Nyunting dan Kantuk

Tugas utama saya adalah menyunting sebuah naskah sebelum dicetak menjadi buku. Nyunting harus serius! Sekira di tengah-tengah nyunting saya diberedel kantuk, ya jangan diteruskan dulu. Saya biasanya langsung berdiri dari tempat duduk dan langsung berjalan sembari menyapa beberapa teman yang lagi serius memelototi komputer mereka.

Biasanya, setelah itu saya berjalan menaiki tangga ke lantai tiga. Karena di lantai tersebut relatif sepi, jadi saya agak bebas untuk melakukan peregangan tubuh: sit-up, kayang, tidur-tiduran, meyoga, loncat-loncat sedikit, bahkan cuci muka dengan niat, ya Tuhan, semoga kantukku hilang!

Tak cukup di situ. Saya kadang-kadang langsung ke lantai dasar. Masuk ke ruangan marketing komunikasi atau ruang sekretaris untuk sekadar say hello. Baca koran sejenak. Setelah itu saya buru-buru ke meja melanjutkan pekerjaan: nyunting naskah! Eh, emang enggak minum kopi? Ya kalau ada stok, saya seduh cappucino kopi.

end

Iklan

15 Menit Bersama Mahar Laskar Pelangi

koleksi pribadi
Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, Kucai, dan adik saya.

Mahar pemain film Laskar Pelangi meninggal. Begitu tulis adik saya di status BBM, Selasa (13/1) sore kemarin. Tak lama, displey picture (DP) BBM adik berganti dengan foto—setelah saya perhatikan, ternyata saya mengenalnya, bahkan di dalam foto tersebut terlampir diri saya, Verrys Yamarno (Mahar), Yogi Nugraha (Kucai), dan adik saya.

Saya baru ingat—pada 2009 saya dan adik saya berlibur ke Belitung—yang sekaligus menjadi lokasi shooting film Laskar Pelangi garapan Riri Riza dan Mira Lesmana. Secara kebetulan, di Belitung juga tinggal kakak saya yang ketiga.

Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, dan Kucai.
Dari kiri ke kanan: saya, Mahar, dan Kucai.

Tentu di sela-sela liburan itu, kami tak mau menyia-nyiakan waktu begitu saja tanpa menelusuri lokasi shooting film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karangan Andrea Hirata tersebut. Dan, kalau bisa, pikir saya, kita harus ketemu dengan para pemain filmnya.

“Mumpung kalian di sini, mau enggak main ke rumah pemain film Laskar Pelangi nanti sore?” kata kakak saya, yang membuat saya bertanya, benarkah? Malu, ah ketemu artis, celetuk hati saya.

Mahar, selamat jalan.
Mahar sedang menelepon. Entah dengan siapa.

Belum saya menjawab, kakak tadi melanjutkan,”Setelah kita nonton sepak bola, barulah kita ke rumahnya. Kata teman mbak (istri kakak saya), rumah si Kucai enggak jauh dari stadion. Nanti kalian bisa berfoto buat kenang-kenangan!”

Benar saja, sebelum asar, kami bertiga lalu meluncur ke stadion kebanggaan warga Tanjung Pandan, Belitung guna menonton pertandingan sepak bola antarkecamatan se-Kabupaten Belitung. Entah dalam rangka apa, persisnya saya lupa lagi. Maklum, 2009 bro kami ke sana!

Kucai sedang memetik gitar
Kucai sedang memetik gitar

Di tengah pertandingan sepak bola yang kian menguras emosi, kakak bilang,”Hayu ah kita ke rumah Kucai. Barusan mbak sms, kata temannya Kucai sedang ada di rumah sama pemain film yang lain. Cepat, ah, keburu sore!”

Tak sulit mencari rumah orangtua Kucai. Tinggal berjalan ke arah utara dari stadion—sembari bertanya ke salah satu penduduk, eh langsung ketemu. “Lurus aja dari sini. Nanti ada rumah di sebelah kiri yang bercat hijau.” Hore, rumah Kucai pun ditemukan!

Ini sedang di Tanjung Tinggi, salah satu lokasi shooting film Laskar Pelangi.
Ini sedang di Tanjung Tinggi, salah satu lokasi shooting film Laskar Pelangi.

