Mabuk Kendaraan? Colek Ban 3 Kali Obatnya!

www.bramardianto.com
http://www.bramardianto.com

Sahabat sering mabuk kendaraan? Kalau iya, maka saatnya saudara mempraktikkan satu tips yang pernah diceritakan sahabat saya beberapa minggu lalu. Kata sahabat itu, supaya tidak mabuk saat naik bis atau mobil biasa, maka calon penumpang, sebelum menaiki kendaraan tersebut harus melakukan satu hal. Apa itu?

Si penumpang, ucap sahabat saya yang dikenal pemabuk kendaraan itu, ia harus lebih dulu menyentuh ban mobil/bis dengan ujung jari tangannya. Mau ban belakang atau depan, kata teman saya ini tak jadi soal. Pokoknya, colek saja dulu ban berbentuk lingkaran itu. Setelah dicolek, lalu, apa selanjutnya?

“Tempelkan ke hidung!” ungkap sahabat saya itu dengan mimik muka serius. Dalam hati, saya bilang ini benar-benar enggak masuk di akal. Setidaknya, di akal saya. Kok bisa, ya? Sahabat yang kesehariannya biasa disapa Ani, itu melanjutkan. “Entahlah, Kak. Pokoknya, pas saya praktikkan itu, selama perjalanan alhamdulillah saya enggak mabuk lagi.”

Tetapi, tambah Ani, syaratnya, mencolek ban mobil/bis itu harus ada hitungan tertentu. Lalu berapa? “Harus tiga kali jari tangan menempelkan di ban itu. Waktu itu, saya kebetulan naik Travel jenis Avanza.” Ani tidak mengetahui persis alasan kenapa sampai tiga kali mencolekkan jari ke ban sebelum ditempelkan di indra penciuman. Sebab, kata Ani, ia pun dapat petuah itu dari sang supir Travel yang mengantarkan ia ke tujuan.

“Awalnya, saat itu saya juga enggak percaya. Tapi, si supir berhasil meyakinkan saya, bahwa pencegah supaya tidak mabuk/muntah pada saat naik kendaraan adalah dengan cara itu (mencolek ban mobil/bis bersangkutan, lalu ditempelkan ke hidung).” Alumnus Universitas Bengkulu (Unib), itu mengaku dapat ilmu itu dari orang Lebong (salah satu kabupaten di provinsi Bengkulu).

“Kalau misalnya mau naik pesawat, terus, si calon penumpang itu memang ahli mabuk, masih juga ban pesawatnya dicolek, Ani?” saya tanya begitu ke kawan saya itu. Ani tidak bisa menjawab apa-apa, cuma ketawa saja. “Entah, soalnya, kalau naik pesawat saya tidak mabuk!” ucapnya.

Berkat petunjuk supir travel yang asli Lebong itu, Ani merasa bersyukur karena tiap bepergian menggunakan kendaraan roda empat, ia tak mabuk lagi lantaran mempraktikkan petuah pengemudi itu. “Ya, alhamdulillah. Kalau ilmu itu datangnya dari siapa aja. Meski awalnya enggak percaya. Tapi, ternyata, setelah dipraktikkan, jitu juga.”

Hingga kini saya belum mencoba mencolek ban kendaraan yang saya tumpangi jika bepergian. Bukan tidak mau. Secara kebetulan, memang saya ini bukan ahli mabuk. Dan tips ini, saya kira wajib ditunaikan bagi siapa saja yang suka mabuk kendaraan. Sekali lagi, jangan percaya kalau belum mencoba, termasuk pengalaman kawan saya di atas. Try first lebih baik.

