Sendiri

IMG-20150706-WA0069saya tidak suka kesepian. tidak suka kesendirian. meski saya sadar, bahwa saya harus sendiri ketika entah kapan masuk liang kubur, kecuali ketika itu ada musibah dan menyebabkan banyak orang mati dan harus dikubur massal. Sekali lagi, saya merasa bahwa kemeranaan saya akan tampak saat sendiri.

kata sebagian orang, gadget adalah benda penghibur kala sendiri. tidak! bulsit! ia hanya sebuah benda yang tidak bisa saya ajak ngobrol. justru ia benda yang bikin saya menjauh dari orang-orang. betapa tidak? gadget membuat saya jadi asyik sendiri dan nyaris melupakan orang lain. Duh, maafkan saya, ya.

jadi, hape android yang saya punya sesungguhnya bukan teman yang mengerti saya. bukan pula teman yang bisa mengingatkan saya, misalnya ketika terlintas ingin membuka situs porno,”Hey, jangan kau teruskan niatmu. enggak ada gunanya. udah, stop!” Tidak pernah saya diingatkan begitu. tidak pernah.

yang saya butuhkan itu ya manusia. bukan gadget. yang penting orang itu bisa diajak ngobrol yang kedua mata dan wajahnya bisa saya tatap. jika ia menolak saya tatap wajahnya, berarti saya gagal menemukan manusia. jika ia tidak berkomentar pas saya tatap wajahnya, mungkin ia sadar bahwa ia sedang saya perhatikan.

bagaimana jika saya sedang sendirian, lantas gadget pun tidak ada, minimal daya batrenya habis? awal-awal, saya merasa cemas, marah-marah, kelimpungan, dan segala ekpresi yang tidak perlu. waw, saya pikir ulang, apa gunanya saya bertingkah seperti itu? hanya karena gadget/habis batre saya merana? o, tidak! bodoh sekali saya! Bodoh!

Dan sekarang yang saya risaukan bukan karena ketiadaan gadget, tapi teman-teman yang tiba-tiba harus meninggalkan  saya, walau mereka meninggalkan karena sesuatu yang wajar.  Misalnya, setelah beberapa jam kita bersama: makan-makan, jalan bareng, atau curhat massal, eh tiba-tiba karena mereka punya kosan/rumah, mereka pulang ke tempat tinggalnya. Pada saat itulah, saya merasa kesepian lagi. O, betapa kesendirian itu menyesakkan, Kawan! Kau harus tahu itu.

Saya sadar. Saya tidak selamanya harus bersama teman-teman setiap waktu. Adakalanya kita harus berpisah untuk alasan tertentu. Entah pindah kota, melanjutkan studi, menikah, dapat kerjaan baru yang lebih menjanjikan, atau satu di antara kita meninggal dunia.

Berpisah bukan untuk melupakan, melainkan mengenang yang ditinggalkan.  Yuk, ah mudik!

Iklan

Tuhan, Aku Galau

diambil dari: www.talikotang.com
diambil dari: http://www.talikotang.com

Segala kegalauan yang ada pada dirimu tak perlu kau panjang-lebar. Sebab, itu hanya akan memperpanjang usia kegalauan bersemayam dalam hatimu. Kegalauan apa pun yang kau rasa, segeralah ceritakan kepada partner setiamu—Tuhan. Dia yang menitipkan kegalauan—pun Dia yang akan mengambil titipan itu setelah kegalauan itu kau  rawat dengan apik.

Segala kegembiraan yang menyertaimu tak perlu kau rayakan berlebihan. Cukup katakan,”Tuhan, segala kegembiaraan yang kau limpahkan kepadaku saat ini adalah buah ketidaksenanganku beberapa waktu lalu. Tuhan, jadikan hatiku menjadi penggembira tetap ragaku kala ketidaksenangan menyapaku.”

Apa pun yang menyertai dirimu, baik galau maupun gembira, rengkuh ia. Peluk ia erat-erat, tak perlu kau risaukan. Ajak ngobrol ia. Sapa ia untuk berdialog denganmu. Masalah bukan musibah. Masalah adalah berkah yang tertunda. Masalah akan marah jika kau tak pandai mengajaknya bersenang-senang. Bujuk ia. Rayu ia supaya ia jadi baik kepadamu dan jadi sahabat paling setia dalam keseharian hidupmu.

Yang mau terus galau, ya silakan galau. Sesungguhnya, da akumah apah atuh, tak kuasa jua menyarankanmu harus begini, jangan begitu. Sebab aku pun, sama seperti dirimu, suka sama-sama galau, walau tingkat kegalauan kita berbeda dan cara penyelesaiannya pun pasti tak pernah sama. Kalau begitu, mari menggalau jika dengan begitu berat tubuhmu bertambah.

