Sebab Hidup tak Harus Disiplin

0

Yang membuat saya tidak disiplin menulis bukan karena tidak ada waktu, melainkan karena saya malas!

Waktu tak perlu disalah-salahkan. Waktu memang sudah begitu adanya. Tinggal, saya bisa mengatur waktu atau saya yang diatur waktu. Itu saja. Simpel. Dan saking simpelnya, perlahan saya sedang dianiaya waktu. Ah, kesal sekali!

Kesal juga tidak ada gunanya bagi saya. Tak harus menyesal. Yang sudah biarlah berlalu. Yang dipikirkan (kalau mau, sih), ya ke depan mau gimana? Mau tetap menulis yang biasa aja tapi tidak disiplin atau tetap menulis tapi disiplin dan biasa saja?

Tentu saya memilih tetap menulis yang biasa saja dan tak perlu disiplin! Ya, tak perlu disiplin! Untuk apa disiplin? Toh, nanti kenyataannya gak bakalan disiplin. Yup, saya harus yakin dengan pernyataan itu: NANTI KENYATAANNYA GAK BAKALAN DISIPLIN.

Apa bukti ketakdisiplinan itu? Selama 2017, baru satu tulisan yang muncul. Itu pun tulisan biasa aja. Tulisan yang mungkin sudah banyak diulas. Dan saya hanya mengulang-ulang saja. Redaksinya saja yang berbeda. Sekali lagi, apa yang saya lakukan itu bukanlah pekerjaan orang yang kreatif.

Udah, segitu dulu aja. Saya tak berharap, setelah tulisan kedua di 2017 ini tayang, akan tayang tulisan ketiga, keempat, kelima atau dan seterusnya. Sama sekali tidak berharap. Sebab berharap, bila tak kesampaian akan baper. Akan sakit hati. Pernah sakit hati? Semoga pernah, biar nanti bisa diceritakan ke anak, istri, dan bekal untuk ditulis di status medsos.

Selamat siang,
Selamat Jumatan!

Iklan

Rayakan Agustusan dengan Sederhana

1

Saya tak pernah mengitung sudah berapa tahun persisnya Indonesia ini merdeka. Kalau mungkin ada pertanyaan mengenai ini masuk ke dalam soal tes CPNS tahun ini—saya akan hafalkan dan hitung. Tapi, karena belum pasti masuk tidaknya pertanyaan sudah berapa tahun Indonesia merdeka pada 2014 di soal tes CPNS—maka saya tak perlu mengingatnya. Yang perlu dicatat itu—hingga 2014, apakah kalian sudah benar-benar merdeka secara pribadi?

Saya menulis tentang Indonesia merdeka kali ini karena beberapa teman di kantor mengingatkannya. Karena peringatan kemerdekaan tahun ini tepat pada hari Minggu (17/8), maka salah satu teman kantor mengusulkan,”Kita rayakan momen hari kemerdekaan kita besok (Jumat) saja, gimana? Karena Minggu rasanya enggak mungkin kita ke kantor.”

Teman-teman yang lain, termasuk saya juga ikut memberi masukan mengenai kegiatan apa saja yang sebaiknya diisi pada Jumat besok untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke…?? Baik, kalau gitu saya hitung dulu, ya—kita ini sebenarnya pada 2014 sudah berapa tahun merdeka. O, ternyata setelah saya hitung dengan kalkulator komputer, kita ini—tahun ini memperingati hari kemerdekaan ke-69! Benar, enggak, ya?

Setelah diskusi yang tidak melelahkan dengan beberapa teman kantor dan unsur pimpinan lainnya soal kegiatan apa saja yang akan diisi untuk menyambut sekaligus memperingati 17-an, maka disepakati untuk mengadakan lomba-lomba spontanitas yang sifatnya menghibur. Di antaranya: makan kerupuk jengkol, mengambil/menggigit koin di pepaya, dan balap sendok pake kelereng. Tarik tambang dan panjat pohon salak tidak dikabulkan—padahal itu usul saya.

Sebelum lomba-lomba spontanitas itu dilaksanakan, pada pagi harinya kami harus mendengarkan sambutan dari ketua panitia kegiatan dadakan ini. Terus, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan puisi bertema perjuangan oleh salah satu dari kami, sharing cerita tentang pengalaman ber-Indonesia dan ber-negara dari masing-masing kami, sharing dari pimpinan perusahaan, dan terakhir ditutup doa sebagai rasa syukur karena kita telah hidup di bumi Indonesia yang merdeka yang dipandu oleh salah satu rekan kami.

