Batal

Saya kerap membatalan puasa hanya karena saya tergoda untuk ngomongin orang atau ketika ada bisikan merasuki hati saya, “Oh, baguslah kamu puasa. Orang pasti bilang kamu orang saleh, taat, dan hebat!” Saya pikir,¬†godaan orang berpuasa itu banyak sekali. Dan saya kerap terlena dengan godaan itu. Duh, Gusti, tolong saya, dunk!

Saya akui, menjaga hati tidak lah mudah. Ya, Tuhan, sesungguhnya saya ini tidak berharap orang menilai atas apa yang saya lakukan. Atau saya ingin pujian dari orang lain. Tidak ingin sama sekali. Kecuali dalam pekerjaan, silakan orang lain atau atasan menilai atas pekerjaan saya. Selain itu, tolong, Ya Tuhan jangan perintahkan manusia untuk menilai saya. Cukup saya dan Engkau sajalah yang tahu. Apalagi, orang lain tahu apa soal hubungan kita, ya, Tuhan?

Kalau dulu, berapa kali pun saya ngomongin orang, berbohong, berbangga diri, ngehina orang, atau apa pun bisikan yang datang, puasa saya tetap saya teruskan. Karena yang saya tahu, puasa itu hanya menahan lapar dan haus. Sementara menjaga lisan dan hati, itu bukan bagian dari puasa. Sekarang, kalau kejadian itu terulang di tengah saya berpuasa (di luar ramadhan), maka puasa saya langsung saya batalkan! Yes! Percuma, Man diteruskan!

Ya, tantangan berbuat baik itu berat, Guys! Bukan hanya itu. Saya sering menunda berbuat baik ketika bisikan itu datang kembali, “Beli makanan kecil, sih buat teman-teman kantor. Pasti mereka senang dan kamu pasti disebut enggak pelit dan baik.” “Bantulah orang miskin, pasti kamu disebut dermawan!”Kalau kamu jadi imam salat, bagus-bagusin bacaannya dan baca surat yang panjang, pasti orang lain kagum, deh!” Dan banyak lagi. Bahkan yang lebih sadis dari itu.

Siapa yang harus saya salahkan? Setan? Tidak! Tak mungkin saya menyalahkan mereka, sebab, itu sudah menjadi tugas mereka membisiki saya. Membisiki semua orang di dunia ini. Saya ini maunya, ketika saya berniat berbuat baik, ya tidak perlulah ada bisikan ini itu atau tak perlulah saya harus tergoda ngomongin orang atau berbohong. Tapi entahlah, saya juga tidak tahu, kenapa hal seperti itu bisa terjadi.

Ya, Tuhan, sampai kapan saya harus membatalkan niat baik saya? Sampai kapan? Tuhan, selalulah jaga hati saya dari niat ingin dipuji orang, ingin disebut dermawan, ingin disebut orang baik, ingin disebut orang saleh, ingin disebut perhatian sama orang, ya, sampai kapan? Andai saya hidup ini hanya untuk itu, kenapa Kau ciptakan hati ini, ya, Tuhan?

Ah, ah, ah…

Iklan

Ibu Ateis, Anak Hapal Quran

Saya merasa ingin tahu soal ada seorang dosen perempuan di Bengkulu- yang para mahasiswa dan sebagian penghuni kampusnya menganggap sang dosen ini penganut ateis. Yang mencengangkan saya adalah- salah satu anak dosen itu hapal Quran. Dosen itu disebut menganut ateisme, karena tiap dia mengajar di kelas, menurut pengakuan adik saya yang diajarnya-katanya ungkapan serta pembicaraannya di hadapan mahasiswa saat mengajar, nampak seperti orang ateis. Saya juga tidak tahu persis, ungkapan seperti apa yang mencirikan kalau ibu dosen itu ateis. Ini hanya cerita adik saya dan temannya, sesaat sebelum berangkat kuliah tadi pagi.

Adik saya terus bercerita di hadapan kawannya itu- soal si ibu dosen tadi yang dibilangnya ateis. Sementara saya, terus mendengarkan sambil sesekali ingin bertanya, tapi saya tahan karena adik saya belum selesai mengomel. Kok ngomel? Ya, ternyata dosen itu kurang disenangi mahasiswanya, termasuk oleh adik saya. “Nilai UAS aku aja dikasih rendah sama ibu itu. Pokoknya males, deh sama dosen itu,” ungkap adik saya diamini kawannya. Saya juga kurang tahu, adik saya dapat nilai jelek karena salah mengisi jawaban, malas mengerjakan tugas, atau dosennya dianggap killer yang tak punya pengertian lebih. I don’t know this!

http://fr.123rf.com
http://fr.123rf.com

Meski dibilang si ibu dosen itu ateis oleh mahasiswanya, tapi ada juga yang membuat kagum bahkan ada segumpal keterkejutan. Soal apa? Ya, itu tadi. Anak laki-lakinya yang kini bersekolah di SMPIT, ia hapal Quran. Saya pikir, kalau ibunya ateis, apa mungkin dia mengajarkan anaknya menghapal Quran? Mungkin saja. Atau, makanya saya langsung bertanya ke adik saya. “Suami ibu itu apa kerjanya, emang, Man?” lanjut saya sambil bangun dari tidur-tiduran.

Wong suaminya aja berjenggot panjang,kok! Ya mungkin bapaknya lah yang mengajarkan anaknya hapal Quran. Aku aja sering liat suami ibu itu aktif pengajian. Entah di mana, yang jelas suaminya, kayaknya lebih alim dari si ibunya. Bahkan suaminya aktif di partai…(sensor),” begitu cerita adik saya.

Lantas saya merenung sejenak. Ya, sejenak, enggak pake lama. Kalau anak laki-laki si ibu dosen tadi hapal Quran, wajar. Saya katakan begitu, karena di SMPIT-para muridnya ditekankan harus hapal Quran, minimal juz ke-30. Kalau ada murid yang hapal dari juz 1 sampai 30, itu artinya si murid punya kemauan keras untuk menghapal isi kitab fenomenal umat Islam itu dan orangtuanya di rumah tentu tak luput memberi motivasi pula kepada anaknya.

Lalu kenapa si ibu dosen itu disebut ateis dan punya anak yang hapal Quran, saya kira itu hanya bonus bahan tulisan buat blog saya hari ini. Inginnya saya, saya ingin langsung minta ke adik saya dipertemukan dengan ibu dosen itu, di kampus atau di rumahnya sekedar ingin mencoba menyamakan cerita adik saya. Juga mungkin saya perlu bertemu anaknya yang hapal Quran itu sekaligus silaturahmi dengan ayahnya. Tapi enggak mungkin, saya bukan wartawan.

http://khairulkamaruddin.blogspot.com
http://khairulkamaruddin.blogspot.com

Ada yang terlewat, ini barangkali selentingan omongan adik saya dan temannya yang sempat terselip di otak. Masih seputar ibu dosen tadi. Memang sempat saya tanya, ibu dosen itu mengajar mata kuliah apa hingga-sebagian besar mahasiswanya menganggap sang dosen disebut ateis. “Ibu itu sebenarnya dosen di jurusan Humas. Ngajar di kelas aku mata kuliah periklanan,” kata adik saya.

Pantas saja si dosen dibilang ateis. Wong dia “ngiklanin” apa yang diyakininya kepada mahasiswanya.