Arep Jemuré Emoh Watangé

Ilustrasi diambil dari: www.inimyapunye.blogspot.com
Ilustrasi diambil dari: http://www.inimyapunye.blogspot.com

Saya sudah lama tidak blogwalking ke teman-teman blogger—utamanya yang bernaung di bawah bendera wordpress. Sikap saya ini tidak patut dibenarkan—apalagi harus dicontoh. Tidak sama sekali. Jadilah seperti teman-teman blogger lainnya—yang mereka itu, bukan saja konsisten menulis—tetapi tak segan untuk berkomentar atau sekadar me-like setelah membaca tulisan terbaru maupun terdahulu di blog mereka.

Menurut saya, mau tidak mau—bila seseorang telah memutuskan menjadi penduduk di wilayah maya, apalagi tinggal di lingkungan yang semua warganya berprofesi sebagai blogger, ya soal menulis, berkomentar, dan me-like—adalah suatu kegiatan yang mestinya bukan jadi beban, tetapi kewajiban. Meng-uplod tulisan saja, tetapi ia—misalnya malas blogwalking—yah, apakah itu termasuk warga yang baik?

Jujur, kalau saya ditanya apakah saya ini termasuk warga maya yang baik atau belum—tentu saya jawab belum. Dan jangan sampai ada yang coba menyebut saya ini warga yang baik. Awas! Saya tidak mau. Kenapa? Lihat, bahwa saya ini pekerjaannya—ya 70 persen meng-uplod tulisan, tetapi masih enggan untuk mengunjungi alamat blog yang si empunya tadi berkomentar di lapak saya. Bukankah itu sesuatu yang kurang ajar?

Andai ada sebutan lain selain “kurang ajar” terhadap saya—sekali lagi saya tidak akan marah. Mereka pantas menyebut saya begitu. Dan, saya selama ini amat berterimakasih kepada saudara-saudara yang dengan suka rela telah berani berkunjung ke blog saya, bahkan tak segan berkomentar atas tulisan saya—meski tulisan saya bukanlah tulisan WAH atau bahkan menginspirasi.

 Saya yakin, kawan-kawan yang coba berkomentar setelah membaca tulisan saya—mereka melakukannya dengan ikhlas—dan artinya—para blogger itu tidak mengharapkan saya membalas kunjungannya, apalagi harus pula meninggalkan komentar. Saya apresiasi itu. Dan saya bangga dengan kalian. Maaf, saya belum bisa seperti kalian. Saya masih belajar bagaimana jadi orang yang tidak terlalu egois.

Payah memang saya ini. Maunya tulisannya dikomentari atau di-like sebanyak-banyaknya, tetapi saya sendiri enggan mengomentari tulisan-tulisan di blog orang lain. Orang macam apa saya? Sebaiknya saya mengubah sikap yang tak disenangi ini sekarang juga. Sebab, hidup di mana pun mesti seimbang. Waktu untuk meng-uplod tulisan saja ada—masa untuk blogwalking tak disempatkan?

Masalahnya, apakah orang yang bersikap seperti saya ini cuma saya? Yang lain tidak? Saya pikir, hanya sayalah orang yang enggan berkomentar terhadap tulisan-tulisan blogger lain di lapak mereka. Ya, cuma saya. Itu artinya memang saya ini orang yang tak tahu diri. Orang Jawa bilang, saya ini arep jemuré emoh watangé—ingin enaknya tapi enggak mau susahnya. Hah???

Iklan

Saya Botak, Maka Saya Tak Mau Kopdar!

Gambar didonlod dari: www.kaskus.co.id
Gambar didonlod dari: http://www.kaskus.co.id

Apa yang ditakutkan dari sebuah pertemuan? Apa yang membuat tuan dan puan ragu sehingga memutuskan untuk tidak bertemu dengan seseorang, hanya karena alasan tidak pede dan takut? Tidak pede dan takut adalah dua kata negatif—yang kalau tetap dipelihara, ia akan tumbuh subur di hati dan menyebabkan pelakunya susah-payah.

Beberapa kawan blogger pernah mengungkapkan kepada saya perihal ketakutan dan ketidakpedean mereka saat harus kopdar dengan sesama blogger. “Sering, sih teman ngajakin kopdar. Padahal dekat, di Bandung. Tapi, ya itu, gue malas karena gak pede dan takut!” begitu kata teman saya suatu hari dan baru kemarin alasan itu diulanginya lagi.