Sampai di rumah bercat hijau itu, seorang ibu menyambut kami,”Ya, ini rumah Kucai pemain film Laskar Pelangi. Itu di kursi ada Mahar!” Si ibu pun memanggil-manggil Kucai. Sebelum Kucai datang, Mahar terlebih dahulu menyalami kami sembari tersenyum. “Eh, ini Mahar, ya? Apa kabar?” kata saya. Dia bilang baik.

Tak berapa lama, Kucai muncul dari ruang dapur. Tersenyum, tapi juga agak kikuk. Saya duluan menyapa,”Kucai, ya?” Dia senyum saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin bingung kami ini siapa dan ada keperluan apa. “Boleh kami berfoto bersama kalian, ya?” Kedua pemain FLP itu mengangguk.

Sama, masih di Tanjung Tinggi.
Sama, masih di Tanjung Tinggi.

Selamat jalan Mahar. Kami nyusul, tapi entah kapan.

Lien Auliya Rachmach

source: www.amc.edu
source: http://www.amc.edu

Saya berkunjung ke Kuningan—Jawa Barat—tiga pekan lalu menemani beberapa rekan kantor ke rumah Lien Auliya Rachmach—salah satu penulis di penerbit kami yang beberapa hari lagi bukunya terbit. Sepuluh jam sebelum kami menyambangi rumah perempuan yang baru tiga bulan menikah itu, atasan kami menerima pesan—yang kemudian dibagikan ke grup Whatsapp.

Assalamualaikum wr.wb. Td kira-kira  jam 21.00, saya coba telepon ibu, tapi HP-nya gak bisa dihubungi. Lien telah tiada bersama angan, harapan, dan cita-citanya yang selalu mulia di mata keluarga kami. Mohon doanya, semoga Lien dimudahkan jalan menuju surga-Nya Yang Maha Indah. Maafkan atas segala kekhilafan Lien, ya. Salam untuk saudara-saudara di kantor. Terimakasih atas supportnya selama ini, semoga bukunya bisa bermanfaat bagi setiap yang membacanya…”

Enam bulan lalu, Lien datang ke kantor kami di Bandung jadi pembicara dalam diskusi bulanan yang diadakan kantor. “Sejak 2004, saya divonis dokter terkena ginjal dan karena itu mengharuskan saya cuci darah seminggu dua kali, Rabu dan Sabtu di rumah sakit Kuningan. Tujuh tahun saya tidak bisa buang air kecil…” ucap Lien kala itu lirih.

“Lien selama menjalani proses cuci darah tak pernah mengeluh. Pokoknya enjoy saja seperti sadar bahwa semua yang ia alami sudah jadi ketentuan-Nya. Ia selalu tersenyum dalam keadaan apa pun. Ia pun suka sekali bantu orang,” begitu pengakuan kakak perempuan Lien saat kami ke rumahnya tiga pekan lalu.

Kakak ipar Lien menambahkan, ”Kami gembira Lien pergi karena di akhir ajalnya, saya menyaksikan sendiri mulutnya tak putus mengucapkan kalimat-kalimat baik seperti Lailaha Illah sambil tersenyum. Jadi, kami tidak khawatir, mudah-mudahan dia husnul khatimah (akhir yang baik),” tuturnya berkaca-kaca sembari memperkenalkan kepada kami, bahwa pria yang di sampingnya adalah suami Lien.

Suami Lien—yang juga penderita gagal ginjal menceritakan, sang istri adalah orang yang pengertian dan sabar, ”Benar, dia (Lien) walau saya cuma diberi kesempatan tiga bulan bersamanya, tapi membekas sekali di hati saya. Orangnya tak pelit senyum kepada siapa saja. Sebetulnya, atas kepergian dia, saya benar-benar tenang dan tidak khawatir, mudah-mudahan dia disayang Tuhan.” Kata lelaki berjanggut itu bersemangat.

Hujan kian deras. Azan magrib pun berkumandang. “Kami numpang salat dulu di sini sebelum kami pulang ke Bandung,” ucap salah satu dari kami. Hati saya seketika menggumam,”Gimana bila suatu saat Tuhan titipkan suatu penyakit yang melebihi Lien kepada dirmu? Siapkah?”

