan status saya pasti berubah: dari single jadi double. Yeaaaa.

Kenapa saya bilang “secepat itu” saya menikah? Entahlah. Padahal, tadinya saya berniat mau santai dulu sampai akhir tahun ini dan berencana nikah tahun 2018, meski belum tahu dengan siapa saya akan menikah. Tapi, sejak awal 2016 saya agak serius berdoa minta jodoh kepada Allah sembari perbaiki diri, terutama hubungan saya dengan-Nya.

Nah, dalam proses pebaikan itu, tak sedikit teman atau saudara yang mengenalkan cewek ke saya. Atau, saya disuruh-suruh untuk coba dekati cewek, yang beberapa di antaranya, si cewek itu juga saya kenal. *gilaaa* “Kelihatannya, kalau dia diajak nikah, mau, deh. Coba, gih!” goda salah satu teman, meski, waktu itu saya benar-benar hanya ingin santai dulu dan belum serius ingin menikah.

Awalnya, saya tak mau terpengaruh atas saran beberapa teman agar saya mencoba bertanya ke si cewek yang mereka maksud. “Apa salahnya bertanya ke dia. Siapa tahu dia mau diajak nikah! Kalau dia mau, berarti kamu kudu siap! Kalau dia gak mau, ya udah, cari yang lain. Yang penting coba. Cewek terlalu banyak di dunia ini. Hahaha…” “Iya juga, ya,” batin saya.

Ya udah lah. Akhirnya saya coba juga saran teman itu. Siapa tahu salah satu dari mereka ada yang mau. Apalagi, saya selau ingat saran mereka: “Coba saja dulu. Urusan ditolak/diterima, itu urusan belakang. Laki-laki diberi kebebasan memilih dan perempuan pun bebas menolak tawaran kita!” JLEB sepertinya.

Hasilnya? Mereka yang coba saya tanyain dan ajak nikah, alhamdulillah semuanya belum bersedia. Saya benar-benar pengen ketawa atas apa yang saya lakukan dan hasilnya NOL. Sebab yang saya khawatirkan bukan “ditolaknya”, tapi gimana kalau ternyata salah satu dari mereka benar-benar bersedia saya ajak nikah. Nah, lho!

Untuk memastikan, saya tanya lagi ke hati saya—yang sungguh dalam ini. Jawabannya jelas: ternyata saya memang belum benar-benar siap 100% menikah. Saya hanya “pengen”, belum “butuh” menikah. *Halah*

Nah, akhir 2016, selepas subuh, pada suatu rapat akhir tahun, 3 rekan kerja menghampiri saya. “Setahun lalu, kita di sini bicarain kamu, kamu yang jomblo. Padahal, kita mau kamu udah punya status baru pas kita rapat lagi hari ini. Eh, tapi ternyata belum juga. Jadi, gimana, nih! Ini udah akhir 2016, lho!” kata teman yang satu, yang dia udah nikah dan punya anak satu.

“Iya, gimana, sih! Apa lagi yang ditunggu. Kerja udah, apa lagi coba?? Gak ngerti, deh saya mah!” celetuk teman yang satu, yang dia udah punya anak 3.

“Kenapa? Gak berani ke cewek? Saya punya tetangga, tamat SMA, mau saya kenalkan? Sepertinya cocok sama kamu. Mau, gak? Kalau mau nanti saya bilangin, lho…” saut teman yang terakhir, yang juga udah punya anak. Malah, anak pertamanya masih gadis! *nah, kesempatan* Saya senyumin saja ketiga omongan mereka. Sebab saya bingung mau jawab apa.

Tapi, ketika itu, mungkin akibat celetukan-celetukan mereka, saya jadi ingat dengan tawaran seorang teman kampus dua minggu sebelumnya. Dia menawarkan saya seorang akhwat (iya cewek, bukan cowok) yang siap nikah. “Mau nikah, gak? Kalo mau, ni ada teman, bapaknya lagi nyari calon yang siap nikahin anaknya. Haha…”

Saya tentu bilang mau (meski agak ragu),”Haha. Mana fotonya?”

Si teman itu akhirnya kirim foto ke saya via WA. “Nih kontak WA-nya sekalian,” sambung dia. Saya hanya liat foto itu sekilas. Dalam hati, saya hanya bilang,”O, nantilah. Mau nyantai dulu…”

Kontak WA si cewek udah di tangan, tapi saya tak berani berkirim pesan ke dia. Bingung juga saya mau nanyain apa. Mau basa-basi? Ah, males! Kepoin medsosnya? Ah, rasanya ketika itu saya gak melakukannya. Tapi, hati saya bilang,”Mungkin suatu saat saya bakal menghubunginya…”

Akhirnya saya  bilang kepada ke-3 teman yang “menyidang” saya,”Tenang, bapak-bapak, beres rapat ini, sore atau pagi besok atau entah kapan, saya mau coba kontak si cewek ini (saya perlihatkan foto si cewek ke ketiga teman saya itu)…”

“Wah, siapa itu? Udah, cocok, tuh sama kamu!” kata teman yang satu sumringah.

