Akik

From: www.palaq.com
From: http://www.palaq.com

Sesuatu yang menarik atau tidak, kadang-kadang tetap saya tulis, syaratnya ketika itu saya sangat ingin menulis. Jika tidak, ya tamat riwayat dan itu hanya berputar di kepala tidak sampai jadi paragraf. Seperti pagi ini, saya sebetulnya tidak punya ide mau nulis tentang apa. Apalagi di luar sana langit cerah, bumi merekah. Enaknya, kan nyantap soto Madura, bukan menulis!

Baiklah. Saya mau nulis tentang batu akik. Ada yang bilang, batu akik mulai jadi perhatian sejak dua tahun lalu—walau belum begitu booming seperti hari-hari ini—yang orang-orang mulai mencari dan menjadikannya sebagai gaya hidup. “Ini batuku, mana batumu?” Begitu yang sempat saya baca di beberapa media cetak yang mengulas tentang batu akik.

Kehebohan batu akik bukan hanya bagi pencintanya. Yang tadinya cuek dengan batu alam tersebut, kini mulai penasaran dengan keindahan dan keunikannya, bahkan rela memilikinya—walau harganya tak lagi murah (tergantung jenis batunya, sih!). Di sisi lain, ada pula orang yang geleng-geleng kepala melihat orang lain yang memburu batu akik. “Saya heran, di mana letak bagusnya batu akik itu, ya?”

Saya pernah dibisiki seorang teman perihal batu akik ini.”Bro, pakai batu akik itu sunah Rasul. Pakek, dong! Masa enggak pakai, sih! Jadi gagah dan berwibawa, lho kalo pake akik!” Waduh, sunah Rasul? Rasul dibawa-bawa sampai ke batu akik! Emang enggak ada yang lain, ya sunah Rasul yang bisa dipraktikkan dan bisa bikin gagah plus berwibawa?

Beberapa teman kantor pun—yang tadinya enggak pernah memakai akik, kini mulai gandrung. Akik yang mereka pakai macam-macam. Saya tanya satu-satu, katanya ada panca warna, giok (entah giok mana, saya tidak tahu: Aceh atau mana), kalimaya, dan akik jenis lain yang saya lupa mau menuliskannya di sini. Ukuran akik yang dipakai pun berbeda-beda. Dari seukuran pentol korek sampai ukuran ulekan batu.

Dua minggu lalu, bahkan adik saya—dengan agak menyombongkan diri mengirimkan sebuah foto yang memperlihatkan dia sedang memakai cincin batu akik. “Woy, ini batu Red Rafflesia asli Bengkulu! Jangan ngaku lanang (laki-laki) kalo gak pakai akik! Hubungi saya kalo minat. Harga nego!” tulisnya via BBM

Kata adik saya, sebulan lalu, harga batu Red Rafflesia perkilo hanya Rp.250 ribu yang diambil dari sebuah bukit di Bengkulu dari seorang pendulang batu. “Itu harga yang belum jadi, masih berbentuk batu kasar. Tapi karena semakin ke sini tambah ramai, harganya jadi Rp.900 ribu perkilo! Beli harga jadi sajalah kalo mau. Ni, Rp. 300 ribu aja. Kasih tahu kawan lain, kali aja minat!”

Sampai akhirnya, saya belum punya akik detik ini. Bukan tidak mau, tapi saran beberapa teman membuat saya mengurungkan niat untuk membeli akik.

“Gak cocok kamu pakai!”

“Pake akik harus punya istri dulu!”

“Niatnya apa pakai akik? Mau dilihat orang supaya keren atau memeliharanya karena kamu punya jiwa seni? Atau malah untuk nakut-nakuti orang? Atau buat jimat?”

“Kalo niatnya biar orang muji kamu karena pake akik, mening gak usah. Lebih baik kamu beli gorengan dan bagi ke teman-teman kosan!”

Iklan

Betapa Mahalnya Jeda

 www.mrmediatraining.com
http://www.mrmediatraining.com

Saya merindukan jeda. Saya belum bisa mengambil jeda meninggalkan smartphone beberapa menit sekadar memikirkan sesuatu atau menyelesaikan bacaan yang sempat tertunda. Atau ngobrol dengan teman dengan penuh perhatian. Susah kalau tiap detiknya hati ini selalu terpaut dengan ponsel pintar . Saking pintarnya, saya dibodohin. Sebentar-sebentar cek BBM. Sedikit-sedikit whatsapp-an. Luncur ke facebook. Terbang ke twitter. Mampir ke Path. Ah! Bosan! Saya bosan! Saya butuh jeda.

