Rayakan Agustusan dengan Sederhana

Gambar diambil dari: www.ayom52.deviantart.com
Gambar diambil dari: http://www.ayom52.deviantart.com

Saya tak pernah mengitung sudah berapa tahun persisnya Indonesia ini merdeka. Kalau mungkin ada pertanyaan mengenai ini masuk ke dalam soal tes CPNS tahun ini—saya akan hafalkan dan hitung. Tapi, karena belum pasti masuk tidaknya pertanyaan sudah berapa tahun Indonesia merdeka pada 2014 di soal tes CPNS—maka saya tak perlu mengingatnya. Yang perlu dicatat itu—hingga 2014, apakah kalian sudah benar-benar merdeka secara pribadi?

Saya menulis tentang Indonesia merdeka kali ini karena beberapa teman di kantor mengingatkannya. Karena peringatan kemerdekaan tahun ini tepat pada hari Minggu (17/8), maka salah satu teman kantor mengusulkan,”Kita rayakan momen hari kemerdekaan kita besok (Jumat) saja, gimana? Karena Minggu rasanya enggak mungkin kita ke kantor.”

Teman-teman yang lain, termasuk saya juga ikut memberi masukan mengenai kegiatan apa saja yang sebaiknya diisi pada Jumat besok untuk memeriahkan hari kemerdekaan Indonesia ke…?? Baik, kalau gitu saya hitung dulu, ya—kita ini sebenarnya pada 2014 sudah berapa tahun merdeka. O, ternyata setelah saya hitung dengan kalkulator komputer, kita ini—tahun ini memperingati hari kemerdekaan ke-69! Benar, enggak, ya?

Setelah diskusi yang tidak melelahkan dengan beberapa teman kantor dan unsur pimpinan lainnya soal kegiatan apa saja yang akan diisi untuk menyambut sekaligus memperingati 17-an, maka disepakati untuk mengadakan lomba-lomba spontanitas yang sifatnya menghibur. Di antaranya: makan kerupuk jengkol, mengambil/menggigit koin di pepaya, dan balap sendok pake kelereng. Tarik tambang dan panjat pohon salak tidak dikabulkan—padahal itu usul saya.

Sebelum lomba-lomba spontanitas itu dilaksanakan, pada pagi harinya kami harus mendengarkan sambutan dari ketua panitia kegiatan dadakan ini. Terus, menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan puisi bertema perjuangan oleh salah satu dari kami, sharing cerita tentang pengalaman ber-Indonesia dan ber-negara dari masing-masing kami, sharing dari pimpinan perusahaan, dan terakhir ditutup doa sebagai rasa syukur karena kita telah hidup di bumi Indonesia yang merdeka yang dipandu oleh salah satu rekan kami.

Begitulah kegiatan kami menyambut hari merdeka di tahun ini. Sederhana. Dan semoga tetap bangga menjadi orang Indonesia yang telah merdeka 69 tahun. Bagaimana pun keadaannya Indonesia, siapa pun pemimpinnya—secara pribadi saya bangga dan tidak ada niat untuk pindah kewarganegaraan—seperti yang saya dengar dari beberapa anak bangsa ini—jika presidennya dipimpin anu, maka mereka akan memutuskan pindah negara.

Semoga jadi mereka pindah negara—sebab Indonesia tidak butuh orang yang berwatak demikian hanya karena capres-cawapres yang mereka pilih saat Pilpres kemarin belum ditakdirkan menang. Ya sudahlah. Tak usah lagi ngomongin soal capres-cawapres. Kita tunggu saja hasil keputusan para hakim MK memutuskannya nanti.

Rasanya tak cukup kita meneriakkan kata-kata,”Merdeka! Merdeka! Merdeka!” Akan lebih merdeka bila kita berupaya melakukan upaya-upaya kebaikan—bukan saja bagi diri kita, tetapi buat bangsa tercinta ini. Tak perlu jauh-jauh berpikir, misalnya,”Apa yang bisa kita berikan buat bangsa ini?” Sebelum berbuat untuk bangsa Indonesia, lebih baik kita berbuat untuk kebaikan diri kita, keluarga, pacar, calon istri/suami. Yang paling penting dari semua itu, merdekakan terlebih dahulu hatimu sebelum memerdekakan yang lain.

Merdeka hatimu, merdeka Indonesia!

Iklan

Tuhan, Jangan Luluskan Aku Jadi PNS

www.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com

 “Tapi salah banget nggak sih kalo aku berharap supaya nggak lulus tes (CPNS) aja? Aku nggak mau jd PNS. beneran!”