Jadikan hamba termasuk hamba yang selalu bersyukur. Begitu setidaknya yang selalu saya pinta kepada Tuhan tatkala saya berdoa—saya lambungkan terus permohonan itu—bahkan tak mengenal tempat dan waktu—apalagi setelah saya menginjak tanah Kuningan. Juga, Tuhan, jauhkan hamba dari sifat pengeluh yang berlebihan.

Bukan Pembaca Kritis

Ilustrasi diambil dari: www.2012pbic.blogspot.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.2012pbic.blogspot.com

Saya itu orang yang paling tidak pandai menilai sebuah buku apakah buku tersebut bagus atau tidak–kendati buku itu telah rampung saya baca. Kalau saya baca sebuah buku, ya baca aja–tak ada sama sekali terucap, misalnya oh buku ini layak dibaca untuk orang yang sedang galau. Atau, uh buku ini bahasanya sulit dimengerti oleh saya, tetapi lebih cocok dibaca bagi mereka yang berkecimpung di dunia akademik karena bahasanya yang mungkin ilmiah.

Problemnya apa kalau begitu? Orang yang mahir menilai sebuah buku, tentu akan bilang ke saya kalau saya ini bukan pembaca yang kritis! Dan saya setuju itu. Sejak dari SMP saya sudah menginginkan bagaimana menjadi orang yang kritis terhadap sesuatu–bukan hanya pada buku yang dibaca. Tetapi, hingga hari ini nyatanya memang saya belum mampu–bahkan mungkin enggak bisa jadi manusia kritis.

Kenapa saya begitu ingin jadi orang yang selalu kritis? Pertama, saya sendiri kadang-kadang kagum kepada orang yang kritis. “Kenapa ya saya enggak bisa seperti dia? Dia kok bisa ya menanggapi sesuatu dari sudut pandang berbeda?” Begitulah, sering muncul pertanyaan di benak tiap saya memerhatikan orang yang punya kemampuan lebih dari saya. Dengan kata lain, saya suka iri–walau ya tidak seratus persen.

Kedua, orang yang kritis disukai siapa saja, utamanya kaum perempuan. Umumnya yang saya perhatikan memang begitu. Orang yang suka kritis, tentu dia punya penalaran tajam terhadap sesuatu. Sebabnya, imej orang kritis kerap disebut orang cerdas, tentu tidak salah. Dan saya bukan orang yang kritis, apalagi orang cerdas. Tidak sama sekali. IQ saya biasa-biasa saja–mungkin di bawah rata-rata. Apa buktinya? Tiga tahun lalu saya tes psikotes untuk bekerja di sebuah perusahaan. Hasilnya? Saya tidak lulus.

Ketiga, orang yang kritis–karirnya–baik yang bekerja di swasta maupun negeri cepat memuncak. Semoga tidak keliru dengan pendapat seperti itu–walau kebanyakan, utamanya di instansi pemerintahan bahwa jabatan itu akan didapat bukan karena orang itu berprestasi, tapi siapa yang punya duit tebal, dialah yang dapat. Orang-orang biasa dan tak punya modal akan tersingkir dan hanya bisa gigit jari.

Keempat, orang yang kritis itu pintar matematika. Walau saya menyugesti diri bahwa saya harus bisa pelajaran matematika, eh nyatanya tidak bisa. Bayangkan, dari SD-SMA nilai matematika saya stagnan–kalau tidak empat ya lima. Makanya, saya ini bukan orang yang cerdas, apalagi, ampun kalau dibilang pintar. Salah satu idikator seseorang itu dilabeli cerdas, pintar, dan jenius adalah dia harus kuat matematikanya. Kesimpulannya, andai kalian ingin menipu saya dalam hitung-hitungan, misalnya, tentu sayalah orang yang tidak akan komplain itu.

Nah, jangankan untuk kritis terhadap yang lain–pada buku yang tengah atau sudah saya baca saja saya tidak bisa. Saya beritahu, kalau saya ini hobi baca–tapi saya mudah melupakan apa yang saya baca itu. Andai saya diminta untuk menceritakan ulang buku yang telah saya baca, saya akan buru-buru menolak. Atau saya akan katakan saya tidak pernah baca buku itu. Bisa juga saya bilang, saya ingat apa yang saya baca cuma seketika itu saja. Sejam atau tiga jam pasti hilang.