Begitulah kegiatan kami menyambut hari merdeka di tahun ini. Sederhana. Dan semoga tetap bangga menjadi orang Indonesia yang telah merdeka 69 tahun. Bagaimana pun keadaannya Indonesia, siapa pun pemimpinnya—secara pribadi saya bangga dan tidak ada niat untuk pindah kewarganegaraan—seperti yang saya dengar dari beberapa anak bangsa ini—jika presidennya dipimpin anu, maka mereka akan memutuskan pindah negara.

Semoga jadi mereka pindah negara—sebab Indonesia tidak butuh orang yang berwatak demikian hanya karena capres-cawapres yang mereka pilih saat Pilpres kemarin belum ditakdirkan menang. Ya sudahlah. Tak usah lagi ngomongin soal capres-cawapres. Kita tunggu saja hasil keputusan para hakim MK memutuskannya nanti.

Rasanya tak cukup kita meneriakkan kata-kata,”Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Akan lebih merdeka bila kita berupaya melakukan upaya-upaya kebaikan—bukan saja bagi diri kita, tetapi buat bangsa tercinta ini. Tak perlu jauh-jauh berpikir, misalnya,”Apa yang bisa kita berikan buat bangsa ini?” Sebelum berbuat untuk bangsa Indonesia, lebih baik kita berbuat untuk kebaikan diri kita, keluarga, pacar, calon istri/suami. Yang paling penting dari semua itu, merdekakan terlebih dahulu hatimu sebelum memerdekakan yang lain.

Merdeka hatimu, merdeka Indonesia!

Enggak Kampanye Hitam Enggak Asyik

1
Ilustrasi diambil dari: www.Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.  Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik! Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampenya keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu! Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan? Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut: Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik. Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya! Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres. Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!

Ilustrasi diambil dari: http://www.pkspalembang.or.id

Saya suka politik—tetapi hampir tak bisa mengulasnya dalam bentuk tulisan. Saya ragu menuliskannya. Padahal, saya sangat ingin menulis tentang politik menurut sudut pandang saya—setidaknya jelang pemilihan presiden 9 Juli mendatang. Betapa geregetannya saya membaca geliat orang-orang jelang pesta demokrasi lima tahunan itu.

Sayangnya—itu hanya sebatas gereget di hati—saya belum sanggup menyampaikannya dalam bentuk tulisan. Misalnya, perilaku tak sehat yang saya baca dan lihat adalah soal saling menjatuhkan antarcalon presiden-wakil presiden. Tapi menurut saya, itu hal biasa di alam demokrasi ini. Bila tak ada kampanye hitam jelang Pileg maupun Pilres—rasanya enggak asyik!

Kampanye hitam maupun putih—saya kira ibarat dua mata uang. Kampanye keduanya, mustahil tak ada manfaatnya. Semuanya bermanfaat. Tergantung, kita menanggapinya dengan cara bijak atau penuh emosi? Orang sering menganggap, bahwa kampanye putih lebih baik—sebab itu sebisa mungkin hindari kampanye hitam. Justru, kalau saya menjadi bagian dari salah satu tim pemenangan capres-cawapres itu—saya usul, black campaign harus ada dan perlu!

Kenapa harus ada dan perlu? Sudah saya tulis sebelumnya, bahwa sangat tak asyik di bumi demokrasi ini bila tak ada kampanye hitam. Dan itu lumrah. Sampai kapan pun, kampanye hitam itu akan tetap ada jelang Pileg, Pilgub, Pilbub/Pilwakot, dan Pilpres. Seperti orang pacaran, kata Iwan Fals, kalau enggak nyubit enggak asyik! Nah, kalau enggak kampanye hitam enggak asyik, bukan?

Saya beberapa hari ini memang sedang asyik mendengarkan sekaligus meresapi salah satu lirik lagi Bang Iwan Fals berjudul: Asyik Nggak Asyik. Lagu ini, menurut hemat saya cocok di tengah genderang perang jelang Pilpres ini. Iwan Fals pun nyatanya setuju dengan saya, misalnya potongan dari lagu tersebut:Dunia politik penuh dengan intrik. Kilik sana kilik sini itu sudah wajar. Seperti orang adu jangkrik. Kalau nggak ngilik nggak asik.

Sebagai penonton, tentu saya berusaha menjadi manusia kritis ala saya, bukan ala politikus maupun pengamat politik. Saya bisa menilai, mana capres-cawapres yang difitnah, mana yang tukang fitnah. Saya bisa menilik, mana program keduanya yang realistis, mana yang bombastis. Kedua pasang capres-cawapres itu harus saya telanjangi sampai benar-benar telanjang. Menelanjangi jejak rekamnya!

