Kafan

From: www.genius.com
From: http://www.genius.com

Saya belum beli kafan. Besok, atau entah kapan, saya akan membelinya di toko kain, lalu akan saya simpan di lemari yang bercampur dengan pakaian yang lain. Minimal, ketika saya buka lemari untuk ngambil baju, saya sempat melirik kafan sebagai pengingat kematian. Benarkah Ingat kafan, lantas saya ingat mati? Justru saya malah ingat pocong!

Yakinkah saya, jika saya telah jadi mayat akan dibungkus dengan kafan? Belum tentu, jika stok kain berwarna putih itu habis! Ya sudah, jika benar setelah dicari-cari ternyata kafan sudah tidak tersedia, mikir, dong, kain sarung di rumah kan ada, yang penting bersih. Mudah-mudahan kalo pake kain sarung, arwah saya tidak gentayangan. Yakinlah itu!

Dua hari lalu saya ngantar kakak ke sebuah toko kain di pusat Kota Tasikmalaya. Toko kain yang satu ini memang, tampaknya, ramainya beda dengan toko kain yang lain. Orang-orang berjubel di toko itu beli kain. Kata saudara saya, di toko kain itu barangnya murah. Pantas ramai, kata saya. Makanya, saya ajak kakak saya ke toko kain terkenal di kota itu.

Saya ikut masuk ke toko kain milik keturunan India kelahiran Tasikmalaya itu. Kakak saya memilih-milih kain yang akan dibelinya untuk buah tangan. Sulit saya menggambarkan bagaimana tumpukan manusia di toko itu. Berapalah untungnya dalam sehari pemilik toko kain ini, pikir saya. Mungkin puluhan juta, gumam saya sembari memerhatikan puluhan pelayan toko melayani para pembeli.

Dari sekian banyak pembeli kain di toko yang terletak di jalan Cihideung itu, saya perhatikan tak satu pun yang membeli kafan. Ya iyalah! Ngapain juga beli kafan! Gila apa! Sekarang itu, enggak usah mikirin mati. Dipikirkan atau tidak, kematian akan tetap datang. Lebih baik, beli saja kain non-kafan untuk bergaya. Bukankah membalut fisik dengan aksesori menarik, salah satu kebutuhan utama manusia saat ini?

Tapi saya mau beli kafan. Kapan? Kapan-kapan…

Iklan

Dua Dosen Tanah yang Kembali ke Tanah

Gambar diunduh dari: www.kurakurahitam.wordpress.com.
Gambar diunduh dari: http://www.kurakurahitam.wordpress.com.

Ini masih seputar kematian. Tetapi kali ini infonya dari seorang kawan-yang masih menjalani masa-masa skripsi di Universitas Bengkulu (Unib). Status facebooknya sebetulnya yang menyuruh kedua bola mata terus memelototinya siang hari ini.

Apa isi status media sosial hasil kreasi Mark Elliot Zuckerberg milik kawan saya itu? “Innalillahiwainnailaihi rojiun. Telah berpulang ke rahmatullah dosen kita bu Yen Efriyeni dan pak Syamsu S Nur Muin (dosen ilmu tanah). Semoga amal ibadah keduanya diterima di sisi-Nya. Aamiiin dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan. Sedih,” tulisnya.

Saya ikut berkomentar di bawah status yang ditulisnya itu, “Sakit?” Tak lama, Fitra-nama teman saya itu dengan cepat langsung menjawab, Ibu tuh skit kak, tpi msih kampuus mren tuuh…nah kto org2 mren tuuh, ibu tuh jtuh d lab… d bwak smo dosen2… yg bwak mobil tuuh dosen tanah yg cow.. smpe rmh skit bayangkara, bpak dosen yg bwak mobil tuh keluar dri mobil, jtuuuh ninggal jgo!”

Jleb! Dalam hitungan menit, dua dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Unib wafat. Saya tidak menyangka kejadiannya bisa seperti itu. Yang mengantar ibu Yen ke rumah sakit, dalam hal ini pak Syamsu-sekaligus yang menjadi supir malah ikut pula menyusul ibu Yen ke pangkuan-Nya. Sekali lagi, innalillahiwainnailaihirajiun.

