Maafkan Kadang-kadang

Image from: www.billprickett.com
Image from: http://www.billprickett.com

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang mengumpat orang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang membohongi orang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang menyakiti orang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang bermain curang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang menyukai wanita lain, padahal hamba , padahal hamba, Engkau, kan tahu dengan siapa aku sekarang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang pelit

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang tak bertanggungjawab

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang tak rutin menemui-Mu dalam lima waktu

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang bicara yang tak disukai orang

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang dengan sengaja beli gorengan lima dibilang tiga

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang ingkar janji

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang, diam-diam bercanda berlebihan

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang berpikir mesum, liat foto perempuan telanjang, video porno, dan membaca cerita-cerita yang membangkitkan hasrat

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang tak berniat naik haji setelah tahu harus menunggu 5-8 tahun baru berangkat ke tanah suci.

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang menganggap diri ini paling suci. Padahal, da akumah apa atuh!

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang nyebarkan keburukan orang dan sembunyikan kebaikannya

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang menuntut sesuatu kepada seseorang yang tak mudah dikabulkan

Maafkan hamba karena telah–kadang-kadang lebih intim dengan setan daripada Tuhan

Maafkan…

Iklan

Bukan Orang Baik

Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com
Ilustrasi diambil dari: mayamychemro.deviantart.com

Sekali lagi, saya hanya ingin bilang, bahwa saya sangat berterimakasih kepada orang-orang yang telah mengatakan saya ini orang yang tak tahu diri, tidak mengerti, tukang menyakiti hati, punya duit tapi tak bisa menolong teman yang kesusahan, punya hape lebih dari satu tetapi tak rela menjual salah satu hapenya, dan hasil penjualannya untuk membantu teman yang sedang butuh, atau saya ini dianggap baik, tetapi sebetulnya saya ini tak persis seperti apa yang mereka kira.

Bagi saya, semua orang, baik yang kenal maupun tidak kenal sama saya—mereka berhak menilai apa pun tentang diri saya semau dan sepuas mereka. Bahkan, kalau memang harus menuding saya dengan perkataan yang mereka inginkan, saya akan tetap menerima. Dan tenang saja, saya berusaha untuk tidak naik pitam saat mereka melakukan aksi tersebut.

Saya, kan, kalau tidak salah, pernah bilang, bahwa saya ini tak layak mendapat pujian—walau sebetulnya, mungkin mereka pantas melontarkan pujian tersebut kepada saya dengan berbagai alasan. Makanya, ketika saya dinilai, dianggap, dikata-katai saya ini orang yang tak punya perasaan, tak tahu diri, tak peka dengan derita orang lain, tak rela berkorban—sekali lagi, saya berusaha tidak membantah juga berusaha tidak akan membalas balik dan mengata-ngatai mereka ini itu.

Kenapa saya tidak membantah? Kenapa saya tidak membalas balik dan gantian mengata-ngatai mereka? Saya sadar, saya ini manusia yang kehadirannya di alam ini—kalau tak berkesempatan berbuat baik, ya tentu melakukan hal yang bikin jengkel manusia maupun membuat Tuhan marah. Karena, dua kelakuan itu (baik-buruk) adalah sesuatu yang tak dapat dihindari oleh manusia seperti saya ini. Jadi, memang saya ini bukan manusia sempurna, apalagi disebut baik atau saleh.

Kalau ada yang menilai saya ini orang yang baik—sesungguhnya itu penilaian yang salah alamat dan terlalu berlebihan. Apalagi, pernah ada yang bilang, saya ini orang yang terlalu baik. Nah, mendengar itu, saya langsung katakan,”Kamu terlalu berlebihan menilai saya. Kamu telah terjebak dengan sesuatu yang tampak baik, tapi belum tentu memberikan kenyamanan pada tahap selanjutnya. Sudahlah, kalo mau menilai, nilai saja penciptamu, bukan saya!”