Begitu saya ingin jelaskan siapa foto cewek yang saya perlihatkan ke mereka, saya keburu dipanggil rekan yang lain, karena giliran saya untuk presentasi siang itu.

Pastinya, cewek itulah yang akhirnya saya nikahi 2 bulan lalu. Prosesnya tidak lama. Karena kontak WA-nya udah ada, ya udah, saya langsung hubungi seminggu setelah rapat itu. Kenalan. Lalu saya katakan niat saya. Untungnya dia merespons niat saya.

Seminggu kemudian, saya minta bertemu denganya. Sebab saya juga gak mau beli ayam di dalam karung. Atau, minimal saya harus liat dulu fisik si cewek. Pun dia juga bisa lihat fisik saya. Terserah nanti, setelah lihat fisik masing-masing, mau diteruskan ke yang lebih serius ya alhamdulillah, gak juga gak papa. That is no problem, because ini salah satu usaha, begitu pikir saya sebelum bertemu ketika itu.

Akhirnya, kita bertemu di rumah salah satu sahabatnya. Itu usul si dia. Baguslah kata saya. Karena saya pun kurang setuju kalau langsung bertemu di rumahnya. Ke rumah orangtuanya itu, pikir saya kalau memang, setelah bertemu itu kita saling cocok, baik dari segi fisik maupun cara bersikap dalam berkomunikasi.

Pertemuan pun usai.  Malamnya, saya katakan via WA,”Neng, setelah bertemu, aku sih oke untuk lanjut ke tahap selanjutnya. Gimana denganmu?” Agak lama saya menunggu jawaban dia. Saya deg-degan juga ketika itu. Sebab saya sedang menunggu KEPASTIAN.  Tenyata, yang menunggu KEPASTIAN bukan hanya cewek, melainkan cowok juga. Tapi saya udah siap dengan segala jawabannya. Kalau dia meng-oke-kan untuk lanjut ke tahap berikutnya, ya alhamdulillah. Dan berati saya harus benar-benar SIAP segalanya. Bila belum oke, ya tetap saya pun harus katakan alhamdulillah. Dan berati saya harus hunting bidadari yang lain, mungkin yang lebih baik.

“Gini aja Kang. Kalau memang serius, temuin aja orangtua saya…” jawaban dia, yang membuat saya tidak jadi ngantuk! Bener! “Wah, jadi diterima, dunk?” celetuk hati saya. “Belum tentu! Jangan pede dulu. Dia boleh menerima, tapi orangtuanya belum tentu! Berdoa saja, Bro!” pungkas hati saya lagi.

”Kapan kira-kira akang harus bertemu kedua orangtuamu?” saya bilang begitu akhirnya. Agak lama juga saya menunggu jawabnya. Mungkin dia juga sambil mikir kali, ya, karena sudah begitu berani jawab begitu ke saya. Haha.

“Silakan minggu depan, Kang…”

“Ok, siap! Insyaallah!”

Bismillah. Akhirnya saya ke rumah orangtuanya ditemani adik saya. Mungin saja saya sendiri waktu itu. Tapi, rasanya lebih enak ditemani. Biar gak terlalu grogi.

“Silakan saja, yang mau nikah soalnya bukan saya. Kalau kalian sudah sama-sama srek, ya silakan. Bapak gak bisa menghalangi niat kalian. Tapi, pesen bapak, kalau memang nanti jadi, cuma satu: dia perlu bimbingan, maklum belum terlalu dewasa…” ucap ayah si cewek di hadapan saya pas saya kasih tahu maksud kedatangan saya, di sebuah ruang tamu.

Beres! Saya pulang lagi ke Bandung. Barulah setelah itu saya kasih tahu ke orangtua kalau saya mau menikah. Intinya minta doanya.

Sebulan kemudian, saya melamar dia sebagai tanda jadi. Dan 3 bulan kemudian atau 15 April 2017, kami ijab kabul. Itulah kenapa saya bilang, prosesnya begitu cepat. Tidak menyangka.

Met libur lebaran, ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Asyik! Dapat Jadwal Ronda

6

Saya itu di kosan dapat jadwal ronda dari pengurus RT tadi malam. Saya juga kaget, kok penghuni kosan dilibatkan dalam ronda-meronda di lingkungan RT saya? Sejenak saya berpikir, bagus juga saya dan teman-teman kosan diikutsertakan dalam menjaga kemananan lingkungan. Itu artinya, saya dan penghuni kosan pun bertanggungjawab besar dalam menjaga keamanan di mana kami tinggal.

