Mimpi ke Luar Negeri? Ah!

Picture taken from: www.jessicahdrw.blogspot.com
Taken from: http://www.jessicahdrw.blogspot.com

Entahlah kapan saya bisa jalan-jalan ke luar negeri. Tiap mendengar teman yang pernah bepergian ke negeri seberang, rasanya ingin sekali ke sana. Kalau sekadar ingin, saya bilang dalam hati, tiap orang juga bisa. Tapi ‘ingin’ tanpa dibarengi usaha, ya tetap sia-sia dan sampai kapan pun keinginan itu tidak akan pernah tercapai.

Benar apa yang dibilang salah satu teman kental yang kini sedang berada di Belanda, ”Ya nabung dari sekarang kalau loe pengen banget ke tempat gue! Kalau males nabung, ya sama aja gak ada artinya. Loe mah ngomong doang ah!” Ya, itu saran yang bagus walau rasanya kayak cabe rawit. Hahaha.

Seminggu lalu tiga teman kantor baru pulang dari Frankfurt, Jerman. Mereka ke sana karena tugas dari kantor menghadiri  ‘Frankfurt Internatonal Book Fair 2014’, juga sekaligus membuka stan untuk buku-buku produk penerbit di mana saya mengabdi. Ah, cerita pengalaman mereka selama di sana membuat saya bertanya, ”Kapan bisa ke sana?”

Luthfi, salah satu teman itu mengatakan, pokoknya kalau udah ke Jerman, mau ke Belanda dan negera di Eropa lainnya jaraknya dekat dan cukup gunakan satu visa saja. Wah, enaknya, ya. Pokoknya kota-kota yang ada di bumi Eropa bisa sekaligus dikunjungi kalau udah mampir di Frankfurt. Paling enak gunakan train katanya menambahkan.

Jangan mikir enaknya aja lah kalau bisa. Paling penting itu, kalau mau keliling Eropa, saya dan siapa pun mesti punya kocek yang enggak ecek-ecek, tapi memadai, Bro! Ke mana pun kota atau wilayah yang ingin kita tuju di dunia ini, tentu yang paling sangat membantu itu ya duit. Eh, niat dan duit maksudnya! Keduanya mesti bersetia.

Bukan menganggap kota atau daerah di negeri kita ini tidak/kurang elok pemandangan dan suasananya dibanding di negeri orang, lho, bukan sama sekali. Justru saya mengaku bahwa suasana nusantara ini jauh lebih membetahkan dan menyejukkan. Kenapa saya ingin sekali main ke luar negeri sementara bumi Indonesia saja belum dijelajahi semua?

Justru itu, Bro. Saya tidak harus menunggu Indonesia ini saya kelilingi dulu dari Sabang sampai Merauke baru kemudian saya ke luar negeri. Tidak! Lihat peluang dan kesempatan aja beres! Tapi sebaiknya memang harus dijadwal. Misalnya akhir bulan mau ke mana, pas natal plus tahun baru harus bisa ke keliling Asia atau Eropa, atau  setidaknya kota/daerah yang akan dikunjungi di Indonesia tidak terlupakan.

Kesempatan datang biasanya tanpa kita sangka-sangka. Dan katanya lagi, ia datang tidak dua kali. Ah, tapi itu bohong! Kesempatan bisa datang berkali-kali, kok! Cuma rasanya aja yang beda. Kesempatan pertama berkunjung ke suatu daerah, misalnya, itu kesannya akan berbeda dengan kesempatan kedua dan seterusnya di tempat yang sama.

Kapan saya dapat kesempatan yang tak diduga pergi ke luar negeri dan gratis? Ah, mimpi saya! Bisa aja, sih kalau saya ini karyawan berprestasi. Hahaha. Bisa jadi saya ke Frankfurt tahun depan, seperti tiga rekan-rekan kantor tadi guna menghadiri pameran buku internasional. Atau pameran buku di Iran yang sebentar lagi digelar. Bisa jadi, kan? Bisa aja, tapi rasanya belum mungkin. Belum mungkin! Saya sadar!

“Udahlah! Jangan banyak omong, loe, San! Nabung dari sekarang kalau mau keliling Eropa atau ke Belanda!” ucap teman baik saya yang kini tinggal di Kota Enschede, kota paling timur di Belanda atau 160 KM dari Amsterdam—yang kalau enggak salah dia sedang berkuliah di Universitas Twente. Ah, Loe!

Astana Anyar, Surganya Hape Seken Murah?

Di sekitar kanan-kiri jalan inilah banyak dijual hape-hape seken berbagai ukuran dijual.
Di sekitar kanan-kiri jalan inilah banyak dijual hape-hape seken berbagai ukuran dijual.

Kalau mau hape murah, kata beberapa kawan saya silakan datang saja ke jalan Astana Anyar, Kota Bandung. Di daerah yang tak jauh dari Alun-alun Kota Bandung tersebut, segala jenis hape ada di sana. Di kanan-kiri jalan, di depan toko-toko menghampar penjual hape seken berbagai merek dan ukuran. Bukan hanya khusus menjual hape, ada pula sebagiannya yang menjajakan batre hape, casan, serta aksesoris lainnya.