Setelah menelanjangi mereka, apakah saya mesti berkampanye hitam buat salah satunya? Atau, di sini lain buat keduanya? Saya kira perlu! Saya akan melihat respon orang-orang—sejauh mana mereka menanggapi apa yang saya lontarkan tentang keburukan capres-cawapres itu. Dan, kedewasaan dalam berdemokrasi, itu akan tampak, sebijak apa orang tersebut menanggapi isu miring/lurus dari pasangan capres-cawapres.

Yuk berkampanye hitam! Sebab Anda dibayar mahal untuk itu!

Presiden, Kapan Kita Salaman?

33

Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Gusdur, Megawati,  dan SBY. Deretan nama-nama tersebut adalah bekas presiden, kecuali nama terakhir-ia masih menjabat presiden Indonesia untuk periode kedua. Dan, pada Oktober 2014 mendatang, suami Ani Yudhoyono tersebut akan lengser dari jabatannya.

Keenam orang-orang yang pernah dan sedang memimpin bangsa ini, saya belum pernah sama sekali berjabatan tangan dengan mereka. Zaman ayah Megawati memimpin, secara kebetulan saya belum lahir dari perut ibu saya. Walau kala itu saya sudah lahir, rasanya tak mungkin saya bisa bersalaman langsung dengan Bung Karno.

wikipedia.org

wikipedia.org

Saat Soeharto berkuasa, yang menurut sejarah adalah presiden paling lama berkuasa, setidaknya untuk Indonesia-kala itu saya memang telah lahir dan sedikit tahu apa saja sepak terjang beliau, meski tak terlalu benar memikirkannya. Saya lahir era 80-an, maka ayah Mbak Tutut itu pastilah sedang jadi presiden. Sementara pas bapak pembangunan ini lengser, saya tengah mengenyam SD, ya kelas V.

Lagi-lagi, saya pun tak kesampaian menjabat tangan beliau, walau saat bersekolah di sekolah dasar ada sedikit tebersit, “Andai saya bisa bertemu langsung Soeharto dan berjabat tangan, mungkin saya sedikit bangga dan bahagia.” Tetapi, itu tidak pernah terjadi, apalagi saya kala itu bukan tinggal di ibu kota, tetapi desa  yang hingga hari ini nelangsa.

wikipedia.org

wikipedia.org

Lalu bagaimana dengan si pemilik otak cerdas, BJ Habibi yang menggantikan Soeharto? Saya tak pernah tahu soal politik saat itu dan sama sekali tak pernah memikirkan harus seperti apa sebaiknya seorang pemimpin negara itu memberlakukan rakyatnya. Tak pernah sama sekali. Saya hanya tahu, ini juga menurut orang-orang, tersebab suami Ainunlah Timor-timor lepas dari Indonesia. Semoga salah pendapat itu. Tetapi, tetap, saya belum juga berkesempatan bersalaman dengannya.

wikipedia.org

wikipedia.org

Era Gusdur, saya kira lain lagi, tetapi ini yang paling asyik. Bila tak salah, saat Abdurahman Wahid memegang kendali istana, maka banyak kebijakannya yang menuai kontoversial, di antaranya Indonesia menjalin kerjasama dengan negara Israel, belum lagi kalau Ramadhan, semua pelajar full libur sebulan. Asik, dunk libur sebulan. Kendati demikian, ampun, saya belum juga salaman dengan cucu pendiri NU ini.

wikipedia.org

wikipedia.org

Megawati adalah satu-satunya perempuan yang pernah menjadi presiden di Indonesia. Katanya lagi, eh, di 2014 ini, istri mendiang Taufik Kiemas ini bakal maju lagi mencalonkan presiden. Tak tahulah saya, peta politik bisa saja berubah, mungkin saja ibu Mega mengajukan Jokowi sebagai presiden. Dengan ketua umum PDI Perjuangan ini pun-walau sang ibu, Fatmawati orang Bengkulu, saya belum juga sempat bersalaman dengan tangan lembutnya.

wikipedia.org

wikipedia.org

Kali ini SBY. Saya mau menulis apa tentang ayah Ibas ini, ya? Yang pasti, sama seperti presiden terdahulu,  ayah Ibas ini pun sama sekali tidak tahu di mana rumah saya, apalagi berkunjung ke kecamatan saya di Utara Bengkulu sana, yang sejak 1983-an jalannya tak pernah mulus. Pak SBY, ini sudah mau akhir jabatan, tak sampai setahun lagi, kapan saya bisa bersalaman dengan Anda?

padangmedia.com

padangmedia.com

Tuhan, Jangan Luluskan Aku Jadi PNS

16

 “Tapi salah banget nggak sih kalo aku berharap supaya nggak lulus tes (CPNS) aja? Aku nggak mau jd PNS. beneran!”