Asyik! Pop Mie 16 Ribu dan Ngecas Hp 7 Ribu

Pagi itu, pekan lalu, sekitar pukul 07.00 bis yang saya tumpangi sudah merapat di pelabuhan Bakauheuni, Lampung hendak menyebrang ke Merak, Banten. Selagi bis kami antri di dermaga paling pojok hendak memasuki mulut kapal, beberapa penjual makanan maupun minuman mendekatkan diri ke bis. Tak lupa, ada pula pengamen yang hendak masuk ke bis. Tapi, supir tak menyuruh kondektur membukakan pintu supaya mereka (baik pedagang maupun pengamen) masuk bis. Saya bisa prediksi, sebab bis kami ini bis AC Executive, bukan bis biasa atau ekonomi. Jadi, dilarang masuk. Kenyamanan penumpang takut terganggu.

“Nasinya, Pak, Bu. Nasinya masih hangat, nih,” kata ibu-ibu sambil menenteng sekeranjang nasi yang dibungkus. Saya hanya perhatikan saja si ibu itu dari balik kaca bis.

“Kopi atau tehnya, nih. Mumpung belum naik kapal!” ucap pedagang lain sambil menenteng termos. Salah satu peumpang bis ada yang pesan.

“Barangkali Pop Mie-nya, nih. Murah! Cuma 8 ribu. Ntar di kapal mahal, lho! Bisa 11 ribu!” lontar ibu-ibu lain menawarkan. Saya sebenarnya pengen banget, pagi-pagi begitu menyantap Pop Mie. Rasanya gimana gitu. Tapi, rasanya belum tenang kalau harus sekarang saya pesan Pop Mie. “Meningan ntar aja di kapal, deh!” nurani saya bilang begitu tiba-tiba. Padahal, saya merasa iba juga melihat ibu yang menawarkan di dermaga itu.

Ya udah. Akhirnya saya enggak jadi beli Pop Mie. Bis pun mulai masuk ke mulut kapal, lalu memarkir sesuai arahan petugas kapal. Para penumpang pun turun, termasuk saya, lalu naik ke dek di lantai II.

Saya tidak sendirian, tapi bareng teman SMA. Kebetulan dia mau ke Jakarta diteruskan ke Bogor, sedangkan saya ke Bandung. “Bro, hape loe mati, enggak?” kata saya ke teman berjanggut panjang itu. “Hampir! Kalo loe mau ngecas hape, ada tuh di lantai 3,” ucapnya.

Saya terus kepikiran sama Pop Mie. “Bro, mau Pop Mie, enggak?”

“Mau, tapi mahal!” ragu-ragu kawan saya jawab yang baru lulus kuliah di Yaman itu.

Saya langsung ngeloyor, masih di lantai II, tapi ke bagian belakang. Di sana, berderet kursi buat penumpang kapal. Di depan kursi-kursi itulah ada penjual makanan plus minuman. “Bang, Pop Mienya 2!” Penjual langsung membuka bungkus Pop Mie dan menyeduhnya.

“Berapa satu, Bang?”

“16 ribu!”

Saya bawa Pop Mie yang sudah diseduh itu ke tempat di mana kawan saya tadi nongkrong. “Berapaan, nih Mie?” ucapnya.

“Murah oi! Cuma 16 ribu satu!”

Kalo beli 2 begini, ya jadinya Rp 32 ribu. Lumayan!
Kalo beli 2 begini, ya jadinya Rp 32 ribu. Lumayan!

“Busyett!”

“Apaan? Diam aja loe, gratis juga buat loe! Kalo mau murah, besok-besok bawa sendiri Pop Mie plus air panasnya. Maklum, Bro, ini di tengah laut!”

Kawan saya senyum-senyum gitu. Wah, pokoknya mantap banget, deh pagi-pagi, di tengah laut menikmati Pop Mie dicampur keripik Balado, salah satu makanan khas Sumatra Barat. Seketika, entah berapa menit, dua Pop Mie super “MURAH” itu ludes dilahap si jago lapar.

“Aku mau ngecas hape dulu, Bro.”

Saya cari-cari kios tempat ngecas hape. “Bang, di mana tempat ngecas hape, ya?” tanya saya ke petugas kapal berpakaian seragam.