Saya, Galau, dan Dia

Ilustrasi diambil dari: www.imgion.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.imgion.com

Kalau kebanyakan orang cenderung ingin dipuji, minta diperhatikan, dan banyak berharap ini itu dari orang lain, tentu tidak buat saya. Pujian, perhatian, apalagi pemberian-itu tak amat-amat  saya butuhkan dari mereka.

Kalau toh di antara mereka ada yang memuji atau memberi perhatian kepada saya, terus terang-saya tidak kaget, apalagi sampai kedua pundak saya meninggi atau bahkan saya terbang melayang dan senang. Tidak, ya.

Sebaliknya, justru saya merasa malu sendiri bila tak sengaja tiba-tiba saya dapat pujian maupun sebentuk simpati lainnya dari kawan, sahabat, atau manusia yang sebelumnya tidak saya kenal. Lain kata, saya lebih suka dihina daripada dipuji. Itu lebih asyik.

Saya lebih senang, biasa sajalah dengan saya ini, toh saya-dalam berteman dengan siapa pun orang di jagat ini tak menuntut apa-apa. Murni berteman. Enggak neko-neko. Dia minta tolong saya bantu, pun bila saya minta tolong ke dia, misalnya enggak bisa, saya tetap ucapkan alhamdulillah.

Saya tidak merasa ribet dengan hidup di dunia ini. Lahirnya saya ke dunia ini saja saya telah merasa bersyukur. Makanya, dalam doa, saya sekali pun tak pernah meminta kaya maupun menolak miskin. Apalagi, saya tak bisa mengukur seperti apa kaya, seperti apa miskin.

Dalam doa, saya cukup bilang, “Tuhan, kalau kau berkenan, tolong jadikan hamba-Mu ini menjadi hamba yang selalu bersyukur di tiap helaan napasnya. Lapangkanlah dadaku. Jadikan pula hamba orang yang selalu berbaik sangka terhadap sesuatu.”

Saya hanya punya keyakinan, bahwa apapun kejadian yang menimpa pada diri saya, teman, saudara, dan di sekitar lingkungan ini-tak ada yang menggerakkan, kecuali atas kehendak dan izin-Nya semata-tentu berdasarkan sebab dan akibatnya.

Pun saya tak ikut-ikutan panik atau terpengaruh galau, misalnya jika ada salah satu kawan yang sedang dilanda sedih karena sebab tertentu. Biasa saja. Seperti biasa, saya akan katakan-ini pun kalau dia ini mengadu ke saya tentang masalahnya.

“Ada masalah, kemudian kau galau, itu biasa. Manusiawi. Tetapi, ya gak perlu lama-lama, setengah jam cukup, bahkan lima belas menit sajalah. Penangkalnya, ya adukan saja kepada pemilik hatimu, gak usah ke yang lain, apalagi ke manusia, sebab manusia itu bisa galau juga, mengadulah kepada Dia yang tak pernah  galau.”

Tampaknya, kata-kata saya itu seperti khutbah pendeta atau pastur maupun ustad. Sama sekali bukan. Pada dasarnya, tiap orang itu sudah tahu apa yang seharusnya dia lakukan tatkala dia dilanda masalah supaya masalah itu cepat segera pudar dari ingatan dan hatinya.

Namun, kebanyakan orang itu tak menyadari akan potensi diri yang sebetulnya telah Tuhan berikan di dalam sanubari masing-masing sebagai alat deteksi bila virus masalah maupun bakteri galau masuk ke dalam segumpal darah kita.

Ada yang bertanya, lalu bagaimana supaya manusia itu diberi kepekaan dan sadar diri, bahwa dirinyalah sebetulnya konselor utama supaya bisa menangani masalah pribadinya, sebelum dicurhatkan ke orang lain? Gampang, menurut saya.

Ya, perlahan tetapi pasti, kalau orang bersangkutan yakin bahwa dirinya diciptakan oleh Tuhannya, ya dekati Dia, akrabi Dia dengan tulus, jadikan Dia sahabat di tiap detiknya. Sebab, seakrab dan seintim apapun kita kepada selain Dia, yakinlah kau akan tetap galau dan makin bermasalah.

Tapi, kalau hubungan kita sama Tuhan sudah jelas dan tak tampak samar, percayalah pula-Dia pasti bakal menjaga hatimu, menguatkanmu, dan membuatmu bahagia-mau bagaimanapun keadaannya di sekitar kita. Dan ini, saya kira berlaku bagi pemeluk agama apapun, sebab bila orang itu beragama, ia paham bagaimana memperlakukan Tuhan.