Jadi, saya ini maunya apa? Saya tidak mau apa-apa–walau awalnya saya berharap jadi orang yang selalu kritis. Sekarang saya tidak mau berharap jadi manusia kritis versi saya. Saya cukup menjadi orang yang biasa saja–yang tetap tidak akan menghilangkan kebiasaan saya, yaitu membaca. Membaca jenis buku dari genre apapun–walau, yah–saya suka tidak ingat apa yang pernah saya baca itu.

Kalau begitu, coba sebutkan buku apa saja dalam sebulan ini yang saya baca. Oke, tapi saya enggak akan kasih tahu apa isinya, ya. Soalnya saya enggak ingat. Minimal saya beritahu judul, penulisnya, dan masuk kategori apa buku tersebut. Baiklah. Satu, “Murjangkung cinta yang dungu dan hantu-hantu” kumpulan cerpen A.S. Laksana. Dua, “Corat coret di Toilet” kumpulan cerpen Eka Kurniawan. Tiga, “Inferno” novel karya Dan Brown. Empat, “Dunia Sophie” novel karya Jostein Gaarder. Lima, “Empat Kumpulan Sajak” karya almarhum W.S. Rendra.

Cukup, ya. Moga teman-teman menjadi pembaca yang kritis!

Bingung Dimana Harus Membaca? WC Tempatnya!

bacawc1Bila sahabat sekalian masih bingung, tempat yang paling nyaman, enjoy, enak, serta refresentatif buat membaca, maka saya, kalau boleh, akan mengajukan salah satu tempatnya. Ialah WC, adalah Jamban tempatnya. Tempat yang sering kita kunjungi itu, menurut saya memiliki kesan tersendiri, setidak-tidaknya buat saya dalam hal membaca. Lalu, kenapa mesti tempat itu yang sering saya jadikan tempat mengunyah kata-kata?  Bukankah WC tempat bersemayamnya para syetan dan jin?

Saya pun akhirnya, berani mengatakan tidak tahu! Entah lah. Tapi itu kan pendapat saya. Saya tentunya bebas,dong berpendapat? Saya kira tak ada larangan untuk sekedar mengeluarkan unek-unek di negara yang sangat bebas ini, terutama semenjak bergulirnya reformasi. Apapun, siapapun, kapan pun, dan bagaimanapun, orang bisa mengeluarkan pendapat. Tentunya, selagi itu fakta dan bisa dipertanggungjawabkan. Meski, terkadang, ada sebagian dari kita yang menulis tentang fakta, pada akhirnya ia pun masuk penjara. Masuk Terali Besi. Hanya gara-gara menulis!

Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,"Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Neger" yang diproduksi oleh Detikcom
Nah, ini nih buku yang saya baca tadi pagi pas ke jamban. Judulnya,“Aku Cinta Indonesia-Jelajah Eksotisme Negeri” yang diproduksi oleh Detikcom

Nah, dalam tulisan sangat sederhana ini saya ingin berbagi pengalaman. Tentunya, apa yang saya alami dan saya rasakan. Saya tidak berharap kepada pembaca semua, untuk mengikuti apa yang saya alami dan rasakan. Tidak sama sekali. Karena, saya kira, pembaca pun punya pendapat berbeda dari apa yang saya tuliskan. Atau mungkin, sahabat semua, bahkan membantah habis-habisan pendapat saya. Itu pun silakan, mumpung belum ada larangan. Bila sudah ada larangan, tertutup bagi saudara-saudara untuk membantah tulisan saya.

Apa yang telah saya sampaikan pada paragraf pertama tak salah. Dan, itu menurut pendapat saya.Tapi, bukan berarti tempat selain yang saya sebutkan tidak enjoy, enak, atau refresentatif. Sama sekali tidak. Sekali lagi, saya hanya ingin berbagi tentang apa yang saya alami mengenai dunia membaca. Ya, baiklah, saya adalah seorang pembaca yang selalu memanfaatkan WC sebagai tempat berselancar bersama puluhan, ratusan, bahkan ribuan kata-kata. Sebenarnya, kalau mau jujur, perilaku saya ini sering mendapat ejekan dari teman-teman satu kos. ”Ih, ke WC kok bawa buku!” begitu kira-kira bentuk keirian mereka pada saya. Saya pun hanya tersenyum, dan tak menanggapinya dengan mengeluarkan kata-kata.

Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.
Gak percaya? Tuh, kan, ini di dalam WC, lho. Asyik, lho daripada ngelamun.

Jujur saja, bagi saya, WC adalah tempat paling nyaman untuk membaca. Tapi, saya pun tahu etika, bahwa buku yang saya bawa ke tempat itu tentunya bukan buku yang kira-kira disakralkan, baik oleh Tuhan maupun manusia, semisal firman-Nya. Bacaan yang saya bawa ke WC adalah semacam novel, cerpen, esai, artikel, buku anekdot, koran, dan bukan pula bahan bacaan yang kira-kira mengundang syahwat. Majalah Playboy, misalnya. Ya, saya akui betapa asyik membaca di kamar kecil itu. Tenang. Tak ada yang mengganggu. Lumayan, dua, tiga, empat, bahkan lima lembar buku terlewati, tergantung lama tidaknya saya bersemayam di sana. Yah, Itung-itung menambah kosa kata baru.

Apakah setiap WC yang saya kunjungi, saya juga membaca di sana? Tentu saja tidak. Karena, saya pun memilah-milah mana kira-kira WC yang pantas untuk saya jadikan tempat membaca. WC yang jorok, tentu saja saya menghindarinya dari membawa buku. Hanya WC yang berfasilitas lah yang saya kunjungi. Ha. Selain itu, WC yang bisa saya ajak kompromi. Mungkin, menurut saudara, bahwa pendapat atau pengalaman saya ini amat jorok dan kurang diterima. Itu pun dipersilakan. Saya tidak pernah memaksa. Katanya, memaksa itu amat menyakitkan! Katanya, sih!

Ini sih ilustrasi aja.
Ini sih ilustrasi aja.

Sekali lagi, bagi saya, WC adalah tempat yang tidak terbantahkan sebagai ruang kecil buat memamah kata-kata. Dan, kalau boleh jujur, saya lebih menikmatinya di sana tinimbang di kamar atau tempat manapun. Di kamar itu ribut, bising kurang tenang dan banyak gangguannya. Misalnya, ketika saya di kamar, baru saja membuka buku novel atau apalah itu selalu saja datang godaan. Seorang tetangga kamar tiba-tiba datang dan mencoba membuyarkan konsentrasi saya yang sedang tenggelam dalam lautan Dunia Sophi-nya Jostein Gaarder.”Wah, mau jadi Filsuf,ya? Baca terus,nih!” ucapnya bikin saya geer. Kalau sudah begitu, kan saya jadi malu . Mungkin, itu juga salah satu sifat saya, saya kurang setuju dengan pujian.

Setelah ia memberikan komentar atas apa yang sedang saya lakukan, saya kemudian diam sejenak. Berpikir apa yang harus saya katakan/lakukan untuk membalas atas perhatinnya pada saya. Akhirnya, tak banyak yang saya lakukan terhadapnya, kecuali sesungging senyum. Itung-itung shadaqah untuk hari itu, pikir saya. Karena memang, jika mengandalkan materi, saya tak punya cukup uang untuk sekedar berinfak. Jadilah seuntai senyum saja yang saya sumbangkan. Lumayan.

Lumayan! Dua lembar habis!
Lumayan! Dua lembar habis!

Setelah senyum saya lemparkan ke dia, langsung saja langkah kaki saya ayunkan ke arah Jamban. Dua tujuannya: menabung kotoran, juga sekaligus melanjutkan novel bertema filsafat yang ditulis orang Norwegia itu. Tiba di WC, proses ekskresi pun berlanjut dan buku saya timang di atas dua tangan. Nyam.Nyam. Asyik,kan? Sambil menyelam minum air, istilahnya. Aman. Tidak ada yang mencoba menggangu atau memuji barangkali. Yang ada, cuma godaan suara-suara tetesan air kran serta suara Bom berjatuhan ke sebuah benteng yang tak dapat dipertahankan!

Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!
Si Kodok Ijo aja membaca, tuh!