“O, di atas. Cari aja, di sana ada petunjuknya!”

Ketemu juga. “Pak, mau ngecas hape, nih.”

Saya enggak tanya lagi berapa harga ngecas hape. Kenapa? Sebab, di sana sudah tertempel bertulisan,” CAS HP 7000.” langsung saya bayar di sana. Hape saya tinggalkan. “Eh, ini karcisnya. Kalau pas mau ambil hape, ini bawa lagi, ya?” kata petugas yang nungguin hape.

Tuh, kan ngecas HP aja Rp 7000. Murah, kan?
Tuh, kan ngecas HP aja Rp 7000. Murah, kan?
Nih, pake karcis. Kalo mau ambil HP lagi, ini diserahkan.
Nih, pake karcis. Kalo mau ambil HP lagi, ini diserahkan.

Beberapa jam lagi kapal hendak merapat di pelabuhan Merak, hape yang dicas sudah saya ambil. Alhamdulillh penuh. Saya pun bisa ambil gambar semaunya. Klik. Klik. Klik.

Kan bisa foto-foto kalo HP udah dicas.
Kan bisa foto-foto kalo HP udah dicas.
Pop Mie yang harga satuannya Rp 16 ribu itu ternyata menenangkan kawan saya. Tuh, lihat!
Pop Mie yang harga satuannya Rp 16 ribu itu ternyata menenangkan kawan saya. Tuh, lihat!

 

Saya juga lihat, kru kapal ikut mancing.
Saya juga lihat, kru kapal ikut mancing.
Saya hitung, di dermaga itu ada sekitar 23 orang berjejer sedang memancing ikan.
Saya hitung, di dermaga itu ada sekitar 23 orang berjejer sedang memancing ikan.

 

Berpapasan dengan kapal ini. Kapal itu mau ke pelabuhan Bakauheuni, Lampung.
Berpapasan dengan kapal ini. Kapal itu mau ke pelabuhan Bakauheuni, Lampung.

Thanks kapal telah menyebrangkan saya ke pulau Jawa dengan selamat. Saya lihat jam tangan, eh menunjukkan pukul 09.20.

"SELAMAT DATANG DI PULAU JAWA" Tulisan itu tertera sebelum menuju gerbang Tol Merak-Jakarta.
“SELAMAT DATANG DI PULAU JAWA” Tulisan itu tertera sebelum menuju gerbang Tol Merak-Jakarta.

Saat Sepatuku Disol

Saya ingat kalau sepatu saya itu sudah menganga di sekelilingnya. Kalau dipakai, ya rasanya enggak nyaman dan kurang pede. Makanya, pagi itu, dua hari lalu lah. Ada suara si mamang sol sepatu lewat depan kos. “Sol sapatu, sol sapatu, sol sapatu. Solpat, solpat, solpat.”

Saya panggilah dia dari balik jendela kamar. “Mang, ngesol!”

Dengan segera si mamang datang, langsung ke depan pintu kamar. “Mang, kalo sepatu kayak gini berapa, ya?”

“O, 25 ribu-an, Sep!”

“Nya atuh, Mang!” Saya malas nawar.

Si Mamang Sol lagi bekerja. Dari balik jendela, saya bidik dia. Klik!
Si Mamang Sol lagi bekerja. Dari balik jendela, saya bidik dia. Klik!

Saya mulai duduk di samping si mamang sol, di depan pintu. Dia ini orang Banyuresmi, Garut. Kata si mamang, dia jadi tukang sol udah 20 tahunan lebih. “Udah lama, Sep! Dari tahun 83-an amang ngesol. Ya, lumayan!”

Si mamang sol punya 3 anak. Semuanya tamat SMA. Dua laki-laki, satu perempuan. Yang dua udah menikah, sedangkan yang satu kerja. Si amang mengaku, dari profesinya jadi tukang sol itulah ia bisa menyekolahkan ketiga anaknya hingga SMA. “Alhamdulillah, Sep, meskipun ngesol, ya lumayan lah buat kebutuhan anak dan istri.”