Secara tak sengaja, pada Kamis (25/7/2013) sore, sambil ngabuburit saya diajak seorang kawan melewati daerah Astana Anyar itu. Kata teman saya, kalau di AT itu banyak dijual hape-hape murah dari beragam merek hape serta ukuran. Mulai hape model lama segede balok, sampai hape-hape zaman kiwari yang kian canggih, seperti blackberry, ipad, maupun android. Sampai di lokasi, vespa jadul yang kami bawa diparkir di dekat musala, di antara rimbunan pohon-pohon besar.

Di deretan musala itu, beberapa penjual hape seken duduk lesehan. Di depannya ditumpuk sekitar puluhan hape-tentu saja dari berbagai merek. Saya lihat, di sana ada Nokia, Siemen, Cross, bahkan adapula blackberry. Iseng-iseng saya dekati si penjual hape itu, meski telah lebih dulu berkerumun dua-tiga orang di sana. Ya, mereka mengelus-elus hape itu, lalu mencoba menawarnya.

Calon pembeli hape seken di sekitar Astana Anyar tampak mengubrak-abrik alat komunikasi itu.
Calon pembeli hape seken di sekitar Astana Anyar tampak mengubrak-abrik alat komunikasi itu.

“Kalau yang ini berapa, Mang?” Saya coba tanyakan ke si mamang penjual berkumis lebat itu. “O. Itu 1,5 juta, A!” Gubrakkkk! 1,5 juta??? Yang benar aja lah! “Mening beli yang baru kalau harganya segitu, Bro!” kata kawan saya menimpali. Saya juga setuju dengan kawan saya itu. Yang saya tawar itu, saya tahu kalau itu BB seken. Tapi, kok mahal, ya? O, yang murah itu barangkali hape-hape Nokia jadul, kali, ya? Ha. Kami terus bergeser ke penjual hape lainnya, masih di jajaran musala.

Kata kawan saya, sebetulnya kita agak terlambat datang ke daerah itu kemarin. Seharusnya, kalau mau rame datang ke AT ya agak pagian atau di bawah dhuhur. Benarnya saja, di sepanjang jalan itu hanya segelintir saja yang masih menjajakan dagangannya. Ya sudah, kami bawa vespa untuk mencari penjual hape lainnya, atau mutar balik. Eh, ternyata ada. Ramai. Orang-orang berkerumun di satu titik. Kami datangi mereka.

Kaget juga saya begitu sampai di dekat kerumunan itu. Tumpukan hape berbagai jenis, ukuran,serta merek bertumpuk menggunung di depan sebuah toko yang sudah tutup. Kerumunan orang-orang yang sedang memilah-milih hape tampak antusias sambil sesekali bertanya mengenai harganya. Menyaksikan seperti itu, saya dan kawan mulai mendekati para calon pembeli yang tampak menyemut. Riuh terdengar saat saya mendekatinya. Aktivitas mereka pun diam-diam saya abadikan dengan kamera ponsel. Klik!

Bingung, mau pilih yang mana, ya?
Bingung, mau pilih yang mana, ya?

Wuihhh! Tumpukan hapenya, Bro! Banyak banget, deh! Kayak jeruk medan yang suka dijual di pinggir-pinggir di sepanjang jalan, misalnya di Bay Pass atau jalan Soekarno-Hatta. Warna-warni. Saya membayangkan, dari mana si penjual itu dapat hape sebanyak itu, ya? Kalau dikarungin, mungkin ada sekitar 3-4 karung! Selain berhasil memfoto aktivitas antara penjual dan calon pembeli serta-entah mungkin ribuan hape itu, saya pun ikut memegang-megang hape itu. Ya, nyentuh-nyentuh aja, sih. Kalau beli, rasanya belum, soanya di kantong celana-duit saya hanya 25 ribu!

Tumpukan batre hape juga dijajakan. Ayo, pilih!
Tumpukan batre hape juga dijajakan. Ayo, pilih!

Minimalnya, apa yang teman-teman saya bilang, kalau di Astana Anyar adalah tempat dijualnya hape seken, maka saya sudah menyambanginya kemarin. Dan terbukti, pas saya coba tanyakan ke salah satu penjual hape, ternyata, kalau hape sekelas BB itu belum bisa dikatakan murah. Kalau hape jenis lain, nah, itu dia saya belum sempat menanyakannya. Soalnya, kemarin itu, selain waktunya terburu-buru, hujan mulai merintik. Maka, kami sudahi ziarah ke AT sore itu dengan perasaan lega, bahwa saya jadi tahu-bila suatu saat punya duit berlebih akan datang ke sana lagi. Benarkah?

Nah, ini dia Vespa tahun 1976 yang mengantarkan kami sampai ke Astana Anyar.
Nah, ini dia Vespa tahun 1976 yang mengantarkan kami sampai ke Astana Anyar.