Kala Hati dan Pikiran Berseteru

Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com
Gambar ilustrasi diambil dari: fannywa.wordpress.com

Tuhan sengaja membuat hati saya enggan untuk menulis, setidaknya melanjutkan cerita bersambung saya di blog ini. Entah kenapa, antara hati dan pikiran saya sedang tidak harmonis alias BERSETERU. Kalau ditanya apa penyebabnya, saya benar-benar tidak tahu. Suer, deh!

Pokoknya hati saya sedang tidak stabil. Gundah. Merasa tidak tenang. Konsentrasi hilang. Baru saja  mengetikkan dua sampai lima kata, tiba-tiba seperti ada yang membisiki hati saya,”Sudahlah. Besok aja nulisnya. Jangan dipaksakan, mening kerjakan dulu yang lain.”

Satu sisi, berkecamuk ide di pusaran otak ini yang saya niatkan untuk saya tuliskan di blog ini. Mulai dari, kenapa sampai hari ini tidak ada rute pesawat Bandung-Bengkulu maupun sebaliknya, salat dhuhur berhadiah umrah, haji, dan Innova yang digagas walikota Bengkulu, Helmi Hasan, dan soal Kota Kembang disebut sebagai “Bandung, The City of Pigs” yang ditulis oleh blogger asal Bulgaria,  Inna Savova beberapa saat lalu.

Seabrek ide yang berkumpul di meja redaksi otak saya sungguh hanya sebatas ide dan tidak benar-benar tumpah menjadi sebuah tulisan menarik, setidak-tidaknya menurut saya. Dan saya menyesal kalau ada ide ternyata tidak sampai lahir. Siapa yang tidak kesal kalau seseorang hanya hamil saja tetapi pas di-USG, eh ternyata bayinya lenyap entah ke mana, padahal-dia notabene sedang mengandung.

Untung saya tidak hamil dalam arti sama dengan para perempuan itu. Saya hanya hamil ide karena beberapa hari sebelumnya saya memang telah bersenggama dengan realitas beberapa kali, bahkan di tiap menitnya. Tetapi itulah, betapa pun saya melakukan persenggamaan-saya belum bisa bertanggungjawab atas apa yang saya lakukan.

Padahal, di tengah persenggamaan yang intim itu, sekuat tenaga saya sudah menyugesti diri bahwa saya harus bertanggungjawab. Tanggung jawabnya adalah saya harus menikahi ide itu sebaik-baiknya untuk kemudian menuliskan ide itu dalam bentuk tulisan. Pendek kata, saya hanya berani menghamili dan tak berani bertanggungjawab.

Intinya, kalau antara hati dan pikiran sama-sama tidak galau, sama-sama sehat, sama-sama seimbang, maka pastilah saya tetap konsisten melanjutkan menulis di blog ini tanpa ada alasan ini itu atau ina inu. Sekali lagi, kalau saya ditanya oleh siapa saja kenapa hati dan pikiran saya sedang tidak proposional, saya hanya jawab, “Tuhan masih membuat hati saya berselingkuh dengan yang lain.”

Jadi, balik-baliknya, saya adalah orang pertama yang tahu harus bagaimana saya selanjutnya supaya saya ini menyeimbangkan kembali perangkat tubuh ini: hati dan pikiran. Tidak harmonis bukan berarti tidak ada masalah di dalamnya, kan? Saya sebaiknya segera mengajak berdamai antara kubu hati dan pikiran supaya mereka membahagiakan saya. Sekarang!

“D Ujung Perceraian A”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com

Ada kabar tak menggembirakan. Apa itu? Saudara saya di Tasikmalaya, Jawa Barat, rumah tangga mereka di ujung karam. Saya tahu ini dari anak gadisnya yang baru tamat SMA. Beberapa status galaunya berderet di akun Facebooknya beberapa hari lalu. Maka, saya tanya, ada apakah gerangan? Eh, ternyata enggak langsung dijawab.

Sehari sesudah saya tanya begitu, barulah dia jawab-yang sebetulnya sudah saya prediksi. D ujung perceraian a,” balasan sms pun akhirnya datang, walau tak pernah saya harapkan. “Memangnya tak bisa lagi dibenarkan, Neng?” tanya saya lagi penasaran. Kali ini, si Neng-panggilan akrabnya sehari-hari menjawab agak panjang.

Udah ga ad yang bisa d pertahankan lg a. Orang dianya (ayahnya) juga udah ga peduli sama sekali sama kita. Neng sama mamah juga besok mau berangkat k Tangerang, mau kerja:p, begitu penjelasan Neng. Lalu, saya tanya lagi, “Eh, Neng, di keluarga belum ada yang menengahi, ya?” Sayang, hingga tulisan ini dibuat, sms saya belum berbalas. Saya mengerti mengapa.

