Bukan Kepo Biasa

Ilustrasi diunggah dari: www.sibuntungs.blogspot.com
Ilustrasi diunggah dari: http://www.sibuntungs.blogspot.com

Rasanya kurang etis kalau saya hendak mengetahui apakah seorang cewek ini sudah punya pacar atau sudah menikah, lalu saya langsung tanya begini, ”Eh, Teh, sudah punya pacar?” Atau,”Eh, Mbak, sudah menikah?” Cara seperti ini tak pernah saya lakukan. Niat pernah tercetus, tetapi pada kenyataannya tak pernah terjadi. Saya lebih baik ambil cara lain yang lebih luwes. Apalagi yang saya hadapi adalah orang baru.

Di kantor saya kebetulan dua hari ini telah bergabung karyawan baru. Dia cewek. Berjilbab. Berkacamata. Masih muda. Tampak enerjik. Menurut saya cantik. Dan, saya yakin belum tentu kalau menurut kalian. Dalam hati saya bilang—sejak kepala HRD kami memperkenalkannya kepada kami karyawan lama—pada suatu pagi sebelum doa bersama.

“Pokoknya saya harus tahu, kenapa si cewek itu kok mau ngelamar ke perusahaan tempat saya bekerja. Terus, sebelumnya dia bekerja di mana dan sebagai apa, saya juga harus tahu. Kuliahnya jurusan apa, asli orang mana, apa pengalaman kerja di tempat lama kalau memang dia udah kerja. Terakhir, saya mesti menyelidik, dia masih gadis atau udah janda. Eh, maksudnya, dia udah punya pacar atau memang sudah menikah.”

Pikiran-pikiran seperti itu sebetulnya spontan saja merasuki halaman otak saya—utamanya sejak kehadiran si cewek yang berstatus karyawan baru di perusahaan kami. Dan, saya pun tak bisa menepis keingintahuan saya mengenai sekelumit biodata dia. Ya, sekadar ingin tahu dan setelah itu, ya saya ingin kenal dekat saja. Tidak lebih. Kalau nanti udah kenal, tentu bisa diajak ngobrol ini itu. Di sanalah barangkali tersimpan inspirasi.

Saya membuka pintu kantor ketika si teteh karyawan baru itu sedang duduk manis di kursi kerjanya sambil asyik dengan smartphone-nya. Karena kebetulan, rekan kami yang baru ini adalah petugas front office menggantikan kawan kami yang sudah risain. Saya lempar senyum ke dia sambil terus berjalan ke meja saya yang ada di lantai dua. “Nah, sekarang aja, deh ngobrol sama si dia. Mumpung karyawan lain belum datang,” celetuk hati saya.

Setelah meletakkan tas, lalu saya turun kembali ke lantai satu. Saya langsung menuju tempat pegawai baru itu. “Hai, Teh! Eh, lupa, siapa namanya, ya?” Dia sebutkan namanya sambil tersenyum—yang sebetulnya membuat saya grogi—dan nyaris salah tingkah. “Rara. Oh, iya, dengan bapak siapa, ya?” Dia balik tanya ke saya. Dan saya, dipanggil “bapak”. Duh!

“Saya Hasan, Teh!”

“O, Bapak Hasan, to. Soalnya saya belum hafal nama-nama karyawan di sini.” Dia senyum. Saya pun begitu.

“Saya bukan bapak, Teh! Panggil aja Hasan.” Si Rara tawanya membuncah. Saya senyum, tetapi tak terlalu lebar.

“O, ya, sebelumnya kerja di mana, Teh?”

“Tele house.”

“Sebagai apa?”

“Bagian admin, terakhir juga di front office.”

“Teteh asli orang mana?”

“Cileunyi.”

“O, dekat atuh, ya. Berarti ngangkot, dunk?”

“O, enggak. Bareng suami pake motor!”

Nah, saya kan jadi tahu kalau ternyata Rara karyawan baru ini sudah menikah dan bukan seorang gadis. Dengan saya tahu statusnya, tentu saya—sebagai lelaki lajang tak harus terlalu akrab dengan dia—walau sebetulnya, bila ditilik dari sekujur tubuhnya, si teteh tampak belum bersuami. Akrab boleh, tetapi tak kebablasan. Saling menjaga saja.

“Kalau Hasan dari mana asalnya?”

“Hmm. Bengkulu!”

“Wah, jauh amat!”

“Kata siapa? Pernah ke sana? 50 menit aja, kok pake pesawat dari Jakarta!”

“Hahaha. Hmmm. Belum, sih! Tinggal di mana?”

“Kos di belakang.”

“Sendiri, dunk di Bandung?”

“Ya enggak lah, Teh! Di kosan saya banyak teman-teman, kok. Hahaha.”