Nih, kalau dari dekat. Si mamang sol lagi ngesol. Maaf, sepatu saya baunya minta ampun. Ha
Nih, kalau dari dekat. Si mamang sol lagi ngesol. Maaf, sepatu saya baunya minta ampun. Ha

Lalu, berapa penghasilan mamang sol ini perhari? “Enggak tentu, Sep. Kalau lagi rame, ya sekitar 70 ribu atau 50 ribu-an lah.” Pria berkacamata ini bilang, kalau dia ngekos bersama kedua kawannya di daerah Karangsetra, Kota Bandung. “Perbulan itu kami bayar 250 ribu.” Bagi mamang sol, yang penting buat kos itu bukan mahalnya, yang paling penting nyaman buat tidur.

Berkeliling di seputar mana aja, nih si mamang sol? “Ya, di sekitar Sekeloa (kawasan Dipatiukur) ini aja, Sep!” Si mamang sol ini tiap hari berkeliling di perumahan padat penduduk itu. Meski penghasilannya tak seberapa, ia tetap optimis rezeki akan  menghampirinya kalau dicari. Ketiga anak dan istrinya tinggal di Garut. “Amang pulang tiap 15 hari sekali. Pokoknya tergantung pendapatan, Sep!”

Walau diajak ngobrol, si mamang sol tetap piawai mengerjakan tugasnya.
Walau diajak ngobrol, si mamang sol tetap piawai mengerjakan tugasnya.

Suka dukanya apa aja, sih, Mang? “Ya, banyak, Sep! Kalau hujan misalnya, amang harus berteduh di tempat seadanya. Terus, kadang pernah seharian keliling, pelanggan enggak ada. Tapi, ya biasa itu, sih! Lagian kan enggak tiap hari sepatu atau sendal orang itu rusak. Yang penting itu, amang harus keluar tiap hari.”

Harga tiap sepatu atau sendal yang disol, kata si mamang sol harganya beda-beda. “Beda, Sep! Itu tergantung jenis sepatu atau sendal, juga tergantung tingkat kesulitannya.” Dan, sepatu saya salah satu sepatu yang menurut mamang itu harganya mahal. Makanya, si mamang minta Rp 25 ribu ke saya. “Ya, Mang enggak papa. Nyantai aja,” kata saya dalam hati.

Finish! Tak sampai 30 menit!
Finish! Tak sampai 30 menit!

Sebelum meninggalkan kos, si mamang sol, saya dengar ia bilang, “Oke, Sep, sukses aja, ya.”

Saya ucapkan terimakasih ke dia. “Siip, Mang! Moga rezeki hari ini banyak, ya, Mang!”

Si mamang sol lalu meninggalkan kos saya. "Sukses, Mang!"
Si mamang sol lalu meninggalkan kos saya. “Sukses, Mang!”

Part IV: Memetik Hasil Bumi

Beberapa kegiatan yang saya lakukan saat liburan lebaran kemarin itu cukup beragam. Selain meningkatkan gizi, tidur semau saya, menyemprot rumput yang mulai menggimbal di kebun karet, bermesraan sama kedua orangtua plus kakak-adik dan para keponakan, juga tak lupa-tiap pulang ke rumah, saya pasti ke kebun dan mengambil hasilnya  yang ditanam kedua orangtua puluhan tahun lalu saat pertama kali transmigrasi.

Di antara hasil bumi yang saya peroleh pas pulang liburan kemarin, ialah buah Nangka. Kebetulan, sudah hampir setahun saya tidak mencicipi buah yang kalau masak isinya berwarna kuning ini. Pokoknya, pas tahu adik saya memboyong buah itu dari pohonnya yang tak jauh dari rumah itu, langsung antusias! “Coba ambilkan parang,” kata adik saya.