Beberapa saat lalu, teman lama menggoda saya,”Daftar Line, dunk! Bisa video call. Lebih asyik!” Saya buru-buru berujar dalam hati,”Mau Line, WA, BBM, facebook, twitter, atau Path, toh temannya itu-itu juga. Cuma beda tampilannya saja. Bagiku, punya satu atau dua akun di media sosial lebih dari cukup asal digunakan maksimal dan efektif. Intinya bisa komunikasi. Enggak neko-neko.”

Saya pernah punya Line. Saya akrab dengannya kira-kira dua bulan. Saking bingung saya ini mau fokus di media sosial yang mana, maka Line saya hapus—sementara saya masih mengasuh WA, BBM, Facebook, Twitter. Eh, iya, satu lagi—Instagram. Seminggu setelah Line saya singkirkan, barulah giliran Path saya kubur. Bukan tak mahir menggunakannya, tetapi saya butuh jeda. Saya sudah puas memelototi mereka tiap detiknya.

Bila saya tak pandai mengatur mereka—justru mereka yang mengatur saya. Sejak memelihara mereka, saya tidak pernah konsentrasi melakukan sesuatu—kecuali buang angin—bahkan acap gagal—padahal—urusan itu lebih penting. Saya tak mudah bersabar untuk selalu mengontrol mereka.

Secara sadar, saya ulangi, mereka berhasil mengatur saya. Memperdaya saya. Membuat saya berlama-lama berdiam diri sembari mendaki mereka. Sehingga kedua mata ini nyaris kabur dibuatnya. Seharusnya saya yang mengatur mereka. Saya! Bukan mereka! Saya benar-benar belum bisa menjadi penggembala seperti nabi.

Smartphone benar-benar menjauhkan saya dari keintiman bersama Tuhan. Entahlah. Kenapa saya diberi penasaran, kok inginnya selalu dekat dengan benda canggih itu. Padahal, kan bisa nanti bersama kembali. Sungguh, nyaris saya telah menduakan Tuhan yang sesungguhnya. Bukannya berdoa, setelah salam kanan-kiri selepas salat, saya malah mengambil handphone. Menyentuhnya dan meluncur ke dunia lain yang mengasyikkan. Oh.

Saya banyak memerhatikan, orang yang mengobrol itu tidak lagi intim. Padahal mereka sahabat lama, teman kantor, pacar, atau bahkan calon suami/istri. Yang satu ngajak ngobrol, sementara lawan bicaranya bukan mendengarkan sembari memerhatikan, tetapi malah sibuk main hape. Jengkel, enggak? Kenapa, sih sulit sekali mengambil jeda demi menghargai orang lain?

Saya pernah menegur seorang teman gara-gara dia asyik main smartphone–nya—padahal kita berdua sedang membicarakan sesuatu yang maha penting. Saat dia curhat, saya dengarkan—meski beberapa kali tangan dan mata dia fokus ke hape. Saya biarkan. Selesai dia bicara, giliran saya menanggapi. Sebelum kalimat ketiga saya sampaikan, saya lalu ngomong,”Gue enggak bisa melanjutkan obrolan ini. Maaf, gue orang yang salah!”

Saya tidak menyalahkan smartphone-nya, apalagi saya berharap orang menghormati saya. Yang saya butuhkan adalah keseimbangan dan penghormatan terhadap jeda. Saya punya prinsip—walau mungkin prinsip saya ini jauh dari ketepatan. Kalau saya mengobrol dengan siapa saja, face to face—saya harus fokus ngobrol dan memerhatikan orang yang saya ajak ngobrol. Dan smartphone, saya simpan di saku celana atau kemeja tanpa berpikir apakah ada pesan masuk dari teman facebook, BBM, WA, atau DM. Begitu obrolan selesai, nah barulah saya menimang kembali si pintar dengan kerinduan yang memuncak!

Betapa mahalnya jeda…