Beberapa jam kemudian, lalu saya facebook walking ke akunnya si Neng. Saya dapatkan beberapa status “galau” yang menggambarkan suasana keluarganya. “Ya Alloh sakiitttt banget rasanya liat mama sedih n ngelamun terus… tulis statusnya, tanggal 16 Agustus 2013. Saya terus kitari akun pribadi Neng bentukan Mark Zuckerberg itu.

Ada lagi status Neng yang bikin hati saya deg-degan. Mungkin ini jalan trbaik untuk kita semua….Terimakasih Tuhan telah membuka mata hati mama:) Smoga dimanapun kita berada,kita tetap berada pada perlindungan Alloh… amiiin,,,!!!!! kita pasti bisa bahagia walau tanpa dia (si ayah),,Love you mom, tulisnya lagi, masih di tanggal yang sama. 

Saya memang belum tahu pasti penyebab retaknya rumah tangga saudara saya itu. Tapi, adik saya bilang, “Si Neng memang pernah bilang pas kita ke Tasik kemarin, kalau teman si Neng yang satu sekolah pernah memergoki ayah Neng sedang jalan-jalan ke tempat wisata. Dan, ayah Neng itu ditemani seorang wanita.”

Atas cerita adik saya itu, memang saya tak lantas memercayai sepenuhnya. Saya malah memutar otak, gimana caranya isi otak ini tak berburuk sangka dulu.” Bisa jadi, yang bersama ayah Neng itu saudaranya yang jauh, lalu dia minta antar ke tempat wisata. Atau, ya ada urusan bisnis atau apa dan bukan maksud selingkuh,” gumam hati saya.

Yang saya tahu, selama ini memang ayah si Neng kerja di pusat kota Tasikmalaya. Sedangkan, istri serta dua anaknya yang beranjak  gadis itu tinggal sekitar 30 kilometer dari kota. Istilah lain, istri-anak tinggal di pojok desa. Karena begitu, si ayah baru pulang ke rumah kalau liburan. “Biasa pulang ya sebulan sekali lah,” kata Neng suatu hari.

Jadi, kawannya si Neng yang sempat melihat ayahnya jalan bareng sama wanita lain di tempat wisata, ya diceritakanlah ke Neng apa adanya. Mengetahui info begitu, saya menduga, bukan hanya si Neng yang seperti disambar geledek, tetapi juga mungkin mamahnya serta adiknya yang masih SMP. Adik saya melanjutkan ceritanya ke saya.

“Mamah Neng dan juga Neng, langsung menanyakan ke ayahnya pas si ayah libur ke rumah soal cerita kawan Neng yang pernah lihat si ayah jalan bareng sama perempuan lain. Saat itu, kata Neng, si ayah sudah bersumpah-sumpah demi Tuhan tidak pernah jalan sama wanita lain. Pokoknya, si ayah Neng tidak mau ngaku!” lontar adik saya seperti diceritakan Neng.

Saya belum tahu lagi sampai dimana duduk persoalannya keluarga Neng. Saya hanya berharap, laku yang amat dibenci agama itu tak terjadi dan bisa diselesaikan secara damai. Walau begitu, saya masih pantau akun Facebook si Neng. “Membuka Lembaran Baru w/ mama & ade tersayang :):*,” begitu bunyi statusnya.

Kata mama seseorang yang benar2 sayang sama kita….dia akan mencari dan mengejar kita walau sejauh apapun itu dan dimanapun kita berada # catett,” celotehnya lagi sambil mengutip kata-kata Mamahnya, yang menurutnya menjadi falsafah hidup mereka.

Inget wae ka ayahanda inget wee kana lucuna, kana kanyaahna, kana belana, tapi eta baheula. Ayeuna mh ngan tinggal kenangan masa2 indah eta teh, saukur bisa ngeclakeun cimata . Ayah baca tah status ananda (Ingat terus sama ayah, ingat sama lucunya, sama kasih sayangnya, sama pembelaannya. Tapi, itu dulu. Sekarang hanya tinggal kenangan masa-masa indah itu, hanya bisa meneteskan air mata. Ayah, silakan baca status saya).”

Kali ini ada status Neng yang-saya pun belum tahu maksudnya. Seperti menemukan sosok pengganti ayah….Makasiiihh sayang. O, saya menduga, Neng punya pacar, dan si cowoknya itu menyipati ayahnya. Makanya, dia nulis statusnya begitu.

16 jam lalu, seperti tertulis di akun Facebook Neng, “Ya Alloh berikanlah aku kesabaran dan kekuatan dalam menghadapi smua ujian-Mu....”

Ilustrasi: www.google.com
Ilustrasi: http://www.google.com