Justru yang membuat saya senang dan bisa membuat ketawa, itu pada saat kamu katakan saya ini manusia jahat, tidak pengertian, nyakitin hati terus, pelit, sombong, tak tahu diri, punya utang gak dibayar-bayar padahal saya ini udah punya kerja, sms gak dibalas, telepon gak diangkat, atau kamu menyebut saya ini orang yang selalu memberikan janji dan tidak pernah memberi bukti. Oke, penilaian seperti inilah yang saya butuhkan dibandingkan saya ini baik, saya ini perhatian, dan bla bla bla.

Kalau misalnya setelah mereka—teman-teman saya itu menilai saya dari berbagai sisi dan ternyata mereka menyimpulkan saya ini termasuk orang yang tak pantas dijadikan teman baik atau sahabat penuh pengertian, saya tidak marah dan pula kecewa—sebab, saya katakan di awal—mereka berhak  menilai saya, terlepas penilain itu atas dasar keikhlasan atau sekadar meluapkan emosi karena orang yang bersangkutan sedang ingin minta diperhatikan.

Namanya hidup di dunia ini mestilah siap dituding-menuding, dicaci-memaki, dihina-menghina, dipuji-memuji, disakiti-menyakiti, menerima dan atau menolak sesuatu, bahkan saling membunuh, baik membunuh karakter maupun membunuh secara  fisik. Ini namanya dinamika kehidupan. Mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju, semua itu bakal kita lewati. Hanya saja, seberapa sadar kita mengingat-ingat itu semua, ya?

Saya yakin sikap yang saya tunjukkan demikian, itu tak semua orang setuju. Apalagi, saya pun tidak berharap orang-orang setuju dengan sikap saya ini—bahkan saya lebih suka, mereka itu harus berbeda sikap dengan saya dalam menanggapi berbagai hal dalam kehidupan. Dan, saya pun tidak pernah menganggap apa yang saya yakini ini cara yang paling benar atau sikap yang paling tidak populer.

Satu lagi, berani menjalin hubungan dengan manusia, entah hubungannya sebagai teman, sahabat, pacar, suami-istri, bahkan hubungan sesama jenis (gay-lesbian), bukan tidak berisiko. Sakit-menyakiti, perhatian tidak perhatian, cemburu-mencemburui, iri-irian, berusaha mencelakakan satu sama lain, saling ejek, puji, merasa terikat, menyanjung berlebihan, merasa kehilangan, dan perasaan-perasaan yang lebih dari itu bakal dilalui manusia.

Makanya, saya selalu berusaha sadar dan acap diingatkan, bahwa kalau saya melakukan ini, pastilah dampaknya itu. Kalau mengatakan ini, tentu akibatnya begitu. Pun bila saya tak melakukan itu, risikonya bakal seperti ini. Jadi, saya merasa, sebetulnya alur hidup yang saya jalani tak penuh kejutan sama sekali. Artinya, ya biasa saja dan tak ada yang istimewa dengan hidup ini. Saya hanyalah seorang musafir yang melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk menemukan diri.

Tentu, dalam helaan perjalanan bakal ditemui pengalaman unik yang mengultimatum, saya ini sanggup melanjutkan perjalanan ini atau tidak. Semakin saya sanggup menempuh perjalanan itu, semakin banyaklah risiko yang dihadapi. Dan salah satu risiko itu adalah banyaknya orang-orang yang akan menilai saya dengan beragam pendapat. Sekali lagi, saya bersyukur dengan itu—betapa saya ini makhluk Tuhan yang tidak baik!

Dua Kesedihan yang selalu Membayang

Kalau saya ingat peristiwa ini, tentu sebagai manusia lemah saya menitikkan air mata. Ada dua kejadian-yang membuat saya selalu ingat, dan setelahnya saya suka sedih dan berharap itu tidak terjadi. Namun, kalau yang terakhir itu, rasanya mustahil. Lalu, apa sebenarnya dua peristiwa atau kejadian yang selalu saya ingat itu?

Pertama, 18 tahun lalu, atau tepatnya pada 1995, adik saya yang berumur 5 tahun, oleh Izrail atas titah Tuhan nyawanya diambil begitu saja, tanpa ada persetujuan dari orangtua saya, maupun saya sendiri sebagai kakaknya. Kalau sudah begitu, siapa yang tak sedih, siapa yang tak menangis ditinggal seorang anak atau adik bungsu yang lagi gemes-gemesnya?