Saya tanya alasan spesifiknya, kok bisa gak pede sekadar kopdar saja ke teman saya itu. “Kepala gue di bagian depan rada botak. Makanya, jadi rada malu dan gak pede pokoknya. Males…males…males!” kata teman saya itu beralasan yang sebetulnya—saya gak mau sama sekali mendukungnya dan malah bikin saya ketawa. Uh, segitu aja dipikirin! Capek, deh!

Susah juga saya mau jawab apa saat kawan saya itu mengatakan dengan jujur perihal alasannya gak mau kopdar gara-gara persoalan fisik—yang menurutnya gak sempurna dan kepala di bagian depannya harus tidak botak. Memangnya manusia ada yang sempurna? Saya bisa jawab apa ke teman saya itu? “Alasan loe gak masuk ke otak gue! Alasannya bikin muntah!”

Teman saya ini rupanya masih bisa berkata-kata, entah bernada apa namanya. “Kenyataannya memang gitu. Gue orangnya gak pedean, minder, dan takut. Dan kalo gue bener-bener kopdar, yang ada gue pasti diketawain sama mereka! Gue putusin, walau udah beberapa kali kawan blogger ngajak buat kopdar, gue gak mau ikut! Gue bilang aja ke mereka kalau gue lagi balik kampung atau apalah gitu.”

Saya kesal mendengar alasannya—yang menurut saya apa yang dia katakan itu terlalu lebay. Ingat, bukan kesal kepada orangnya, tetapi kesal karena alasannya. Tapi, saya cepat-cepat diingatkan, bahwa problem tiap orang itu berbeda dan saya tidak bisa memaksa seseorang harus mengikuti gaya dan cara saya dalam menghadapi dan atau menanggapi sesuatu.

Dan kenapa teman saya itu begitu tidak pede, minder, dan takut kalau mau kopdar—tentu saya harus cari tahu dulu “kenapa”-nya dan saya berusaha tidak mau menganggap sepele apa yang dia rasakan. Ibaratnya, pertanyaan apa, kenapa, dan bagaimana—itu harus saya munculkan di benak saya sehingga saya tidak cepat-cepat memvonis kepada kawan saya itu, bahwa dia lebay atau apalah yang kira-kira prasangka negatif.

Lantas, saya katakan saja ke dia, kok ente begitu tidak pede ketemuan sama teman blogger—yang notabene selama ini ente akrab betul di dunia maya sama mereka. Padahal, kata orang kalo punya wajah ganteng, pasti dia paling pede, tetapi tidak bagi kawan saya ini. Meski dia berwajah tampan—yang gak beda jauh sama saya, kok gak pede dan minder untuk bertemu seseorang hanya karena rambut di bagian depan kepalanya agak botak. Capek, deh!

Saya hanya katakan ke teman baik saya itu, ”Sampai kapan loe bersikap seperti itu? Mau ini malu, mau itu gak pede, mau begini selalu ngeliat kekurangan. Sampai kapan loe berpikir seperti itu? Orang belum tentu berpikiran seperti yang loe pikirkan, Bray! Itu mah dugaan dan pikiran negatif  kamu. Belum kejadian udah mikir macem-macem! Positif coba, positif, Bro! Gimana, sih! Lagian orang itu gak melulu liat penampilan fisik, tapi sikap, Bro!”

Saya berkesimpulan, bahwa karakter dan kepribadian seseorang itu tak ada yang sama. Pokoknya beda. Yang mesti saya hargai adalah menerima keberbedaan itu dengan lapang dada dan ikhlas bahwa Tuhan ciptakan manusia dengan keunikannya masing-masing. Soal ada orang yang belum pede dan belum menerima dirinya apa adanya—biarlah, suatu saat mereka pun akan menjadi manusia pede dan tidak penakut seiring berjalannya waktu.

Barangkali saya menyebut orang yang ragu dan tidak pede adalah—mereka itu sedang ditimpa musibah psikologis dengan berbagai latar belakangnya. Mereka menjadi seperti itu—tentu ada musababnya. Meyakinkan orang tersebut supaya lebih pede dan tidak takut, juga perlu kesabaran ekstra, utamanya dari saya sebagai teman sekaligus sahabatnya—yang harus terus-menerus memotivasinya semampu saya.

Oke, ya. Kalian pasti bisa, kalian pasti sanggup meluluhkan prasangka negatif terhadap apapun.

Tuhan, Jangan Luluskan Aku Jadi PNS

www.tribunnews.com
http://www.tribunnews.com

 “Tapi salah banget nggak sih kalo aku berharap supaya nggak lulus tes (CPNS) aja? Aku nggak mau jd PNS. beneran!”