Selain itu, bagus juga kata saya ke beberapa teman kosan kalau kita diminta ikut dalam kegiatan RT, termasuk ronda itu. Kenapa saya sebut bagus? Karena tentu saya pribadi bisa lebih kenal lagi dengan warga—yang tadinya tidak begitu kenal. Apa hubungannya? Iya, jadwal ronda itu, kan tiap malam bukan satu atau dua orang, tapi—saya lihat di jadwal yang terlampir sekitar 12 orang untuk sekali ronda. Nah, tentu kesempatan seperti ini jadi ajang saling kenal.

Masalahnya itu, oke kalau jadwal saya ronda itu pas kebetulan hari libur—misalnya malam Sabtu dan malam Minggu. Tapi kalau jadwal saya diletakkan di hari-hari aktif, Senin-Jumat, ampun, deh Pak RT—saya enggak bisa! Bukan apa-apa, sebagaimana jadwal ronda yang terlampir, mulai meronda itu sejak pukul 22.00-04.00 WIB. Bayangkan kalau jadwal saya ronda Senin atau Rabu misalnya. Saya bergadang, dong? Lalu pukul 08.00 WIB saya mesti berangkat ke kantor. Wah, ini BOCOR! BOCOR! Saya enggak mau, pokoknya!

Saya katakan saja ke salah satu pengurus RT—yang malam itu kebetulan mengantar jadwal undangan ronda ke saya. Namanya Pak Ridwan—yang tak lain dia ini adalah pengelola kosan saya. “Tapi, Pak, jadwal saya di kertas ini mulai ronda minggu pertama Juli 2014 hari Senin. Pak, pindah, ya jadwal saya ke Jumat malam Sabtu? Soalnya, kan saya kerja, Pak! Kalau saya tidak kerja di kantor mah, saya mau aja ronda kapan pun. Oke, ya, Pak?” pinta saya ke Pak Ridwan dan dijawab langsung sama dia,”Iya, nanti saya pindahkan!”

Di tengah asyik negoisasi dengan Pak Ridwan, eh tiba-tiba muncul Rangga—yang tak lain adalah teman kosan—yang lagi-lagi dia ini juga teman satu kantor saya. “Pak, saya juga jadwal rondanya tuker aja ke hari Jumat malam Sabtu, bareng aja sama si Hasan. Saya juga, kan kerja, Pak! Bisa aja, sih, Pak saya ronda pada malam Selasa, tapi sampe jam dua belas malam! Kalau sampai jam empat, ntar saya di kantor ngantuk, pasti enggak efektif. Mana di kantor terlarang ngerokok, Pak!” Pak Ridwan terpaksa meng-oke-kan pinta lelaki kerempeng itu.

Awalnya, saya dan beberapa teman di kosan sepakat tidak mau ngeronda meski ada jadwalnya. Kami cukup bayar saja ke RT tiap salah satu dari kami mendapat giliran ngeronda. Begitu awalnya. Tapi setelah membaca dengan lengkap pada lembaran kertas pertama—di sana tertulis: “Tidak hadir ronda sekali didenda Rp. 50.000.” Dan, bagi yang tidak hadir ronda sampai lima kali dendanya fantastis: Rp. 500.000! Alamak!

Tadinya, kalau denda tidak ikut ronda cuma Rp. 5000—saya dan beberapa teman akan bayar saja ke pengurus RT. Eh, karena denda tidak hadir ronda sekali saja cukup besar, maka kami putuskan tetap ikut berpartisipasi ronda—tetapi dengan syarat kami rondanya pada hari di mana kami libur: Jumat malam Sabtu atau Sabtu malam minggu. Dan alhamdulillah apa yang kami mau dikabulkan. Yes!

Saya tanya akhirnya ke Pak Ridwan apa saja, sih kegiatan meronda itu. “Ya paling-paling berkeliling di sekitar kompleks RT kita. Udah itu ya nga-liwet (masak nasi) bareng. Asyik, kok!” Perlu juga diketahui, bahwa dua bulan lalu di kosan kami telah hilang sebuah motor Mio warna merah milik salah satu kawan kami, Kang Asep. Dan, sekitar tiga bulan sebelum motor Kang Asep raib, di kosan yang sama hilang pula sebuah motor Supra X milik Ajang. Dua hari setelah kehilangan, Ajang langsung pindah kosan, entah ke mana. Sementara Kang Asep sampai sekarang masih bertahan.

Apakah karena kejadian itu kami penghuni kosan ini diminta ngeronda mulai bulan ini? Padahal, selama saya ngekos sewaktu kuliah tak pernah, tuh mahasiswa diminta pengurus RT di lingkungan saya untuk ngeronda. Ya, memang baru kali ini saya ngekos diikutsertakan untuk ngeronda. Ah, asyiknya!