Akhir 2006, atau saat pertama kali saya masuk kuliah, kabar duka itu kembali memancar di benak saya. Barangkali ini kesedihan kedua setelah adik bungsu yang kembar itu meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Ya, kali ini kakak saya nomor 3 yang mengalami nasib serupa, yakni dibabat habis oleh sang penjagal kematian, Izrail. Yang paling menyedihkan, pengambilan nyawa itu terjadi di suatu malam takbiran lebaran idul fitri.

Di mana tempatnya? Ini yang membuat saya murka saat itu, tempatnya tidak lain adalah di rumah sakit. Betapa tidak bahagianya keluarga kami malam itu, saat itu. Padahal, besoknya lebaran, eh, kami malah harus ditimpuk duka. Satu lagi yang saya sesalkan, malam itu, ketika Izrail datang, saya tidak sedang di samping kakak saya tercinta. Saya sedang mengambil bantal ke rumah teteh. Ya, cuma 15 menitan lah. Tapi…

Adik saya itu pas lahir kembar. Cowok-cewek. Nah, yang cewek inilah yang lebih dulu menjauhi saya karena dibawa pergi Izrail, entah ke tempat mana, saya tidak paham sampai kini. Sedangkan yang kedua, yang cowok ini, berkat kasih dan sayang-Nya juga, hingga saat ini masih berkomunikasi sama saya. Ia tumbuh dewasa sekarang. Bahkan, kabar terakhir yang saya terima, awal September ini mau sidang skripsi.

Andai adik saya yang perempuan itu ada, ya mungkin hari ini juga, atau sebentar lagi akan wisuda. Yah, itu andai, itu harapan yang saya ungkapkan sore ini, di Bandung yang tak ramah lagi ini. Udah lah, saya tak perlu sedih, tak perlu menangis-nangis sendiri di kamar, atau berimajinasi yang tidak-tidak, yang bahkan malah membuat hati saya tidak tegar. Saya hanya cukup bilang,”Terimakasih Tuhan atas semuanya.”

Lalu, kakak yang nomor 3 itu, sebetulnya ia sudah punya anak 2 saat dirinya bersemayam bersama Tuhan. Laki-laki dan perempuan. Kedua anaknya, yang cowok baru masuk SMA. Adapun yang cewek, sedang duduk di bangku SMP kelas II. Baik adik maupun kakak, kenapa Tuhan ambil nyawanya begitu cepat, saya tahu memang-mereka sedang dalam keadaan sakit.

Ya, sakit fisik. Kalau adik, itu sakit karena terkena campak, sedangkan kakak, walau saya tak tega mengutarakannya di sini, ia terkena luka bakar yang cukup serius di sekujur tubuhnya. Bahkan, pertama kali ke rumah sakit, di ruang UGD saat itu, saya bahkan hampir tak mengenali wajahnya. Tuhan, ampuni segala dosanya. Kuatkan kami yang ditinggalkan. Air mata tertahan, dan saya waktu itu tak bisa bersuara saking tidak menyangkanya.

Kalau pas kejadian adik saya, maklum, karena saya baru kelas III SD. Jadi, sore itu saya menangis di samping emak dan apak. Rasa tak rela kehilangan adik satu-satunya perempuan. Tapi, saat kejadian menimpa kakak saya, di depan kedua orangtua, saya mencoba tidak sedih, tidak memperlihatkan kegundahan.

Justru, entah energi dari mana, saya tetap senyum sembari menguatkan emak, yang diam sesenggukan. “Mak, sabar, ya. Sudahlah, kita hanya diberi titipan sama Tuhan cuma sampai sini. Kita hanya memeliharanya saja. Udah, ya. Tenang, ya. Istigfar saja. Yakin saja, Tuhan pasti bakal memberi pengganti yang lebih baik. Tenang, ya, Mak.”

Tuhan, apapun yang bakal engkau berikan, jadikan hamba-Mu ini tetap bersyukur.