Nah, ini dia Nangka yang saya maksud. Atau Jackfruit dalam bahasa Inggrisnya.
Nah, ini dia Nangka yang saya maksud. Atau Jackfruit dalam bahasa Inggrisnya.

Maka dibelahlah si nangka itu di samping rumah, di bawah pohon rambutan rindang. Belum sampai 7 menit, eh, datanglah dua-tiga keponakan, ibu saya, dan teteh. Mereka menunggu buah yang bernama ilmiah Artocarpus heterophyllus itu yang sedang dikremasi oleh adik saya. “Sabar..sabar. Ni lagi dibuka,” kata saya.

Puih. Harum menyerbak. Manis rasanya, Bro! Nafsu juga saya mencicipinya di suatu siang terik itu. Pas! Siang-siang makan nangka. Entah saya makan berapa porsi saat itu. Yang pasti, perut saya sampai tak muat lagi kalau saja harus makan nasi waktu itu. Alhamdulillah. Tuhan masih kasih kesempatan buat saya menikmati hasil bumi hasil kreasi-Mu.

Huih. Harum, Bro! Nikmat!
Huih. Harum, Bro! Nikmat!

Keesokannya, tepat lebaran ke-3 saya menemani emak mengambil buah pinang atau sebutan lain, buah jambe yang pohon-pohonnya berjejer di samping rumah, di pinggir sawah, juga yang ada di perbatasan dengan pekarangan milik tetangga. Karena pohon pinang ini terkenal tinggi, ya cara ngambilnya menggunakan bambu panjang yang diujungnya ada pengaitnya. Sekali tarik, wuih, berjatuhan! Sesekali buah pinang itu menimpa kepala saya. Duh, emaaak!

Teteh dan keponakan sedang mengupas buah pinang.
Teteh dan keponakan sedang mengupas buah pinang.

Makanya saya sering was-was kalau emak/apak mengambil buah pinang. Tiga tahun lalu, saat apak mengambil buah pinang pake bambu, eh, malah buah itu jatuhnya tepat di mata kanan apak. Alhasil, mata apak bengkak. Kalau tak salah dua minggu memarnya. Di sekitar matanya berwarna biru. Beberapa kali pula ayah saya itu harus ke Puskesmas. Tapi untungnya, tak ada gangguan terhadap penglihatannya.

Ini emak saye lagi membelah buah pinang. Hati-hati, Mak!
Ini emak saye lagi membelah buah pinang. Hati-hati, Mak!

Pinang ini, kata emak kemarin harganya turun drastis. Cuma, kalau tidak salah dengar, “Empat ribu sekarang!” lontar emak pas aya tanya berapa harga sekilonya. Sebelum dijual di pasar, buah pinang itu terlebih dulu dibelah dua, lalu dikupas kulitnya, untuk kemudian dijemur sampai benar-benar kering. Kalau buah pinangnya lagi banyak, ya lumayanlah buat beli beras dan kebutuhan lain.

Dijemur sampai kering dulu sebelum dijual.
Dijemur sampai kering dulu sebelum dijual.

Selain menangguk pinang, saya juga disuruh emak untuk ke kebun yang jaraknya sekitar 1000 meter dari rumah untuk mengambil coklat. “Coba cek di kebun, siapa tahu coklat sudah masak/kuning,” begitu kata emak, entah lebaran ke berapa, di suatu pagi setelah saya mencuci pakaian. “Lumayan, untuk menambah buat beli sesuatu,” tambah emak.

Nah, kalau yang ini coklat. Dan itu hampir kering.
Nah, kalau yang ini coklat. Dan itu hampir kering.

Sorenya, keponakan saya, Imam dan Ari tiba-tiba datang dengan membawa buah pisang dan beberapa buah durian. Mereka bawa buah-buahan itu dari pekarangan lain milik apak yang juga jaraknya agak jauh dari rumah. “Nih, pisang sama duriannya,” Ari bilang begitu. Pisang yang dibawa Ari itu namanya pisang Jantan disebutnya. Tapi, jantan kok, bisa berbuah, ya? Aneh!