Ini kian meyakinkan saya. Pada saat menyusuri akun facebook, saya sempat pula mambaca status facebook seorang kawan-dia ini kakak kelas saya ketika di SMA dulu. Sama, memberitahukan tentang duka yang berasal dari kedua dosen tersebut. Apa tulisnya?

“Innalilahi wainna ilaihi raajiun. Siang tadi keluarga besar Unib berduka atas meninggalnya 2 orang dosennya.. yang hanya berjarak sekitar 15 menit. Sapa sangka yang mengantar almarhumah ke rumah sakit justru turut menjadi almarhum di parkiran rs. Bhayangkara.. tanpa sebab yg jelas kecuali takdirnya. Pesan buat yg masih idup.”

Fitra, kawan saya itu merasa menyesal dan barangkali sedih mendengar kabar dosen yang sekaligus menjadi pembimbingnya itu meninggal. Itu tampak di status selanjutnya, Baru kmren di lab ilmu tanah bertemu dan bebicara dngan 2 dosen itu, skrg mrk sdah prgi.” Sabar Fitra, skenario Tuhan siapa yang tahu.

Saya lalu chattingan dengan mahasiswi Jurusan Pertanian itu, masih di akun facebook. “Kira-kira berapa umur kedua dosen itu, Fit?” Fitra kemudian mengetik, “Sekitar 50-an lah, Kak!” Saya tak melanjutkan lagi chattingan dengannya karena waktu istirahat siang di kantor saya sudah “TENG”.

saya memang tidak kenal dengan kedua dosen itu, tetapi saya hanya mau katakan dan mungkin juga sebuah pertanyaan, “Berapa orangkah di dunia ini yang melepaskan nyawanya per-jam, detik, menit, ya? Apakah berbanding dengan kelahiran? Tak tahulah aku!”

Apapun yang menjadi penyebab kematian terhadap dua dosen Unib tersebut, saya hanya memohon supaya Tuhan mengampuni segala kesalahannya (jika ada). Mudah-mudahan pengabdiannya selama ini di kampus bergengsi di Kota Bengkulu, itu menjadi bekalnya di akhirat.

 Allahumagfirlahuma…

Dua Kematian

Gambar diambil dari: connectingdirectors.com
Gambar diambil dari: connectingdirectors.com

Kalau Tuhan telah menetapkan kapan seseorang itu meninggal dunia, maka tak dapat ditangguhkan waktunya, apalagi dimajukan jadwalnya. Janji Tuhan tepat, tak pernah meleset, apapun musababnya orang itu menemui ajalnya. Yang sering melesat itu hanya rencana manusia, ciptaan-Nya.

Ini dialami oleh salah satu teman kantor saya. Seminggu yang lalu, dia ini izin enggak masuk kantor karena neneknya dicubit Izrail. Maka pas teman saya ini masuk kantor dua hari kemudian, maka teman-teman di kantor mendoakan nenek teman saya itu supaya mendapatkan tempat layak di sisi-Nya.

Lalu, hari ini, Senin (20/01/2014), setelah doa pagi bersama-seperti kebiasaan para karyawan di kantor saya, saya lihat teman yang neneknya meninggal seminggu lalu, kok tak terlihat di meja kerjanya. Saya bertanya di dalam hati, ke mana teman saya ini. Dia sakit atau ada hal apa.

Saya iseng mengirim pesan kepada teman saya itu. “Di mana, Nin?” Saya berharap, dia cepat balas, supaya tahu sedang ada di mana dia sekarang. Saya sms begitu karena saya juga sedang butuh sesuatu sama dia-yang menyangkut pekerjaan, apalagi kami masih satu tim.

Sekira 15 menit setelah pesan singkat itu meluncur, barulah ada balasan ke hape mungil saya. “Ini ada ua (paman) yang meninggal, jadi enggak masuk,” begitu balas teman saya ini, yang membuat saya sedikit terkejut dan bertanya dalam hati, “Lho, bukannya seminggu lalu neneknya yang wafat?”