Awalnya, saya pikir, orang ini aneh, kok dia berdoa supaya enggak lulus jadi PNS. Padahal, teman saya ini beberapa minggu lalu ikutan tes CPNS di kotanya, Timur Indonesia. Saya belum tahu pastinya kenapa, sarjana pendidikan bahasa Inggris itu sampai mengatakan seperti itu. Saya yakin, dia mengatakan yang demikian, itu bukan secara tiba-tiba, dan mesti ada musababnya. Nah, soal musababnya ini, yang masih saya pertanyakan. Kenapa pula saya rela membahas tentang ucapan kawan saya ini? Entahlah. Saya merasa, ini inspirasi saya buat menulis di sore ini, di tengah kebuntuan yang kian menggejala.

Semua orang tahu, bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan paling dicari di Indonesia. Karena alasan inilah, saya mempertanyakan ke teman, yang juga blogger itu sampai tega melontarkan, bahwa dia berdoa-walau pengumumuan hasil tes CPNS belum diumumkan, mudah-mudahan dirinya tidak lulus CPNS. Ini gila, kata saya seketika, walau saya tidak berani mengatakan langsung kepadanya. Saya hanya bilang, setiap pilihan itu tidak ada yang salah. Yang salah itu, ucap saya-mereka yang tak berani memilih di antara dua pilihan.

Waduh. Saya pun, sebenarnya tidak serta merta memarahi kawan akrab saya di dunia maya itu, tersebab telah mengatakan sesuatu di luar jalur mainstream. Apalagi, selama ini-jalur mainstream adalah jalan satu-satunya untuk meraih kebahagiaan, bahkan paling dianggap wilayah yang paling benar, walau-secara pribadi saya tidak selalu mengagungkan mainstream. Walau demikian, saya amat salut sesalut-salutya kepada orang yang sanggup berpikir dan bertindak di luar jalur kebiasaan, walau harus juga menerima segala konsekuensinya.

Saya belum tahu, apa konsekuensi yang akan didapatkan/diterima oleh kawan saya yang satu ini-yang berani berharap, “Mudah-mudahan saya tidak lulus tes CPNS!” Utamanya, barangkali dari orang-orang terdekat: kedua orangtua, kakak, adik, ponakan, tetangga, teman kuliah yang juga sama-sama ikut tes CPNS, pacar, dan semua lingkungan yang pernah ia sambangi. Pastilah, kalau orang tahu dia ini berharap tidak lulus tes CPNS, pendapat pun akan beragam. Tapi, tampaknya perlu diingat, bahwa ada salah satu instansi pemerintah yang mengultimatum, bahwa bila orang bersangkutan itu lulus tes dan mengundurkan diri, maka terkena denda yang tak sedikit, lho. Sampai puluhan juta kalau tak salah.

Semuanya memang, siapapun orangnya harus memikirkan  matang-matang sebelum bertindak. Jangan sampai, kata orang-kalau salah bertindak ataupun berbicara, maka bisa fatal akibatnya. Mungkin saja, kawan saya ini-dulu, daftar CPNS karena ikut-ikutan teman, gengsi, atau tak sadar, bahwa ia ikut daftar tes CPNS. Atau, barangkali-ini sering, karena dipaksa orangtuanya, yang kebetulan-mereka juga PNS. Kalau anak enggak PNS, enggak keren. Itu mungkin pikir kebanyakan orangtua Indonesia. Saya berharap, kawan saya ini daftar CPNS kemarin bukan karena alasan yang saya sebutkan di atas.

Atau, kenapa kawan saya ini memutuskan bilang, “Tuhan, tolong jangan luluskan saya jadi CPNS!”, karena memang dia telah punya pekerjaan yang lebih nyaman daripada menjadi PNS. Dan bahkan, penghasilannya pun lebih lumayan dari seorang abdi negara itu. Mudah-mudahan saja begitu. Dan, bagi saya-bekerja di mana pun, itu sama saja-yang penting itu nyaman dan sesuai passion, kata orang-orang. Uang yang dicari? Oh, sebanting tulang apapun ia dicari, ya, sama saja, kok. Kalau tak pandai mengelolanya, matilah kita. Tetapi, walau gaji kecil, asal kebutuhan terpenuhi, nyantailah kita. Begitu, bukan? Semoga tak tepat.

Lalu, siapa kawan saya itu? Ada, dia blogger di sini, seorang cewek yang juga hobi berfoto dan jalan-jalan. Hahaha. Tengs inspirasinya buat hari ini, administrator!