Ini pisang Jantan yang berbuah itu pemirsa.
Ini pisang Jantan yang berbuah itu pemirsa.
Durian juga ada.
Durian juga ada.

Apalagi hasil bumi yang lain? Nah, iya, masih ada. Saya tidak tahu kalau emak memanen ubi pohon. Si ubi pohon ini,oleh emak dijadikan gaplek kalau kata orang Jawa. Ubi dikupas lalu langsung saja dijemur berhari-hari. Kena panas, kena hujan. Kalau sudah menghitam, barulah diangkat, dicuci, lalu diolah jadi penganan. Katanya, itu bisa jadi pengganti nasi.

Gaplek namanya ini. Dalam proses penjemuran.
Gaplek namanya ini. Dalam proses penjemuran.

Satu lagi. Emak juga, waktu itu bikin raginang. Eh, raginang atau rangginang, ya? Saya lupa nama persisnya. Pokoknya, bahan dasarnya dari beras ketan. Ini dia fotonya. Cekidot!

Raginang/Rangginang, ya?
Raginang/Rangginang, ya?

Bingung Dimana Harus Membaca? WC Tempatnya!

bacawc1Bila sahabat sekalian masih bingung, tempat yang paling nyaman, enjoy, enak, serta refresentatif buat membaca, maka saya, kalau boleh, akan mengajukan salah satu tempatnya. Ialah WC, adalah Jamban tempatnya. Tempat yang sering kita kunjungi itu, menurut saya memiliki kesan tersendiri, setidak-tidaknya buat saya dalam hal membaca. Lalu, kenapa mesti tempat itu yang sering saya jadikan tempat mengunyah kata-kata?  Bukankah WC tempat bersemayamnya para syetan dan jin?

Saya pun akhirnya, berani mengatakan tidak tahu! Entah lah. Tapi itu kan pendapat saya. Saya tentunya bebas,dong berpendapat? Saya kira tak ada larangan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di negara yang sangat bebas ini, terutama semenjak bergulirnya reformasi. Apapun, siapapun, kapan pun, dan bagaimanapun, orang bisa mengeluarkan pendapat. Tentunya, selagi itu fakta dan bisa dipertanggungjawabkan. Meski, terkadang, ada sebagian dari kita yang menulis tentang fakta, pada akhirnya ia pun masuk penjara. Masuk Terali Besi. Hanya gara-gara menulis!

Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,"Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Neger" yang diproduksi oleh Detikcom
Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,“Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Negeri” yang diproduksi oleh Detikcom

Nah, dalam tulisan sangat sederhana ini saya ingin berbagi pengalaman. Tentunya, apa yang saya alami dan saya rasakan. Saya tidak berharap kepada pembaca semua, untuk mengikuti apa yang saya alami dan rasakan. Tidak sama sekali. Karena, saya kira, pembaca pun punya pendapat berbeda dari apa yang saya tuliskan. Atau mungkin, sahabat semua, bahkan membantah habis-habisan pendapat saya. Itu pun silakan, mumpung belum ada larangan. Bila sudah ada larangan, tertutup bagi saudara-saudara untuk membantah tulisan saya.

Apa yang telah saya sampaikan pada paragraf pertama tak salah. Dan, itu menurut pendapat saya.Tapi, bukan berarti tempat selain yang saya sebutkan tidak enjoy, enak, atau refresentatif. Sama sekali tidak. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya alami mengenai dunia membaca. Ya, baiklah, saya adalah seorang pembaca yang selalu memanfaatkan WC sebagai tempat berselancar bersama puluhan, ratusan, bahkan ribuan kata-kata. Sebenarnya, kalau mau jujur, perilaku saya ini sering mendapat ejekan dari teman-teman satu kos. ”Ih, ke WC kok bawa buku!” begitu kira-kira bentuk keirian mereka pada saya. Saya pun hanya tersenyum, dan tak menanggapinya dengan mengeluarkan kata-kata.

Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.
Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.

Jujur saja, bagi saya, WC adalah tempat paling nyaman untuk membaca. Tapi, saya pun tahu etika, bahwa buku yang saya bawa ke tempat itu tentunya bukan buku yang kira-kira disakralkan, baik oleh Tuhan maupun manusia, semisal firman-Nya. Bacaan yang saya bawa ke WC adalah semacam novel, cerpen, esai, artikel, buku anekdot, koran, dan bukan pula bahan bacaan yang kira-kira mengundang syahwat. Majalah Playboy, misalnya. Ya, saya akui betapa asyik membaca di kamar kecil itu. Tenang. Tak ada yang mengganggu. Lumayan, dua, tiga, empat, bahkan lima lembar buku terlewati, tergantung lama tidaknya saya bersemayam di sana. Yah, Itung-itung menambah kosa kata baru.

Apakah setiap WC yang saya kunjungi, saya juga membaca di sana? Tentu saja tidak. Karena, saya pun memilah-milah mana kira-kira WC yang pantas untuk saya jadikan tempat membaca. WC yang jorok, tentu saja saya menghindarinya dari membawa buku. Hanya WC yang berfasilitas lah yang saya kunjungi. Ha. Selain itu, WC yang bisa saya ajak kompromi. Mungkin, menurut saudara, bahwa pendapat atau pengalaman saya ini amat jorok dan kurang diterima. Itu pun dipersilakan. Saya tidak pernah memaksa. Katanya, memaksa itu amat menyakitkan! Katanya, sih!

Ini sih ilustrasi aja.
Ini sih ilustrasi aja.

Sekali lagi, bagi saya, WC adalah tempat yang tidak terbantahkan sebagai ruang kecil buat memamah kata-kata. Dan, kalau boleh jujur, saya lebih menikmatinya di sana tinimbang di kamar atau tempat manapun. Di kamar itu ribut, bising kurang tenang dan banyak gangguannya. Misalnya, ketika saya di kamar, baru saja membuka buku novel atau apalah itu selalu saja datang godaan. Seorang tetangga kamar tiba-tiba datang dan mencoba membuyarkan konsentrasi saya yang sedang tenggelam dalam lautan Dunia Sophi-nya Jostein Gaarder.”Wah, mau jadi Filsuf,ya? Baca terus,nih!” ucapnya bikin saya geer. Kalau sudah begitu, kan saya jadi malu . Mungkin, itu juga salah satu sifat saya, saya kurang setuju dengan pujian.

Setelah ia memberikan komentar atas apa yang sedang saya lakukan, saya kemudian diam sejenak. Berpikir apa yang harus saya katakan/lakukan untuk membalas atas perhatinnya pada saya. Akhirnya, tak banyak yang saya lakukan terhadapnya, kecuali sesungging senyum. Itung-itung shadaqah untuk hari itu, pikir saya. Karena memang, jika mengandalkan materi, saya tak punya cukup uang untuk sekedar berinfak. Jadilah seuntai senyum saja yang saya sumbangkan. Lumayan.

Lumayan! Dua lembar habis!
Lumayan! Dua lembar habis!

Setelah senyum saya lemparkan ke dia, langsung saja langkah kaki saya ayunkan ke arah Jamban. Dua tujuannya: menabung kotoran, juga sekaligus melanjutkan novel bertema filsafat yang ditulis orang Norwegia itu. Tiba di WC, proses ekskresi pun berlanjut dan buku saya timang di atas dua tangan. Nyam.Nyam. Asyik,kan? Sambil menyelam minum air, istilahnya. Aman. Tidak ada yang mencoba menggangu atau memuji barangkali. Yang ada, cuma godaan suara-suara tetesan air kran serta suara Bom berjatuhan ke sebuah benteng yang tak dapat dipertahankan!

Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!
Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!