“Kemarin, Nenek, kan? O, i’m sory to hear that.” Saya hanya bisa balas begitu ke teman saya itu. Tak lama, teman saya yang alumnus Sastra Inggris UPI Bandung, itu langsung menjawab,” Iyah beda 7 hari sm nenek. Iyah makasih ya,” begitu nada balasan sms-nya.

Setelah tahu begitu, saya tak berani lagi tanya ini itu lagi. Sebab, saya paham-teman saya ini sedang dirundung musibah, diterpa sedih, dan saya kira teman saya ini tak butuh pertanyaan lanjutan dari saya. Tetapi, saya hanya mengetik lewat ponsel, “Ok. Moga diberikan kesabaran.”

 

 

 

 

Dua Kesedihan yang selalu Membayang

Kalau saya ingat peristiwa ini, tentu sebagai manusia lemah saya menitikkan air mata. Ada dua kejadian-yang membuat saya selalu ingat, dan setelahnya saya suka sedih dan berharap itu tidak terjadi. Namun, kalau yang terakhir itu, rasanya mustahil. Lalu, apa sebenarnya dua peristiwa atau kejadian yang selalu saya ingat itu?

Pertama, 18 tahun lalu, atau tepatnya pada 1995, adik saya yang berumur 5 tahun, oleh Izrail atas titah Tuhan nyawanya diambil begitu saja, tanpa ada persetujuan dari orangtua saya, maupun saya sendiri sebagai kakaknya. Kalau sudah begitu, siapa yang tak sedih, siapa yang tak menangis ditinggal seorang anak atau adik bungsu yang lagi gemes-gemesnya?

Akhir 2006, atau saat pertama kali saya masuk kuliah, kabar duka itu kembali memancar di benak saya. Barangkali ini kesedihan kedua setelah adik bungsu yang kembar itu meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ya, kali ini kakak saya nomor 3 yang mengalami nasib serupa, yakni dibabat habis oleh sang penjagal kematian, Izrail. Yang paling menyedihkan, pengambilan nyawa itu terjadi di suatu malam takbiran lebaran idul fitri.

Di mana tempatnya? Ini yang membuat saya murka saat itu, tempatnya tidak lain adalah di rumah sakit. Betapa tidak bahagianya keluarga kami malam itu, saat itu. Padahal, besoknya lebaran, eh, kami malah harus ditimpuk duka. Satu lagi yang saya sesalkan, malam itu, ketika Izrail datang, saya tidak sedang di samping kakak saya tercinta. Saya sedang mengambil bantal ke rumah teteh. Ya, cuma 15 menitan lah. Tapi…

Adik saya itu pas lahir kembar. Cowok-cewek. Nah, yang cewek inilah yang lebih dulu menjauhi saya karena dibawa pergi Izrail, entah ke tempat mana, saya tidak paham sampai kini. Sedangkan yang kedua, yang cowok ini, berkat kasih dan sayang-Nya juga, hingga saat ini masih berkomunikasi sama saya. Ia tumbuh dewasa sekarang. Bahkan, kabar terakhir yang saya terima, awal September ini mau sidang skripsi.

Andai adik saya yang perempuan itu ada, ya mungkin hari ini juga, atau sebentar lagi akan wisuda. Yah, itu andai, itu harapan yang saya ungkapkan sore ini, di Bandung yang tak ramah lagi ini. Udah lah, saya tak perlu sedih, tak perlu menangis-nangis sendiri di kamar, atau berimajinasi yang tidak-tidak, yang bahkan malah membuat hati saya tidak tegar. Saya hanya cukup bilang,”Terimakasih Tuhan atas semuanya.”

Lalu, kakak yang nomor 3 itu, sebetulnya ia sudah punya anak 2 saat dirinya bersemayam bersama Tuhan. Laki-laki dan perempuan. Kedua anaknya, yang cowok baru masuk SMA. Adapun yang cewek, sedang duduk di bangku SMP kelas II. Baik adik maupun kakak, kenapa Tuhan ambil nyawanya begitu cepat, saya tahu memang-mereka sedang dalam keadaan sakit.