Awalnya, saya pikir, orang ini aneh, kok dia berdoa supaya enggak lulus jadi PNS. Padahal, teman saya ini beberapa minggu lalu ikutan tes CPNS di kotanya, Timur Indonesia. Saya belum tahu pastinya kenapa, sarjana pendidikan bahasa Inggris itu sampai mengatakan seperti itu. Saya yakin, dia mengatakan yang demikian, itu bukan secara tiba-tiba, dan mesti ada musababnya. Nah, soal musababnya ini, yang masih saya pertanyakan. Kenapa pula saya rela membahas tentang ucapan kawan saya ini? Entahlah. Saya merasa, ini inspirasi saya buat menulis di sore ini, di tengah kebuntuan yang kian menggejala.

Semua orang tahu, bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling dicari di Indonesia. Karena alasan inilah, saya mempertanyakan ke teman, yang juga blogger itu sampai tega melontarkan, bahwa dia berdoa-walau pengumumuan hasil tes CPNS belum diumumkan, mudah-mudahan dirinya tidak lulus CPNS. Ini gila, kata saya seketika, walau saya tidak berani mengatakan langsung kepadanya. Saya hanya bilang, setiap pilihan itu tidak ada yang salah. Yang salah itu, ucap saya-mereka yang tak berani memilih di antara dua pilihan.

Waduh. Saya pun, sebenarnya tidak serta merta memarahi kawan akrab saya di dunia maya itu, tersebab telah mengatakan sesuatu di luar jalur mainstream. Apalagi, selama ini-jalur mainstream adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan, bahkan paling dianggap wilayah yang paling benar, walau-secara pribadi saya tidak selalu mengagungkan mainstream. Walau demikian, saya amat salut sesalut-salutya kepada orang yang sanggup berpikir dan bertindak di luar jalur kebiasaan, walau harus juga menerima segala konsekuensinya.

Saya belum tahu, apa konsekuensi yang akan didapatkan/diterima oleh kawan saya yang satu ini-yang berani berharap, “Mudah-mudahan saya tidak lulus tes CPNS!” Utamanya, barangkali dari orang-orang terdekat: kedua orangtua, kakak, adik, ponakan, tetangga, teman kuliah yang juga sama-sama ikut tes CPNS, pacar, dan semua lingkungan yang pernah ia sambangi. Pastilah, kalau orang tahu dia ini berharap tidak lulus tes CPNS, pendapat pun akan beragam. Tapi, tampaknya perlu diingat, bahwa ada salah satu instansi pemerintah yang mengultimatum, bahwa bila orang bersangkutan itu lulus tes dan mengundurkan diri, maka terkena denda yang tak sedikit, lho. Sampai puluhan juta kalau tak salah.

Semuanya memang, siapapun orangnya harus memikirkan  matang-matang sebelum bertindak. Jangan sampai, kata orang-kalau salah bertindak ataupun berbicara, maka bisa fatal akibatnya. Mungkin saja, kawan saya ini-dulu, daftar CPNS karena ikut-ikutan teman, gengsi, atau tak sadar, bahwa ia ikut daftar tes CPNS. Atau, barangkali-ini sering, karena dipaksa orangtuanya, yang kebetulan-mereka juga PNS. Kalau anak enggak PNS, enggak keren. Itu mungkin pikir kebanyakan orangtua Indonesia. Saya berharap, kawan saya ini daftar CPNS kemarin bukan karena alasan yang saya sebutkan di atas.

Atau, kenapa kawan saya ini memutuskan bilang, “Tuhan, tolong jangan luluskan saya jadi CPNS!”, karena memang dia telah punya pekerjaan yang lebih nyaman daripada menjadi PNS. Dan bahkan, penghasilannya pun lebih lumayan dari seorang abdi negara itu. Mudah-mudahan saja begitu. Dan, bagi saya-bekerja di mana pun, itu sama saja-yang penting itu nyaman dan sesuai passion, kata orang-orang. Uang yang dicari? Oh, sebanting tulang apapun ia dicari, ya, sama saja, kok. Kalau tak pandai mengelolanya, matilah kita. Tetapi, walau gaji kecil, asal kebutuhan terpenuhi, nyantailah kita. Begitu, bukan? Semoga tak tepat.

Lalu, siapa kawan saya itu? Ada, dia blogger di sini, seorang cewek yang juga hobi berfoto dan jalan-jalan. Hahaha. Tengs inspirasinya buat hari ini, administrator!