“Maksudnya udah menikah apa belum, gitu…”

“Alhamdulillah belum, Teh!”

“Dua hari di sini, gimana rasanya, Teh?”

“Lumayan, tapi masih coba nyesuaikan. Meskipun dulu saya juga di fron office di tempat kerja lama, tapi ada dikit perbedaan dengan di sini. Jadi memang saya mesti banyak tanya di sini.”

“Nanti juga dengan sendirinya lancar, Teh. Tenang aja. Eh, dulu kuliah di mana, Teh?”

“Enggak kuliah. Dulu pas tamat SMA langsung kerja. Pernah kuliah tapi enggak selesai karena saya fokus kerja.” Selesai Rara ngomong seperti itu, saya sambil lihat jam di tangan saya: 07.55. Sebentar lagi doa pagi bersama. “Oke, Teh, udah dulu, ya. Makasih, Teh!”

 

 

 

Enggak Berani Selingkuh

Foto diunggah dari: www.new.healingheartsradio.com
Foto diunggah dari: http://www.new.healingheartsradio.com

Suatu malam, teman kosan iseng tanya ke saya, ”San, kamu berani enggak selingkuh?” Saya juga heran kenapa teman saya itu bertanya seperti itu. Apakah dia ada indikasi ingin berselingkuh dari pacarnya yang kini telah dipacarinya hampir 3 tahun—padahal, katanya awal tahun depan mereka akan menikah? Semoga indikasi itu tidak benar.

“Lho, kenapa ente tanya begitu ke saya? Ente mau jajal selingkuh, ya? Udah bosan, ya sama pacar yang sekarang?” Saya balik tanya begitu ke teman saya sembari menunggu apa jawaban sebenarnya dari dia. Sebelum dia jawab, saya lebih dulu katakan, ”Sampai hari ini aku enggak ada niat sama sekali untuk berselingkuh dari pacar saya, Bro!”

“Bukan begitu. Saya mah tidak berani dan takut kalau selingkuh itu. Soalnya, kalau saya atau kamu selingkuh, saya takut, nanti anak atau cucu kita pun akan berbuat sama dengan apa yang pernah kita lakukan. Soalnya, apa yang diperbuat seorang ayah/ibu, itu pasti akan menurun kepada anak-anaknya kelak!” lontarnya memberi efek kejut.

O, artinya kawan saya ini cuma ngetes saya aja, to? Dan, sebetulnya dia pun tak ada niat sama sekali untuk berselingkuh karena alasan khawatir dengan hukum karma. Atas alasannya dia tak ingin berselingkuh, saya belum percaya 100%. Tapi saya salut dengan alasannya tidak mau berselingkuh. Minimal, ia bisa menjaga hati dan perilaku.

Prinsip saya, saya katakan ke dia, ”Kalau sudah suka dengan satu cewek atau sudah punya pacar kepada si A misalnya, ya udah jalani dulu dengan benar dan sepenuh hati. Jangan main-main. Wanita atau pria mana yang suka dipermainkan, coba? Kecuali di tengah jalan tiba-tiba ada ketidakcocokan dia antara kita dan berakhir pisah, itu soal lain. Nah, barulah kalau mau pindah ke lain hati. Bagi aku, selingkuh itu no!”

Kawan saya tadi menimpali, ”Justru saya bersyukur karena pacar saya masih setia dan baik sama saya. Padahal, kalau kamu tahu, sebenarnya pacar saya itu jadi rebutan cowok-cowok lain, lho? Makanya, saya bersyukur banget punya dia, walau—kau tahu wajah saya biasa-biasa saja—ganteng jauh, jelek pun tidak!” ungkapnya jujur.

Saya katakan lagi ke dia sambil menyeruput kopi. “Sebetulnya, bagi cewek yang setia, dia pun berpikir sama, enggak mau berselingkuh dari cowoknya. Dan aku yakin, tampaknya pacar ente itu tipe wanita setia. Buktinya, kan sampai sekarang dia begitu sayang sama ente. Sama seperti ente, tiap hari ente antar jempu dia ke sekolah.”

Saya pun begitu. Saya yakin, walau saya dan pacar saya dipisahkan dengan jarak—saya yakin dia tidak berani untuk berselingkuh, walau sebetulnya, mungkin niat itu ada (isi hati seseorang siapa yang tahu). Saya pun begitu, hati terkadang kerap digoda, ”Cewek loe kan jauh, udah cari juga di sini!” Untungnya, saya bisa menangkal segala godaan itu. Satu yang saya lakukan: berpikir positif.

Sekarang, saya katakan ke kawan saya itu, ”Ada niat enggak kira-kira ente mau selingkuh?” “Ah, enggak lah! Saya, kan udah tunangan, Bro!” jawabnya sambil melanjutkan menulis sebuah artikel yang akan dikirimkan ke koran lokal karena isi dompetnya mulai menipis.