Ya, sakit fisik. Kalau adik, itu sakit karena terkena campak, sedangkan kakak, walau saya tak tega mengutarakannya di sini, ia terkena luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuhnya. Bahkan, pertama kali ke rumah sakit, di ruang UGD saat itu, saya bahkan hampir tak mengenali wajahnya. Tuhan, ampuni segala dosanya. Kuatkan kami yang ditinggalkan. Air mata tertahan, dan saya waktu itu tak bisa bersuara saking tidak menyangkanya.

Kalau pas kejadian adik saya, maklum, karena saya baru kelas III SD. Jadi, sore itu saya menangis di samping emak dan apak. Rasa tak rela kehilangan adik satu-satunya perempuan. Tapi, saat kejadian menimpa kakak saya, di depan kedua orangtua, saya mencoba tidak sedih, tidak memperlihatkan kegundahan.

Justru, entah energi dari mana, saya tetap senyum sembari menguatkan emak, yang diam sesenggukan. “Mak, sabar, ya. Sudahlah, kita hanya diberi titipan sama Tuhan cuma sampai sini. Kita hanya memeliharanya saja. Udah, ya. Tenang, ya. Istigfar saja. Yakin saja, Tuhan pasti bakal memberi pengganti yang lebih baik. Tenang, ya, Mak.”

Tuhan, apapun yang bakal engkau berikan, jadikan hamba-Mu ini tetap bersyukur.

Uak Ratma

Uak Ratma berpulang. Saya tahu informasi itu dari sms yang dikirm adik saya pukul 02.09 dini hari, Selasa 11 Juni 2013. Pesan duka itu datang ketika saya berada di kotaTasikmalaya, menemani seorang kawan berkunjung ke ibu angkatnya di jalan Leuwi Anyar no 71. Padahal, 3 hari sebelumnya, apak, emak, oman, dan saya bersalaman dengan paman saya itu. Tak disangka, itu adalah salaman terakhir kami pada paman yang tinggal di sebuah kampung, tepat di kaki gunung Galunggung itu.

“Yuuung, uak meninggal jam 2 tadi.”

“Yuuung banguuuun uak meninggal jam 2.”

“Pagi2 ke Kelengsari yung.”

“Yuuuuuuung banguuuuuuun.”

“Ass. Innalillahi wainnailaihi rojiun..ua Ratma barusan jam 02 tos ngantunkeun (meninggal)..mudah2an diampuni  dosa2 na sareng di lapangkeun kburna..amiin…”

Setengah sadar saya sambil membaca lima sms kiriman adik saya. Saya dibangunkan oleh bunyi sms di hape. Meski, sebenarnya sms itu tidak saya harapkan. Tapi, apalah daya, jika telah sampai waktunya, maka Tuhan pun berkehendak. Berulang saya baca pesan dari adik saya itu. Hingga tiga kali. Barangkali saja itu hanya mimpi. Bukan ternyata, ini bukan mimpi. Saya cubit pipi yang mulai renta ini dengan sepenuh hati. Uh. Sakit.

Beberapa saat, ada lagi pesan masuk ke ponsel saya. Padahal, semua pesan dari adik saya belum kelar saya baca. O. kakak ke tiga saya memberi kabar serupa. Rupanya kakak saya ini lebih dulu tahu dari saya mengenai kematian uak Ratma. Saya bilang, baik ke adik maupun ke kakak saya, bahwa baru setelah subuh saya bisa ke Panunggal, kampung tempat paman saya itu tinggal. Dipenuhi pesan duka itu, lantas saya tak sanggup lagi meneruskan perjalanan tidur saya. Kantuk lenyap seketika. Yang ada malah deg-degan. Kaget.

Adzan subuh pun bersambut. Ibu angkat kawan saya itu sibuk di dapur. Terdengar, ia sedang mencuci beras. Tak lama, tercium pula aroma telur ayam digoreng. Pasti itu sarapan buat kami. Saya membatin. Tapi saya pikir, saya habis subuh langsung pamit mau ke Kelengsari, lalu diteruskan ke Panunggal-kalau keburu mau ikut memandikan jenazah uak Ratma. Kalau sekiranya ibu angkat itu menawari sarapan, pantaskah saya menolak? Sementara saya harus segera ke Sukahening!