Awalnya, saya pikir, orang ini aneh, kok dia berdoa supaya enggak lulus jadi PNS. Padahal, teman saya ini beberapa minggu lalu ikutan tes CPNS di kotanya, Timur Indonesia. Saya belum tahu pastinya kenapa, sarjana pendidikan bahasa Inggris itu sampai mengatakan seperti itu. Saya yakin, dia mengatakan yang demikian, itu bukan secara tiba-tiba, dan mesti ada musababnya. Nah, soal musababnya ini, yang masih saya pertanyakan. Kenapa pula saya rela membahas tentang ucapan kawan saya ini? Entahlah. Saya merasa, ini inspirasi saya buat menulis di sore ini, di tengah kebuntuan yang kian menggejala.

Semua orang tahu, bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling dicari di Indonesia. Karena alasan inilah, saya mempertanyakan ke teman, yang juga blogger itu sampai tega melontarkan, bahwa dia berdoa-walau pengumumuan hasil tes CPNS belum diumumkan, mudah-mudahan dirinya tidak lulus CPNS. Ini gila, kata saya seketika, walau saya tidak berani mengatakan langsung kepadanya. Saya hanya bilang, setiap pilihan itu tidak ada yang salah. Yang salah itu, ucap saya-mereka yang tak berani memilih di antara dua pilihan.

Waduh. Saya pun, sebenarnya tidak serta merta memarahi kawan akrab saya di dunia maya itu, tersebab telah mengatakan sesuatu di luar jalur mainstream. Apalagi, selama ini-jalur mainstream adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan, bahkan paling dianggap wilayah yang paling benar, walau-secara pribadi saya tidak selalu mengagungkan mainstream. Walau demikian, saya amat salut sesalut-salutya kepada orang yang sanggup berpikir dan bertindak di luar jalur kebiasaan, walau harus juga menerima segala konsekuensinya.

Saya belum tahu, apa konsekuensi yang akan didapatkan/diterima oleh kawan saya yang satu ini-yang berani berharap, “Mudah-mudahan saya tidak lulus tes CPNS!” Utamanya, barangkali dari orang-orang terdekat: kedua orangtua, kakak, adik, ponakan, tetangga, teman kuliah yang juga sama-sama ikut tes CPNS, pacar, dan semua lingkungan yang pernah ia sambangi. Pastilah, kalau orang tahu dia ini berharap tidak lulus tes CPNS, pendapat pun akan beragam. Tapi, tampaknya perlu diingat, bahwa ada salah satu instansi pemerintah yang mengultimatum, bahwa bila orang bersangkutan itu lulus tes dan mengundurkan diri, maka terkena denda yang tak sedikit, lho. Sampai puluhan juta kalau tak salah.

Semuanya memang, siapapun orangnya harus memikirkan  matang-matang sebelum bertindak. Jangan sampai, kata orang-kalau salah bertindak ataupun berbicara, maka bisa fatal akibatnya. Mungkin saja, kawan saya ini-dulu, daftar CPNS karena ikut-ikutan teman, gengsi, atau tak sadar, bahwa ia ikut daftar tes CPNS. Atau, barangkali-ini sering, karena dipaksa orangtuanya, yang kebetulan-mereka juga PNS. Kalau anak enggak PNS, enggak keren. Itu mungkin pikir kebanyakan orangtua Indonesia. Saya berharap, kawan saya ini daftar CPNS kemarin bukan karena alasan yang saya sebutkan di atas.

Atau, kenapa kawan saya ini memutuskan bilang, “Tuhan, tolong jangan luluskan saya jadi CPNS!”, karena memang dia telah punya pekerjaan yang lebih nyaman daripada menjadi PNS. Dan bahkan, penghasilannya pun lebih lumayan dari seorang abdi negara itu. Mudah-mudahan saja begitu. Dan, bagi saya-bekerja di mana pun, itu sama saja-yang penting itu nyaman dan sesuai passion, kata orang-orang. Uang yang dicari? Oh, sebanting tulang apapun ia dicari, ya, sama saja, kok. Kalau tak pandai mengelolanya, matilah kita. Tetapi, walau gaji kecil, asal kebutuhan terpenuhi, nyantailah kita. Begitu, bukan? Semoga tak tepat.

Lalu, siapa kawan saya itu? Ada, dia blogger di sini, seorang cewek yang juga hobi berfoto dan jalan-jalan. Hahaha. Tengs inspirasinya buat hari ini, administrator!