Mau Didengarkan Tak Mau Mendengarkan

Gambar diambil dari:edukasi.kompasiana.com
Gambar diambil dari: edukasi.kompasiana.com

 “Aku gak mungkin ngincer cewek lain kalau aku gak putus sama cewekku. Aku cowok setia, Bro!”

Namanya Arma. Sudah hampir sebulan ini dia putus dengan pacarnya yang sekaligus tunangannya. Awalnya, teman saya itu bungkam ihwal kenapa sampai putus di tengah jalan—padahal cincin tunangan telah bertengger pada jari manis sang perempuan pujaannya. Setelah didesak dengan pendekatan personal—pria berkacamata itu akhirnya buka-bukaan juga.

“Sehabis kita pulang kerja, pasti si dia banyak cerita soal apa aja. Mau tentang kantornya, dirinya, keluarganya, dan apapun pasti diceritakan. Intinya curhat gitu. Dan aku berusaha jadi pendengar yang setia. Tapi, giliran aku mau curhat, eh, dia kayaknya kurang respon dan seperti gak suka kalo aku curhat. Dia maunya didengarkan, tapi kurang mau mendengarkan!” lontar kawan saya .

Jujur saja, saat tahu teman saya itu putus dari kekasihnya, saya jadi sedih dan terharu, bahkan saya nyaris tak punya semangat untuk meneruskan menjalin hubungan (emang gue punya pacar?). Sebab, selama ini—kawan saya itu yang menjadi penyemangat sekalian inspirasi saya—apalagi, rencananya pertengahan tahun depan mereka akan menikah. Apakah ini yang disebut  jodoh itu misteri?

Menjalin hubungan dengan orang—mau apa pun status hubungannya, bila tak saling menguntungkan, untuk apa diteruskan? Toh masih banyak orang yang bisa diajak kerjasama, tinimbang mempertahankan seseorang yang hanya akan bikin bete alias membuat tensi emosi meninggi di salah satu pihak. Untungnya, teman saya ini termasuk orang yang sabar menghadapi sikap menyebalkan patner spesialnya. Gimana tidak sabar, hubungan mereka bertahan satu tahun, lho!

Terus, gimana mau dijadikan istri kalau masih pacaran saja—salah satu pihak kepengertiannya sudah hilang, sikap egois didahulukan, dan tidak bisa membedakan mana masalah pribadi mana masalah orang lain. Memang tidak ada yang ideal dari dua orang yang pacaran maupun antara suami-istri. Minimal, ya harus ada keseimbangan saling mendengarkan masalah masing-masing, jangan saling mendominasi.

Dampaknya memang bahaya bagi siapa saja yang tak pandai mendengarkan. Ini baru lingkup sang pacar, belum merambah ke yang lebih besar, lho. Baik cewek maupun cowok, kalau tidak peka dengan kebutuhan saudaranya, pasangannya, yakinlah, hubungannya sulit untuk langgeng dalam waktu yang lama. Istilah lain, kalian hanya membangun komunikasi yang amburadul, bukan komunikasi yang membahagiakan.

Siapa yang tidak capek menghadapi orang yang susah mengerti dengan kita. Dia ingin selalu dimengerti, tetapi tak mau mengerti. Mau dibicarakan, tak mau membicarakan. Ha? Makanya, kawan saya itu bilang,”Ya udah, kamu capek sama aku, aku pun begitu. Moga dapat yang lebih baik!”

Saya hanya mengambil satu saja dari teman saya ini: soal enggan mendengarkan. Padahal, menurut cerita teman saya itu, ada hal lain yang membuat ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan si dia. Tapi, yang paling dominan yang membuat hubungan mereka putus adalah, si cewek terlalu egois, selalu mementingkan dirinya.

Makanya, beberapa hari terakhir ini, teman saya itu sedang mendekati cewek sekantor—yang kebetulan karyawan baru. Dia bilang ke saya,”Aku gak mungkin ngincer cewek lain kalau aku gak putus sama cewekku. Aku cowok setia, Bro!”

Mam, Cewek Suka Dipuji

“Mam, salah satu sifat cewek itu seneng dipuji, lho!,” kata saya spontan dihadapan ponakan saya itu, suatu malam sebelum tidur. Dia belum juga merespon pernyataan saya itu. Saya ulang kembali, kali ini benar-benar tepat di corong telinganya dan dengan suara keras. “MAM, CEWEK ITU MAUNYA DIPUJI, LHO!,” begitu suara saya akhirnya. Ponakan  yang bertubuh kecil itu masih saja cuek, karena saking asyiknya  nge-game di Hp. Sekali lagi, belum juga ada respon positif darinya. Lanjutkan membaca “Mam, Cewek Suka Dipuji”