“Umi, saya harus segera ke Sukahening sekarang karena paman ngantunkeun (meninggal) tadi tabuh (pukul) 02.00,” ucap saya di hadapan ibu angkat kawan saya.

Innalillahi wainnailaihi rojiun,” wajah umi langsung memperlihatkan kekagetan,”sekarang makan dulu aja. Nasi sudah masak.”

“Punten (maaf) umi, biarlah enggak usah. Kapan-kapan saya bisa ke sini lagi,” sambung saya.

“Jangan begitu, pamali. Ayo, lauk dan nasi sudah disediakan!” tandas umi, yang mau tak mau saya tak bisa lagi mengelak.

Saya dan kawan lalu makan. Tak sampai 15 menit, telur dadar yang saya lumuri kecap serta sayur kentang buatan umi saya lesakkan ke perut. Alhamdulillah. Rezeki datang dari siapa saja, asal yakin bahwa maha kasih dan sayang Tuhan unlimited. Di tengah asyik melahap nasi itu, hati saya ingat uak Ratma. Uak yang selama 5 bulan terakhir ini diterpa sakit-sakitan. Sakitnya parah. Bahkan, pengakuan salah satu anaknya, Elik bahwa ayahnya itu selalu teriak-teriak kalau malam hari. “Selalu mengerang, seperti ada rasa sakit di pinggang dan dada.”

“Umi, kayaknya Cep pamit dulu ya. Nuhun (terimakasih) atas sarapannya. Soalnya apak sudah sms supaya Cep cepat ke Sukahening,” saya beranikan bilang begitu ke umi, meski sebenarnya masih segan mau bilang terima kasih. Saya salami umi. “Nanti main ke sini lagi kalau ada waktu ya. Jangan kapok main ke sini. Nih, ada ongkos buat naik becak. Lumayan.” Umi memberi uang itu pada kawan saya. Kawan saya ini-saya tahu ia pura-pura langsung menolak pemberian uang umi. “Udah mi, jangan. Saya ada kok ongkos mah!” ucap kawan saya itu sambi tangannya menahan tangan umi yang ingin memasukkan uang ke saku baju depan kawan saya itu. Jujur, melihat aksi kepura-puraan menolak kawan saya itu kurang saya senangi. Kenapa? Karena, baik saya dan dia (kawan saya itu) detik itu sedang krisis keuangan. Oleh karena itu, uang dibutuhkan subuh jelang siang itu! Tak mungkin dengan uang Rp 7000 yang ada di kantong kami cukup buat ongkos ke Sukahening! Uang itu hanya cukup buat angkot dari simpang Pancasila sampai ke Indihiang. Lalu untuk menyambung ke Rajapolah? Harus jalan kaki begitu? Belum lagi dari Rajapolah ke Sukahening?

“Sudah, jangan menolak rezeki. Nolak rezeki itu pamali,” tukas umi pada kawan saya yang pura-pura nolak itu. Diambilnya juga uang pemberian umi itu. Yes!!! Asyik, akhirnya keajaiban itu datang. Tadinya, kalau tak ada uang tambahan, kami berencana mau jalan kaki dari Indihiang ke Rajapolah. Atau, kalau pun terpaksa, dari Indihiang akan kami stop mobil angkutan barang untuk meminta tumpangan sampai Rajapolah. Kalau sudah sampai Rajapolah, gampang. Tinggal sms adik saya atau saudara di Kelengsari minta jemput pake motor.

Untungnya itu tidak terjadi. Saat berjalan menuju simpang handak menyetop angkot jurusan Indihiang, saya tanya ke kawan saya. “Hey, coba lihat, emang berapa uang yang dikasih umi tadi? Sudahlah, jangan berpura-pura di tengah kesengsaraan hidup. Kalau umi sudah kau anggap sebagai ibu sendiri, tak usahlah segan, walau itu meminta duit. Kalau kepepet semuanya bakal terjadi. Bahkan, sampai hal yang memalukan sekali pun!” semprot saya ke teman saya sambil ketawa-tawa gembira.