Membaca Dahulu Berkomentar Kemudian

Saya bukan berburuk sangka. Tapi memang, sebaiknya, setidak-tidaknya saya sendiri haruslah jujur terhadap diri sendiri. Jujur dalam hal apa? Ya jujur dalam segala hal, termasuk saat bersosialisasi di jagat maya. Bisa diberi contoh? Gampang! Begini, terkadang saya menyangsikan kalau orang yang berkomentar di blog saya maupun orang lain, si pengomentar itu membaca habis tulisan dari A-Z. Meskipun sebetulnya, isi komentar itu, misalnya,”Wah, ini tulisan kreatif! Mantaps! Bagus tulisan ini!”

Komentar-komentar semacam itu, kalau saya boleh menebak, itu 85 persen bukan datang dari hati, tetapi sekedar ingin menyenangkan hati belaka si penulis blog. Maksudnya? Ya, si pengomentar itu hanya komen sekedarnya saja, tanpa membaca lebih dulu keseluruhan isi tulisan. Makanya, terkadang, suka salah sambung antara isi tulisan yang sebenarnya dengan isi komentarnya. Saya ingin jujur, bahwa saya pun pernah berbuat tidak jujur seperti itu. Saya memang komentar, tapi, sebelumnya saya tidak membaca keseluruhan isi tulisan yang saya klik. Paling-paling, saya membacanya 1 paragraf, sesudah itu barulah komentar.

Saya baru sadar, bahwa apa yang saya lakukan itu adalah perbuatan tercela, meski yang empunya tulisan tidak tahu kalau saya ini tak membaca habis tulisan yang ia tulis di blognya. Atau, istilah lain-meminjam kosakata kesehatan, yakni “ejakulasi komentar”, keluar komentar sebelum habis membaca habis sebuah wacana. Perbuatan yang saya lakukan itu bukan terjadi baru-baru ini, lho, tapi itu dulu semasa di awal-awal kuliah 3 tahun lalu.

Lalu, bagaimana dengan sekarang? Tidak, saya tidak akan berbuat begitu lagi. Tidak akan mengulangi berkomentar di blog seorang kawan sebelum saya membaca tulisan mereka dengan baik. Maka, kalau boleh mengutarakan, lebih baik klik “like” daripada berkomentar yang bagus-bagus, tetapi tidak membaca dengan runut sebuah tulisan yang ada di hadapannya. Apa penyebab blogger tak mau menyelesaikan membaca sebuah tulisan dan lebih senang cepat-cepat berkomentar?

Ya, banyak faktor. Mungkin sebagian orang itu belum terlatih membaca. Sejatinya, membaca itu melatih kesabaran. Orang yang sudah terbiasa membaca, dalam sikapnya sehari-hari pasti kentara. Misalnya, tak terburu-buru, teliti, orangnya bijak, pembawaannya santai tapi pasti (banyak juga lho yang enggak pasti), juga biasanya pandai mendengarkan (bedakan antara mendengar dan mendengarkan). Bayangkan, kalau ingin mengerti sebuah tulisan, tentu ia harus membaca dari awal dengan hati-hati hingga akhir. Dan aktivitas membaca tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa.

Saya paham, kalau banyak blogger kerap menemukan teman sesama blogger yang tulisannya sulit dimengerti. Kalau saya menemukan atau sempat membaca tulisan-yang menurut saya agak sulit dipahami, terus terang, kalau sekarang saya tidak segera meninggalkan tulisan semacam itu. Tapi, saya akan terus berusaha membacanya perlahan, tentu sambil pula memahaminya. Dalam hati,”Saya pokoknya harus membaca tulisan ini dengan sabar sampai usai dan tak menggerutu ke sana ke mari. Barulah saya berkomentar sesuai apa yang saya pahami.”

Menurut saya, akan percuma seorang blogger kalau tidak bisa belajar dari sebuah tulisan kawan blogger lainnya. Justru dengan banyak membaca tulisan di blog kawan lain, ada secercah tambahan ilmu, pengetahuan, informasi, ide, dan inspirasi yang kira-kira dapat dibawa ke rumah. Bahkan, bila perlu bisa menjadi bahan cerita buat sahabat maupun orang lain. Dengan satu syarat, saya maupun kawan-kawan di sana mau dengan sabar membaca tulisan mereka hingga tuntas.

Saya berkali-kali bilang ke teman yang sama-sama memiliki akun WordPress, misalnya. “Sudahlah, tugas kita bukanlah sekedar menulis, tapi membaca tulisan-tulisan blogger lain yang lebih berpengalaman. Lebih dari itu, yang lebih penting juga adalah saling memberi semangat kepada sesama blogger. Kalau di dunia nyata saja kita bisa bersosialisasi dengan baik antar sesama, kenapa di dunia maya kebiasaan itu tak coba ditanamkan.”

Cekidot lanjut makan cemilan, Kawan!