Kala Hati dan Pikiran Berseteru

Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com
Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com

Tuhan sengaja membuat hati saya enggan untuk menulis, setidaknya melanjutkan cerita bersambung saya di blog ini. Entah kenapa, antara hati dan pikiran saya sedang tidak harmonis alias BERSETERU. Kalau ditanya apa penyebabnya, saya benar-benar tidak tahu. Suer, deh!

Pokoknya hati saya sedang tidak stabil. Gundah. Merasa tidak tenang. Konsentrasi hilang. Baru saja  mengetikkan dua sampai lima kata, tiba-tiba seperti ada yang membisiki hati saya,”Sudahlah. Besok aja nulisnya. Jangan dipaksakan, mening kerjakan dulu yang lain.”

Satu sisi, berkecamuk ide di pusaran otak ini yang saya niatkan untuk saya tuliskan di blog ini. Mulai dari, kenapa sampai hari ini tidak ada rute pesawat Bandung-Bengkulu maupun sebaliknya, salat dhuhur berhadiah umrah, haji, dan Innova yang digagas walikota Bengkulu, Helmi Hasan, dan soal Kota Kembang disebut sebagai “Bandung, The City of Pigs” yang ditulis oleh blogger asal Bulgaria,  Inna Savova beberapa saat lalu.

Seabrek ide yang berkumpul di meja redaksi otak saya sungguh hanya sebatas ide dan tidak benar-benar tumpah menjadi sebuah tulisan menarik, setidak-tidaknya menurut saya. Dan saya menyesal kalau ada ide ternyata tidak sampai lahir. Siapa yang tidak kesal kalau seseorang hanya hamil saja tetapi pas di-USG, eh ternyata bayinya lenyap entah ke mana, padahal-dia notabene sedang mengandung.

Untung saya tidak hamil dalam arti sama dengan para perempuan itu. Saya hanya hamil ide karena beberapa hari sebelumnya saya memang telah bersenggama dengan realitas beberapa kali, bahkan di tiap menitnya. Tetapi itulah, betapa pun saya melakukan persenggamaan-saya belum bisa bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan.

Padahal, di tengah persenggamaan yang intim itu, sekuat tenaga saya sudah menyugesti diri bahwa saya harus bertanggungjawab. Tanggung jawabnya adalah saya harus menikahi ide itu sebaik-baiknya untuk kemudian menuliskan ide itu dalam bentuk tulisan. Pendek kata, saya hanya berani menghamili dan tak berani bertanggungjawab.

Intinya, kalau antara hati dan pikiran sama-sama tidak galau, sama-sama sehat, sama-sama seimbang, maka pastilah saya tetap konsisten melanjutkan menulis di blog ini tanpa ada alasan ini itu atau ina inu. Sekali lagi, kalau saya ditanya oleh siapa saja kenapa hati dan pikiran saya sedang tidak proposional, saya hanya jawab, “Tuhan masih membuat hati saya berselingkuh dengan yang lain.”

Jadi, balik-baliknya, saya adalah orang pertama yang tahu harus bagaimana saya selanjutnya supaya saya ini menyeimbangkan kembali perangkat tubuh ini: hati dan pikiran. Tidak harmonis bukan berarti tidak ada masalah di dalamnya, kan? Saya sebaiknya segera mengajak berdamai antara kubu hati dan pikiran supaya mereka membahagiakan saya. Sekarang!

Pemaaf yang Ikhlas

gambar dari www.google.co.id
gambar dari http://www.google.co.id

Bagaimana menjadi pribadi pemaaf yang ikhlas, ini masih saya pelajari, dan-mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus bisa menyelaminya hingga ke dasarnya dan mempraktikkan dalam hidup keseharian. Saya selalu menulis di dalam buku catatan harian saya, baik di awal maupun akhir, “Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, tolong, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Saya selalu menyengaja menghadirkan kalimat yang saya tulis pada buku catatan harian saya tiap hari. Saya ingin, kalimat bernada sugestif -positif, itu benar-benar bersemayam di aliran darah saya.

Saya tidak ingin menjadi manusia yang bermanis di kata, tetapi masih menyisakan butiran kejengkelan di dalam hati, walau sebelumnya saya berkali-kali meminta maaf kepada orang lain, baik itu karena kesalahannya maupun kekhilapan saya. Kalau sesudah meminta maaf, lantas hati saya masih saja diliputi ketidakenakan hati, itu artinya-saya memang belum meminta maaf dengan tulus. Pendek kata, uluran tangan serta ucapan kata “maaf” di hadapan orang lain, itu baru sekadar buncahan lisan, belum benar-benar meresap dalam segumpal darah. Kenapa bisa seperti itu, Hasan?

Entahlah. Kalau lisan sudah menyatakan “maaf”, sementara qolbu belum menerima, itu berarti-antara lisan dan hati belum sinkron. Yang lebih fatal lagi, saya dalam hal ini telah membohongi diri saya sendiri, bahkan orang lain. Selama ini, jika ada seseorang yang telah berbuat salah-dan hasil perbuatannya itu hingga begitu menyakitkan saya-secara pribadi, memang saya memaafkan. Tapi, entah kenapa, beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun, sesuatu yang pernah bikin hati tak enak itu, kok teringat lagi. Pada saat itu, lagi-lagi hati saya terseok lagi. Padahal, sebetulnya saya telah benar-benar melupakan kejadian itu dengan sepenuh hati. Nah, ini yang masih menjadi misteri dalam diri saya. Apakah saya belum memaafkan mereka dengan sepenuh jiwa plus hati?

Kalau sudah seperti itu, saya merasa menjadi manusia paling bersalah. Padahal, orang yang pernah saya maafkan itu, barangkali tidak tahu apa yang tengah saya rasakan. Sekali lagi, tetapi-saya sadar, bahwa ini salah satu proses bagaimana menata hati supaya menjadi keinginan Tuhan. Sebab, hanya Dia jualah sang pembolak-balik hati, walau sebetulnya-hati saya sedang dijungkirbalikkan, bukan oleh-Nya, tetapi oleh saya, yang sulit sekali memaafkan orang lain, betapa pun saya berkali-kali meminta maaf kepada orang bersangkutan. Ya, Dia memang Maha Menjungkirbalikkan hati siapapun yang dikehendakinya.

Semua berpusat pada hati pada akhirnya. Hati yang ikhlas, tentu bersih tindakannya. Sebaliknya, bila sedang digerogoti semacam virus maupun bakteri, hati juga akan demam-dan jika tak segera tahu penangkalnya, sudahlah, maka ia akan kian kronis. Kendati demikian, saya tidak mau larut dalam kelimpungan, saya selalu berusaha berpikir positif, dan, terus memohon bimbingan-Nya serta  selalu menerima kejutan-kejutan yang menghampiri dalam kehidupan saya sehari-hari. Siapa lagi yang pantas saya harapkan, selain Dia-yang maha atas segalanya. Kalau pun saya galau, kata anak muda zaman sekarang, penangkal itu tetap ada, walau proses untuk mendapatkannya, saya harus kerja keras dan ikhlas.

Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya. Hasan, tolong, jadilah pribadi pemaaf yang ikhlas, ya.