Kawan saya ini membalas ketawa. “Malu lah bro! Kalau soal meminta-minta apalagi mengharapkan sesuatu dari orang lain, saya tak sanggup, saya malu. Tapi, sebenarnya saya selalu yakin, bahwa kuasa Tuhan akan selalu ditunjukkan kepada hamba yang yakin kepada-Nya. Maka, pemberian uang Rp 50.000 dari umi ini adalah jawabannya, Bro! Udah, jangan dipikirkan lagi. Yu ah, kita cari warung dulu. Beli rokok. Masam, nih mulut!”

Angkot bercat putih merah jurusan Indihiang kami naiki. Kegembiraan masih bersemilut, tapi juga-uak Ratma tak bisa lepas dari ingatan saya. “Innalillahi wa innailaihi rojiun.” Berkali-kali mulut hati saya berucap begitu, bahwa kita ini milik Tuhan dan akan kembali kepada-Nya pula. Kata-kata itu pulalah yang saya jadikan status pertama di facebook pagi itu dengan menggunakan seluler android kawan saya.

“Minjam hape Bro. Mau nulis status, nih!”

“Di mana?” sms masuk ke hape saya. O, adik saya.

“Lagi di WC terminal Rajapolah! Udah di mana?”

“Di jalan, mau ngantar neng dulu ke sekolah!”

“Yup.”

Oman datang. Bawa motor . Jadilah kami berboncengan tiga orang. Motor yang kami tumpangi nyaris reyot. Maklum, beban motor bertambah. Berat saya diperkirakan 45 kilogram, kawan saya, mungkin saja 50, sedangkan adik saya, entahlah, barangkali 50-an juga. “Jam berapa emang kau dapat info uak Ratma, Man?” sentil saya ke Oman, sembari motor terus menabrak angin-angin jalanan yang kedinginan sebelum sampai di kampung Kelengsari.

“Apak nelepon saya itu pas jam 02.00. awalnya saya rejec. Tapi, apak nelepon lagi. baru saya angkat. Awalnya saya mengira, kalau enggak apak yang sakit, ya ada sesuatu dengan uak Ratma. Karena malam itu memang apak demam. Tapi ternyata uak Ratma pupus (meninggal)!” lontar Oman. Saya tak memberi tanggapan lagi. Motor pun sampai di Kelengsari. Padi-padi di kanan-kiri jalan ikut berduka, mengheningkan cipta buat uak Ratma. Terima kasih padi-padi atas perhatian kalian.

Tak sampai setengah jam saya di Kelengsari. Beberapa saudara dari pihak ibu dan bapak sedang bersiap menuju Panunggal, tempat keluarga uak Ratma tinggal. Maka saya pun bareng saja sama mereka, mumpung ada tumpangan gratis. Sekira setengah jam, kami pun sampai di rumah uak Ratma. Tak ada keramaian di depan rumah itu. Seperti tak ada kejadian apa-apa. Saya langsung masuk ke rumah, menemui emak dan apak.

“Pak, ua Ratma tos dikurebkeun (dikuburkan)?”

“Nya, atos. Barusan pisan. Awalnya mau menunggu ke tiga anaknya yang masih di perjalanan dari Jakarta. Tapi, anaknya sudah ikhlas menyuruh kelurga yang ada di rumah untuk cepat dikubur saja. Takut kelamaan katanya, kasian.”

Saya menyesal karena tak bisa ikut mensalatkan uak Ratma terlebih dulu. Minimal, saya ingin melihat raut muka terakhir paman saya itu sebelum bersatu ke liang lahat. Tapi, ternyata tidak bisa. Saya terlambat. Ya sudah uak, selamat menempuh di alam yang baru. Ini hanya perpindahan tempat saja. Dari tempat fana yang serba susah, menuju alam keabadian. Tuhan maha pemberi ampun terhadap hamba yang dikehendaki-Nya.